Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
27. Meminta Maaf.


__ADS_3

Alea merebahkan tubuhnya di tempat tidur setelah seharian merasa lelah. Akhirnya wanita berkacamata itu bisa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sebelum sang empunya tiba. Alea dan Javier memang bekerja di tempat yang sama, namun keduanya tidak pernah berangkat atau pulang dengan satu mobil yang sama pula. Javier tidak pernah sedikitpun menawarkan tumpangan pada Alea, pun Alea tidak berharap akan di perlakukan adil oleh suaminya tersebut. Bahkan wanita itu akan merasa sesak jika harus berada satu mobil bersama Javier.


"Ah, akhirnya. Aku jadi merindukan tempat tidur di rumah Papa". Gumam Alea sambil menatap langit-langit kamar. Perlahan mata Alea mulai mendayu pelan, mata indah nan bulat tersebut tertutup sempurna hingga akhirnya wanita itu tertidur di atas tempat tidur milik suaminya.


Tiga puluh menit kemudian, Javier telah kembali dan memasuki kamar yang di tempatinya bersama Alea. Dan di lihatnya wanita tersebut sedang tertidur di atas ranjang miliknya sambil memeluk guling. Javier berjalan hati-hati agar tidak membangunkan Alea, pria bertubuh atletis itu melihat wajah istrinya yang sedang tertidur pulas, nafasnya bergerak teratur, wajah itu begitu polos. Tanpa Javier sadari, ia mengusap lembut pipi Alea menggunakan tangan kanan sambil menundukkan kepala agar dapat menjangkau wajah wanita tersebut lebih dekat lagi. Ia merasa terdorong untuk memegang pipi mulus itu, ingin rasanya di kecup pipi yang tampak natural tanpa polesan makeup tersebut, namun sejurus kemudian Javier melepaskan pipi Alea sambil menggelengkan kepala.


"Ah, apa yang sudah aku lakukan?. Aku pasti sudah gila". Gumam Javier. Ia mengutuk dirinya sendiri karena telah berpikir yang tidak-tidak. Lalu pria itu meninggalkan Alea yang masih tertidur dan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


*****


Lima belas menit kemudian Javier telah selesai dengan ritual mandinya. Dia hanya menggunakan handuk, hingga menunjukan roti sobek miliknya. Tubuh kekar itu tampak segar setelah tersentuh air. Javier melihat Alea yang masih saja tertidur pulas tanpa mengubah posisi yang sedari tadi memeluk bantal guling. Javier tersenyum gemas melihat wajah polos Alea ketika sedang tidur.


"Mungkin dia lelah. Baiklah, sebaiknya malam ini dia tidur saja di tempat tidur". Gumam Javier sambil berlalu meninggalkan Alea untuk mengenakan pakaian.


Kini Javier telah rapi dengan pakaian santainya, Ia menggunakan baju kaos putih dan celana pendek, lalu Ia meraih ponsel miliknya yang di letakan di atas nakas guna mengecek Email yang masuk. Kemudian ia mendaratkan tubuhnya di atas sofa yang biasa di tiduri oleh Alea.


"Mmmmm---". Alea merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku akibat terlalu pulas tertidur hingga posisinya tidak berubah sama sekali sejak pertama kali mendaratkan tubuh rampingnya di tempat tidur yang baru kali ini di nikmat. Wanita itu telah tersadar dan bangun dari tempat pembaringan yang di anggap miliknya tersebut.


"Aaaaaakkkk---". Alea berteriak kencang merasa terkejut ketika melihat Javier yang sedang menatap dirinya dengan tatapan datar sambil melipat kedua tangan di atas dada.


"Apa kamu sangat menikmati tempat tidur itu?". Tanya Javier dengan suara pelan, kali ini tidak ada suara angkuh dari pria yang di anggapnya otoriter tersebut, yang ada hanyalah kelembutan. Suatu hal yang sangat langkah bukan?.


"Ah, maafkan aku karena sudah berani menyentuh barangmu. Aku akan membersihkannya". Alea mulai merapikan tempat tidur milik bos sekaligus suaminya itu,


"Maaf".


"Ha?". Alea menghentikan aktivitasnya. Ia pikir Javier akan marah karena telah berani menggunakan tempat tidurnya tanpa izin. Namun bukannya marah, pria itu justru meminta maaf pada Alea.


"Ehem, aku minta maaf atas sikapku tadi siang karena sudah membentakmu". Javier berkata dengan wajah yang tidak bisa di baca oleh Alea. Kini wanita itu menatap intens mata pria yang berwarna perak tersebut, ia ingin mencari kebohongan disana, namun wanita berkacamata itu tidak menemukannya. Yang ada hanyalah ketulusan, sesuatu yang jarang di lihat oleh Alea.

