Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Ayo Kita Berjuang Sama-Sama.


__ADS_3

Keesokan harinya, Akemi bangun terlebih dahulu. Sementara Shella masih tertidur dalam pelukan pria tersebut. Akemi tak tega untuk membangunkan Shella, akhirnya pria itu hanya menatap wajah Shella. Wajah itu terlihat sangat pucat dan seperti menyimpan berjuta kesedihan.


"Sungguh malang nasib mu sayang, kamu harus berjuang sendirian untuk melawan dunia yang begitu egois dulu," batin Akemi. Pria itu menatap wajah Shella dengan tatapan penuh iba sekaligus cinta. Kemalangan yang di alami Shella selama hidupnya dahulu, tak pernah terpikirkan oleh Akemi akan terungkit kembali. Dia pikir semuanya akan baik-baik saja dengan mencurahkan segala kasih sayangnya. Terlebih lagi Mama Alea dan Papa Javier selalu mendukung Shella. Bahkan mereka juga ikut menguatkan Shella. Tak pernah sedikitpun keluarga Akemi mengungkit masalah lalu wanita berambut panjang tersebut.


Marina yang notabene nya seorang wanita cantik dari keluarga terpandang pun tak pernah mengacuhkan Shella. Mereka bahkan selalu kompak ketika merayakan ulang tahun pernikahan Mama Alea dan Papa Javier. Namun sayang, Shella justru di tolak keberadaan nya oleh keluarganya sendiri.


Tak lama Shella pun bangun, wanita itu mengerjabkan matanya, dan mendapati Akemi sedang menatap dirinya. Shella tersenyum.


"Selamat pagi sayang," ucap Akemi hangat.


"Selamat pagi juga sayang," balas Shella dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Apakah tidur mu nyenyak semalam?" Tanya Akemi sembari mengelus pipi Shella.


"Iya, karena seseorang tak membiarkan ku untuk terjaga. Dia selalu menemaniku di setiap waktu," balas Shella tulus.


"Karena kamu adalah istriku, tentu saja aku harus menjagamu. Kamu tidak sendirian sayang. Aku, Papa, Mama, Kak Aljav, Marina, dan Naomi, selalu ada untuk mu. Kami semua mendukung mu. Karena kamu adalah keluarga kami. Jadi jangan pernah berpikir, bahwa kamu sendirian." Sumpah demi apapun, Shella sudah merasakan bahagia sepagi ini. Begitu besar kasih sayang Tuhan untuk nya, sehingga DIA mengirim malaikat sebaik Akemi untuk dirinya.


"Terimakasih sayang, terimakasih. Entah apa jadinya aku jika hidup tanpamu. Hiks, hiks." Shella terisak haru ketika ucapan suaminya itu menyentuh di sanubarinya.


"Hei, mengapa kamu menangis sepagi ini? apakah aku membuat mu sedih? maafkan aku ya?" tutur Akemi dengan raut wajah bersalah.


"Tidak sayang, tidak. Kamu tidak membuat ku sedih, aku hanya terlalu terharu. Kamu begitu mencintai ku, begitu banyak kamu mencurahkan segala kasih sayang mu padaku. Tapi aku justru membalas mu dengan segudang masalah yang datang secara bertubi-tubi," terang Shella. Shella tampak merasa bersalah karena dia harus kembali membebani Akemi dengan masalah Nisa dan Ibrahim. Padahal wanita itu juga tak pernah memikirkan jika hari ini akan tiba.


Akemi tersenyum manis sembari mencubit pelan hidung mancung Shella.

__ADS_1


"Mengapa kamu berpikir seperti itu? bukankah suami istri itu adalah satu? masalah mu adalah masalah ku juga. Jadi, ayo kita berjuang sama-sama untuk melewati semua ini. Kamu jangan khawatir, tangan ini tak akan pernah aku lepas sampai Aku menutup mata," terang Akemi tulus sembari memegang tangan Shella seakan menyalurkan kekuatan.


"Terimakasih, terimakasih. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Bahkan hanya dengan berterimakasih saja tak akan cukup. Kamu terlalu baik untuk ku," jawab Shella sembari memeluk Akemi dengan sedikit isakan.


"Kamu cukup memberiku saja cinta mu, aku sudah bahagia," balas Akemi.


