
Tiga orang beda generasi itu masih terduduk di ruang tamu sembari menahan gejolak yang menggumpal di dalam dada. Perasaan mereka sama-sama terguncang.
"Apakah Anda akan tetap diam membisu? atau memberitahu kami apa tujuan Anda kesini?" Tanya Akemi sekali lagi. Rasanya pria itu sudah muak dengan kebungkaman Nisa. Saatnya lah wanita itu berkata jujur.
"Aku ingin Shella menemui Ibrahim," ucap Nisa akhirnya setelah lama diam. Suara wanita paruh baya itu bergetar, dia juga merasa takut Akemi dan Shella akan menolak permintaan nya. Dan benar saja, Akemi menolak mentah-mentah permintaan Nisa. Dulu wanita itu mengatakan Shella sebagai wanita pembawa sial, dan sekarang dia meminta Shella untuk menemui putra nya. Untuk apa? untuk menghina wanita malang itu lagi? sudah cukup penghinaan yang di dapat oleh Shella. Waktunya untuk menolak. Pikir Akemi.
Akemi tersenyum mengejek kepada Nisa.
"Hm, untuk apa Anda meminta istri saya untuk menemui putra Anda? bukankah istri saya adalah wanita pembawa sial bagi Anda? lalu mengapa Anda berbicara seolah istri saya seorang pembawa berkah?" ucap Akemi dengan senyum mengejek. Nisa merasa malu dan harga dirinya terpojokkan, tapi dia tak perduli. Kali ini dia harus melakukan hal yang benar demi putranya. Sekalipun dia harus mencium kaki Shella, atau meski di tolak ribuan kali. Dia tetap akan meminta Shella untuk menemui putranya. Karena hanya dengan bertemu Shella lah Ibrahim bisa kembali normal. Setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Nisa saat ini.
"Karena Ibrahim sangat menginginkan Shella Nak, Ibrahim sangat membutuhkan Shella. Setiap hari dia menyebut nama Shella. Tolong kasi dia kesempatan untuk bertemu Shella, tolong. Aku mohon, hu,hu,hu." Tangis Nisa kembali pecah lagi. Meski harga dirinya jatuh, tetapi demi Ibrahim dia rela melakukan apapun. Meski sudah terlambat.
"Mengapa Anda menjadi egois Nyonya? bukankah dulu Anda sangat membenci Shella? Anda bahkan tega membuang nya ke panti asuhan. Padahal seharusnya Anda lah yang menjaga dan merawat Shella. Tapi mengapa Anda begitu egois?" tutur Akemi dengan suara lantang. Dia seolah mewakili Shella untuk mengungkapkan perasaan yang wanita itu tak bisa ungkapkan kepada Nisa. Dia terlalu lemah untuk melawan.
Sementara Shella masih menangis, dia belum bisa berkata apa-apa. Dia bahkan membayangkan kondisi Ibrahim saat ini. Bagaimana bisa pria itu menjadi gila? apakah cintanya sehebat itu sehingga dia tak bisa mengendalikan diri?
"Iya, Anda benar Tuan Akemi. Aku memang menyalahkan Shella atas apa yang terjadi pada Adik ku. Tapi aku menyesali perbuatan ku itu. Aku benar-benar minta maaf Nak, aku minta maaf. Hukum aku jika perlu, aku akan menerima tiap hukuman yang kalian berikan padaku. Tapi tolong, temuilah Ibrahim Nak, aku mohon," pinta Nisa sembari mengatupkan kedua tangan nya di depan Shella dan Akemi.
"Anda sudah menerima hukuman Anda Nyonya. Bukankah hukuman yang paling berat adalah putra Anda menjadi gila? tak ada hukuman yang lebih berat dari itu!" tutup Akemi.
Deg,
Benarkah ini hukuman? benar kah Nisa mendapatkan karma dari hasil perbuatannya? tidak, ini bukan hukuman. Ibrahim harus sembuh, harus! pikir Nisa.
"Pergilah Nyonya. Jiwa istri saya masih terguncang, tolong jangan ganggu dia dulu," lanjut Akemi kemudian.
Nisa tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia tak bisa memaksa seseorang demi ego nya. Tubuh Nisa menjadi lemas. Wanita itu merasa gagal dalam membujuk Akemi dan Shella.
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan memaksa kalian untuk memenuhi permintaan ku. Tapi jika nanti kalian berubah pikiran, maka silahkan datang menemui Ibrahim. Anggaplah aku egois sekali lagi, tapi aku hanya seorang Ibu yang menginginkan putranya baik-baik saja dan normal kembali," jawab Nisa.
Akhirnya wanita paruh baya itu mengalah. Dia tak ingin mengulang kembali kesalahan yang sama dengan terus mendesak Shella. Dulu dia yang mendesak wanita itu untuk menjauh dari kehidupan Ibrahim tanpa memikirkan bagaimana hancurnya perasaan wanita itu. Padahal dia tahu betul, bahwa Shella adalah keponakannya sendiri. Anak dari adik kesayangannya.
