
Makan malam khidmat itu pun berakhir dengan suara sendawa yang menandakan, bahwa Akemi dan Shella telah kenyang. Keduanya mengucap syukur dalam hati kepada sang pemberi rezeki sembari mengucap kata Hamdalah.
Kini Akemi menuju ruang tengah yang di desain khusus ruang keluarga ketika dia menikah nanti. Dan sekarang rencana itu telah terwujud. Sementara Shella tengah membersihkan peralatan dapur yang kotor pasca makan malam tadi.
Akemi memutar film kesukaannya, yakni drama Korea. Ternyata Akemi merupakan pria melo drama. Setiap malam sepulang dari kantor, pria itu menghabiskan malamnya dengan menonton drama yang sangat di gandrungi anak-anak remaja tersebut. Kemudian datang lah Shella menghampiri pria tersebut dan duduk di samping nya, dan tak menyisakan jarak sama sekali di antara mereka. Kulit mereka pun saling bersentuhan, bagai ada sengatan listrik yang mengalir di dalam darah keduanya. Ternyata baik Akemi maupun Shella, mereka merasakan hal yang sama.
"Jadi setiap malam kamu menonton drama Korea?" Tanya Shella seolah berusaha untuk mencairkan suasana. yang mulai canggung.
"Iya, hampir setiap malam drama ini yang menemaniku," jawab Akemi sembari melihat layar TV yang berukuran besar tersebut.
Shella menatap wajah Akemi yang tampak baik-baik saja, tak ada yang aneh dari raut wajah pria tersebut. Tak ada sesuatu yang menggambarkan kesedihan di wajah Akemi, bahkan dia juga tidak tampak kesepian. Lalu mengapa pria itu tak pernah memiliki kekasih sebelumnya? pikir Shella. Lalu sedetik kemudian, "Ah, aku lupa kalau dia punya pacar," gumam Shella.
"Apakah kamu mengatakan sesuatu?" Tanya Akemi.
"Ah, tidak." Shella menjadi salah tingkah. Untuk sesaat keheningan menghampiri keduanya. Tak ada yang saling membuka suara. Hingga Akemi bertanya sesuatu yang menciptakan kedekatan di antara mereka.
"Ceritakan padaku tentang kehidupan mu dulu," tutur Akemi setelah lama diam. Perlahan wajah Shella berubah menjadi sendu. Dia menatap kosong kedepan, seolah membayangkan bagaimana kehidupan nya di masa lalu. Mungkin memang dia harus bercerita tentang dirinya dulu. Dengan begitu, dia juga bisa mengenal Akemi.
"Aku hidup di Panti Asuhan Sinar Cahaya sejak kecil. Aku tidak pernah melihat wajah kedua orang tuaku. Bagaimana rupa mereka, aku tak pernah melihatnya. Dulu aku berpikir, bahwa aku adalah bagian dari anak-anak yang datang mengunjungi Panti Asuhan itu. Aku berharap salah satu dari mereka adalah orang tuaku. Tapi ternyata aku salah. Mereka tidak pernah ada." Shella tampak tegar menceritakan masa lalunya yang sangat pilu. Bahkan sukses membuat hati Akemi iba. Begitu sulitkah Shella di masa lalu?
"Ibu Panti tidak pernah memberitahuku siapa aku sebenarnya, dan apakah aku masih memiliki keluarga. Sampai hari dimana aku membulatkan tekad untuk merantau ke ibu kota. Ternyata Ibu Panti mulai menceritakan awal mula aku bisa berada di Panti itu." Shella kembali menitikan air mata pilu. Dia membayangkan bagaimana kisahnya di masa lalu yang begitu menyayat hati.
__ADS_1
Sementara Akemi masih diam tak bergeming, dia masih menunggu kelanjutan cerita di masa lalu istrinya. Namun, sejujurnya hati pria itu sangat merasa iba. Sesakit itukah Shella dulu? dia begitu kesepian.
"Lalu apa kata Ibu Panti?" Tanya Akemi akhirnya setelah beberapa saat diam.
"Ibu mengatakan, bahwa aku di temukan di depan pintu Panti Asuhan dalam keadaan memprihatinkan. Tubuh ku demam saat itu. Bahkan aku kehausan. Tak ada susu dan tak ada makanan. Hanya selembar surat yang menyatakan, bahwa ketika aku dewasa nanti, maka aku harus ke kota untuk mencari wanita yang bernama Ibu Sumi. Aku sudah bertemu dengannya sebelum kerja di Perusahaan mu. Tapi dia menolakku." Shella tampak tegar ketika dia mengenang hari dimana penolakan itu terjadi. Dia di hina, bahkan di katakan pembawa sial. Betapa sakit dan hancurnya perasaan Shella kala itu. Namun, apalah daya. Dia hanyalah gadis biasa yang tak punya apa-apa untuk di andalkan.
