Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Selipkan Namaku Di Antara Kalian.


__ADS_3

Deru nafas memburu, sesak terasa. Mata itu mulai sayu. Ingin berucap, tetapi tak bertenaga. Sementara rasa sakit itu terus menyerang. Tangannya kering kerontang, bibir pucat nan pasih itu terus berusaha menyebut satu nama, "Ella, Ella, Ella."


Detak jantung mulai melemah, tubuh terasa kaku, dari sudut bibir keluar cairan busa yang entah apa itu namanya. Bahkan air mata orang itu tak terbendung lagi. Inikah saatnya pergi? tak bisakah dia melihat orang terkasih untuk yang terakhir kali?


Sementara di luar ruangan, terdengar langkah kaki yang berjumlah banyak berlari secara bersamaan, hingga suara kaki itu berhenti di depan pintu ruang ICU. Tiga mata sekaligus menatap nanar seorang pria yang dulu kekar, kini kering kerontang selayaknya tulang berbungkus kulit. Wajahnya pucat pasih, bibirnya pecah-pecah. Dia menoleh ke arah pintu dengan menggunakan sisa-sisa tenaga.


Tangan orang itu melambai pelan, menandakan panggilan untuk orang yang di maksud.


"Ella, Ella."


Nama itu terus berucap dari lidahnya yang keluh. Sementara sang empunya nama berjalan pelan dan menatap penuh iba pada orang yang sedang sekarat itu, hingga tibalah dia di tepi ranjang dan memegang tangan kurus orang tersebut.


"Kak Ibrahim," lirih Shella.


Semua orang yang berada di tempat itu menitikan air mata menyedihkan. Tak terkecuali seorang pria yang jelas-jelas terluka, karena melihat wanitanya begitu dekat dengan mantan kekasih. Kendati sebenarnya hubungan mereka adalah saudara. Akan tetapi, dia hanyalah manusia biasa yang di bekali rasa cemburu, tetapi bukan saatnya untuk menaikkan ego sekarang.


Tak lama Ibrahim menoleh ke arah Akemi yang masih menitikan air mata iba. Dia memanggil pria itu sembari memaksakan senyuman, tetapi itu tulus.


"Hai, m--maafkan a-aku s-sudah m-merepot-kanmu."

__ADS_1


Suara Ibrahim tercekat di tenggorokan, hingga suara itu terbata-bata. Dia tak sanggup lagi untuk bertahan, tetapi masih ada yang mengganjal di hati sebelum dirinya pergi untuk selamanya.


"T-tolong j-jaga d-dia. J-jangan sss--akiti d--dia. J-jika kalian m-memiliki a-anak, S--selipkan Namaku di antara kalian."


Satu kalimat terakhir yang di ucapkan Ibrahim, menjadi penutup dirinya berada di dunia ini. Maka putuslah segala urusan Ibrahim yang berhubungan dengan dunia. Tak ada lagi perjuangan yang menguras tenaga dan air mata. Tak ada lagi senyuman manis dari sang pria berlesung pipi. Kini tubuh itu tak memiliki nyawa, hanya raganya yang masih bisa di sentuh. Namun, jiwanya telah kembali pada sang pemilik diri.


Sampai disitulah perjanjian Ibrahim kepada Tuhan ketika akan di lahirkan ke dunia dulu. Di usia yang masih relatif muda, yakni 25 tahun. Pria gagah itu hanya bisa memenuhi janji semasa hidup di dunia selama 25 tahun lamanya. Dia pergi untuk selamanya, dan meninggalkan seorang Ayah dan Ibu yang menangis pilu. Meski semua orang berteriak menyebut namanya, dia tak akan kembali dan bercerita bersama mereka seperti dahulu kala. Dia tak akan lagi tertawa sembari memeluk Ibunya. Tak akan lagi tersenyum ketika melakukan kesalahan.


Pria itu menutup mata, mempertanggung jawabkan perbuatannya di hadapan Tuhan. Tak ada lagi kesombongan, tak ada lagi keangkuhan, hanya amalan yang di bawanya pergi.


