
Aku mengadakan rapat bersama Tuan Andika, pengusaha mudah yang berusaha bersaing dengan ku. Namun tiba-tiba ia mengajukan kerjasama. Tentu saja aku akan menerima permintaan nya itu dengan senang hati, aku ingin melihat sejauh mana pria yang terkenal sombong dan juga ambisius itu bekerja.
Aku melihat Andika menatap Alea dengan tatapan mendamba, seolah ingin menerkam wanitaku itu. 'Kamu ingin bermain-main dengan ku rupanya Tuan Andika. Kita lihat saja, jika kamu sampai berani menyentuh wanitaku, maka aku sendiri yang akan memotong tanganmu itu' Batin ku.
"Terimakasih atas kerjasamanya Tuan Javier. Semoga hari Anda menyenangkan. Dan juga terimakasih nona..."
"Alea".
Andika mengalihkan jabatan tangannya kepada Alea, dan Alea menerima uluran tangan itu dengan tersenyum manis, senyuman yang selalu di tunjukan pada semua orang, tapi tidak padaku. Alea justru menatapku dengan tatapan sinis, tapi aku mengabaikan itu, aku suka melihat sudut matanya yang selalu menghujam ke jantungku.
Aku melihat tatapan mata Andika pada Alea seperti tatapan rakus, dan aku benci itu. Dan aku rasa Alea juga tidak menyukai situasi itu. Terbukti dari sikapnya yang berubah menjadi canggung, Alea meninggalkan aku dan Andika untuk ke toilet.
"Maaf Tuan Javier, apakah sekretaris Anda sudah menikah?" Pertanyaan ba*ingan ini membuat darahku mendidih.
__ADS_1
"Maaf saya tidak bisa memberi informasi mengenai privasi dari pegawai saya". Kataku dengan tenang, aku berusaha untuk menguasai emosiku yang siap meledak.
"Wah, ternyata Anda sangat profesional Tuan Javier. Baiklah saya permisi dulu. Jika anda berubah pikiran, silahkan hubungi saya mengenai sekretaris Anda". Tutur pria breng*ek itu padaku dengan senyuman menyeringai yang paling aku benci. Aku mengepalkan tanganku.
"Cantik apanya, cantik di lihat dari sedotan ia". Ucapku marah karena terbakar cemburu. Ya, aku cemburu jika ada yang mengagumi Alea selain aku. Hanya aku pria yang boleh mengaguminya. Betapa egoisnya aku, tapi tak mengapa, Alea hanyalah wanitaku. Camkan itu.
"Bapak mau sedotan?". Alea membuyarkan lamunanku.
Aku meninggalkan Alea yang masih tampak bingung dengan sikapku yang tiba-tiba saja berubah menjadi bad mood. Alea sungguh mampu mengubahku dalam sekejap mata. Emosiku, jiwaku, hatiku, hasrat ku, dan cintaku, semuanya berubah. Ini semua karena pria yang tidak ingin aku sebut namanya, aku hanya menyematkan dengan sebutan ba*ingan.
*****
Di kantor aku dan Alex juga Andre sedang menyusun rencana untuk merayakan keberhasilan proyek yang telah aku tanda tangani bersama Tuan Handoko. Aku begitu bahagia, karena Alea aku bisa mencapai impianku.
__ADS_1
"Apa kamu tidak mau mengajak sekretaris empat matamu itu ke club". Tanya Andre. Ya, yang di maksud pria playboy ini adalah Alea, aku sengaja menyebut Alea dengan sekretaris empat mata seolah menyembunyikan perasaanku dari kedua sahabat ku itu. Aku malu akan diriku yang jatuh cinta pada wanita hanya dalam hitungan menit. Ya, aku jatuh cinta pada Alea saat pertama kali bertemu, saat dirinya tidak sengaja menabrak ku. Aku tidak ingin di anggap sebagai lelaki murahan, aku masih menjunjung tinggi ego ku.
Tawaran Andre dan juga Alex tentu saja aku menolaknya. Aku tidak ingin wanitaku di perhatikan oleh pria lain, apa lagi itu di tempat terkutuk dimana akan banyak pasang mata yang memuja dirinya, dengan alasan Alea terlalu polos untuk ke tempat laknat itu, bahkan aku mengatakan jika aku malu berjalan berdua dengan dirinya jika bukan karena pekerjaan. Dan sialnya ucapanku itu berdampak pada Alea, wanita itu mendengar ucapanku yang mengatakan aku malu jika berdua dengannya. Astaga Javier, kamu baru saja mematahkan hatimu sendiri dengan menghina wanitamu. Ya, hatiku sakit dan patah dengan ucapanku sendiri. Tapi aku berusaha untuk menutupi kekecewaan ku itu dengan bersikap angkuh.
Aku menatap mata Alea yang tidak bisa aku jelaskan. Namun wajah itu berubah menjadi sendu. Apakah dia tersinggung dengan ucapanku tadi. Jika ia, itu artinya... Ah, Javier... kamu harus memastikan sesuatu.
*****
Aku mengikuti Alea yang setiap harinya menghabiskan waktu makan siang di kave depan kantor. Dia selalu bersama sahabatnya, kalau tidak salah namanya Dina. Aku tidak terlalu ingat nama sahabatnya itu, mata dan ingatanku hanya tertuju pada Alea seorang.
Dan betapa terkejutnya aku ketika Alea mengatakan jika dirinya menyukai Alex sahabat ku, tidak... Dia mencintai Alex. Percayalah, saat itu hatiku menangis karena sakit, cemburu, terluka, dan juga hancur. Semua rasa itu muncul secara bersamaan, tanpa sengaja aku mengeratkan genggamanku pada gelas hingga pecah. Tanganku berdarah, tapi bukan itu masalahnya. Hatiku yang berdarah.
Semenjak itu aku menjadi lebih sensitif pada Alea, aku menjadikan dirinya bahan pelampiasan kemarahan ku. Aku sangat emosional jika setiap kali melihat Alea tersenyum ketika menatap sahabat ku Alex, tatapan kagum dan juga cinta. Aku cemburu. Aku tidak menyalahkan Alex dalam hal ini, pria itu tidak tau jika Alea mencintai dirinya dalam diam, tapi Alea? dia sangat sadar mencintai Alex dengan sepenuh hatinya. Hatiku benar-benar terluka hingga aku lupa jika akulah yang egois disini, aku tidak cukup berani untuk mengungkap kan perasaanku pada wanitaku, aku hanya memujanya lewat keangkuhan ku.
__ADS_1