
Nisa masih bersimpuh di kaki Shella sembari menangis seolah meratapi nasib yang tiada pasti. Wanita paruh baya itu meraung keras dan mengiba minta di kasihani. Hati Shella tersentuh dan iba hanya dengan mendengar tangisan Nisa. Namun, tiba-tiba saja Akemi datang dengan sebuket bunga di tangan.
Pria itu sangat terkejut ketika melihat peristiwa yang terjadi di depan mata. Siapa wanita paruh baya yang bersimpuh di kaki Istrinya? mengapa dia menangis dan memohon seperti itu? pikir Akemi.
Tak lama Akemi mulai menyadari, bahwa wanita paruh baya itu adalah Nisa, Ibu dari Ibrahim. Ya, Shella telah menceritakan segalanya tentang Nisa dan Suaminya yang merupakan kedua orang tua Ibrahim dan tak lain adalah salah satu kolega Akemi.
Akemi mengeratkan rahangnya, dia cukup tahu bagaimana sikap Nisa dulu terhadap Shella. Mereka lah penyebab Shella menderita dulu. Lalu sedang apa dia disini. Apakah dia akan kembali menyakiti Shella lagi? pikir Akemi.
Tak tahan melihat sikap Nisa yang meraung keras, Akemi pun bersuara, "Lepaskan Istriku! jangan ganggu dia!" teriak Akemi dengan raut wajah marah.
Baik Shella maupun Nisa, keduanya sama-sama terkejut. Namun, Nisa tetap tak mau beranjak dari tempatnya bersimpuh. Dia seolah bersih kukuh di tempat itu.
Akemi berjalan mendekati keduanya. Dia menatap Shella dengan tatapan datar, dan beralih melihat Nisa yang masih terus terisak di bawah kaki Shella.
"Bangunlah, dan ceritakan pada kami apa tujuan mu kemari dan membuat keributan disini," tutur Akemi datar, namun penuh penekanan.
"Tidak, sebelum Shella mau memaafkan ku," balas Nisa dengan suara bergetar. Hati Shella semakin iba.
"Tante, tolong jangan seperti ini. Bangunlah, Tante bisa bercerita pada kami di dalam," tutur Shella sembari menuntun Nisa untuk beranjak dari tempatnya bersimpuh. Nisa pun akhirnya mengikuti ucapan Shella. Mereka pun masuk dan duduk di kursi ruang tamu.
Nisa meremas jemarinya dan masih di iringi dengan isakan. Nisa tampak berpikir dia akan memulai dari mana ceritanya. Sementara Akemi menatap wanita itu dengan tatapan tak terbaca.
"Tunggu sebentar ya Tante, Shella ke dapur dulu," izin Shella. Nisa tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya.
Lima menit kemudian, Shella kembali ke ruang tamu dengan segelas air putih di atas nampan. Shella meletakkan nampan itu di atas meja.
__ADS_1
"Silahkan di minum dulu Tante," ucap Shella ramah. Nisa pun mengambil air putih itu, lalu kemudian meminumnya dan menyisakan setengah gelas air.
"Terimakasih Shella," balas Nisa tulus.
"Tante, apa yang sebenarnya terjadi? apa yang membuat Tante tiba-tiba datang kesini dan ada apa dengan Kak Ibrahim Tante? dia baik-baik saja kan?" Tanya Shella secara beruntun. Dia seolah melupakan peristiwa dimasa lalu yang menyakitkan, dan di sebabkan oleh ulah Nisa sendiri.
Nisa melirik ke arah Akemi, lalu kemudian beralih melihat Shella. Nisa menundukkan kepalanya sembari terisak.
"Maafkan Tante Nisa, maafkan Tante. Ada banyak hal yang aku sembunyikan darimu, Nak. Hiks, hiks, hiks." Shella mengerutkan keningnya. Dia tak paham dengan ucapan Nisa barusan.
"Apa maksud Tante? tolong ceritakan semuanya Tante. Apa yang sebenarnya terjadi?" desak Shella, namun masih dengan kesopanan.
Terdengar Nisa mengembuskan nafas berat, sementara Akemi masih tetap diam. Dia seolah menantikan cerita Nisa.
"Shella, Ibrahim sementara menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa Nak," ucap Nisa akhirnya. Tubuh Shella menjadi gemetar. Dia hampir saja terjatuh dari tempatnya duduk. Sementara Akemi menahan Shella agar wanita itu tetap kuat.
"Dia tak bisa menerima kenyataan, bahwa kalian adalah bersaudara. Hu, hu, hu." Sumpah demi apapun, jantung Shella terasa akan terlepas. Begitu juga dengan Akemi. Mereka kembali merasakan hal yang sama.
Apa maksud Nisa? saudara? apakah wanita ini sedang membual? apa lagi yang di rencanakan wanita ini?
"Apa maksud Anda Nyonya? apakah Anda sengaja mengarang cerita untuk membuat jiwa istri saya terguncangnya?" Kali ini Akemi turut bersuara. Dia tak tahan melihat kondisi Shella yang shock.
"Saya tidak sedang mengarang cerita Tuan Akemi. Saya mengakui kesalahan saya, tapi sumpah demi Tuhan, saya tidak berbohong," balas Nisa sungguh-sungguh. Ada secercah kepercayaan dalam benak Akemi pada Nisa. Dia bisa melihat kejujuran lewat sorot mata wanita paruh baya tersebut.
