Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Bulan Madu.


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu Shella dan juga Akemi untuk berbulan madu, akhirnya sampai juga. Keduanya sangat bahagia dan menikmati kebersamaan mereka. Romantis, bahagia, indah, dan juga meneduhkan hati.


Akemi dan Shella berbulan madu ke negara Maldives. Keduanya memilih negara tersebut, karena menanjak nya popularitas Maldives atau dalam bahasa Indonesia, Maladewa, membuat negara yang berada di barat daya India ini masuk dalam daftar wajib kunjung para pejalan atau wisatawan Indonesia, seperti Akemi dan Shella.


Identik dengan pantai biru yang sempurna dan memanjakan mata sejauh pandangan, Maladewa juga kerap dianggap liburan mahal, karena harganya yang fantastis. Namun, hal itu tak menjadi masalah bagi pria bermata perak tersebut. Baginya, kebahagiaan istrinyalah yang paling utama. Akemi sudah berjanji dalam hati untuk selalu membahagiakan Shella bagaimana pun keadaan nya.


Selain menghabiskan waktu menikmati pantai, bersantai, dan melakukan aktivitas bela duren berdurasi panjang, ada banyak aktivitas lain yang menjadi alternatif keduanya. Mereka melakukan snorkeling, menyelam, surfing, melihat atraksi lumba-lumba, jet ski, kayak, wakeboarding dan lainnya. Akemi dan Shella sangat menikmati bulan madu mereka. Terutama Shella, wanita itu langsung di suguhkan pengalaman istimewa untuk pertama kalinya ke luar negeri. Dia bahkan tak pernah keluar kota sebelum akhirnya wanita itu hijrah ke ibu kota.


Puas melakukan aktivitas yang memacu adrenalin, kini Shella dan Akemi menikmati kuliner di Resort Grand Park Kodhipparu Maldives. Resort tersebut menyediakan tiga tempat makan sebagai pilihan, dan keduanya mencoba semua tempat tersebut. Tidak hanya menyajikan makanan setempat atau kombinasi dengan makanan lain, tempat makan juga menyuguhkan pemandangan laut sebagai nilai tambahnya. Ada juga layanan makan berdua candle light dinner jika memang berlibur bersama pasangan. Dan kini Akemi dan Shella pun menikmati itu semua. Sungguh bulan madu yang indah tiada tara.


"Apakah kamu menikmati nya?" Tanya Akemi sembari melempar senyuman manis.


"Iya, ini sungguh luar biasa. Aku bahkan tidak pernah bermimpi untuk datang ke tempat ini. Aku terlalu takut dan malu untuk bermimpi terlalu jauh," jawab Shella haru.


"Kenapa?" Tanya Akemi.


"Karena aku terlalu kecil untuk memiliki mimpi tinggi," lirih Shella. Tampaknya wanita itu selalu mengingat masa-masa sulit dan pilunya dahulu. Bahkan dalam momen bahagia seperti saat ini, dia juga masih mengingat peristiwa tersebut.

__ADS_1


"Setiap orang berhak untuk bermimpi sayang, termasuk kamu." Akemi berusaha untuk menguatkan wanita yang kini berstatus sebagai istrinya tersebut.


"Tapi tidak untukku," lirih Shella.


"Mengapa begitu? bukankah kita manusia sama? lalu mengapa kamu harus memposisikan dirimu berbeda?" tutur Akemi. Shella tersenyum kecut ketika mendengar kalimat suaminya. Tampaknya bulan madu itu harus di warnai sedikit kisah pilu di masa lalu, dan rapuhnya perasaan Shella ketika dia harus berhadapan dengan situasi dimana biasanya orang-orang dari kalangan atas berada.


"Kamu berkata seperti itu karena tak pernah berada di posisi ku. Aku merasakan pahitnya hidup selama 23 tahun. Aku berjuang sendirian, entah itu di jalanan atau di pelosok terkumuh sekalipun. Aku tidak mengeluh atau menyesali peristiwa di masa lalu, hanya saja aku terlalu naif jika berkhayal atau bermimpi setinggi langit. Hampir semua orang menolak keberadaan ku. Bahkan tak jarang mereka mengatakan aku pembawa sial. Meski aku tidak pernah tahu alasan di balik kata-kata itu," terang Shella lirih. Mata wanita itu mulai berkaca-kaca. Dia seolah berada di masa lalu yang menyakitkan.


