
Satu bulan kemudian.
Hari ini merupakan jadwal kontrol kandungan Alea yang telah menginjak usia 6 bulan. Wanita cantik itu di temani oleh suaminya, Javier Alexander. Keduanya sedang berada di ruang pemeriksaan tempat sahabat Alea yaitu Dina bertugas.
Dalam layar monitor tampak gambar bayi ketika Dina memeriksa kondisi kandungan Alea.
"Bayi kalian sangat sehat, jenis kelaminnya laki-laki". Tutur Dina sambil mendaratkan tubuh di kursi kerjanya. Alea yang masih mengancing baju setelah pemeriksaan pada dirinya, sementara Javier duduk di kursi berhadapan bersama Dina keduanya tersenyum bahagia mendengar hasil pemeriksaan bayi mereka.
"Benarkah?. Apa dia setampan diriku?. Tentu saja tampan seperti diriku. Sayang, aku memang memiliki bibit unggul". Javier bertanya dan menjawab pertanyaan nya sendiri sambil menepuk dadanya menandakan kesombongan. Alea yang melihat tingkah suaminya pun tersenyum kecut.
"Memang menurut mu aku jelek, begitu?". Tutur Alea tak terima.
"Bukan begitu sayang, tapi seorang suami yang memproduksi bibit dalam tubuhnya, yaitu aku, suami tampan mu ini". Javier menaik turunkan alisnya membuat Alea memutar bola matanya merasa jengah. Dina yang melihat keduanya pun hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Baiklah, Al. Ini obat yang harus kamu minum, jangan lupa vitamin nya juga. Perbanyak makan buah dan sayur. Ketika usia kandungan menginjak 7 bulan, kurangi makan daging untuk menghindari hipertensi. Dan harus sering olahraga khusus ibu hamil". Terang Dina.
"Baiklah. Terimakasih ya, Din". Alea memeluk sahabatnya tersebut lalu kemudian melepas nya dan beralih melihat suaminya yang sedang duduk terdiam dengan ekspresi yang sulit di tebak.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Alea.
"Apa kamu tidak mau memeluk suami mu ini juga sayang?" Javier merentangkan kedua tangannya seolah ingin menyambut istrinya itu untuk memeluk dirinya, jangan lupa juga matanya yang menatap penuh damba.
"Kenapa dia berubah jadi mesum?". Alea mengecilkan suaranya agar tidak di dengar oleh Javier.
"Suamimu itu sungguh tidak tahu malu". Cibir Dina yang saat itu masih berdiri di sisi Alea hingga keduanya pun berkomunikasi dengan suara berbisik. Alea pun mendekati Javier,
"Ayo kita pulang. Peluk Bi Asih saja di rumah".
"Ha?".
Alea maupun Javier kini meninggalkan ruangan Dina yang tengah melihat perdebatan kecil antara suami istri yang seperti kucing dan tikus tersebut sambil menggelengkan kepalanya hingga keduanya hilang dari pandangan wanita yang berprofesi sebagai dokter kandungan tersebut.
*****
Di Apartemen, Alex sedang bersiap-siap untuk menemui seseorang. Kini pria bermata seperti kacang kenari itu menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa dan memasuki mobilnya lalu berlalu pergi meninggalkan apartment mewah miliknya.
__ADS_1
Alex melajukan kecepatan mobilnya hingga kini mobil silver miliknya terparkir sempurnah di halaman rumah mewah yang berlantai dua. Kaki pria itu menapaki halaman rumah tersebut dan melangkah dengan tergesa-gesa. Ia harus menyelesaikan sesuatu yang menyangkut masa depan nya.
Tibalah Alex di depan pintu rumah dan memencet bel berwarna putih tersebut.
Ting tong... Ting tong...
CEKLEK...
Pintu terbuka, dan tampaklah Javier dari balik pintu tersebut dengan senyuman. Ya, Javier sengaja menelpon Alex untuk datang ke rumah nya karena Dina sedang berada di rumah nya saat ini. Tadi sewaktu pulang kerja, Dina mendapat telpon dari Alea jika sahabat nya itu mengundang dirinya untuk makan siang di rumah mereka. Dan Javier pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu untuk di manfaatkan nya guna mempertemukan Alex dan Dina, mereka harus menyelesaikan permasalahan keduanya yang terjadi hingga memakan waktu 12 tahun lamanya.