"Jadi maksud Anda Shella adalah putri Nyonya?" tanya Akemi. Sementara Shella diam dalam pelukan Akemi. Wanita itu masih terguncang. Bahkan untuk sekedar berucap pun dia tak sanggup lagi.
__ADS_1
"Tidak, dia bukan putri ku. Dia adalah putri dari adik ku, Ratih. Ratih adalah adik kesayangan ku. Kami tumbuh besar bersama. Setelah menikah aku bahkan membawanya untuk tinggal bersama ku. Suatu hari dia menemukan belahan jiwanya dan menikah. Lalu kemudian mengandung Shella. Tapi, kondisi janin Ratih saat itu tak bisa di pertahankan, karena mengalami komplikasi. Ginjal Ratih bermasalah. Janin Ratih akan selamat kecuali Ratih mau mengorbankan hidupnya." Akemi masih belum bergeming, dia seakan menikmati cerita dari Nisa. Sementara Shella masih setia dengan isakan nya.
"Aku sudah menyuruh Ratih untuk menggugurkan saja kandungan nya, tetapi dia terlalu keras kepala. Hingga suatu ketika, tibalah saatnya waktu Ratih akan melahirkan. Dia harus menerima kenyataan pahit, bahwa suaminya meninggal dalam kecelakaan. Hiks, hiks, hiks." Nisa mulai terisak kembali. Bayangan masa lalu seolah bermain-main di pelupuk matanya.
"Jiwa Ratih menjadi terguncang, hingga dia melahirkan Shella. Lalu lima menit kemudian, Ratih pun meninggal dunia. Dia bahkan belum sempat mengatakan apa-apa padaku. Hu, hu, hu." Akemi mengeratkan pelukannya pada Shella. Hatinya teriris ketika mendengar cerita Nisa.
"Saat itu aku menyalahkan Shella atas kematian Ratih dan Suaminya. Aku tak pernah bisa memaafkan Shella waktu itu. Jadi aku membuangnya ke Panti Asuhan, hiks, hiks, hiks." Baik Shella maupun Akemi, keduanya sama-sama terkejut. Jadi yang selama ini membuang Shella di panti asuhan adalah Nisa? lalu siapa Ibu Rima yang namanya di sebut oleh Ibu panti? bukankah dia kerabat Shella satu-satunya?
"Lalu siapa Ibu Rima itu? mengapa dia mengatakan hal yang berbeda dengan Tante?" Tanya Shella akhirnya setelah lama bungkam. Wanita itu bertanya dengan mengumpulkan semua keberanian nya.
"Dia adalah saudara dari Ayah mu, dia menolak mu juga karena aku yang menyuruhnya. Aku menghasutnya dan mengatakan, bahwa kamulah penyebab dari kematian kedua orang tua mu," jawab Nisa dengan raut wajah penuh rasa sesal. Sementara Shella semakin terpukul. Mengapa dia harus di salahkan atas peristiwa yang bahkan dia tak tahu sama sekali?
"Lalu mengapa Anda menyembunyikan hal ini dari Ibrahim dan Shella selama bertahun-tahun? tidakkah Anda takut jika suatu saat mereka bertemu dan jatuh cinta? dan pada kenyataannya hal itu telah terjadi. Tapi Anda masih saja bungkam dan menutup rapat-rapat rahasia itu. Apa salah mereka? apakah ego Anda terlalu tinggi hingga menyalahkan seorang gadis yang bahkan tak pernah melihat wajah kedua orang tuanya?" Akemi tak bisa lagi menahan perasaannya. Dia meluapkan emosi yang selama ini terpendam. Sementara Shella masih terus menangis. Dia tak bisa berkata-kata lagi. Jiwanya terguncang hebat.
"Karena aku sangat membenci Shella waktu itu. Aku masih terus menyalahkan dia atas kepergian adikku dan Suaminya," lirih Nisa.
"Apakah Shella yang meminta kedua orang tuanya meninggal dunia? apakah wanita ini mau menjadi yatim piatu? dia juga sama tersiksanya dengan Anda Nyonya. Bahkan penderitaan Anda tak sebanding dengan penderitaan Shella. Dia harus menjadi yatim piatu, menerima hinaan sebagai wanita pembawa sial. Apa lagi yang lebih menyakitkan dari itu? padahal Andalah penyebab dari semuanya!" Amarah Akemi semakin menggebu-gebu. Tak pernah sekalipun pria itu marah. Bahkan ketika melihat Shella bersama Ibrahim malam itu. Dia memilih untuk menenangkan diri, dan mendengarkan tiap penjelasan Shella. Namun tidak untuk kali ini, Akemi sudah di luar jalurnya.
Sementara dalam hati Nisa membenarkan setiap ucapan Akemi. Penyesalan wanita itu semakin besar. Dia hanya mampu menangis di depan pasangan suami istri itu.
"Lalu apa tujuan Anda datang kesini Nyonya?" Tanya Akemi dengan suara penuh penekanan.
Nisa belum menjawab, dia terdiam membisu sembari berpikir, apakah dia akan mengungkapkan maksud kedatangan nya pada Akemi? atau justru pergi begitu saja dengan tangan hampa?
Lalu kemudian Nisa pun berkata, "Jangan lupa like dan komen, serta vote yang banyak ya readers."
__ADS_1
To be continued.