
Berbuat yang terbaik pada titik dimana aku berdiri, itulah sikap sesungguhnya yang realistis. Ada satu cara mengetahui seseorang itu berkata jujur, tanyakan padanya, kau akan tahu dia membual.
Mungkin pribahasa itulah yang di alami Akemi saat ini. Dia hidup dalam kebimbangan. Mengetahui fakta, bahwa wanitanya menyebut nama pria lain dalam sepertiga malam, membuat dunia Akemi runtuh dalam sekejab. Tak ada kata yang mampu mewakili perasaan Akemi saat ini. Yang jelas, pria itu sedang bermuram durja. Tak ada lagi kicauannya yang berdendang ria ketika saat bangun tidur. Tak ada lagi sentuhan syahdu yang di lambaikan pada kulit sang pujangga.
Pagi-pagi sekali Akemi sudah meninggalkan Shella tanpa pesan. Bahkan sebelum wanita itu bangun dari tidur nya yang terjaga. Akemi pergi menyusuri jalan yang tak berujung. Bahkan tak bertujuan sama sekali. Hatinya muram, tatapan matanya kosong. Pria itu benar-benar berada dilema.
Tak lama mobil sedan pria itu menepi di pinggir jalan yang sunyi, dimana hanya terdapat gunung-gunung. Entah dimana ia saat ini. Lalu sedetik kemudian, Akemi terisak. Dia seakan menumpahkan segala perasaannya yang terpendam.
"Hiks, hiks, hiks, mengapa Shella, mengapa? mengapa kamu menyembunyikan semuanya dariku sampai aku harus melihat dengan mata kepala ku sendiri? pria itu kah yang membuat cinta mu tertahan? pria itu kah yang sering kamu sebut namanya di sepertiga malam? pria itu kah yang sudah menghiasi hari-hari mu selama ini? lalu dimana tempatku dalam hidup mu Shella? mengapa kamu tak mengatakan, bahwa aku adalah suami mu? mengapa kamu bungkam malam itu? hiks, hiks, hiks."
Akemi terisak pilu, hatinya remuk, harapannya pupus. Tak adakah cinta Shella sedikit saja untuk pria malang itu? harus sejauh apa lagi Akemi berjuang untuk tak melepaskan tangan Shella?
Akemi terus berkicau sedih, dia seakan lupa janji yang di ukir di bawah langit senja, bahwa apapun yang terjadi, dia tetap akan mendengar kan dan mempercayai Shella. Meski dunia menolaknya, meski dunia mengkhianati nya, dan meski dunia berkata tidak. Namun, Akemi akan tetap berkata, "Semua akan baik-baik saja, karena ada aku disini yang menyimpan benih unggul dalam kepercayaan."
Akemi mengakhiri kesedihan nya, dan melanjutkan perjalanan yang tak bertujuan itu. Selama hampir empat jam Akemi berkeliling menyusuri jalanan. Hingga sampai pada akhirnya pria itu memutar haluan untuk menuju satu tempat ternyaman, yaitu rumah Papa. Dia akan bercerita segala keluh kesahnya pada pria yang sudah merawatnya sedari kecil itu.
Papa Javier merupakan pilihan terbaik Akemi dalam mengambil keputusan dan menentukan tindakan. Pria paruh baya itu adalah sahabat terbaik Akemi selain Aljav dan Delon.
__ADS_1
***
Sementara di tempat yang berbeda, Shella baru saja bangun dari tidurnya. Dia sudah tak mendapati Akemi di sisinya. Bahkan Wanita itu masih mengenakan gaun semalam.
Hatinya kembali gundah, apakah Akemi telah pergi meninggalkan dirinya? Shella berusaha menelpon pria tersebut. Namun, tak tersambung. Shella semakin gusar. Dia tak tahu lagi harus berbuat apa. Haruskah dia menelpon Delon untuk menanyakan keberadaan Suaminya itu? ataukah dia menelpon Mama Alea? tapi bagaimana jika Akemi tak ada di rumah Mama? apa yang akan dia katakan, jika Mama justru bertanya hal yang sama seperti dirinya? haruskah Shella memberitahu masalah rumah tangga mereka? tidak, itu tidak boleh terjadi. Rumah tangga merupakan masalah privasi antara suami dan istri. Terkadang orang ketiga dalam rumah tangga adalah keluarga sendiri. Entah itu orang tua kita, mertua, ipar, atau bahkan saudara kita sendiri. Kendati mereka adalah manusia yang baik.
