
Mentari sudah mulai bersinar menerangi bumi yang sedang berada pada musim kemarau. Namun, sinar mentari itu tak dapat menembus ruang dimana Shella berada. Ruang kos kecil dan sempit yang berukuran tiga kali tiga meter itu, menampung Shella selama satu bulan terakhir ini. Meski tak ada AC atupun kipas angin, Shella tetap bersyukur karena masih di beri nafas hingga saat ini. Bahkan ruangan itu juga di penuhi kecoak jika musim hujan tiba. Hawa panas kerap kali memenuhi ruangan berukuran kecil tersebut. Bahkan tak jarang air dalam kamar mandi tak mengalir. Beruntung Shella telah mempersiapkan beberapa barang perlengkapan sebelum akhirnya dia memutuskan untuk Kos di tempat itu.
Ember berukuran sedang sebagai penampung air ketika mengalir. Shella juga menyiapkan ember berukuran besar yang di letakkan di sudut kamar Kosnya sebagai penampung air untuk masak, mencuci, dan keperluan lainnya.
Dalam ruangan berukuran tiga kali tiga, Shella menyisakan satu tempat tidur berukuran satu badan untuk mengistirahatkan tubuh nya yang kelelahan. Tak jarang Shella meratapi nasibnya dalam ruangan tersebut. Bukan menagisi takdir Ilahi, hanya saja nasibnya terlalu miris jika mengingat keluarga nya sengaja menitipkan Shella di Panti Asuhan. Entah apa alasannya, Shella tak pernah tahu.
Shella menagis pilu dalam kamar yang di saksikan dinding dan lampu berukuran lima wath. Tangisan itu terdengar sangat memilukan.
Kenikmatan yang di tawarkan dunia untuk orang kelas atas, tak pernah Shella rasakan. Bahkan, arti kata kenikmatan itu sendiri, Shella hampir tak mengenalinya. Dia terlalu kecil untuk memahami tentang kenikmatan duniawi.
Banyak orang yang meremehkan seorang Shella Yolanda, tak terkecuali kedua orang tua mantan kekasihnya, Ibrahim. Hinaan demi hinaan di tujukan pada Shella. Hingga cercaan yang begitu memilukan wanita itu kerap di alami. Kendati demikian, Shella tak pernah membenci.
Shella adalah gadis rupawan yang sangat polos, baik hati, suka menolong terhadap sesama, dan dermawan. Jadi, wajar saja jika Ibrahim menaruh hati padanya. Bahkan keduanya pun sama-sama saling jatuh cinta. Namun, perbedaan status sosial yang begitu menjulang tinggi di antara mereka, sehingga Shella harus rela melepas cintanya.
Sejujurnya Ibrahim tak salah sepenuhnya, pria berambut ikal itu sangat mencintai Shella sepenuh hati. Bahkan dia juga rela meninggalkan kedua orang tuanya demi mempertahankan cintanya kepada Shella. Namun, dengan menentang orang tua tak membuat Shella bahagia. Dia justru merasakan takut yang sangat luar biasa. Pernikahan tanpa restu dari kedua orang tua, akan sulit untuk melangkah. Hubungan itu seakan tak memiliki masa depan. Bukankah surga seorang anak lelaki berada di bawah telapak kaki Ibu nya meski telah menikah? lalu bagaimana bisa Shella membiarkan surga itu menjauh dari kehidupannya? sedangkan dia juga seorang wanita. Kelak nanti dia akan menjadi seorang Ibu. Dia akan tahu seberapa sakitnya ketika seorang anak menjauh dari surga Ibunya. Rasanya pasti sakit tiada tara.
Tok, tok, tok,
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Shella. Wanita itu bangun dari kasur kecilnya, dan membuka pintu kamar Kosnya.
"Pak Ahmad?"
__ADS_1
Pak Ahmad merupakan Bapak Kos tempat Shella berada. Beliau adalah pria paruh baya yang baik hati. Tak jarang Pak Ahmad membawakan Shella sarapan. Karena Pak Ahmad tahu, jika Shella merupak anak yatim piatu yang merantau ke ibu kota untuk mengadu nasib. Tentu saja sebelumnya Shella menceritakan kondisi hidupnya pada Pak Ahmad tersebut. Mendengar cerita Shella, membuat hati Pak Ahmad merasa iba.
