Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Mengapa Menatapku?


__ADS_3

Cinta itu seumpama kertas kosong, apakah kamu akan menulis dengan kepalsuan, atau dengan ketulusan.


Cinta itu bagai burung merpati yang terbang bebas di angkasa. Mereka tetap akan kembali ke sangkarnya, walau sejauh mana sayap membawanya pergi. Merpati tak pernah melupakan dimana tempat mereka berasal.


Cinta itu ibarat sebuah walima hati yang tertanam dengan tangguh di dalam sana. Tak mudah tercabut hanya dengan satu kalimat kebohongan.


Cinta itu ibarat harapan yang diam-diam terselip dalam beribu-ribu rintik hujan. Itulah cinta, seperti cinta Shella Yolanda pada Akemi Alexander Gautam.


Shella kini berteriak ria dalam hati, seolah mengatakan pada dunia, "Hai mantan kekasihku, kekasih yang tak lagi ku harapkan, haruskah kita katakan, bahwa yang dulu itu bukan cinta? hanya karena ia kini telah binasa. Ya, cinta itu telah binasa dan habis di telan oleh masa. Masa yang terlalu lama menunggu, hingga sang waktu sendiri yang memberiku kekasih halal baik tiada tara."


"Mengapa menatap ku seperti itu?" Tanya Akemi yang kini berdiri tepat di depan Shella. Pria itu seolah sedang menuntut jawaban tentang arti dari sorot mata Shella padanya sedari tadi. Ya, Akemi menghentikan acara bermainnya bersama anak-anak Panti. Karena pria itu melihat Shella tengah menatap dirinya dengan tatapan.... Cinta?


Shella masih belum bergeming, lamunannya terlalu indah untuk di abaikan. Ingin rasanya kalimat cinta itu terucap secara lantang dari mulutnya yang mungil. Agar Akemi tahu, bahwa cinta Shella selayaknya burung merpati yang selalu kembali ke sangkarnya, walau sejauh mana sayap membawanya pergi.


"Shella Yolanda Gautam!" Pekik Akemi dan kali ini sukses menyadarkan Shella dari lamunan panjangnya mengenai cinta.


"Ah, iya. Maafkan aku karena sedang melamun," jawab Shella sedikit salah tingkah. Kening Akemi berkerut hampir menyatu.


"Melamun? kamu sedang melamun kan apa?"


Deg,


Haruskan shella katakan, bahwa dia sedang melamun terbang tinggi ke awan dan menggapai bintang-bintang bersama Akemi? haruskan dia mengungkapkan cinta itu tanpa beban sekarang? Shella benar-benar ingin membalas cinta Akemi, tetapi dia terlalu malu untuk mengungkapkan rasa itu. Berbeda ketika dulu dia menjalin hubungan bersama Ibrahim. Shella tak segan mengatakan, bahwa betapa dia sangat mencintai pria tersebut. Tapi sekarang? dia bahkan tak memiliki secuil keberanian untuk mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya. Begitu besarkah perbedaan ukuran cinta Shella antara Ibrahim dan Akemi?


"Hei, katakanlah sesuatu Shella." Sekali lagi Akemi menyentuh lengan Shella untuk segera kembali ke dunia nyata.

__ADS_1


"Ah, aku melamun bagaimana itu cinta," jawab Shella akhirnya dengan satu kali tarikan nafas. Akemi menarik sudut bibirnya membentuk senyum penuh kebahagiaan disana.


"Cinta? cinta siapa?" tanya Akemi pura-pura tidak tahu. Padahal sejujurnya pria itu bisa melihat seberapa besar cinta Shella untuk dirinya lewat sorot mata wanita tersebut. Hanya saja, Akemi menginginkan balasan secara lisan. Agar dirinya puas, bahwa cintanya tak bertepuk sebelah tangan.


Sementara Shella sudah salah tingkah, peluh mulai membasahi keningnya yang halus tanpa jerawat. Akemi menyeka peluh itu dengan telapak tangannya sembari berkata, "Mengapa berkeringat? bukankah disini cuacanya cukup sejuk? apa yang sedang kamu pikirkan?" Akemi berucap dengan nada sensual yang di buat-buat, hingga Shella meremang.


"Ah, singkirkan tangan mu. Nanti anak-anak melihat kita," jawab Shella kaku. Wanita itu masih setia dengan sikapnya yang salah tingkah. Sementara Akemi semakin gemas.


