Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Sarapan Bersama.


__ADS_3

Uji coba di kamar mandi akhirnya berakhir, Akemi terpaksa harus mengalah karena tak sanggup menembus kepolosan Shella. Terlebih lagi pria itu sudah merasakan lapar yang luar biasa. Akhirnya Akemi keluar terlebih dahulu dari kamar mandi, meninggalkan Shella yang berakhir dengan memegang bibirnya. Senyuman Shella merekah, benih-benih cinta itu mulai tumbuh dan berkembang dalam hatinya untuk Akemi.


Puas menikmati rasa cinta itu, Shella pun membasuh dirinya dengan air hangat, lalu kemudian wanita itu keluar dari kamar mandi. Akemi sudah tampak rapi dengan menggunakan pakaian kantor, tersisa dasi yang belum terpakai. Sementara Shella menggunakan baju dress yang telah di siapkan oleh Mama Alea sebelum mereka menikah dan meletakan baju-baju Shella kedalam kamar Akemi. Sungguh besar kasih sayang Mama Alea kepada wanita yang kini menjadi menantunya itu.


"Apakah kamu akan ke kantor?" Tanya Shella.


"Iya," jawab singkat Akemi.


"Apakah aku boleh ke kantor bersama mu?" Tanya Shella ragu-ragu. Wanita itu tampak tak enak hati bila harus merepotkan pria yang kini berstatus sebagai suaminya tersebut.


Akemi belum menjawab, dia tampak kesusahan memasang dasi. Entah mengapa kelihaian Akemi memasang dasi selama ini, seakan menghilang ketika di depan Shella.


Shella merasa suaminya itu dalam kesulitan, akhirnya membantu Akemi untuk memasang dasi.


"Butuh bantuan?" tawar Shella.


"Dengan senang hati," jawab Akemi.


"Ternyata aku harus berpura-pura agar kita bisa lebih dekat. Kamu juga sangat cantik dan harum dengan jarak dekat seperti ini. Kalau begitu, setiap hari saja aku pura-pura bodoh memasang dasi," batin Akemi. Ya, sejujurnya Akemi hanya bersandiwara saja tak tahu memasang dasi. Tujuannya adalah agar istrinya itu lebih dekat dengannya, dan mencium dalam-dalam aroma tubuh Shella. Aroma yang sudah mulai menjadi candu. Entah mengapa jika berada di dekat Shella, otak buluk si kancil Akemi selalu saja muncul. Padahal dulu dia merupakan pria yang sangat kaku dan irit kata. Banyak wanita yang di tolaknya, bahkan nyaris tak pernah melirik mahluk yang bernama wanita. Tapi bersama Shella, Akemi seakan menemukan jati dirinya. Ya, itulah Akemi yang sebenarnya. Pria jahil dan usil, tetapi keusilan itu hanya berlaku untuk istrinya seorang, yaitu Shella Yolanda.


Akemi terpesona dengan keindahan ciptaan Tuhan yang maha agung itu. Bulu mata lentik Shella seakan melambai dan mengalun indah di pelupuk mata. Bibirnya yang tipis dan manis, sukses menjadi candu asmara di relung jiwa Akemi. Hidungnya yang mancung, menambah poin kecantikan wanita berparas ayu tersebut.


Akemi sangat menikmati jarak yang begitu dekat antara dirinya dan Shella, deru nafas keduanya seolah saling bersahutan. Bibir mereka pun hampir menyatu, karena Akemi sengaja mendekatkan wajahnya pada wajah Shella, agar pria itu dapat mencuri ciuman Shella setelah di kamar mandi tadi.


Masih terus mendekat kan wajah, tak lama kemudian Shella hampir menyelesaikan ritual pasang dasinya. Lalu tiba-tiba saja,


Cup,


Akemi mengecup kening Shella tepat setelah wanita itu selesai memasang dasi suaminya. Mata Shella membulat seketika, ini kedua kalinya Akemi melakukan hal yang sukses membuat hati wanita itu meraung menggila, bahkan meronta.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Shella.


"Ah, maafkan aku. Tadi ada nasi di kening mu," jawab Akemi bohong. Pria itu tampak salah tingkah juga sama halnya seperti Shella. Dia kehabisan alasan untuk menjawab pertanyaan Shella. Akhirnya, nasi lah yang menjadi tumbal jawaban seorang Akemi. Sungguh konyol.


"Nasi? tapi kita belum sarapan tadi, dari mana datangnya nasi di kening ku?"

__ADS_1


Deg,


Pertanyaan itu seakan mampu melumpuhkan otak buluk si kancil Akemi. Pria itu tak dapat berkata-kata lagi, kali ini tak ada ide yang bersinar di atas kepalanya selayaknya lampu yang terang benderang.


"Sudahlah, ayo kita sarapan. Mama dan yang lainnya pasti sejak tadi menunggu kita," tandas Akemi akhirnya setelah tak kuasa menjawab pertanyaan Shella. Pria itu mengalihkan perhatian istrinya agar tak ketahuan berbohong.


"Baiklah, ayo kita pergi," balas Shella, melupakan topik nasi tadi. Sementara Akemi menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyum penuh kemenangan disana.


"Huf, hampir saja. Untung Shella tidak melanjutkan pertanyaannya, jika tidak maka aku harus menjawab apa? Akemi, kamu memang pria tampan dan cerdas. Hehe," batin Akemi.


***


Di ruang makan, Papa Javier masih ingin meneruskan usaha menggodanya pada Aljav dan Marina. Namun, aksi menggodanya itu harus terhenti ketika sang pengantin baru akhirnya muncul juga. Hal yang di nanti-nati Naomi.


