Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Episode. 98. Tante Nisa.


__ADS_3

Semenjak kalimat lamaran yang di lontarkan Akemi pada Shella, akhirnya wanita itu tak pergi ke kantor selama satu minggu terakhir. Dia terlalu malu untuk menatap wajah Akemi. Terlebih lagi Shella merasa sudah mengambil hak wanita lain yang di anggapnya sebagai kekasih Akemi. Kendati Shella tak pernah melihat secara langsung kekasih Akemi, tetapi mendengar Akemi mengatakan telah memiliki kekasih, bukankah wajar jika Shella berpikir demikian?


Shella menghabiskan waktu di tempat Kos. Menangis, berkhayal, dan bermimpi. Itulah kegiatan Shella selama berdiam diri. Hingga Pak Ahmad yang merupakan Bapak Kos Shella merasa heran ketika wanita itu tak keluar kamar.


Masih jelas terasa debaran jantung Shella ketika Akemi melamarnya. Sejujurnya hati wanita itu berbunga-bunga, hanya saja dia kembali mengingat status Akemi yang telah memiliki kekasih membuat hatinya sakit dan terluka.


Sementara di tempat yang berbeda, Akemi menjadi uring-uringan karena tak melihat Shella selama satu minggu. Rasa rindu yang besar telah membuncah dalam dada. Akemi bahkan mencari Shella di tempat Kos, tetapi wanita itu menolak untuk bertemu dengannya. Bahkan Shella juga tak masuk kerja. Hal yang paling di takuti Akemi selama seminggu ini adalah penolakan Shella yang berlarut-larut.


Akemi mondar-mandir seperti setrika kusut. Delon yang melihat perubahan sikap Akemi pun hanya diam. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Hanya saja gerakan Akemi yang mondar-mandir membuat Delon sakit kepala.


"Apa kamu tidak memiliki nomor ponsel wanita itu?" Tanya Delon akhirnya setelah merasa jengah melihat Akemi yang mondar-mandir.


"Kata Pak Toni, Shella tak memiliki ponsel," jawab Akemi masih dengan gerakan selayaknya setrika.


"Hari gini masih ada orang yang tidak punya HP? memangnya dia dari negeri mana? kok HP saja tak punya?" Kalimat Delon justru membuat dirinya terkena leparan pena. Jelas saja Shella tak memiliki ponsel, bukankah sudah jelas jika wanita itu hanyalah gadis miskin yatim piatu yang tak memiliki apa-apa?


"Apa kamu sedang menghinanya?" Ucap Akemi dengan tatapan membunuh. Pria itu benar-benar marah ketika wanita yang di cintanya terhina oleh siapapun itu, tak terkecuali sahabatnya sendiri.


"Ya maaf, saya kan tidak tahu," balas Delon penuh sesal.


"Apakah kamu tidak tahu siapa teman dekatnya di Perusahaan ini?" Tanya Akemi.


"Mana aku tahu, selama ini kan aku bersama mu, mana ada waktu aku mengenal wanita itu. Lagi pula dia kan baru satu bulan kerja di Perusahaan ini," terang Delon membuat Akemi semakin gundah. Bagaimana tidak, pria itu tak tahu lagi dimana dia harus mencari tahu tentang kehidupan Shella dahulu.


Lama diam, akhirnya Akemi menyuruh salah satu anak buahnya untuk menyelidiki kehidupan Shella berserta keluarga nya. Dan Akemi juga menyuruh anak buahnya itu untuk menjaga Shella dimanapun wanita itu berada.


"Apa kamu tidak terlalu berlebihan untuk mengawasi wanita itu? kamu sudah menggangu privasi dia," sangsi Delon.

__ADS_1


"Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan Shella," balas Akemi mantap. Delon berdecak kagum pada sahabatnya itu seraya menepuk pundak Akemi.


"Aku bangga padamu teman, kamu benar-benar mencintai nya. Kamu rela melakukan apa saja demi mendapatkan cintanya," tutur Delon.


"Tentu saja, tidak seperti seseorang yang tak melakukan apa-apa untuk cintanya. Dia hanya diam dan merengek minta bantuan," sindir Akemi pada Delon, dan sukses membuat sahabatnya itu tersinggung.


"Itu karena kamu tidak mendukung ku, sementara aku kan mendukung mu," bantah Delon.


"Itu karena usahamu tidak membuatku tersentuh," cibir Akemi dengan senyum mengejek.


"Mengapa dia jadi menyebalkan seperti ini? aku rasa cinta membuat dia jadi gila," gumam Delon.