"Masuklah, dia ada di dalam bersama Alea". Titah Javier, dan Alex pun tersenyum sambil menepuk pundak Javier seraya memasuki rumah sahabatnya tersebut.
Alex menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan nya dengan berat. Ia merasa seperti ingin bertemu dengan ibu negara yang akan mengeksekusi dirinya ke tiang gantung. Begitulah pikiran pria tampan tersebut.
"Ana".
Dina yang sedang asik bercanda dan tertawa bersama Alea di ruang keluarga, di buat tercengang ketika melihat pria yang di cintai sekaligus di bencinya berdiri tepat di depan mukanya saat ini. Alea yang memahami keduanya pun kini meninggalkan tempat tersebut untuk memberi waktu bagi pasangan itu untuk menyelesaikan permasalahan di antara mereka.
"Temui lah dia. Selesaikan apa yang perlu di selesaikan". Titah Alea sambil tersenyum. Namun Dina tak bergeming, wanita itu masih saja memfokuskan pandangannya pada pria yang telah memporak-porandakan hati dan hidupnya. Ada tatapan rindu dan juga mendamba pada wanita yang berprofesi sebagai dokter kandungan tersebut, namun lebih mendominasi tatapan... kebencian. Ya, kebencian telah bersarang dalam relung hati wanita berparas cantik tersebut hingga ia ingin menitikan air mata. Sementara Alex memiliki rasa yang sama pula, namun bedanya, pria tersebut menatap penuh sesal pada wanita yang di cintanya itu.
"Ana sudah mati!. Pergilah!". Dina mengusir Alex sambil memutar tubuhnya hingga membelakangi pria tersebut. Air mata yang sedari tadi di tahan oleh wanita berambut madu itu kini tak bisa di bendung lagi.
"Ana, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya". Tutur Alex dengan suara lirih dan wajah sendu.
"Masalah apa yang Anda maksud Tuan Alex?. Masalah yang sudah aku kubur dalam-dalam?".
"Ana--".
"Cukup Alex!. Aku sudah melanjutkan hidupku, begitu juga dengan dirimu. Aku lihat kamu baik-baik saja meski tanpa aku, bahkan aku lihat kamu jauh lebih bahagia". Tutur Dina lirih. Air matanya selalu setia menemani wajah wanita cantik itu.
"Apa kau pikir aku bahagia selama ini?. Aku hampir mati karena putus asa tidak menemukan dirimu saat itu. Aku mencarimu kemana-mana, tapi aku tidak menemukan mu. Percayalah". Alex memutar tubuh Dina dan melihat wajah wanita itu yang sedang tertunduk. Dina pun melepas tangan Alex dari lengannya dengan keras sambil tersenyum kecut.
"Hm, lihatlah, siapa yang sedang berbicara sekarang?. Alex yang berjanji tidak akan pernah meninggalkan ku apapun yang terjadi, atau pria yang mengkhianati ku dan pergi meninggalkan ku dalam keadaan mengandung anaknya?!".
"Aa---apa?. Anak?". Alex menatap tak percaya.
__ADS_1
"Sudahlah, kamu tidak akan paham. Bukankah kamu sudah memiliki wanita lain dalam hidupmu?. Jadi untuk apa kamu repot-repot menjelaskan padaku".
"Dina!. Apa yang kamu katakan?. Pernikahan siapa yang kamu maksud?. Aku bahkan tidak memiliki siapapun selain dirimu".
Sejenak keheningan membaluti keduanya, hingga Alex menghaturkan pertanyaan memecah keheningan.
"Katakan padaku, apa yang terjadi setelah malam itu?".
Hening...
Hening...
"Ana...".
"Apa kamu benar-benar tidak tau yang terjadi?". Tanya Dina seolah menyangsikan pertanyaan Alex.
"Jika aku tahu yang sebenarnya, aku tidak akan bertanya padamu seperti ini".
Alex mulai meninggi kan suaranya, hingga Dina menatap mata pria itu, ia berusaha mencari kebohongan disana, namun wanita cantik itu tak menemukannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Next.