"Akhirnya Kakak datang juga, aku pikir tadi kalian tidak akan keluar kamar," cetus Naomi sembari mengembuskan nafas lega.


"Maafkan aku, tadi aku terlambat bangun. Jadinya kesiangan," tutur Shella tak enak hati, tapi tak mendapat balasan ketus dari anggota keluarga yang lainnya. Mereka justru memahami situasi Shella yang merupakan pengantin baru. Kendati durennya belum terbelah efek dari masih mengkal, tetapi paling tidak Akemi sudah menyicilnya dengan lima menit ciuman.


"Sudahlah, tidak apa-apa sayang. Ayo duduk, kita sarapan bersama," tutur Mama akhirnya. Dan mereka pun akhirnya sarapan bersama dengan khidmat. Tak ada yang saling membuka suara, hanya bunyi sendok makan yang saling bersahutan menemani khidmatnya sarapan pagi mereka.


***


Sedangkan Akemi dan Shella masih berada di rumah Mama, keduanya kembali dalam kamar setelah pria itu melupakan tas kerjanya yang berisi dokumen penting.


"Jadi, apakah aku boleh ke kantor bersama mu?" Tanya Shella ragu-ragu. Wanita itu tampak tak berani mengucapkan keinginan nya untuk bekerja.


"Kamu boleh bekerja, tapi bukan di kantor lagi," jawab Akemi datar. Namun, penuh penekanan.


"Lalu aku harus kerja dimana? bagaimana aku membayar kos, biaya makan, dan kehidupan ku sehari-hari? aku harus bekerja," tutur Shella, dan sukses membuat Akemi bingung. Bagaimana tidak, mereka telah menikah, tetapi Shella masih memikirkan tempat kos nya, bahkan makan dan kebutuhan hidup lainnya. Apakah dia pria tak bertanggung jawab? pikir Akemi.


"Kamu tidak perlu memikirkan itu, bukankah kita sudah menikah? lalu untuk apa bekerja? kamu tinggal menunggu ku pulang kantor, menyiapkan aku makan, dan yang lainnya," terang Akemi dengan senyum merekah. Pria itu membayangkan betapa indahnya ketika kepulangan nya dari kantor di sambut oleh wanita pujaan hatinya.


"Berarti aku bekerja jadi asisten rumah tangga kamu?" Tanya Shella polos.


Toeng,

__ADS_1


Antara kesal dan lucu, itulah perasaan Akemi saat ini. Pria itu merasa heran dengan istrinya, bagaimana bisa wanita itu tak mengerti ucapan Akemi tadi? mengapa Shella justru berpikir dia menjadi asisten rumah tangga nya? saat itu juga ingin rasanya Akemi menggaruk tembok hingga jebol.


"Astaga, wanita ini benar-benar tidak paham," gumam Akemi.


"Maksudku, kamu cukup menjadi istriku saja. Duduk tenang di rumah dan sambut aku tiap kali pulang kantor. Untuk urusan makan dan kebutuhan lainnya, kamu ambil ini. Gunakan sesuka hati mu," terang Akemi akhirnya sembari memberikan kartu Black card dari dompetnya.


"Ini untuk apa?" tanya Shella polos seraya mengambil kartu tersebut.


"Itu untuk kamu gunakan sesuka hatimu. Baiklah, aku berangkat dulu sekarang," ucap Akemi seraya menunjuk pipinya agar Shella mau mencium pipi pria tersebut. Namun, sayangnya Shella tak paham bahasa tubuh Akemi.


"Apa?" Tanya Shella bingung.


"Hmm," gumam Akemi seraya menunjuk kembali pipinya.


"Ada apa dengan pipi mu? kamu sakit gigi?" Sumpah demi apapun ingin rasanya Akemi melompat dan membenturkan kepalanya di tembok. Bagaimana bisa Shella tak mengerti kode yang di berinya? dasar payah.


"Baiklah, ini saja," ucap Akemi akhirnya berusaha untuk mengalah sembari mengulurkan tangannya agar kali ini Shella memahami maksud nya untuk mencium tangan Akemi. Namun sayang, otak Shella benar-benar tak bisa bekerja dengan baik ketika main tebak-tebakan yang sebenarnya sangat mudah untuk di pahami. Hanya saja wanita itu terlewat polos, jadi dia tak tahu harus berbuat apa dengan kode Akemi.


Shella justru memberi kembali kartu ATM Black card tadi pada Akemi. Karena wanita itu pikir, Akemi meminta kembali kartu tadi.


Merasa jengah dan gagal, akhirnya Akemi menarik pinggang Shella dan menciptakan jarak yang sangat dekat dan intim di antara mereka. Lalu kemudian,


Cup,


Akemi mengecup kening Shella, sedangkan wanita itu memejamkan matanya merasa takut.


"Ini maksudku. Kita akan melakukan nya setiap hari," ucap Akemi to the poin. Pria itu tak ingin bermain-main dengan bahasa tubuh lagi. Dia memilih untuk mengungkapkan secara langsung agar Shella paham.


Shella bagai tersihir akan pesona Akemi, dia pun mengangguk kan kepalanya mengiyakan ucapan Akemi tadi.


"Baiklah, sekarang aku berangkat dulu," ucap Akemi seraya berbisik di telinga Shella, "Tunggu aku pulang kucing liar ku," lanjutnya kemudian sembari mengedipkan sebelah matanya membuat hati Shella semakin bergemuruh.


Desiran cinta itu mulai merekah lagi. Akemi mampu mengubah hidup Shella dalam sekejab. Bahkan keluarga mereka memberinya cinta yang luar biasa. Cinta yang sangat di rindukan oleh wanita bernama Shella Yolanda.


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2