"Apa kamu sedang mengutukku?" Tanya Akemi datar, namun penuh penekanan.


"Tentu saja tidak, mana berani aku mengutuk pria setampan dirimu," bantah Delon dengan raut wajah canggung. Pria itu menjadi takut jika Akemi menatap dirinya dengan tatapan membunuh.


"Memang aku tampan," ucap Akemi penuh percaya diri.


Plak,


"Aww." Akemi memukul lengan Delon dengan cukup keras.


"Apa kamu mau mati?" Ancam Akemi.


"Hehe, mana mungkin aku mau mati? aku masih harus mengejar Naomi cintaku," balas Delon seraya tersenyum ala nyengir kuda andalannya, menampakan giginya yang putih.


"Aku tidak merestui kalian!" Tandas Akemi dan kali ini kalimat Akemi sukses menembus ulu hati Delon. Wajahnya berubah menjadi sendu.

__ADS_1


Akemi meninggalkan Delon di dalam ruangan nya yang akhirnya menggerutu, "Dasar pria dingin dan kaku, mentang-mentang dia sudah menemukan wanitanya, lalu aku di buang begitu saja. Cinta membuat pria itu menjadi tidak waras dan cerewet."


"Siapa yang gila dan cerewet?"


Deg,


Akemi ternyata masih mendengar kalimat Delon. Delon gemetar ketakutan pada Akemi. Pria itu memang sangat kaku, tapi untuk urusan cinta, dia masih bisa mengenal rasa itu.


"Aku yang gila dan cerewet. Kamu kan pria baik dan dermawan," puji Delon pura-pura.


"Baguslah, sebaiknya kamu bersiap-siap. Sebentar lagi Naomi akan kemari," tutur Akemi seraya berjalan meninggalkan Delon yang masih belum memahami ucapannya. Pria itu masih tampak berpikir dan mencoba untuk mengeja tiap bait kalimat Akemi tadi. Setelah tiba di titik kesadaran nya, Delon pun berteriak kegirangan, " Naomi mau kesini? haha, Naomi mau kesini? yes, akhirnya aku bisa bertemu wanitaku, pujaan hatiku." Delon melompat kegirangan seperti anak kecil yang sedang mendapatkan hadiah. Tanpa ia sadari Naomi muncul dan melihat aksi kocak dirinya yang melompat selayaknya orang gila di mata Naomi.


Kening wanita itu berkerut keheranan.


"Dia kenapa? dasar gila," gumam Naomi.


"Ye, ye, ye, Naomi akan kesini, ye, ye, ye... akkk--" Delon berteriak ketika melihat Naomi sudah berada tepat di depan mata nya.


"Apa kamu tidak punya kerjaan?" Tanya Naomi datar. Wanita itu sangat jengah ketika harus berhadapan dengan Delon. Sejujurnya tak ada yang aneh dari penampilan pria tersebut, dia juga sangat tampan. Hanya saja sifatnya yang terlalu agresif dalam mengejar cinta Naomi, membuat wanita itu hilang rasa. Dia tak menyukai pria yang terlalu berlebihan dalam mencintai. Harus sesuai porsinya. Begitulah Naomi.


"Sejak kapan kamu datang?" Bukannya menjawab pertanyaan Naomi, Delon justru balik bertanya.


"Apa aku harus membutuhkan izin mu untuk datang di Perusahaan ini?" Kesal Naomi.


"Bukan begitu, tentu saja kamu boleh datang disini kapan saja. Cuma maksud aku, kalau aku tahu kamu akan kesini sebelumnya, aku akan menyiapkan kamu sesuatu yang istimewa," tutur Delon malu-malu.


"Gak perlu!" tolak Naomi seraya meninggalkan Delon.

__ADS_1


"Ais, mata itu membuatku semakin jatuh hati. Aku mencintaimu Naomi Alexander Gautam." Delon tak henti-hentinya berdecak kagum pada wanita yang di cintainya itu sejak kecil. Ya, sudah sejak lama Delon menaruh rasa pada Naomi. Kebersamaan mereka sedari kecil menimbulkan benih-benih cinta di hati Delon. Bahkan dia tak pernah mencintai wanita lain selain Naomi. Mungkin saat itu Delon masih terlalu kecil, jadi orang akan menganggap cinta yang di miliki Delon untuk Naomi merupakan cinta monyet, tetapi cinta itu selalu tumbuh dan berkembang setiap harinya hingga mereka beranjak dewasa. Cinta itu masih tetap sama, tak berubah sedikitpun.


To be continued.


__ADS_2