
Pagi-pagi sekali Kanjeng Mami sudah memanggil ku untuk menemuinya. Entah drama apa lagi yang akan di perankan oleh wanita yang melahirkan ku itu, yang pasti aku harus menemui beliau dan memastikan topik apa lagi pagi ini.
"Ada apa mami memanggilku?". Tanyaku semanis mungkin. Percayalah, aku sangat tidak menyukai ekspresiku sendiri yang terkesan munafik. Tapi demi salah satu wanita berhargaku aku rela melakukannya. Aku menyebut Mami salah satu wanita berhargaku, karena wanita satunya lagi adalah Alea sang pujangga ku.😁
"Javier, apa kamu tidak berencana untuk menikah sayang?". Aku sudah menduga pertanyaan ini yang akan di ajukan oleh Kanjeng Mami. hedew... Mami gak tau apa kalo anak perjaka mu ini sedang memperjuangkan cintanya?.
"Tentu saja Javier akan menikah Mi, tapi belum sekarang, kan Mami tau sendiri Javier sibuk. Javier masih harus menyelesaikan urusan perusahaan. Javier gak mau Papi ikut andil dalam urusan Javier Mi". Aku berusaha menjelaskan pada Kanjeng Mami sehalus mungkin. Sejujurnya aku bukan menyiapkan perusahaan, perusahaan mana yang akan aku siapkan lagi?. Bukankah semuanya sudah tampak sempurna?. Bahkan kerjasama dengan Tuan Handoko berjalan lancar tanpa celah. Tapi aku menunggu waktu agar aku bisa mengungkap kan perasaanku pada Alea, aku menunggu waktu yang tepat dan langsung melamar wanitaku saat itu juga. Meski tau Alea tidak mencintai ku, tapi entah mengapa aku yakin jika dia akan menjadi milikku seutuhnya kelak nanti. Tapi aku tidak boleh gegabah, aku tidak mau memberitahu Mami jika aku telah mencintai seseorang. Kalau saja aku memberitahu Mami, mungkin saja beliau akan mendesak ku untuk memperkenalkan Alea. Tentu saja hal itu akan membuat Alea shock jika aku tiba-tiba memperkenalkan dirinya kepada Kanjeng Mami sebagai menantunya, bisa-bisa aku di sangka gila lagi. Bahkan Alea tidak tau jika aku mencintainya sejak pertama kali bertemu.
"Baiklah jika kamu tidak mau menikah. Mami bunuh diri saja!. Mami mati saja!". Ancaman mami tidak membuatku takut, aku hanya merasa jengah dengan sikap wanita yang melahirkan ku ini. Mana mungkin Mami mau bunuh diri hanya karena hal kecil?, impossible.
"Mami kok ngomong gitu sih?. Nanti deh Javier kenalin sama seseorang". Bujuk ku, tidak benar-benar membujuk sih, hanya saja aku tidak tahu lagi harus berkata apa.
"Baiklah, Mami tunggu. Mami beri waktu satu bulan kamu harus memperkenalkan kekasihmu pada Mami. Kalau tidak Mami akan menjodohkan mu dengan wanita pilihan Mami".
DUAR...
Ancaman Mami membuat hatiku bagai di sambar petir, mataku membulat sempurna. Bagaimana mungkin Mami akan menjodohkanku lagi dengan wanita yang jelas-jelas aku tidak cintai. Aku harus melakukan sesuatu. Dan... Aha, seperti ada sebuah lampu yang tiba-tiba menyala di atas kepala ku. Aku mendapatkan ide brilian.
'Alea, aku akan menjadikan mu milikku selamanya'. Aku tersenyum menyeringai akan ide ku itu.
"Baiklah, Javier setuju". Ucapku akhirnya. Aku menyetujui permintaan Mami, meskipun aku tidak yakin sih akan keberhasilan ide ku itu. Tapi setidaknya aku akan mencoba. Keinginan Mami aku anggap sebagai langkah awal untuk bergerak menggapai wanitaku.
*****
Setelah drama Mami di pagi hari, aku memutuskan untuk tidak masuk kantor. Aku kembali di kamar untuk memikirkan sesuatu akan ide ku tadi.
Aku memikirkan apa yang harus aku lakukan jika Alea menolak ku. Bagaimana jika wanita itu menganggap aku gila akan lamaran ku yang tiba-tiba.
