Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Kembali Pulang.


__ADS_3

Puas mengukir senja dan berbagai macam kenangan di Maladewa, kini saatnya Akemi dan Shella kembali pulang ke dunia nyata. Dunia yang mungkin mereka akan menemukan hambatan dalam hubungan keduanya.


Pukul 15.20, Akemi dan Shella telah tiba di Indonesia. Tak ada jemputan seperti yang di harapkan pria tersebut. Karena Delon sudah setengah gila di Perusahaan yang di kelola nya sementara waktu. Namun, untuk menutupi kegilaan sahabat nya itu, Akemi membawakan oleh-oleh khas Maladewa. Tentu saja kemarahan Delon yang terpendam dan siap akan meledak, seketika sirna dengan adanya oleh-oleh tersebut. Itulah Akemi, pria itu sangat tahu titik lemah dari sang sahabat.


Akemi dan Shella memasuki Apartemen tempat mereka bernaung. Lelah, letih, dan juga bahagia. Semua rasa itu muncul secara bersamaan. Akemi meletakkan koper mereka di lantai, sedangkan Shella membersihkan diri di kamar mandi.


Akemi mengganti baju dengan menggunakan baju kaos berwarna putih, dan di padukan dengan celana pendek. Akemi mengambil gawai miliknya, dan melihat puluhan gambar Shella ketika berada di Maladewa. Senyuman wanita itu memancarkan sinar kebahagiaan. Akhirnya Akemi berhasil mengukir senyuman manis Shella. Akemi benar-benar ingin menghapus kenangan buruk Shella di masa lalu, dan mengganti nya dengan kenangan manis. Ya, hanya kenangan manis lah yang patut di rasakan Shella sekarang. Sudah cukup rasanya wanita itu merasakan pedihnya dunia. Pikir Akemi.


Di tengah senyuman yang merekah karena melihat berbagai macam pose Shella dalam gawai miliknya, Shella pun keluar dari kamar mandi dan duduk di tepi ranjang bersama Akemi. Wanita itu sudah tampak segar dengan tanpa riasan sama sekali. Hanya baju tidur yang menutupi tubuhnya yang ramping.


"Mengapa kamu tersenyum dengan benda mati itu?" Tanya Shella seolah merasa cemburu dengan aktivitas Akemi yang sukses membuat hatinya bertanya-tanya. Siapakah gerangan yang di tatap Akemi dalam gawainya? pikir Shella.


"Karena aku sudah cukup puas tersenyum dengan mahluk hidup, saatnya dengan benda mati," jawab Akemi, tanpa melihat wajah Shella. Tatapan pria itu seolah fokus dengan gawainya yang berwarna hitam. Sementara bibir Shella sudah maju ke depan, merasakan kekesalan yang tak beralasan.


"Dasar pria! di saat maduku sudah terisap, dan duren ku terbelah, dia jadi melupakan ku dengan isi ponsel itu," gumam Shella dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Entah mengapa perasaan wanita itu berubah menjadi sensitif. Padahal selama dua Minggu di Maladewa, Shella tak pernah merasakan kesedihan seperti yang di rasakan saat ini.


"Aku lapar," ucap Akemi masih dengan asik melihat tiap gambar Shella yang menghiasi ponsel miliknya. Dan menyentak kan wanita itu dari lamunannya yang tak berarti.


"Mau makan mahluk hidup atau benda mati?" Tanya Shella penuh penekan, agar Akemi tahu, bahwa dirinya sedang kesal. Dan benar saja, hal itu sukses mengalihkan perhatian Akemi. Bagaimana tidak, nada suara Shella sudah seperti seseorang yang mengancam. Akhirnya Akemi mematikan ponsel miliknya tanpa mengembalikan ke menu utama ponsel tersebut. Dia mulai menyadari, jika istrinya itu tengah merasa cemburu.

__ADS_1


"Mengapa aku mencium aroma aneh ya?" goda Akemi. Namun, Shella tak menyadari jika suaminya itu sudah mencium gelagat kecemburuan yang ia rasakan.


"Aroma aneh apa? apakah aku busuk? dan ponsel itu wangi?" jawab Shella ketus. Entah dari mana datangnya keberanian wanita itu dalam memprotes Akemi. Padahal sebelumnya Shella tak berani pada pria itu jika tiap kali ia ingin mengungkapkan perasaannya. Tapi kali ini? dia seakan menjadi orang lain. Mungkin kah dia benar-benar sudah jatuh cinta pada Akemi? dan benarkah tak ada lagi tempat untuk Ibrahim di hatinya? pikir Shella.


