
Kesepakatan yang berakhir dengan pernikahan. Meski menurut Alea ini hanyalah sebuah pernikahan kontrak, tapi bagiku ini adalah langkah awal untuk kami berdua, untuk cintaku, untuk menjadikannya milikku seutuhnya. 'Alhamdulillah. Akhirnya kamu menjadi milikku Alea. Aku tidak akan memberimu kesempatan untuk mencintai pria lain selain aku'. Tutur ku dalam hati sambil tersenyum bahagia. Senyuman tulus yang tidak pernah di sadari oleh wanita ini.
Aku melihat Alea sangat cantik seperti biasanya, di tambah lagi dia menggunakan pakaian pengantin dan makeup, menambah poin kecantikan wanitaku. Aku tahu jika selama ini Alea tidak pernah menggunakan makeup apalagi itu makeup tebal, makanya dia merasa risih dengan segala yang melekat pada tubuhnya. Alea memang sosok wanita yang sangat polos, culun, natural, dan selalu tampil apa adanya. Tidak suka bersentuhan dengan fashion, kendati ibunya adalah seorang fashionable. Itulah yang membuat aku semakin jatuh cinta padanya. Wanitaku tidak suka memamerkan keindahan dirinya pada orang lain.
Hari dimana yang aku nantikan telah tiba, saatnya memasuki kamar pengantin kami yang berada di hotel tempat kami melangsungkan pernikahan.
Aku mendahului Alea untuk masuk dalam kamar itu kemudian di susul oleh istriku. Akhirnya aku bisa menyebut Alea sebagai istriku. Ya, sekarang Alea resmi menjadi istriku. Selangkah lagi kamu akan jatuh cinta padaku sayang. Pikirku.
Alea mendaratkan tubuhnya di kursi rias, sedangkan aku duduk membelakangi istri tercinta ku itu. Jujur saja, berada satu ruangan bersama Alea membuat jantungku bekerja keras, aku butuh udara segar untuk menetralkan pikiran jorok yang mulai bermain di atas kepalaku. Membayangkan Alea mengenakan lingerie warna merah kesukaan ku, membuat jiwa kelakian ku bangkit. Tubuh bawahku mulai bereaksi. 'Astaga... Adik kecil bersabarlah. Aku butuh konsentrasi untuk mengeluarkan mu. Cup... Cup... Cup..., yang tenang ya'. Batinku sambil mengelus juniorku yang mulai meronta-ronta.
Aku hendak keluar dari kamar hotel, namun pertanyaan Alea menghentikan langkahku.
"Kamu mau kemana?"
"Cari udara segar". Jawabku sambil menyembunyikan tubuh bawahku dengan tidak berhadapan bersama Alea.
"Apa disini panas?. Kan ada AC". Tutur Alea dengan wajah polosnya. Astaga... sayang, kamu tidak tau apa kalau suamimu ini sedang berusaha menahan diri untuk tidak menerkam mu?. Seutas senyuman nakal mulai tertarik di sudut bibirku, aku mendekati Alea yang tampak gugup karena senyuman seringai ku.
"Apa kamu sedang menikmati statusmu sebagai istriku?. Atau kamu menginginkan lebih dari ini?". Tanyaku dengan nada dingin seolah mengacuhkan Alea. Padahal jika sekali saja Alea mengatakan iya, aku tidak akan berpikir panjang untuk melahapnya saat ini juga.
"Ya sudah sana, pergilah". Tutur Alea. Aku melihat Alea sedang memasang wajah kesal. Mungkin dia sedang mengumpat ku dalam hatinya.
*****
Aku keluar kamar pengantin kami dengan perasaan tidak karuan. Antara hasrat yang tergantung dan rasa tidak percaya diri. Aku memutuskan pergi ke kamar mandi Hotel itu untuk menuntaskan hasrat ku.
Setelah selesai dengan ritual penenangan adik kecilku, aku hendak kembali ke kamar pengantin ku. Aku ingin menggoda istriku itu, namun keberadaan Alex di lobby hotel membuat ku menghentikan niat ku untuk kembali ke kamar. Aku mendekati sahabat ku itu yang tampak memikirkan sesuatu.
"Lo masih disini?. Kenapa gak pulang?". Tanyaku sembari mendaratkan tubuh di kursi sofa samping Alex.