Akemi menggenggam tangan Shella sembari berkata, "Sayang, sebagian orang pasti akan menyukai kita, dan sebagian juga pasti membenci kita. Tidak semua orang harus sepakat dengan hidup atau keberadaan kita. Berbeda pendapat atau berbeda sudut pandang itu sangat lumrah. Mungkin kamu benar, aku tidak pernah berada di posisi mu. Aku bahkan tidak pernah tahu seberapa sedihnya kamu dahulu. Tapi tahukah kamu seberapa besar pengalaman dan hikmah yang kamu petik dari itu semua?" Shella tampak diam terpaku dengan kalimat suaminya itu. Ternyata pria yang di nikahin nya itu sangatlah bijaksana.


"Aku memang tidak pernah hidup susah seperti mu, tapi setiap manusia memiliki ujiannya masing-masing. Mungkin ujian mu yang tersusah adalah penolakan orang padamu. Dan ujianku adalah harus menolak sejuta wanita demi menunggu sosok wanita seperti mu. Dan ternyata Tuhan mempertemukan kita dalam satu tempat yang tak pernah kita bayangkan selama ini," terang Akemi.


"Tentu saja sulit sayang, aku harus menahan diri untuk tidak bermain-main di luar sana. Meskipun pada dasarnya aku tidak pernah menginginkan itu semua, tetapi bukan kah aku juga memiliki nafsu? kadang-kadang keinginan untuk mencoba-coba kerap kali menghampiri, tetapi bukankah nafsu itu bisa di kendalikan? karena manusia yang hebat adalah ketika manusia itu mampu mengendalikan hawa nafsunya." Ingin rasanya Shella memeluk erat Akemi jika bukan karena sedang ramai pengunjung. Dia hanya bisa menitikan air mata haru. Shella benar-benar di hujam rasa bahagia yang tiada tara. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang akan di dustakan?


"Apakah kamu benar-benar mencintai ku?" Tanya Shella haru.


"Tentu saja aku mencintaimu. Bahkan jika kamu tak membalas cintaku, itu tak akan mengubah perasaan ku padamu. Aku sudah terlanjur jatuh kedalam pelukan mu, dan rasanya sangat nikmat," ujar Akemi seraya mengedipkan sebelah matanya, membuat Shella tersipu malu. Namun, sekali lagi Shella tak menjawab cinta Akemi. Wanita itu seolah terbuai akan kalimat cinta suaminya, hingga melupakan, bahwa Akemi juga butuh jawaban cinta. Shella hanya membalas dengan senyuman malu-malu.

__ADS_1


"Mengapa kamu tersenyum?" Goda Akemi.


"Tentu saja aku harus tersenyum, apakah aku harus menanggapinya dengan tangisan?" Gerutu Shella. Wanita itu merasa kesal dengan pertanyaan suaminya. Namun, Akemi justru mendekatkan wajahnya pada Shella sembari berbisik, "Kalau kamu tersenyum, rasanya ularku ingin mematok mu."


Deg,


Ular? dimana ular? apakah Akemi ke Maladewa membawa ular? pikir Shella. Lalu sedetik kemudian, "Aaakk..., ular? dimana ular mu? mana?" Shella berteriak histeris hingga orang-orang menoleh pada mereka dengan berbagai macam tatapan. Heran, lucu, bingung, dan lainnya. Akemi pun memijit pelipisnya, merasa tak habis pikir dengan kepolosan istrinya. Bagaimana tidak, ternyata otak Shella rada-rada geser dan tak sampai ketika suaminya memplesetkan sebuah kalimat. Padahal Shella sendiri lah yang menyebut anak konda Akemi dengan istilah ular. Lalu bagaimana bisa dia melupakan itu?


Masih terus histeris, akhirnya Akemi menenangkan Shella sembari memegang lengannya dan menuntun wanita itu untuk duduk kembali di kursinya.


"Tenanglah sayang, tidak ada ular disini. Mengapa kamu harus berteiak?" Ujar Akemi berusaha untuk menenangkan wanitanya.


"Lalu, mengapa tadi kamu bilang ada ular yang mau mematok ku?" Tanya Shella polos. Saat itu juga ingin rasanya Akemi menenggelamkan dirinya di lautan bebas agar wanita itu lebih memahami mana kalimat khiasan, dan mana kalimat lugas.


To be continued.


Jangan lupa untuk like, komen, dan juga vote ya readers. Sampai ketemu besok ya. In syaa Allah besok author bakal crazy up ya jika tak ada halangan. Doakan Author agar sehat terus ya. Terimakasih.

__ADS_1


Happy reading.


__ADS_2