"Apakah kamu sedang cemburu?" goda Akemi. Shella tertawa sumbang.


"Haha, cemburu? aku? tidak mungkin. Lagi pula, apakah cemburu itu ada aromanya? tidak kan?"


Toeng,


Sumpah demi apapun, ingin rasanya Akemi membenturkan kepalanya di tembok kamar mereka. Bagaimana bisa Shella benar-benar berpikir jika cemburu memiliki aroma? mungkin dia harus belajar kalimat plesetan. Atau justru Akemi yang belajar tak menggunakan kalimat kiasan sama sekali, atau dia akan kembali membentur kan kepalanya di tembok.


"Wajahku cemburu? mengapa wajahku harus cemburu?" Akemi sudah semakin gemas di buatnya. Bagaimana tidak, Shella masih terus berusaha untuk menampik perasaannya. Namun, sangat jelas terlihat jika dia sedang cemburu. Akhirnya Akemi berniat untuk mengerjai istrinya tersebut.


"Baiklah, tadi aku melihat wanita cantik di ponselku. Mungkin sebaiknya aku memakannya saja. Lagi pula aku sudah lapar. Melihat wajahnya saja sudah membuat ku lapar, apalagi melihat durennya yang mengkal?" goda Akemi, dan sukses membuat hati Shella terbakar api cemburu. Hatinya panas dan mendidih. Shella menatap tajam Akemi, tatapan itu seolah ingin membunuh pria tersebut.


"Dasar pria, mentang-mentang duren ku sudah terbelah, jadi dia mau cari duren mengkal lagi!" gumam Shella. Shella tak berani menjawab ucapan Akemi, dia hanya sanggup bergumam saja. Lalu kemudian meninggalkan pria yang Menyebalkan itu dengan kemarahan yang menggebu-gebu.


Kening Akemi berkerut hampir menyatu, mengapa Shella tidak menjawabnya? pikir Akemi.

__ADS_1


"Hei, kamu mau kemana?" Tanya Akemi akhirnya setelah Shella mulai bergerak sembari menahan tubuh wanita tersebut.


"Aku mau mencari tongkat si buta dari goa hantu untuk membela duren di sarang king kobra yang lain!" tandas Shella dengan raut wajah amarah. Akemi tersenyum gemas sekali lagi. Ternyata Shella sudah pandai cemburu. Namun, dia tak berani mengungkapkan nya. Akemi menangkup pipi Shella sembari berkata, "Aku bukan pria bejat yang melupakan moral dan akal sehat. Aku bukan pemain cinta dan menorehkan luka di hati wanitaku. Mataku hanya fokus memandang wajah mu. Apakah kamu mau tahu siapa yang aku pandang dalam ponselku tadi?" Shella tak menjawab, dia seolah masih menikmati rasa cemburunya yang meronta di dalam sana.


"Itu kamu," lanjut Akemi kemudian. Mata Shella membulat seketika.


"Aku?" Tanya Shella.


"Iya," jawab Akemi sembari memeluk hangat tubuh Shella.


"Hanya kamu yang mampu mengalihkan duniaku. Mataku hanya tertuju padamu. Aku tadi melihat gambar mu sewaktu kita berada di Maladewa," terang Akemi. Hati Shella kembali berbunga-bunga. Bagai ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di atas kepalanya.


"Benarkah?" Tanya Shella sembari tersenyum malu-malu. Namun, tak di lihat oleh Akemi. Ya, Shella malu karena ternyata wanita itu hanya salah mengira, jika Akemi justru memandang wanita lain dalam ponselnya.


"Tapi tadi kamu bilang mau cari duren mengkal?" Tanya Shella polos. Akemi kembali tersenyum gemas. Dia melepas pelukannya, lalu mencubit gemas hidung mancung wanita tersebut.


"Aku hanya bercanda sayang, maksud aku setelah kita makan nanti, kita cari duren untuk makan bersama, bagaimana?" ujar Akemi.


"Baiklah, aku akan masak untuk mu," jawab Shella sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Akemi terpukau keheranan. Bagaimana tidak, Shella sudah berani bermain mata padanya. Dia cukup berani mengedipkan mata lentiknya. Beruntung wanita itu langsung beranjak pergi. Jika tidak, maka tak ada jaminan bagi Akemi jika dia harus kembali membela duren Shella saat itu juga.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2