Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Yogi Faresta Ibrahim Chabelo Kim.


__ADS_3

Hari-hari terus berlanjut, dunia tak akan berhenti hanya karena jiwa yang kalut, duka yang tersulut, dan hati yang sungut.


Kepergian seseorang itu mutlak memang harus terjadi. Bukankah suatu saat semua orang akan kembali? lantas mengapa harus bermuram durja untuk waktu yang lama?


Kicauan burung camar di pagi hari, seolah berdendang ria mengiringi dua insan yang tengah di mabuk asmara, setelah beberapa bulan pedih melanda.


Kini senyuman manis dari wanita cantik itu tersungging kembali. Dia hampir saja lupa bagaimana cara tersenyum dulu. Namun, suaminya tak lelah berusaha, dan pada akhirnya akal tak mengalahkan logika. Dia mampu bangkit dan berbahagia, ketika hatinya mulai lapang.


Suara deru nafas yang saling bersahutan seolah berlomba siapa yang lebih cepat mencapai puncak. Desahan demi desahan keluar begitu saja dari bibir dua insan itu tanpa permisi. Tak akan ada yang mendengar, meski berteriak sekuat tenaga.


Beberapa kali klimaks itu keluar dari duren Shella, akibat ular naga bonar Akemi memporak-porandakan isi duren itu seperti melaksanakan demonstrasi. Namun, cukup nikmat terasa.


Tangan mereka saling meremas, melakukan bercocok tanam beberapa kali. Menggali lubang lebih dalam, mencangkul kiri dan kanan. Gaya itu di lakukan beberapa kali, atas dan bawah. Entah sudah berapa kali bisa itu keluar, tetapi tetap dalam posisi yang aman buat si cabang bayi.


Dokter menyarankan kepada mereka untuk lebih sering melakukan olahraga malam di usia kandungan sembilan bulan agar persalinan berjalan lancar. Kebetulan kondisi jiwa Shella pasca di tinggal Ibrahim untuk selamanya mulai stabil. Jadi Akemi tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia sudah cukup tersiksa selama beberapa bulan ini. Mau bermain solo di kamar mandi juga bukan ide yang bagus. Tentu saja hal itu akan merusak sel dalam tubuhnya.


"Tolong berhenti, aku sudah lelah," ucap Shella dengan nafas terengah-engah. Peluh membasahi keningnya yang sedikit tertutup beberapa helai rambutnya yang panjang.


"Baiklah sayang, aku akan menyelesaikan tugasku," jawab Akemi masih terus mencangkul di lahan Shella.


Terdengar suara teriakan kecil dari bibir tipis Akemi. Bisa itu akhirnya keluar, mengendurkan anak konda miliknya. Jika biasanya setelah bisanya keluar, Akemi akan menjatuhkan tubuhnya di atas perut Shella. Akan tetapi kali ini berbeda, perut buncit Shella menghalangi Akemi untuk bermanja ria di atas tubuh wanita yang hampir dua tahun ini menemaninya.


Dada Akemi dan Shella kembang kempis, seolah sedang berlomba lari maraton.


"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Akemi. Rupanya pria itu mengkhawatirkan kondisi Shella yang sedang hamil tua. Meski mendapatkan anjuran dari dokter untuk melakukan olahraga malam, bukan berarti dia melakukan tanpa hati-hati.


"Iya aku baik-baik saja," jawab Shella.


Akemi menarik selimut untuk menutupi tubuh Shella yang tanpa sehelai benang pun setelah acara bela duren tadi.

__ADS_1


"Pakailah selimut, nanti kamu masuk angin," tutur Akemi. Namun, Shella menolak memakai selimut tersebut.


"Aku tidak mau menggunakan selimut. Aku ingin ke kamar mandi untuk membersihkan diri," balas Shella.


Shella bangun dengan hati-hati. Dia memegang perutnya yang membuncit. Dia berjalan menuju kamar mandi tanpa memperdulikan Akemi yang menatapnya tanpa sehelai benang pun.


Sisa bisa Akemi pun masih ada di sela paha Shella. Namun, wanita itu tak memperdulikannya. Baginya, kamar mandi adalah hal utama yang ingin di tuju.


Shella merasa pusing dan mual, perutnya seperti di aduk-aduk. Entah apa yang terjadi pada wanita tersebut. Dia sudah melewati masa mengidam, dan masa-masa itu di laluinya dengan penuh suka dan duka. Lalu apa yang terjadi dengan tubuh wanita itu? mengapa dia merasa seperti saat pertama kali mengidam?


Tak lama Shella memuntahkan semua isi perutnya.


"Hoe, hoe, hoe."


Mendengar suara Shella yang seperti tidak baik-baik saja, Akemi pun menyusul Shella ke dalam kamar mandi tanpa sehelai benang pun seperti Shella tadi.


"Ada apa sayang? apakah kau baik-baik saja?" tanya Akemi dengan nada cemas.


