
Mobil sedan milik Akemi terparkir sempurna di pelataran parkiran Perusahaan miliknya. Pria itu turun dari mobil dan berjalan dengan elegan. Sikap dingin dan kaku kembali lagi pada sosok Akemi. Ciri khas itu seakan telah lama melekat dalam dirinya.
Begitulah Akemi, jika di depan karyawan dia akan menjadi sosok yang dingin dan terkesan cuek. Namun, ketika bersama Shella dia akan menjadi orang lain. Ceria dan bahagia.
Banyak pasang mata yang mengagumi sosok Akemi, pria itu sangat mempesona di mata setiap kaum hawa. Tubuh tinggi, bermata perak, berotot kekar, hidung mancung, bulu mata lentik, dan aura ketampanan pria itu seolah memancarkan daya pikat tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya.
Akemi merupakan tipe pria yang hangat kepada seseorang yang di anggapnya istimewa. Bahkan kepada Marina, yang merupakan calon Kakak iparnya. Satu yang sangat di benci oleh seorang Akemi, yakni bersandiwara demi tujuan tertentu yang merugikan diri dan keluarganya. Akemi sangat menolak keras kebohongan, dan menjunjung tinggi kejujuran.
**
Akemi kembali pada kehidupan kantor, gedung yang menjulang tinggi hingga puluhan lantai. Gedung itu di tapaki nya selama bertahun-tahun hingga berhasil mempertahankan citra yang bagus.
Akemi berjuang keras demi kesejahteraan keluarga dan karyawan. Ya, Akemi tak pernah melupakan kesejarahan tiap karyawan yang mencari nafkah melalui Perusahaan yang di pimpinnya. Hal itu tertanam sejak dahulu. Sejak bertahun-tahun lamanya. Ketika Papa Javier dulu mendirikan Perusahaan itu dengan susah payah, dia tak pernah mengabaikan kesejahteraan karyawannya. Kendati dulu Papa Javier merupakan pria yang dingin, angkuh, dan juga keras kepala, tetapi dia tidak pernah memperlakukan seseorang dengan tak adil. Dan hal itu di wariskan kepada putra putrinya.
"Permisi Tuan, Pak Toni ingin bertemu dengan Anda," ucap sekretaris Akemi yang bernama Lisa.
"Baiklah, suruh dia masuk," titah Akemi.
Tak lama setelah Lisa keluar, Pak Toni masuk ke dalam ruangan Akemi dengan selembar kertas di tangannya.
"Ini data yang Tuan minta," ucap Pak Toni seraya memberikan kertas berwarna putih tersebut.
Akemi membaca tiap detail tulisan yang terangkai di kolom kertas tersebut. Akemi mengangguk kan kepalanya, seolah sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Baiklah Pak Toni, terimakasih atas bantuannya. Anda boleh pergi," tutur Akemi datar.
Dan pria paruh baya itu meninggalkan Akemi dalam keadaan tak terbaca. Pria itu tampak sedang memikirkan sesuatu. Entah apa itu, hanya dia dan Tuhan yang tahu.
**
Di kantin, Shella tengah melakukan aktivitas makan siang. Waktu telah menunjukkan pukul 12.30, waktunya untuk istirahat, dan wanita itu memilih kantin sebagai tempat ternyaman nya untuk beristirahat. Karena jika tetap diam di ruang khusus petugas kebersihan, maka Bu Risma akan mencari-cari kesalahannya untuk di jadikan bahan amukan wanita paruh baya tersebut.
"Apakah makanannya enak?" Tanya Ibu kantin yang bernama Aminah.
"Iya Bu, enak. Terimakasih sudah memberiku diskon khusus," ucap Shella tulus. Ya, Ibu Aminah memberikan makanan tambahan untuk Shella sebagai tanda persahabatan mereka. Sejujurnya wanita paruh itu merasa kasihan terhadap Shella, karena selalu di perlakukan tidak adil oleh Ibu Risma. Tiap kali Ibu Aminah mengantarkan makan siang Akemi di ruangan pria tersebut, Ibu Aminah selalu menyaksikan bagaimana kekejaman Bu Risma pada Shella.