"Tentu saja aku mencintaimu, bahkan cintaku padamu tak terhingga," jawab Shella lantang. Wanita itu seolah menegaskan betapa dia sangat mencintai pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Dan muncullah akal buluk si kancil milik Akemi. Pria itu tersenyum menyeringai secara tipis, dan hampir tak terlihat.


"Benarkah? kalau begitu bolehkan aku merasakan cintamu pagi ini?" goda Akemi dengan suara yang di buat-buat. Namun, memang dasar Shella si wanita lemot yang otaknya rada-rada tak sampai, dia pun tak memahami maksud dari ucapan Akemi.


"Bagaimana caranya?" tanya Shella polos sembari melepas pelukannya. Sumpah demi apapun, Akemi sangat gemas dengan tingkah polos Shella. Meski umur wanita itu sudah cukup matang, namun sifatnya terkadang seperti anak kecil yang masih butuh bimbingan ekstra. Beruntung Akemi tak memanfaatkan kepolosan Shella pagi ini, karena masih ada hal yang lebih penting dari itu.


"Caranya seperti ini."


Cup,


Shella pun membalas kecupan tersebut, tetapi bukan di pipi, melainkan di bibir.


Cup,


"Kalau itu aku juga bisa, bahkan di bibir," ucap Shella sembari mengedipkan sebelah matanya. Ternyata wanita itu tak sepolos yang di bayangkan Akemi. Atau mungkin wanita itu sudah belajar banyak dari Suaminya yang terkadang mesum itu? entahlah, yang jelas saat ini Shella cukup pandai membalas Akemi. Dan sukses membuat hati pria tersebut berbunga-bunga.


"Aaa, jadi kamu sudah pintar ya?" goda Akemi.


"Tentu saja, aku belajar darimu," balas Shella.

__ADS_1


Dalam hati Akemi merasa bersyukur, karena ternyata usahanya tak sia-sia untuk menghilangkan rasa sedih Shella. Meski tak berlangsung lama, tetapi setidaknya wanita itu tak tampak murung lagi seperti sebelumnya. Bahkan jiwanya pun sudah tak terguncang lagi.


"Ayo kita temui dia," ucap Akemi tiba-tiba dengan nada serius. Shella mengerutkan keningnya merasa tak paham dengan ucapan Akemi barusan.


"Siapa?" tanya Shella.


"Ibrahim."


Deg,


Hati Shella merasa tercubit, untuk sesaat dia melupakan saudaranya itu. Ternyata Akemi mampu mengalihkan dunia Shella. Dalam sekejab pria itu bisa mengubah mood Shella menjadi baik.


"Apakah kamu tidak keberatan jika aku menemuinya?" tanya Shella ragu-ragu. Dia tak ingin menyinggung perasaan Akemi. Karena biar bagaimanapun juga Ibrahim pernah menjadi pria istimewa di hatinya. Meski sebenarnya hubungan itu tak seharusnya terjadi.


"Tentu saja tidak, dia adalah keluargamu. Dan itu artinya dia adalah keluargaku juga." Ya Tuhan, jika ada Akemi lain di dunia ini, maka simpan satu buat di jadikan menantu. Sungguh pria itu berhati mulia.


"Mengapa kamu sangat baik? apakah hatimu terbuat dari malaikat?" ucap haru Shella dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tidak pernah merasa menjadi pria baik, aku hanya berusaha yang terbaik untuk wanita baik seperti mu. Kamu berhak menikmati kebaikan di dunia ini sayang." Sumpah demi apapun, ingin rasanya Shella mengoleksi Akemi di sepanjang hidupnya sampai dia akan menemukan menantu yang sama seperti Akemi ketika dia sudah memiliki putri nanti.


"Baiklah, kita akan menemui Ibrahim. Terimakasih sudah mau berjuang bersama ku. Aku tidak akan melepaskan tangan ini," balas Shella tulus. Dan sepasang suami istri itu pun menyudahi percakapan mereka di lagi hari, dan bersiap-siap untuk pergi menemui Ibrahim di Rumah Sakit Jiwa.


Seorang istri akan berhasil menjalani kewajiban nya, ketika suami mampu menjadi imam dalam rumah tangga. Kesalehan istri, tergantung dari bagaimana cara suami mendidiknya. Jika baik, maka baiklah dia. Dan jika buruk, maka buruk lah keduanya.


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2