
Semilirnya angin malam ini, membuai ku larut dalam lamunan. Khayal tentang keindahan dunia fana ini, bila kita bersama selamanya. Kasih semu yang pernah kau ucapkan, ku bawa di perjalanan hidup ini. Tapi resah dan gelisah selalu menghantui, karena sikapmu yang tak pasti. Ku coba melupakan dirimu, karena ku tahu pasti sifat mu. Agar aku tak selalu rindu padamu, kasih.
Semakin aku lupakan, semakin aku sadari, cintaku hanya padamu seorang. Tiada yang lain.
Itulah ungkapan rasa seorang Ibrahim di suatu sudut ruangan. Dia menjadi pria yang rapuh. Cintanya pergi entah kemana. Alunan lagu cinta menemaninya di setiap malam. Hatinya berteriak dan memberontak. Dia ingin keluar dan menemui kekasih yang di rindukannya selama ini.
Cinta membuat pria yang dulunya sangat tampan itu rapuh dalam sekejab mata. Hanya karena keegoisan orang tua yang memilih memendam segala peristiwa. Peristiwa masa lalu yang tak ada saksi matanya.
Ibrahim hanya bisa memandang potongan gambar kekasihnya dengan tatapan nanar. Gambar itu lah yang menjadi teman sejatinya setiap malam. Ingin rasanya Ibrahim berteriak sembari berkata, "Tak adakah sisa waktu untuk ku ungkap semua? tak adalah waktu untuk ku bertemu dengannya? adil kah dunia ini pada kami? mengapa kami harus di pisahkan tanpa alasan yang logis?"
Sekali lagi Ibrahim hanya bisa memandang wajah rupawan wanita yang masih di anggapnya kekasih itu. Tatapan pria itu tak pernah berubah sejak dahulu. Tatapan cinta. Ya, cinta Ibrahim pada Shella tak pernah pudar walau di telan masa.
"Tuhan, berilah aku satu kesempatan untuk bertemu kekasihku. Aku ingin mendekapnya, dan membawa dirinya menuju altar pernikahan. Aku ingin menciptakan walima cinta dalam hubungan kami. Walima yang tiap tahun akan kami rayakan." Ibrahim bermonolog selayaknya pujangga cinta.
Ibrahim POV.
Berapa lama kah lagi? terpaksa aku harus menanti. Mengharap dirimu datang dan membawa cinta untukku. Namun, ku tak tahu sampai kapan kah ku disini sendiri.
__ADS_1
Mengapa resah ku alami, seakan ingin ku lari. Mengejar bayang mu duhai kasih, ku ingin belaian mu. Benarkah senyum mu tak menipui ku? sedangkan ku masih mengharap kasih yang dulu.
Dengarlah Tuhan ku, ku haturkan alunan doa, bersama bintang-bintang di suatu malam. Benarkah dia jadi milikku? Sampai kapan ku menunggu? bertanya-tanya ku tiap waktu, dan jangan lah kau bagi cintamu. Hanyalah satu untukku.
**
Suara itu terdengar menyayat hati hingga menembus ke jantung Nisa. Wanita paruh baya itu harus menatap nanar putra yang dulu dia banggakan selayaknya putra mahkota. Kini berubah menjadi pujangga cinta yang setengah gila.
Nisa harus menelan pil pahit dunia karena keegoisan dirinya sendiri. Nisa menyeka air matanya, mungkin dia harus mengobati jiwa putranya itu, dengan memberinya kebebasan dari ruang isolasi.
"Ibrahim anakku, mengapa kamu harus seperti ini sayang? tidak kah kamu mengenali Ibu mu saat ini? ini Ibu Nak, kenali aku. Hiks, hiks, hiks." Nisa kembali menangis. Hatinya teriris ketika melihat jiwa putranya pergi entah kemana. Hanya tubuhnya lah yang menempati ruangan sempit tersebut. Haruskah dia mengurung seorang yang sedang mabuk kepayang? haruskah dia menjauh kan seorang ketika orang itu memuja cinta? sungguh egois rasanya jika takdir itu tak berpihak pada pria yang memuja cinta melebihi hidupnya sendiri.