Akhirnya Shella memutuskan untuk menunggu Akemi pulang dan menyelesaikan segala yang terpendam.
**
Di rumah Papa Javier, Akemi duduk bersama pria paruh baya itu sembari terdiam membisu. Namun, Papa Javier tahu betul jika putra keduanya itu memiliki sedikit masalah, hanya saja dia tak mau bertanya. Selama setengah jam pria beda generasi itu duduk terdiam tanpa kata.
"Papa, ceritakan bagaimana kisah Papa dulu sewaktu bertemu Mama. Apakah kalian memiliki masalah yang rumit dulu?" Tanya Akemi.
Terdengar Papa mengembuskan nafas berat, sebelum akhirnya pria paruh baya itu mulai bercerita.
"Dulu, Papa tak pernah berpikir untuk menikah di usia muda. Bahkan Papa juga berpikir, bahwa wanita merupakan wanita tak kasat mata, hanya membuang-buang waktu saja. Tapi bersama Mama mu, Papa menemukan hal terindah dari seorang wanita. Ajaibnya wanita itu, tak pernah menggunakan amarah sebagai perisai dalam menyelesaikan masalah. Tapi mereka menggunakan hati dan akal." Tatapan mata Papa Javier kosong kedepan. Dia seolah membayangkan kisahnya di masa lalu bersama Alea.
__ADS_1
Sementara Akemi diam menikmati tiap detail cerita Papanya.
"Dulu kami tak saling mencintai, hanya Papa yang mencintai Mama mu. Tapi Papa tak pernah mengakui perasaan Papa sama Mama. Papa terlalu pengecut untuk mengakui nya kala itu. Sampai Papa meragukan karakter Mama kamu. Papa hampir saja kehilangan Mama saat itu. Kalau bukan karena Papa menurunkan ego dan memberi kesempatan pada hubungan kita, mungkin saat itu kalian tak akan lahir ke dunia ini." Hati Akemi merasa tercubit ketika mendengar cerita Papa Javier. Mungkin dia juga harus memberi kesempatan pada Shella untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
"Papa tidak tahu masalah apa yang sedang terjadi antara kamu dan istrimu. Tapi yang Papa tahu, putra Papa tidak akan melakukan kesalahan. Dan Papa yakin, Papa dan Mama tak pernah salah memilih menantu."
Mungkin Papa benar, Shella tak salah dalam hal ini. Dia hanya terlalu terkejut dengan kedatangan pria itu.
"Berilah dia kesempatan untuk menjelaskan situasinya Nak. Terkadang dalam rumah tangga itu, komunikasi lah obat utama dalam sebuah hubungan. Jika komunikasi kalian terputus, dan salah satu dari kalian melarikan diri. Maka tak akan ada titik temu dalam pernikahan kalian Nak. Jadilah pria bijaksana, em?"
Nasehat itu seolah membuka mata hati Akemi sekaligus menampar dirinya. Mungkin Papa benar, dia harus memberi Shella kesempatan untuk bercerita. Jika dia lari seperti ini, bukankah sama halnya dia bukan pria yang bertanggung jawab?
"Terimakasih Papa, terimakasih. Aku akan memberi Shella kesempatan. Terimakasih," ucap Akemi seraya memeluk tubuh Papanya.
Papa tersenyum haru ketika mendengar putranya itu mau menyelesaikan masalah rumah tangganya dengan kepala dingin. Setidaknya, tak ada salah satu dari anaknya yang melakukan kesalahan yang sama seperti yang dulu dia lakukan pada Alea.
Komunikasi adalah jalan terbaik dalam setiap masalah. Duduklah yang tenang, dan dengarkan alasannya tanpa bersuara, sampai waktu memberikan kesempatan untuk bercerita dan berpendapat.
__ADS_1
To be continued.