__ADS_1
Aku memijit pelipis ku, aku bingung harus bagaimana. Aku gugup bahkan sebelum melamar Alea secara nyata. Hanya dengan memikirkan saja Alea menolak ku, aku menjadi frustasi. Entah pergi kemana keberanian ku selama ini. Sikap angkuh dan juga dingin selalu melekat dalam diriku, namun jika itu mengenai Alea, aku seperti budak cinta. Ya, aku nobatkan diriku sebagai budak cinta Alea. Anggaplah seperti itu. Tapi mengingat dia mencintai orang lain yaitu sahabat ku sendiri, membuat keegoisan dalam hatiku berkobar.
Ayolah Javier... Pikirkan sesuatu. Setidaknya lakukan hal yang akan membuat dirinya tidak berkutik dan harus menerima lamaran mu. Pikirku. Dan... Aha, aku mendapatkan cara brilian. Aku akan menggunakan video dimana Alea bersama pria paruh baya berada di hotel beberapa hari yang lalu. Meski tidak yakin ide ini akan berhasil, tapi aku tidak boleh mundur sebelum berperang.
"Javier, kamu memang pria tampan dan juga cerdas. Aku bangga padamu Javier Alexander Gautam". Aku memuji diriku sendiri dengan tersenyum menyeringai seolah yakin ini akan berhasil.
*****
Hari sudah siang, aku memejamkan mataku berharap setelah bangun nanti waktu telah menunjukan pukul 07.00 pagi. Waktu yang cukup panjang aku inginkan, itu artinya aku harus tidur selama 18 jam. Astaga... ternyata cinta membuatku menjadi pria gila. Aku mengutuk diriku sendiri yang sudah mulai tidak waras.
Aku mengalunkan mataku secara berirama agar memasuki alam mimpi, dan aku terlelap sambil memeluk gambar Alea yang terdapat di ponselku yang sengaja aku ambil secara diam-diam ketika Alea sedang bekerja di balik kaca ruangan ku.
'Alea, maukah kau menikah denganku?'. Tanyaku pada Alea yang telah aku genggam tangannya dan melihat matanya dengan penuh harap.
'*Ia aku mau menikah denganmu'. Jawab Alea sambil tersenyum bahagia. Dan aku tidak kalah bahagianya dari Alea. Aku memeluk wanitaku dan mengangkat tubuh rampingnya. Kemudian menggiringnya di atas tempat tidur.
Aku mencium kening Alea, lalu beralih ke bibir ranum wanita itu. Awalnya hanya ci*man kecil, namun perlahan ci*man itu berubah menjadi ci*man panas seolah menuntut lebih dari itu.
Tanganku mulai bergerilya, jiwaku meronta-ronta ingin menyatukan tubuh kami. Aku mulai melepas seluruh pakaian Alea dan diriku, dalam satu kali tarikan aku berhasil melepas semuanya hingga menunjukan tubuh polos kami berdua.
Aku mengarahkan tubuh bawahku untuk memasuki inti tubuh Alea, dan dalam satu kali hentakan aku berhasil memasukinya. Aku bergerak pelan secara berirama, tubuh bawahku naik turun.
Aku melihat wajah Alea sangat cantik, wajah itu terasa sangat menikmati penyatuan kami. Entah sudah berapa lama kami berpacu hingga irama itu berubah menjadi irama cepat dan sampai pada Akhirnya...
'Alea*...'
BUG...
__ADS_1
"Awww...".
Aku terjatuh dari tempat tidur. Astaga... ternyata aku hanya bermimpi. Oh, mimpi yang indah. Aku berfantasi lagi tentang Alea. Kepalaku tertunduk melihat juniorku yang berdenyut seolah menuntut ingin di keluarkan.
"Astaga... Sabar adik kecil, jiwamu akan tersalurkan setelah waktunya tiba. Sekarang waktunya kita ke kamar mandi untuk memandikan mu".
Aku benar-benar pria terkutuk. Bisa-bisanya aku bermimpi berpacu bersama Alea. Bahkan alam mimpiku menginginkan kami menyatu.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
Selama pagi Readers, jangan bosan-bosan ya untuk mengikuti cerita si Babang tamvan Javier Alexander dan si cantik Alea Marwah. Mohon beri like dan juga komentar plus vote. Maaf ya jika Author banyak maunya.😊🙏
__ADS_1
Happy Reading 😊
*Dede...