Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Bab. 62. Terimakasih Sayang.


__ADS_3

Javier menatap haru dan juga cinta pada istrinya yang masih tertidur pulas. Javier menarik kursi untuk mendaratkan tubuhnya dan mencium puncak kepala wanita yang berstatus sebagai istrinya itu cukup lama. Di raihnya tangan Alea, kemudia Javier menggenggam dengan erat tangan lemah tersebut, lalu ia mengelus perut Alea yang sedikit membesar dengan penuh rasa cinta. Javier menitikan air mata, bukannya sedih, tetapi air mata bahagia karena sebentar lagi ternyata dia akan menjadi seorang Ayah. Dia benar-benar tidak tau jika istri nya itu tengah mengandung buah hati mereka. Ya, ketika di apartemen Alex tadi, Javier tidak menyadari jika perut Alea sedikit membuncit, hal itu di karena kan Alea yang menggunakan baju rajut yang cukup besar hingga menutupi perutnya yang membuncit.


"Kenapa aku tidak menyadarinya tadi jika kamu tengah mengandung sayang?. Maafkan aku yang selalu terlambat memahami mu". Javier bermonolog hingga air mata lolos begitu saja di pipinya. Kali ini Javier lemah, sisi lemah dan cengengnya keluar secara natural.


Merasa tangannya seperti di genggam dan sulit untuk bergerak, Alea pun membuka matanya secara perlahan.


"Alex".


Ya, nama Alex yang pertama kali di sebut oleh Alea saat pertama kali tersadar. Javier yang menyadari itu pun merasa bahagia sekaligus cemburu karena istrinya bukannya menyebut namanya melainkan meyebut nama pria lain. Tapi kali ini Javier tidak mau bersikap egois, sudah cukup baginya ia kehilangan Alea dulu.


"Sayang kamu sudah bangun. Syukurlah". Javier memeluk tubuh Alea dan mencium kening wanita itu secara bertubi-tubi.


"Kamu mau makan apa?. Mau buah?. Minum susu?. Atau kamu mau makan bubur?. Biar aku ambilkan". Tanya Javier secara beruntun. Ia tidak mampu membendung lagi rasa bahagianya.


"Alex mana?". Tanya Alea dengan suara serak, Javier yang merasa heran plus cemburu pun tidak ingin memberitahu dimana keberadaan sahabatnya itu.


"Kenapa kamu malah menanyakan dia?. Apa kamu tidak merindukan suami mu ini?". Tanya Javier dengan wajah sendu. Ingin rasanya Javier menangis karena di abaikan oleh istrinya sendiri, namun ia tidak mau menunjukkan sisi terlemahnya.


"Aku cuma mau Alex!". Intonasi suara Alea mulai meninggi. Wanita itu benar-benar kesal karena suaminya tidak mau menjawab pertanyaan nya.


"Alex ada di luar". Tutur Javier. Dan keheningan tercipta untuk beberapa saat sebelum akhirnya Javier membuka suara untuk mencairkan suasana.


"Sayang, sudah berapa bulan usia kandungan mu?". Pertanyaan itu berhasil mengalihkan perhatian Alea hingga menatap wajah suaminya yang mulai di tumbuhi bulu-bulu halus, pria itu seperti seseorang yang tak terawat sama sekali.


"Apa peduli mu?". Jawab Alea dengan wajah dingin. Sikap Alea yang berubah menjadi dingin tentu saja di pahami oleh Javier. Bukankah pria itu yang telah mengubah sikap Alea menjadi seperti itu?.

__ADS_1


"Sayang, maaf kan aku telah menyakiti mu. Aku benar-benar tidak tahu jika kamu hamil. Dan aku benar-benar minta maaf karena sudah salah paham padamu. Kamu mau kan memaafkan ku?". Tutur Javier dengan wajah sendu. Ia benar-benar menyesali perbuatannya.


Alea menatap lekat-lekat wajah suaminya itu, berusaha mencari kebohongan disana, namun wanita itu tidak menemukannya, yang ada hanyalah ketulusan. Namun Alea tidak menjawab ucapan Javier. Ia hanya melepas genggaman tangan pria itu, hingga kening Javier berkerut. 'Apa dia tidak mau memaafkan ku?'. Batin Javier.


