
Seluruh tubuh Shella gemetar, tangan nya seakan tak mampu bergerak untuk memungut kaca yang berserakan di lantai. Matanya mulai berkaca-kaca, takut akan terkena amukan seorang Ibu Risma.
Terlalu pagi jika Shella harus di hukum, terlalu pagi jika Shella harus menangis, terlalu pagi jika Shella harus mendapat amukan, dan terlalu pagi jika Shella harus di pecat.
Shella masih diam, tak berani mengucapkan sepatah katapun. Sementara Ibu Risma masih berdiri sembari berpikir untuk menentukan kalimat apa lagi yang akan di gunakannya untuk memarahi seorang Shella Yolanda.
"Shella, bersihkan semua pecahan kaca itu, lalu kamu bersihkan semua lantai Perusahaan ini sampai selesai. Jangan ada yang terlewatkan. Aku akan mengawasi mu. Jadi, kamu tidak bisa mengelabui ku. Paham kamu!" Tutur Ibu Risma sembari menangkup dagu Shella dengan keras, membuat wanita itu menahan sakit.
Akhirnya Ibu Risma pergi meninggalkan Shella yang sudah mulai terisak. Bukan karena pedihnya luka di tangan akibat terkena pecahan kaca, atau karena sakit terkena tangan wanita paruh baya tadi, tetapi sakit karena Shella di perlakuan selayaknya seorang pelayan yang tak bermartabat. Bukankah Shella juga seorang manusia yang di bekali rasa sakit? dia bukanlah patung yang diam tak bernyawa. Dia juga bukan seseorang yang tak mengenal rasa lelah.
Masih terus memungut pecahan kaca sembari menangis, deraian air mata itu membasahi pipinya yang mulus bagai tak bertepi. Hingga karyawan lain telah datang di tempat yang sama bersama Shella. Shella menyeka air matanya. Dia bersikap seolah baik-baik saja. Namun, sejujurnya orang-orang itu tahu persis bagaimana kondisi Shella.
Semua karyawan menatap Shella dalam diam. Mereka semua bungkam tak berkata. Mereka cukup tahu bagaimana perlakuan Ibu Risma pada Shella selama ini, tetapi tak berani mengadukan perbuatan bos nya itu pada Akemi sebagai pemilik dari Perusahaan tersebut.
Kini Shella telah selesai membersihkan lantai, dia beralih ke lantai dasar untuk memulai aktivitas nya. Shella berurai keringat. Letih, lelah, lesu, dan lunglai di rasakan oleh gadis berparas cantik tersebut.
Shella melanjutkan kelantai dua, tiga, empat, dan seterusnya, hingga tiba di ruangan dimana Delon berada. Dalam ruangan itu ada pria tersebut dan juga Akemi. Keduanya tengah asik membahas tentang pernikahan Aljav dan Marina. Delon masih tak percaya bagaimana bisa Aljav setuju untuk menikah dengan Marina. Namun, Akemi tak memberikan jawaban. Karena sejujurnya, pria itu juga tak tahu apa alasan di balik pernikahan saudaranya itu dengan Marina.
__ADS_1
Di tengah asiknya percakapan antara keduanya, tiba-tiba saja perhatikan Akemi teralihkan dengan sosok Shella yang kelihatan dari sela pintu. Wanita yang selama beberapa hari ini sukses membuat jiwa Akemi tak tenang. Ya, selama bertemu Shella beberapa hari yang lalu, Akemi selalu di bayang-bayangi seorang Shella Yolanda.
Kedekatan yang tercipta di antara keduanya ketika di Apartemen, membuat pria tersebut seolah dimabuk kepayang. Shella telah mengubah hidup Akemi. Bahkan pria itu juga mencari bagaimana tanda-tanda jatuh cinta pada seseorang di google. Sungguh konyol.
Saat menjelang tidur, bangun tidur, makan, minum, mandi, dan bernafas sekali pun hanya Shella yang selalu bermain-main di pelupuk mata Akemi. Tapi ada yang aneh dari wajah cantik itu sekarang, seperti sedang memendam sesuatu. Wajahnya lelah. Peluh itu jatuh menghiasai wajah Shella. Dia tampak keletihan. Wajahnya yang berseri, tampak pucat pasih. Dia seperti kehilangan banyak tenaga dan tampak tak berdaya.
