
Aku terkulai lemah ketika menerima kenyataan wanita ku telah pergi. Aku sangat terlambat untuk menyatakan cintaku padanya, terlambat meraih dirinya, terlambat menggenggam tangannya, aku terlalu pengecut untuk mengakui perasaanku dulu, hingga penyesalan yang harus aku terima saat ini.
Aku mungkin tidak bisa membayar luka yang telah ku berikan pada Alea, bahkan aku tidak bisa menghapus air mata wanita ku, tapi aku ingin mengubah kenangan pahit itu menjadi kenangan manis. Namun, akan kah itu terjadi?. Bahkan aku tidak tahu dimana dirinya berada. Oh Alea... Kamu dimana sayang?. Aku sangat merindukanmu, benar-benar merindukan mu.
*****
Masih sangat jelas di mataku saat pertama kali aku bertemu Alea. Suatu pertemuan yang sungguh tidak baik. Dia mengumpat ku, sementara aku berpura-pura tidak melihatnya dan sibuk membenahi ponselku yang terjatuh akibat tabrakan yang tak di sengaja itu. Dengan penuh keangkuhan aku membentak dirinya, membuat Alea merasa kesal, tapi aku tidak menghiraukan kekesalan itu. Aku justru mengagumi sosok Alea yang tampak natural.
Jika di luar sana banyak yang memujaku, mencari perhatianku, bahkan saat pertama kali bertemu denganku banyak wanita seolah-olah mencari perhatian dari ku, namun wanita ini berbeda, dia seperti... Polos. Ya, polos. Wanitaku sangat polos tanpa celah. Dan lucunya, Alea memakiku dengan berbagai macam nama hewan, "Dasar pinguin dari negeri antartika, ubur-ubur, dan... kura-kura". Ingin rasanya aku tertawa mendengar makian itu dari balik pintu ruang HRD, namun sebisa mungkin aku menahannya, aku harus memastikan sesuatu. Dan... bingo!. Ternyata Alea melamar menjadi sekertaris pribadiku. Kali ini Dewi Fortuna berpihak padaku. Aku tersenyum menyeringai seperti sedang memenangkan lotre miliyaran dollar. Javier Alexander, Show time...
*****
Aku menyuruh Andre mengirimkan nomor ponsel Alea agar aku menghubungi nya seolah ingin memberi informasi jika dirinya di terima saat ini juga untuk bekerja, namun sejujurnya aku ingin mendengar suara indah wanitaku.
Panggilan pertama Alea tidak menjawab, hingga panggilan yang ke tujuh,
"Mengapa lama sekali kamu mengangkat telpon ku. Apa kamu tidak berniat untuk bekerja?"
"Ha?".
"Aku menunggumu 10 menit. Terlambat satu menit saja kamu saya pecat". Sungguh bos yang angkuh. Mungkin saat itu Alea sekali lagi menyumpahi ku untuk lenyap dari muka bumi ini, namun membayangkan Alea marah membuatku tertantang untuk mendekatkan diri.
Aku mulai berhalusinasi, mengingat matanya yang menggambarkan kepolosan tanpa noda, bibirnya yang ranum membuatku ingin mengecupnya, aku mulai berkhayal menjamah Alea dengan rakus, mengecup bibir nya dengan sentuhan lembut, ingin menuntut lebih dari sekedar ******* kecil. Ah, sungguh indah.
Aku mulai berfantasi tentang Alea dan diriku sendiri, sungguh luar biasa pertemuan kami yang secara tiba-tiba. Namun siapa sangka, pertemuan yang tak di sengaja itu menghantarkan kebersamaan kami hingga menjadi bos dan sekretaris.
Aku sengaja menerima dirinya untuk menjadi sekretaris pribadi ku. Aku menggunakan keangkuhan ku untuk menjadikan dia lebih dekat dengan ku. Katakanlah aku egois, aku ingin Alea selalu berada di dekatku.
__ADS_1
Aku duduk membelakangi Alea di atas kursi kebesaran ku, sejujurnya saat itu aku mempersiapkan diri yang ingin bertemu dengan seseorang yang ku sebut dengan sebutan wanitaku. Ya, hanya dalam hitungan jam aku sudah menyebut Alea sebagai wanitaku.