Hati Nisa semakin tersayat, ketika dia yang melahirkan Ibrahim, tak di sebut namanya dalam setiap akhir kata. Itulah mengapa Nisa semakin membenci Shella. Wanita itu sudah merebut cinta kasih putranya dari dirinya. Wanita itu sudah merebut perhatian putranya dari dirinya. Namun, apakah sekarang masih saatnya memegang teguh keegoisan di tengah kehampaan hati? Ibrahim sudah menjerit pilu. Tapi hati Nisa masih juga tak terketuk.
Sementara di tempat yang berbeda, Shella tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya karena mendengar suara yang tak asing memanggil namanya. Deru nafas Shella memburuh, peluh membasahi kening. Sedangkan pria di sampingnya turut terbangun karena adanya pergerakan tak biasa.
"Kamu kenapa sayang? apakah kamu bermimpi buruk?" Tanya Akemi cemas. Pria itu menyeka keringat Shella yang bercucuran.
__ADS_1
"Minumlah dulu," lanjut Akemi kemudian sembari memberikan segelas air minum pada Shella. Shella meminum air tersebut hingga habis tak tersisa.
"Apakah kamu merasa lebih baik sekarang?" Akemi masih terus berusaha untuk menenangkan belahan hatinya itu. Namun, sejujurnya dia paham akan kegusaran hati Shella. Suami mana yang tak tahu perasaan istrinya? bukankah suami dan istri itu di satukan dalam feeling yang sama?
"Aku, aku takut. Aku takut," ucap Shella akhirnya. Wanita itu benar-benar ketakutan. Akemi memeluk tubuh Shella, dan mengecup kening wanita tersebut.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Percayalah kepadaku." Belaian Akemi sangat mujarab. Hanya dalam hitungan detik, Shella berubah menjadi tenang. Deru nafas yang tadi membuncah, kini perlahan normal kembali.
"Shella, apa yang membuat mu ketakutan seperti ini? tidak bisakah kau terbuka padaku sedikit saja? sepenting itukah dia sampai namanya kamu ukir dalam mimpi mu?" batin Akemi.
Setiap hari Akemi di rundung kerisauan. Hampir setiap hari pria itu tak konsen dalam menyelenggarakan pekerjaan. Beruntung Delon selalu setia menemani dan membantu dirinya di Perusahaan. Jika tidak, maka Akemi akan di cap sebagai pebisnis yang tak profesional hanya karena masalah pribadi yang tak di pahami banyak orang.
**
Kembali pada ruangan isolasi, di suatu malam yang sunyi kelam. Ibrahim diam-diam melarikan diri ketika Nisa lengah. Ibrahim memanfaatkan kesempatan yang terbuka lebar di depan mata. Dia berlari menyusuri ruangan kosong tak berpenghuni. Ruangan itu di penuhi barang-barang Shella yang dulu di berikan padanya.
Nisa sungguh keterlaluan, dia tega membuang semua barang-barang Shella ke dalam bak sampah dalam gudang tua. Padahal barang-barang itulah yang menjadi obat pelipur lara Ibrahim ketika sedang merindu.
__ADS_1
Ibrahim akhirnya berhasil keluar dari rumah terkutuk itu. Dia berjalan tanpa alas kaki. Namun, tangan pria itu masih menggenggam selembar foto Shella. Foto itu yang akan menuntun dirinya untuk bertemu sang pujaan hati yang di yakini nya masih menyimpan rasa. Padahal rasa itu sudah lama sirna seiring berjalannya waktu. Hanya dialah yang masih memiliki rasa itu. Sejujurnya Shella bukanlah wanita yang tak setia atau tak mau berjuang, tetapi dia bukanlah seseorang yang egois, yang tega mengenyampingkan restu Ibu di atas segalanya.
To be continued.