Tak lama Shella merasa seperti ada cairan yang keluar dari area Jakarta pusatnya. Cairan itu berwarna kekuningan. Perutnya pun terasa sakit, seperti tulang belulangnya akan remuk saat itu juga. Apakah Shella akan melahirkan sekarang?


"Ah, Akemi. Perutku sakit sekali," ucap Shella sembari memegang perutnya. Akemi melihat cairan itu sudah berjatuhan ke lantai.


"Sayang, cairan itu..."


"Ada apa?"


"Apakah ketubanmu pecah?"


Tak ada kesempatan untuk berkomunikasi lebih lama lagi. Akemi langsung menggendong Shella dengan tubuhnya yang telanjang. Beruntung pria itu masih menyadari kondisi mereka yang tak memakai apapun di tubuhnya. Jika tidak, apa kata dunia nanti ketika melihat tubuh mulus keduanya?

__ADS_1


Akemi memakaikan daster pada Shella, dan dia pun hanya menggunakan celana pendek dan baju kaos yang tadi mereka kenakan sebelum melakukan olahraga malam.


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang."


Akemi menggendong Shella hingga sampai ke lantai bawah. Dia memasukkan istrinya itu ke dalam mobil, lalu kemudian memacu mobil itu dengan kecepatan tinggi.


Setibanya di rumah sakit, Akemi menghubungi Papa Javier dan Mama Alea. Tak lupa pula Nisa dan suaminya. Biar bagaimanapun juga Nisa adalah wali Shella sekarang. Mereka bahkan hidup dalam damai, tanpa adanya dendam ataupun kebencian.


Marina dan Aljav, serta Naomi dan Delon juga tak mau ketinggalan. Keempat orang itu langsung ke rumah sakit setelah mendengar Shella akan melahirkan. Namun sebelum itu, Papa Javier dan Mama Alea lah yang lebih dulu tiba.


Selama dua jam Shella merasakan sakit yang luar biasa. Sekujur tubuh wanita itu terasa remuk. Tulang belulangnya terasa ingin patah. Beruntung selama dua jam itu Shella sudah mendapatkan pembukaan sembilan, yang berarti bayi itu sudah siap untuk lahir.


Akemi selalu setia mendampingi istrinya itu. Dia mengusap kepala Shella dengan penuh kasih. Meski wanita itu harus menjambak rambut Akemi untuk meluapkan rasa sakit yang melanda. Bahkan pipi pria itu harus merah karena mendapatkan tamparan keras dari tangan mulus Shella.


Rambutnya di Jambak, hingga tak berbentuk lagi. Tetapi Akemi tak mempermasalahkan itu. Bagi pria bermata perak tersebut, keselamatan Shella dan anaknya lah yang menjadi prioritas utama. Tak masalah di tampar, atau terkena jambak, rasa sakit Akemi tak sebanding dengan sakit yang di alami Shella.


Tak lama terdengar suara bayi menangis. Akemi dapat menyaksikan dengan jelas bagaimana perjuangan Shella dalam mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan anak mereka.


Shella melahirkan anak laki-laki, dan di beri nama, Yogi Faresta Ibrahim Chabelo Kim. Nama yang panjang memang. Bahkan Shella tak mau menerima nama itu, tetapi Akemi bersih kukuh nama itu yang akan di gunakan oleh putranya. Terlebih lagi, Akemi mengingat keinginan Ibrahim yang terakhir kali, yakni menyematkan nama pria itu dalam anak mereka. Akemi pun siap menyelipkan nama Ibrahim di tengah. Akhirnya Shella mau menerima nama yang cukup panjang itu.


Sepasang suami istri sejatinya harus saling mendukung. Tak harus dengan berdebat ketika ingin menyelesaikan masalah. Melainkan dengan menurunkan ego, maka semua akan baik-baik saja. Sering-seringlah bercanda pada pasangan kita. Karena sejatinya, bercandanya suami istri adalah ibadah. Dan ketika pasangan kita melakukan sesuatu yang baik untuk kita dan keluarga, maka berilah apresiasi. Itu merupakan salah satu keharmonisan rumah tangga.


END.


Assalamualaikum. Alhamdulillah, akhirnya novel sesion 3 ini tamat juga. Mohon maaf apabila masih banyak kekurangan. Bahkan sering jarang update. Meski level karya Novel ini menurun, tetapi saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian para pembaca. Meski masih banyak kurangnya. Karena saya tidak pandai dalam menyenangkan hati kalian.


Terimakasih sudah membaca novel ini sampai akhir. Setelah ini akan ada cerita Naomi dan Delon. Saya beri judul "Mengejar Cinta Naomi."


Dalam cerita Naomi dan Delon, sangat jauh berbeda dengan cerita dari Javier dan Alea, Akemi dan Shella, serta Aljav dan Marina. In syaa Allah nanti realis pertengahan bulan 3. Saya mau melanjutkan cerita MARINAKU dan DIBAWAH LANGIT SENJA di lapak D*R*E*A*M*E.

__ADS_1


Salam hangat dari author tak terkenal seperti aku buat kalian. Love you all.


SUHARNI.


__ADS_2