__ADS_1
"Aku hanya sedang menikmati minuman dingin ini". Balas Alex dengan tatapan kosong kedepan. Entah apa yang di pikirkan oleh sahabat ku itu, tapi sepertinya dia tampak tidak baik-baik saja.
"Katakan padaku, apa yang sedang mengganjal di hati mu?". Tanyaku seolah mendesak Alex namun masih dengan wajah datar. Baiklah, seperti nya ini masalah serius melihat wajah Alex yang berubah mimik. Aku menggunakan kata 'Aku, Kamu' sebagai tanda keseriusan pembahasan kami.
"Vir, apa benar kamu gak ada niat jahat pada Alea?. Maksud ku semua baik-baik saja kan?. Kamu bisa mendapatkan wanita di luar sana dengan gampang untuk menjadikan istrimu yang sesungguhnya, tapi Alea?. Mengapa kamu menyeret wanita itu dalam hidupmu?". Tanya Alex dengan wajah penuh selidik.
'Kamu tidak paham Alex. Hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan Alea'. Batinku.
"Vir"
"Apa kamu mencintai Alea?". Pertanyaan yang aku lontarkan membuat hatiku tercubit, aku sakit dan terluka atas pertanyaan ku sendiri.
"Apa kamu sudah tidak waras?. Apa aku harus menjawab pertanyaan konyol mu itu?".
Jawaban Alex membuat hatiku lega, setidaknya Alex tidak mencintai Alea. Itu artinya masih ada harapan untukku mendapatkan Alea dengan caraku sendiri.
"Hei, kita belum selesai bicara". Ucap Alex, namun aku tidak memperdulikan ucapannya itu. Aku hanya melambaikan tanganku dan terus berlalu meninggalkan Alex dengan penuh tanda tanya. Biarlah pria itu mengeja kata-kata ku tadi tanpa aku harus jelaskan.
*****
Selama satu jam aku meninggalkan istri cantikku itu dalam kamar sendirian. 'Apa yang di lakukan Alea ya?'. Pikirku.
Aku membuka pintu kamar dan melihat kamar itu dengan mengendap-ngendap seperti seorang pencuri. Namun ternyata Alea tidak ada di kamar. Lalu aku mendengar suara gemercik air dari kamar mandi. Rupanya dia sedang mandi. Lalu aku duduk santai di kursi sofa mini yang terdapat dalam kamar kami sambil memainkan ponselku, karena baru saja ada pesan masuk dari Alex.
'Gue percaya sama lo sob'.
Begitulah isi pesan dari sahabat ku Alex. Aku tersenyum simpul membaca pesan itu. Lima menit kemudian aku mendengar pintu kamar mandi terbuka, dan muncullah Alea dengan menggunakan handuk yang terlilit di dadanya hingga menampakan paha nya yang berwarna putih. Handuk kecil membungkus rambut wanita itu, ada tetesan air yang jatuh di pundak Alea, membuat aku menelan salavi ku dengan susah payah. 'Ujian apa ini Tuhan?. Oh, adik kecil. Tolong tenang ya, tadi kamu baru saja aku keluarkan'. Tutur ku dalam hati sambil menenangkan juniorku.
Aku melihat Alea membuka handuknya tanpa beban dan nampak lah tubuh polos wanita itu. Sepertinya Alea tidak menyadari keberadaan ku. Javier... Waktunya bermain-main. Aku tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Aku terus menyaksikan Alea memakai satu per satu pakaiannya hingga menutupi seluruh polos wanita itu. Melihat aktivitas Alea membuat fantasi liar ku bangun. Aku membayangkan mengecup dan menjamah tubuh Alea. Hingga...
"Aaaaaakkkk--- S--sejak kapan kamu berada disitu, Vir?".
Teriakan Alea membuyarkan fantasi liar ku bersama nya. Sejujurnya aku salah tingkah, namun aku berusaha untuk menguasai diri dan hasrat ku. Aku ingin menggoda istri ku ini. Pikirku.
"Sejak... Kamu duduk disitu. Ah tidak, sejak kamu memakai semua pakaianmu. Ah salah, sejak kamu Keluar dari kamar mandi dan membuka han---"
"STOP". Alea menghentikan ucapanku yang kedengarannya sangat fulgar, dan Wajah wanita itu berubah warna menjadi merah seperti kepiting rebus karena malu. Ya, istriku malu karena memberiku tontonan gratis tanpa harus aku memintanya. Haha.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
__ADS_1