Ya, akemi bisa melihat dan merasakan perbedaan itu. Shella tampak jauh berbeda dari sebelumnya. Bahkan ketika dia jatuh pingsan beberapa hari yang lalu, wajahnya tak seperti saat ini. Ada apa dengan wanita itu? pikir Akemi.
Delon yang melihat Akemi tiba-tiba diam dan pandangannya berada di luar ruangan, Delon pun mengikuti kemana arah pandangan sahabat nya itu berada. Mata Delon membulat ketika melihat sosok Shella tengah berada di balik pintu dan mengalihkan perhatian sahabat sekaligus rekan kerja nya itu.
"Jadi dia alasan mengapa pria kaku ini tak bersuara dari tadi," gumam Delon.
"Ehem, ehem." Sekali lagi Delon berdehem. Namun, Akemi masih juga bungkam. Akhirnya Delon berdiri tepat di depan Akemi agar Shella tak terlihat oleh Akemi untuk mengalihkan perhatian pria tersebut.
Akhirnya usaha Delon mengalihkan perhatian Akemi berhasil juga. Pria itu langsung salah tingkah. Dia seolah kedapatan sedang mencuri.
"Apa pemandangan di luar sana lebih indah di bandingkan masalah Kak Aljav, Akemi Alexander Gautama?" Tanya Delon datar, namun penuh penekanan.
__ADS_1
Akemi berdehem untuk menetralkan perasaannya.
"Ehem."
"Apakah karena gadis itu?" Tanya Delon seraya menunjuk ke arah Shella dengan menggunakan dagunya. Akemi tak menjawab, dia hanya diam tak berkata. Namun, diamnya Akemi tak membuat Delon patah arah. Dia menganggap diam itu tandanya Akemi mengakui dugaan Delon.
Delon duduk di sisi akemi seraya berkata, "Teman, bukalah matamu. Aku lihat beberapa hari ini kamu menjadi orang lain semenjak bertemu dengan gadis itu. Apa istimewanya dia? dia hanyalah petugas kebersihan," ujar Delon.
"Kamu tidak paham Delon, kamu tidak akan pernah paham bagaimana dalamnya penderitaan wanita itu." Akemi berbicara seraya melihat ke arah Shella.
"Aku bisa merasakan bagaimana perjuangan wanita yang kamu sebut pelayan itu. Baiklah, aku baru beberapa hari ini bertemu dengannya. Bahkan aku tidak tahu asalnya dari mana. Tapi entah mengapa, tiap kali melihat dirinya hatiku seakan menuntun untuk melindungi wanita itu. Matanya yang polos, memancarkan ketulusan. Aku tahu dia bukan berasal dari keluarga kelas atas seperti yang kamu pikirkan, tapi dia memiliki jiwa besar. Hatinya murni tak seperti kebanyakan wanita di luar sana yang hanya mengejar harta dan mengatas namakan cinta. Tapi dia? dia bahkan menolak ketika aku memberinya uang tip." Penuturan Akemi membuat Delon menyadari satu hal, bahwa sahabat nya itu telah jatuh cinta. Ya, Akemi jatuh cinta pada gadis yang bernama Shella Yolanda.
"Aku rasa, kamu telah jatuh cinta pada gadis itu," ucap Delon tiba-tiba.
"Ya, kamu benar. Aku jatuh cinta pada gadis itu. Dia yang selama ini mencuri perhatian ku. Aku menginginkan sosok wanita seperti dia. Aku jatuh cinta Delon. Aku jatuh cinta." Tatapan Akemi tak beralih sedari tadi. Mata perak pria itu selalu tertuju pada Shella. Sementara wanita itu tak menyadari, jika sedari tadi dirinya menjadi topik pembicaraan antara dua pria beda karakter itu. Yang satunya kaku, dan yang satunya lagi kurang laku. Yakni Delon dan Akemi.
To be continued.
__ADS_1
Hai readers, Author kembali lagi di sore ini. Ternyata Author bisa nulis di sore hari. Sampai ketemu nanti malam ya readers. Oh iya, bagi yang belum masuk grup chat, silahkan masuk dalam grup chat aku ya jika berkenan. Atau add FB aku yang bernama Suharni Adhe. Jangan lupa like, komen, dan vote yang banyak ya. Terimakasih.
Happy reading gais. Love you all.