"Sayang. Terimakasih sudah mau mempertahankan anak kita sampai sejauh ini. Aku benar-benar bahagia". Lanjutnya kemudian setelah keheningan tercipta selama beberapa saat.


"Aku mau bertemu Alex!".


"Sayang, aku yang menjadi suamimu, bukan dia". Tutur Javier dengan suara selembut mungkin, namun masih dengan nada cemburu. Bukannya apa-apa, Alea tidak sanggup melihat wajah Javier karena masa mengidam yang di alaminya. Entah mengapa wanita itu lebih memilih bertemu sahabat dari suaminya tersebut, namun bukan berarti Alea tidak merindukan suaminya.


"Aku bilang aku mau bertemu Alex!".


Alea benar-benar sudah tidak tahan lagi akan keinginan dan penolakan Javier untuk memberi tahu dimana keberadaan sahabatnya itu.


"Baiklah-baiklah, aku akan memanggil Alex kesini". Akhirnya Javier setuju, namun ada rasa tidak terima dalam hatinya.


"Alex, tolong bawa aku pulang. Aku mau pulang ke rumah".


"Kita akan pulang ke rumah". Javier menimpali ucapan Alea sebelum Alex menjawab terlebih dahulu.


"Gak. Aku mau pulang ke rumah Alex".


Alex yang mendapat tatapan intimidasi dari Javier pun hanya bisa tersenyum canggung, ia tidak tau harus berbuat apa di tengah-tengah pertengkaran dua insan yang masih belum mengakui perasaannya masing-masing.


"Alex. Aku mau pulang. Aku tidak tahan melihat wajahnya. Tiap kali melihat nya membuatku mual".

__ADS_1


"Ha?". Javier menatap tak percaya pada istrinya itu. Bagaimana bisa wajahnya membuat asam lambung istrinya itu kambuh?.


"Apakah wajahku sejelek itu sayang?".


"Jangan panggil aku sayang!". Alea merasa kesal dengan sebutan Javier untuk dirinya.


"Apa kamu mau aku panggil baby?. Honey, my wife--".


"Cukup".


Diana yang sedari tadi diam bagai menyaksikan drama dua pria yang sedang memperebutkan wanita hamil pun kini bersuara.


"Alea itu bukannya gak mau sama kamu, Vir. Hanya saja saat ini dia sedang mengalami masa-masa mengidam, dimana hal itu biasa terjadi pada wanita hamil". Tutur Diana seolah menepis dugaan Javier yang berpikir bahwa Alea membenci dan menolaknya.


"Itu artinya kami tidak boleh bertemu sampai proses persalinan?". Tutur Javier dengan wajah tak percaya. Bagaimana mungkin ia tidak di perbolehkan bertemu istrinya itu, selama dua bulan terakhir ia benar-benar merindukan wanitanya, dan setelah bertemu sekarang justru Javier harus menelan pil pahit karena bayinya menolak untuk bertemu dengannya.😄


"Tergantung, jika masa mengidam Alea belum terlewati maka itu artinya kalian belum boleh bertemu. Bahkan ada juga wanita hamil yang mengidam sampai proses persalinan. Namun jika Alea sudah bisa melihat wajahmu, itu artinya masa mengidam nya sudah lewat". Tutur Diana.


"Ppffffffh". Alex menahan tawanya melihat ekspresi wajah Javier yang menurutnya sangat lucu.


"Yang sabar ya bro. Sepertinya bayimu tidak suka dekat dengan Papanya. Habis kamu nya sih bermuka masam. Haha".


"Sialan lo".


Javier memukul pelan kepala sahabatnya itu, namun tak menyimpan dendam sama sekali.

__ADS_1


"Apa benar kamu tidak mau pulang ke rumah kita?". Tanya Javier sekali lagi untuk meyakinkan dirinya sendiri. Dan Alea pun hanya mengangguk kan kepalanya. Sebenarnya Alea ingin pulang bersama Javier, namun masih ada hal yang mengganjal di hati wanita itu. Apakah Javier mencintai ku?. Apakah dia mau menerima bayi ini?. Tapi kenapa?. Bukankah dia membenciku selama ini?. Selain itu juga, masa mengidam yang di alaminya benar-benar membuat dirinya harus menolak akan keberadaan Javier.


__ADS_2