Nisa pun pergi meninggalkan Akemi dan Shella. Wanita itu harus pulang dengan tangan hampa. Sedangkan Akemi akhirnya menghembuskan nafas lega. Ya, pria itu merasa lega, karena Nisa akhirnya pergi dan tak menambah keguncangan yang di alami oleh istrinya.
"Sayang, apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Akemi pada Shella yang masih terdiam membisu.
"Tolong bawa aku ke kamar, aku ingin istirahat," jawab Shella dengan suara bergetar.
"Baiklah sayang, aku akan mengantarmu ke kamar, em?" balas Akemi sembari mengecup hangat kening Shella.
Dan perayaan ulang tahun Akemi pun harus berantakan, karena adanya kabar yang bila siapa saja yang mendengar nya pasti akan terguncang.
Sepasang suami istri itu pun akhirnya masuk ke dalam kamar. Akemi membaringkan Shella di atas tempat tidur, dan mengecup kembali kening istrinya itu. Akemi duduk di samping Shella sembari memeluknya seolah memberi kekuatan pada wanita malang tersebut.
"Sayang, kamu harus tenang. Semua akan baik-baik saja, percayalah padaku, em?" Akemi masih terus menguatkan Shella. Pria itu tak pernah berhenti mengelus rambut Shella seolah menyalurkan kehangatan.
"Tidurlah sayang, setelah itu kita akan pikirkan bersama masalah Ibrahim. Aku tidak akan membiarkan kamu sendirian melewati semua ini. Aku akan selalu ada untuk mu," gumam Akemi.
Akemi beranjak dari tempat tidur, lalu kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai mandi, Akemi ke dapur untuk melanjutkan masakan Shella yang tertunda tadi. Pria itu cukup cekatan dalam memasak. Meski terlahir sebagai orang kaya, tetapi Akemi tak pernah menganggap itu semua sebagai barang yang kekal. Tidak ada salahnya belajar memasak, kendati dia seorang pria.
Selesai memasak, Akemi pun menyajikan semua makanan itu di meja makan. Kebetulan waktu masih menunjukan pukul 20.30.
"Dia pasti belum makan tadi, sebaiknya aku membangunkan nya," gumam Akemi. Dan akhirnya pria itu pergi ke kamar untuk membangunkan Shella.
Akemi melihat Shella masih tertidur pulas. Sebenarnya dia tak tega membangun kan istrinya itu, tetapi Akemi jauh lebih tak tega melihat Shella kelaparan. Akhirnya Akemi membangun kan Shella.
__ADS_1
"Assalamualaikum sayang, bangunlah." Akemi membangun kan Shella dengan mengelus pipi wanita tersebut. Merasa ada sentuhan halus di kulitnya, Shella pun bangun.
"Apakah sudah pagi?" tanya Shella dengan suara serak.
"Belum sayang, ini masih malam. Dan waktunya kita makan. Kamu pasti belum makan dari tadi kan?" tutur Akemi lembut. Suara pria itu penuh kasih sayang.
"Aku tidak lapar," lirih Shella.
Tak lama perut Shella bersuara seperti orang yang sedang melakukan demonstrasi.
Brrt, berrt, brrt,
Akemi tersenyum tipis ketika mendengar suara perut Shella.
"Mungkin bibirmu tak mau makan, tapi tidak dengan perut mu. Dia juga butuh nutrisi," balas Akemi.
"Tapi aku sedang tak ingin makan," jawab Shella manja.
"Kalau kamu tidak makan, lalu siapa yang akan menjagaku nanti? aku juga butuh di jaga," goda Akemi seolah ingin menghibur Shella yang masih tampak sedih. Tak lama Shella memukul pelan dada Akemi, dan pria itu pun berpura-pura sakit.
Bug,
"Is, kamu ini seperti bayi saja," gerutu Shella. Ternyata godaan Akemi mampu menutupi sedikit rasa sedih Shella.
"Aww, sakit sayang. Kalau aku sakit, kamu pasti kerepotan," balas Akemi dengan suara yang di buat-buat.
"Kamu jangan khawatir sayang, semua pasti akan baik-baik saja. Percayalah padaku, em? sekarang waktunya kita makan dulu. Setelah itu kita akan pikirkan apa yang seharusnya kita lakukan pada Tante Nisa," lanjut Akemi kemudian. Shella tersenyum bahagia pada Akemi. Dalam hati wanita itu merasa bersyukur memiliki Suami seperti Akemi yang sangat pengertian. Pria itu tak pernah membentaknya, ataupun memarahi dirinya. Bahkan ketika wanita itu melakukan kesalahan.
__ADS_1
Pria yang baik akan menemukan wanita yang baik, dan wanita yang baik pasti akan menemukan pria yang baik. Seperti Shella dan Akemi. Mereka adalah dua insan pilihan Tuhan. Keduanya di pilih untuk bersatu, karena sama-sama memiliki jiwa yang besar. Sabar, iklhas, dan tawakal, selalu di junjung tinggi oleh keduanya.
To be continued.