Aku membalikan kursi ku dengan penuh keangkuhan, padahal sejatinya jantungku tak berhenti untuk berdetak lebih kencang dari biasanya. Aku melihat wajah Alea yang tampak terkejut ketika melihat ku. Wajahnya sungguh luar biasa cantik.
"Kau?".
"Yang sopan kalau berbicara, ingat aku adalah atasanmu". Dengan sangat lantangnya aku membentak Alea, entah dari mana keberanian itu muncul, tapi aku melihat wajah Alea berubah menjadi tegang karena bentakan dariku. Oh sungguh sial, mengapa aku tidak bisa mengendalikan diriku.
"Aku yang menghubungi dirimu tadi, apakah kamu sudah siap untuk bekerja hari ini?". Tanyaku pada Alea, dan aku melihat wanita itu tampak gugup, mungkin dia sedang mengumpat ku dalam hatinya. Tapi tak apa, bagiku makian Alea adalah pujian untuk diriku. Oh, ayolah Javier... ini adalah hari pertama dirinya bekerja padamu, gunakan kesadaran mu. Aku mengutuk diriku sendiri yang selalu berkhayal tingkat dewa mengenai Alea.
*****
Hari-hari terus berjalan, tak butuh waktu lama Alea menguasai semua perkerjaan yang berhubungan dengan perusahaan. Hanya dalam hitungan satu Minggu dia telah menguasai segala sesuatu nya. Wah, sungguh luar biasa wanitaku ini. Aku memuji kecerdasan Alea lewat keangkuhan ku.
"Ternyata kamu pintar juga". Pujiku namun dengan senyum mengejek, membuat mata Alea menatapku dengan tatapan sinis. Aku menyukai itu, matanya yang bulat berwarna coklat membuatku tersihir akan pesonanya. Aku tidak pernah tersinggung dengan tatapan tajam Alea, ibarat pedang yang menghunus ke jantung, namun bagiku tatapan itu adalah tatapan mendamba. Oh, ayolah Javier... Dia bahkan tidak melihatmu.
Aku menjelaskan secara detail proposal kerjasama kami, namun aku melihat Tuan Handoko kurang puas akan penjelasan ku, dan dengan otak cerdasnya Alea menjelaskan pada Tuan Handoko hingga tanpa berpikir panjang beliau menerima tawaran kami. Wah, Alea sungguh merupakan gadis keberuntungan ku. Dia adalah Dewi ku, cintaku, peri penyelamatku. Aku mencintaimu Alea Marwah.
Sungguh aku ingin mengatakan itu, namun lagi-lagi itu hanyalah dalam benakku saja, aku sangat pengecut untuk mengakui nya. Hingga seutas senyuman menghiasi bibirku yang merekah.
"Apa anda begitu bahagia Pak hingga anda tidak bosan melihat tanda tangan itu?". Suara Alea menyadarkan ku dari lamunan. Yah, aku melihat tanda tangan Tuan Handoko di atas kertas yang di ketik oleh Alea. Aku memang tersenyum akan tanda tangan itu, namun aku lebih merasa bahagia ketika melihat tulisan hasil ketikan wanitaku.
Aku berpura-pura tidak menghiraukan Alea, namun sejujurnya jantungku telah bekerja keras setiap kali berada di dekat dirinya.
'Ah, sial. Hei jantung, Tidak bisakah kali ini kamu bekerjasama dengan ku?. Jangan membuatku gugup di depan wanitaku'.
"Kamu jangan senang dulu. Ini adalah hasil kerja keras ku". Dengan tidak tau berterimakasih aku mengucapkan itu, mungkin Alea akan menyumpahi ku dalam hatinya.
__ADS_1
"Ya.. Ya... Semua adalah hasil kerja keras bapak. Saya hanyalah figuran disini". Ucap Alea dengan nada kesal membuatku ingin melahapnya dengan rakus. 'Alea, mungkin kamu menganggap dirimu hanyalah figuran disini, tapi bagiku kamu adalah pemeran utamanya di hatiku. Kamu lah sang juaranya. Kamu penghuni setia hati ku yang selalu meronta-ronta ingin mendekap mu. Terimakasih'. Ucapku dalam hati sambil tersenyum bahagia.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
Hay Readers. Author sudah buatin Javier PROV, semoga kalian suka ya. Jangan lupa Lika dan vote. Terimakasih.
Happy Reading.
*Dede...
__ADS_1