__ADS_1


"Apa kamu yakin?". Tanya Alea dengan wajah datar.


"Maksudmu?".


"Aku meragukan permintaan maafmu". Tutur Alea sambil membelakangi Javier dan tersenyum. Ia ingin menggoda Javier dengan berpura-pura tidak percaya akan permintaan maaf dari suaminya tersebut.


"Apa aku tampak berbohong?". Tanya Javier dengan wajah serius. Kali ini ada sedikit rasa takut jika Alea tidak memaafkan dirinya. Entahlah, mungkin kali ini pria itu merasa terlalu keras pada Alea selama ini dan menyadari kesalahannya.


"Yah, anggap saja begitu". Alea menaikan kedua bahunya, lalu mendekati Javier.


"Kecuali kamu mau meminta maaf yang benar". Lanjutnya kemudian, membuat kening Javier hampir menyatu.


"Apa caraku salah?". Tanya Javier dengan wajah bingungnya. Pria itu tidak tau bagaimana cara meminta maaf pada wanita, apa lagi membujuk wanita. Selama ini ia mengganggap dirinyalah yang benar, bahkan ketika bersama Airin dulu, ia tidak pernah meminta maaf terlebih dahulu sebelum Airin memulainya. Tapi kali ini, Alea memintanya untuk memohon maaf.


"Apa aku harus mengajar Anda untuk meminta maaf yang benar Tuan Javier Alexander?.


"Al, aku minta maaf atas kejadian tadi siang. Aku sudah tidak berlaku adil padamu. Dan terimakasih atas bantuanmu". Tutur Javier tulus dan masih dengan mata terpejam. Kali ini pria itu benar-benar merasa bersalah sekaligus berterimakasih pada Alea yang telah menyelamatkan dirinya. Dan Alea masih saja berusaha menahan tawanya, ia tau jika suaminya itu sungguh-sungguh meminta maaf, hanya saja ia masih ingin sedikit membalas suaminya tersebut dengan menyuruhnya memohon.


"Akan aku pikirkan". Balas Alea sambil melepas genggaman tangan Javier. Wanita itu berjalan ingin memasuki kamar mandi guna membersihkan diri yang belum sempat ia lakukan karena tertidur.


"Apa kamu tidak mau memaafkanku?". Tanya Javier tidak percaya dengan sikap Alea yang seolah mengacuhkannya.


"Aku tidak bilang begitu, aku hanya bilang nanti aku pikirkan". Balasnya sambil membelakangi Javier dengan menarik sudut bibirnya membuat senyum penuh kemenangan. Namun senyuman itu menyurut seketika manakala Javier menarik tubuh ramping Alea hingga jarak antara keduanya sangatlah dekat.


DEG...


Jantung Alea mulai berdetak tidak karuan, ingin rasanya jantung itu melompat jauh, sebab Javier terus mengeratkan pelukannya hingga Alea bergerak kasar ingin melepaskan pelukan itu. Namun tenaga Javier terlalu kuat untuk di kalahkan.


"Apa kamu sengaja em?". Kini suara Javier terdengar begitu sensual di kuping Alea, hingga wanita itu meremang. Perlahan Javier mendekatkan wajahnya seolah ingin menc*um Alea, membuat wanita itu menutup matanya rapat-rapat. Awalnya Javier hanya ingin menggoda Alea, namun entah apa yang sudah merasuki hati dan pikirannya, tiba-tiba saja ibu jari Javier mengusap bibir ranum Alea. Ada dorongan hasrat untuk mengecup bibir itu. Sedangkan Alea masih saja menutup matanya rapat-rapat hingga ia merasakan sebuah benda kenyal menyentuh bibir tipisnya. Ia mengerjabkan matanya berkali-kali, merasa tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh suaminya tersebut. Bibir keduanya saling bertautan.

__ADS_1


Tanpa di sadari Alea mendesah, suara itu lolos begitu saja yang sedari tadi di tahan olehnya.


Javier tersenyum mendengar desahan itu, ia merasa berhasil menggoda Alea.


Alea mulai terbuai dengan permainan yang di lakukan oleh Javier, melupakan kekesalan yang terjadi selama ini di antar keduanya.


Ingin rasanya Alea menghentikan permainan Javier, namun tubuh wanita itu mengkhianati otaknya. Ada rasa tuntutan lebih dari ini. Hingga pada akhirnya Alea berteriak menyebut nama suaminya tersebut, karena telah sampai pada pelepasannya yang pertama. Wanita itu menarik nafas dalam-dalam. Matanya mulai memerah, ingin melakukan lebih dari ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2