"Lalu kemudian aku melamar kerja di Perusahaan mu. Meskipun hanya sebagai petugas kebersihan, aku cukup puas karena tak harus hidup terlunta-lunta di kota ini." Hati Akemi semakin teriris ketika Shella menyebut dirinya hanya sebagai petugas kebersihan di Perusahaan suaminya sendiri kala itu.
Mengapa dulu dia sangat terlambat mengenal sosok Shella. Jika saja Tuhan lebih cepat mempertemukan mereka, maka Akemi akan menggenggam tangan wanita itu hingga tak akan terjatuh dan merasakan pahitnya dunia.
Akemi tiba-tiba saja memeluk tubuh Shella dan membenamkan wajah wanita itu di dadanya. Dia memeluk erat tubuh itu, seakan tak mau melepaskan.
"Maafkan aku karena sangat terlambat mengenal mu. Jika saja aku tahu ada wanita baik seperti mu selain Mama dulu, maka aku akan mencarimu," ucap Akemi sungguh-sungguh.
"Karena aku ingin menggenggam tangan ini sekuat tenaga agar tak terjatuh." Akemi beralih memegang tangan Shella.
"Aku tidak ingin kamu merasakan pahitnya hidup. Agar kamu tidak perlu merasakan sakitnya penolakan dan penghinaan." Akemi mengeluarkan segala perasaannya. Mungkin inilah saatnya dia mengutarakan perasaan yang mulai tumbuh.
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu, aku bahkan mungkin lebih buruk dari pria di luar sana. Tapi aku janji, aku tidak akan melepas tangan ini, hingga Tuhan sendiri yang akan melepaskan," ucap Akemi sungguh-sungguh. Mata perak Akemi menatap dalam-dalam manik mata hitam pekat Shella. Tatapan mata keduanya pun terkunci. Akemi memandang mata itu dengan penuh cinta, sedangkan Shella justru salah mengartikan tatapan tersebut. Dia merasa di kasihani oleh Akemi.
"Apa kamu sedang mengasihani ku?" lirih Shella. Akemi sangat terkejut dengan pertanyaan Shella. Bagaimana bisa wanita itu meragukan karakter Akemi? bukankah kalimat pria itu sangat jelas tadi? baiklah, mungkin mereka harus berteman dulu. Lalu kemudian saling mengenal satu sama lain. Pikir Akemi.
__ADS_1
"Untuk apa aku mengasihani mu? apakah menurutmu pernikahan ini karena rasa iba yang aku punya? apakah karena aku ingin mengangkat derajat mu? itu salah Shella, kamu salah besar," terang Akemi.
"Lalu karena apa? apakah karena aku tampak menyedihkan di matamu? apakah aku tampak mmmpp." Akemi menyumbat mulut Shella yang sudah banyak mengeluarkan kata-kata tak berguna itu.
Cup,
Sumbatan itu berupa penyatuan bibir tipis keduanya.
"Karena ini," ucap Akemi setelah melepas bibirnya.
"Kau---"
Akemi kembali menyumbat bibir cerewet itu. Dia seolah tak ingin memberi kesempatan pada benda kenyal itu untuk berkata-kata lagi. Baginya sudah cukup untuk berucap, kini saatnya beraksi.
Shella mulai membalas ciuman itu, dia tak menolak, bahkan tak memberontak. Mungkin nalurinya juga mulai terbuka dan menuntun dirinya untuk membuka hati, serta memberikan kesempatan pada Akemi.
Pertautan itu kembali menimbulkan irama yang mengalun indah, hingga membangunkan gelora asmara yang mulai meronta di dalam sana. Gelora itu sudah membara dan membakar keduanya. Kabut itu mulai memenuhi relung hati Shella dan Akemi. Tak ada alasan lagi bagi Shella untuk menolak Akemi membela duren miliknya.
Dan Shella pun berkata, "Jangan lupa like dan vote ya readers," 😀
Mohon maaf ya kezeyengen aku, aku masih gantung sampai disini. Besok lanjut lagi ya dengan cerita menarik lainnya. Tenang aja, duren itu akan terbelah kok. Pasti kalian lagi nungguin part bela duren kan? iya kan? haha. Aku bilang dulu ke Akemi buat mempertajam belatinya buat bela duren Shella ya. Supaya membekas di hati. Haha.
__ADS_1
Selamat malam readers.
Happy reading.