"Ibrahim..."


Sementara Shella hanya menangis tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hatinya juga turut terluka. Baru juga merasa bahagia mendapat restu dari sang Kakak, dan di beri kepercayaan oleh Tuhan untuk menjadi orang tua, kini harus menelan pil pahit kehidupan.


Sedangkan Akemi juga tak kalah sedihnya, pria itu bisa merasakan bagaimana sakitnya di tinggal seseorang. Dia kembali mengingat momen dimana dulu dia harus kehilangan Kakek dan neneknya dalam waktu yang bersamaan. Bedanya adalah, Kakek dan Neneknya meninggal karena usia.


"Ibrahim, mengapa kamu tega meninggalkan Ibu nak? mengapa kamu menghukum Ibu dengan cara seperti ini? hukum Ibu dengan cara yang lain. Tuhan, tolong kembali putraku."


Nisa terus meraung seakan menyalahkan Tuhan yang telah menuliskan takdir putranya yang tragis. Sampai akhir hayat pria itu harus menderita. Dia tak bisa seperti pria lainnya yang menikah dan memberi cucu untuk kedua orang tuanya.

__ADS_1


Sementara Shella memegang erat tangan Ibrahim yang dingin. Tangan yang dulu memberinya cinta. Tangan yang dulu memegangnya ketika terjatuh. Tangan yang dulu di pasangkan cincin mainan dari bunga, sebagai simbol hubungan mereka.


"Kak Ibrahim." Hanya dua kata itu yang mampu berucap dari lidah keluh Shella. Tubuhnya gemetar merasakan sedih yang luar biasa.


"Sayang, tenanglah. Ingat anak kita," ucap Akemi mengingatkan, bahwa ada nyawa yang bernaung dalam tubuh Shella.


"Akemi, Kak Ibrahim..., Kak Ibrahim, dia sudah pergi. Hu, hu, hu." Tangis Shella pecah di atas dada Akemi.


Semua yang berada di dalam ruangan itu turut menangis merasakan kesedihan yang mendalam. Tak terkecuali Dokter Kiara. Dokter cantik itu bisa melihat kegigihan Ibrahim untuk sembuh. Sebenarnya pria itu memiliki keinginan untuk sembuh seperti sedia kala. Akan tetapi dia mulai menyadari, bahwa tak ada gunanya hidup jika itu bukan bersama Shella. Dia akhirnya mengingat momen dimana Shella berkata telah menikah dan mencintai suaminya. Semua di ingat oleh Ibrahim. Tak ada satupun yang terlewatkan.


Merasa tak berguna, akhirnya Ibrahim menolak segala macam pengobatan. Bahkan pria itu tak mau makan. Dia menjalani kemoterapi, karena Dokter Kiara berhasil membujuknya. Namun na'as, di penghujung tindakan operasi, pria itu menolak obat terakhir yang akan di masukan ke dalam tubuhnya. Jadi dia mengalami koma.


Sungguh tak ada yang abadi di dunia ini, kita hanya menumpang dalam dunia fana yang penuh dengan sandiwara. Setelah hari itu tiba, tak ada lagi keangkuhan dan ketamakan dalam diri kita. Kita hanya terbaring kaku dan menjadi tulang belulang di balik tanah kuburan kita. Sebesar apapun kita membangun rumah, tetapi berakhir dengan ukuran dua kali satu, yakni makam.


Di dalam makam itu tak ada suara, tak ada kesombongan atas jabatan yang kita punya. Tak ada ketamakan atas keserakahan diri. Kita hanya bisa mengharapkan sebait doa dari anak-anak yang Soleh.


To be continued.


Assalamualaikum. Mohon maaf ya kalau di part ini agak pendek, author gak sanggup melanjutkan part ini. Sumpah bikin nyesek sendiri. Sampai ketemu nanti sore ya.

__ADS_1


Happy reading.


__ADS_2