"Nak Shella, ini bapak membawakan mu bubur kacang hijau. Dimakan ya?" Ucap pak Ahmad seraya memberikan semangkok bubur kacang hijau pada Shella. Shella menerima bubur kacang hijau tersebut sembari tersenyum.
"Terimakasih ya Pak, maaf sudah merepotkan Bapak," tutur Shella tulus.
"Tidak apa-apa Nak, kebetulan hari ini adalah hari ulang tahun cucu saya. Kami membuat kacang hijau dan membagi-bagikan pada seluruh penghuni Kos ini," terang Pak Ahmad.
"Baiklah, saya permisi dulu ya." Lanjutnya kemudian sebelum akhirnya pria paruh baya itu meninggalkan Shella.
Shella memakan bubur kacang hijau tersebut dengan lahap hingga habis tak tersisa. Akhirnya perut wanita itu terisi dengan sarapan yang cukup mengenyangkan pagi itu. Meski tak seenak nasi goreng atau ayam goreng buatan Chef ternama. Atau sarapan spaghetti ala orang kaya, tetapi Shella tetap bersyukur masih di kelilingi orang-orang baik seperti pak Ahmad dan Ibu Aminah penjaga kantin Perusahaan tempatnya bekerja.
Puas menyantap sarapan bubur kacang hijau tadi, Shella pun bergegas untuk berangkat ke kantor. Pukul 07.00 Shella sudah menunggu ojek langganan nya untuk mengantar dirinya ke tempat kerja.
"Terimakasih ya Mang?" Ucap Shella tulus.
"Sama-sama Neng" balas Mulyono. Dan Shella pun memasuki Perusahaan yang entah berapa jumlah gedungnya, Shella tak pernah menghitungnya.
Setibanya Shella di ruang khusus petugas kebersihan, Shella harus berurusan dengan Bu Risma yang sengaja datang pagi-pagi buta. Entah apa yang di kerjakan oleh wanita paruh baya itu pagi-pagi sekali di Perusahaan, tetapi saat ini situasi Shella sangat mencekam. Dimana Ibu Risma sudah memasang wajah penuh amarah yang siap menerkam Shella saat itu juga.
"Shella Yolanda!" Bentak Ibu Risma, membuat Shella terkejut hingga tak sengaja menjatuhkan Vas bunga yang berukuran besar di sudut ruangan.
__ADS_1
Prang,
Deg,
Jantung Shella mulai berpacu lagi, hatinya gundah, gejolak yang seharusnya tak terjadi di pagi hari, kini mulai bergemuruh hingga memenuhi jiwa dan raga.
Mata Shella membulat seketika, seakan ingin melompat ke lantai. Wanita itu berjalan dengan gemetar, lalu kemudian memungut pecahan kaca tersebut.
"Apa kamu tidak bisa bekerja dengan benar? apa tak bisa sehari saja kamu tak membuatku marah?" Tanya Ibu Risma emosional. Matanya merah seperti seseorang yang sedang kemasukan Jin, atau memang dirinyalah yang merupakan titisan Jin.😁
"Maafkan saya Bu, saya tidak sengaja menyentuhnya," ucap Shella ragu-ragu dan dengan kepala tertunduk.
"Jawaban mu selalu sama saja setiap harinya. Apa kamu tidak memiliki jawaban lain selain tak sengaja, ha?" Intonasi suara Ibu Risma mulai meninggi. Dia seperti seseorang yang sedang kesetanan.
"Hari ini kamu harus membersihkan seluruh lantai Perusahaan. Jangan berhenti sebelum semuanya selesai." Perintah Ibu Risma seakan tak terbantahkan. Bagaimana bisa Shella harus membersihkan seluruh lantai Perusahaan yang entah berapa jumlah gedungnya itu? setidaknya harus ada seseorang yang membantu Shella atau wanita itu bisa mati seketika. Namun, Shella tak bisa menolak. Baginya, ucapan Ibu Risma merupakan perintah yang tak terbantahkan dan harus di patuhi. Jika tidak, maka wanita itu akan kehilangan pekerjaan nya dalam sekejap mata.
To be continued.
Assalamualaikum. Mohon maaf ya readers. Segini dulu episodenya, karena kondisi Author yang sedang mengidam. Jadi semampunya Author saja ya nulisnya. In syaa Allah Nanti malam Author sambung lagi 2 atau 3 bab. Mohon maaf jika membuat kalian kecewa.🙏
Jangan lupa like, komen, dan vote yang banyak ya readers.
__ADS_1
Happy reading.