"Lalu?" ucap Akemi seraya mendekatkan wajahnya pada Shella. Akhirnya wanita itu semakin kehabisan kata-kata, tubuhnya menjadi kaku. Mengapa dia harus seperti ini? padahal mereka sudah satu bulan menikah, dan hubungan keduanya pun tak kaku seperti saat ini. Tapi apa ini? mengapa Shella menjadi orang lain sekarang? ini bukanlah dirinya. Ataukah sikapnya ini muncul karena adanya pertanyaan Ibu Panti mengenai kebenaran cinta nya pada Akemi? entahlah.


"Akemi, tolong menjauh lah. Anak-anak bisa melihat kita nanti. Apakah kamu mau memberi contoh yang tak baik pada mereka? apakah kamu ingin mereka melihat betapa romantisnya dirimu?" Sekali lagi Akemi hanya tersenyum menyeringai sembari terus melangkah maju ke arah Shella. Sementara wanita itu terus memundurkan langkahnya.


"Romantis? benarkah aku romantis?" Akemi akhirnya menarik pinggang Shella. Pria itu memindah kan anak rambut Shella yang sedikit menutupi wajah nya ke belakang telinga.


"Akemi, tolong lepaskan aku," tutur Shella dengan suara setengah berbisik dan sedikit sensual, membangunkan sesuatu yang tertidur di dalam sana. Bibir Shella mungkin menolak, tapi tidak dengan bahasa tubuhnya. Tubuh itu seolah berkata, "Dekap aku, peluk aku, dan rangkul aku sekuat hatimu."


Bibir Akemi dan Shella semakin dekat, hanya tersisa jarak satu senti saja. Bibir itu sangatlah ranum. Jika di *****, maka dunia terasa berhenti sejenak.


Masih terus mendekat kan bibir, hingga kulit tipis itu sedikit lagi menyentuh bibir ranum Shella. Lalu kemudian,


"Apakah kalian ingin mengetahui bibir siapa yang lebih tebal?"


Toeng,


Seketika pertautan antara dua tubuh itu terlepas, mereka tampak salah tingkah.

__ADS_1


"Ibu," ucap Shella malu-malu. Ya, Ibu Nurul sedang mencari Shella dan Akemi untuk makan siang. Ternyata wanita paruh baya itu harus di suguhkan dengan pemandangan yang dulu pernah di alaminya bersama suami tercinta yang kini telah berpulang ke pangkuan Illahi.


"Lanjutkan adegan itu nanti di rumah, sekarang waktunya makan siang," lanjut Ibu Nurul kemudian. Wanita paruh baya itu pun pergi meninggalkan Akemi dan Shella dalam perasaan yang bercampur aduk.


"Aku bilang juga apa, pasti akan ada yang melihat kita," bisik Shella. Dia sungguh merasa malu pada Ibu Panti. Jika bisa ia menghilang, maka saat itu juga Shella akan menghilangkan dirinya dari tempat yang sukses membuat hatinya menjerit karena malu.


"Tapi kamu suka kan?" Balas Akemi tak mau kalah.


Shella menoleh pada suaminya itu, lalu kemudian mendekatkan wajahnya pada Akemi dengan tatapan penuh selidik. Kali ini Akemi lah yang berubah menjadi canggung. Bagaimana tidak, mata Shella sangat tajam, seolah memiliki maksud terselubung. Akemi menelan salavinya dengan susah payah.


"A--apa yang mau kamu lakukan?" Tanya Akemi dengan suara kaku.


"Yang mau aku lakukan?" Shella tersenyum menyeringai. Senyuman itu sangat beringas. Lalu kemudian,


Cup,


"Aww," pekik Akemi. Bibir pria itu terluka karena ternyata Shella menggigit bibir bawahnya. Dan bodohnya lagi, Akemi menerima gigitan itu karena di sangka nya, ciuman manis lah yang mendarat di bibirnya yang tipis.


"Rasanya manis," ucap Shella sembari mengedipkan sebelah matanya. Akemi tersenyum akan keberanian Shella yang mulai menunjukkan sikap terbuka. Sejujurnya Akemi lebih menyukai Shella yang berani terbuka dengan perasaan nya, dari pada dia harus diam membisu seolah tak tahu harus berkata apa.


Akhirnya Shella pergi meninggalkan Akemi yang masih diam terpaku menatap punggung wanita tersebut.


"Sayang, kamu sudah membangun harimau. Dan aku akan menerkam mu di rumah nanti. Kamu harus bertanggung jawab."


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2