Masih sangat jelas di ingatan wanita paruh baya tersebut, bagaimana Bu Risma menyiram kan air ke wajah Shella hanya karena wanita itu terlambat membawakan Bu Risma teh. Bu Risma murka, dan menyiramkan air ke wajah Shella. Ketika itu Ibu Aminah tak bisa berbuat apa-apa, karena posisinya juga sama seperti Shella. Hanya karyawan kelas bawah. Tak memiliki status yang setara dengan orang-orang seperti Ibu Risma.
"Bagaimana kondisi mu Nak Shella?" Tanya Ibu Aminah selanjutnya.
"Alhamdulillah baik Bu."
"Apa Bu Risma memperlakukan mu dengan kasar hari ini?" Tanya wanita paruh baya itu penasaran.
"Tidak kok Bu, beliau hari ini tidak masuk kantor," terang Shella. Kening Bu Aminah berkerut penuh tanya.
"Kenapa bisa?"
__ADS_1
"Saya juga kurang tahu Bu, mungkin beliau sedang sakit," tutur Shella seraya memasukan makanan di mulutnya yang tersisa satu sendok makan saja.
"Semoga dia sakit terus," gumam Ibu Aminah ketus. Wanita paruh baya itu tampak sangat kesal jika mengingat Ibu Risma. Terlebih sikapnya yang arogan seolah dirinyalah pemilik Perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan tersebut.
"Hus, Ibu gak boleh ngomong kaya gitu. Pamali, nanti kalau Malaikat lewat dan mengabulkan doa Ibu, bagaimana?" Ujar Shella polos.
"Biarkan saja, itu balasan untuk seseorang yang jahat," kesal Aminah.
"Ya ampun Ibu, itu gak baik loh Bu. Kata Ibu Panti, kita tidak boleh menyimpan dendam pada sesama. Karena Tuhan tak menyukai itu," tutur Shella, dan sukses membuat hati Ibu Aminah tercubit. Ibu Aminah berdecak kagum pada Shella. Kemurnian dan ketulusan hati wanita itu tak di buat-buat. Semuanya murni tanpa adanya unsur tertentu.
"Polos sekali kamu Nak, seandainya saja aku memiliki seorang putra, maka aku tak akan segan menikahkan mu dengannya," batin Ibu Aminah.
Aminah adalah, wanita paruh baya yang hidup sebatang kara sebagai janda. Dahulu dia menikah dengan seorang pria yang berprofesi sebagai karyawan di Perusahaan kelapa sawit di pulau Kalimantan. Selama hampir 20 tahun masa pernikahan, mereka tak di karuniai seorang anak. Hingga suami wanita itu mengembuskan nafas terakhir.
Merasa terpukul atas kepergian suaminya, akhirnya Aminah merantau ke ibu kota dan menjual kue keliling. Pada saat itu Aminah sedang menjajakan dagangannya di tengah jalan, dan tak sengaja bertemu dengan Alea. Merasa iba atas kondisi Aminah, akhirnya Alea membawa Aminah ke rumah mereka dan menawarkan pekerjaan sebagai pelayan di rumah Javier dan Alea, tetapi wanita itu menolak. Dia hanya meminta kepada Alea untuk menempatkan dirinya di kantin Perusahaan milik Javier. Alasannya adalah, karena Aminah menyukai profesinya sebagai pedagang. Maka jadilah dia penjaga Kantin Perusahaan selama bertahun-tahun lamanya.
"Terimakasih Bu untuk makanan nya, Shella bawa yang ini ya?" Ucap Shella membuyarkan lamunan Ibu Aminah. Dia mengusap air mata yang ada di sudut matanya. Cairan bening itu hampir saja menetes di pipinya yang mulai keriput.
"Iya Nak, bawalah." Dan Shella pun pergi meninggalkan Ibu Aminah yang masih setia menatap dirinya hingga hilang dari balik pintu kantin.
"Semoga saja kamu bisa menemukan kebahagiaan yang hakiki kelak nanti Nak. Semoga kamu akan menemui pria yang menjaga kehormatan mu, dan tak mempermasalahkan status sosial mu. Dan ketika masa itu tiba, maka aku adalah pertama yang akan memeluk dirimu," gumam Ibu Aminah.
Ibu Aminah sangat menyayangi Shella dengan tulus dan tanpa syarat. Kepolosan dan kebaikan hati Shella, memancarkan aura kecantikan yang sesungguhnya. Fisik akan rapuh ketika masanya tiba, tetapi kecantikan hati tak akan pernah pudar sampai masa menutup usia.
__ADS_1
To be continued.