Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Duren Mengkal.


__ADS_3

Pertautan antara dua benda kenyal Shella dan Akemi, terus berlanjut hingga lima menit lamanya. Tentu saja hal itu membuat Shella sangat terkejut bukan main. Matanya membulat sempurna, bibirnya kaku, lidahnya keluh, bahkan seluruh tubuh Shella seakan terasa mati. Mendadak Shella sakit kepala karena pertautan bibir itu.


Akemi sangat menikmati aksinya, karena Shella tak memberontak atau menolak, artinya wanita itu menerima dirinya. Selama lima menit Shella seakan kehilangan kesadaran dan jati diri. Dia bagai berada di tempat yang jauh, yang mana dirinya tak pernah berada disana. Lima menit itu pun berakhir seiring dengan kembalinya kesadaran Shella. Akhirnya wanita itu mendorong Akemi sekuat tenaga, dan akhirnya berhasil juga. Pertautan bibir itu terlepas, meski tak menyisakan bengkak di bagian bibir Shella, tetapi Akemi cukup puas. Setidaknya ini adalah awal yang bagus, meski belum tentu baik. Karena bisa jadi Shella justru akan marah dan menjaga jarak dengan nya. Bukankah itu hal yang merugikan posisi Akemi? karena dia akan di benci oleh Shella akibat ciuman singkat tadi.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Shella seraya mengusap bibirnya yang basah karena transaksi air liur yang di berikan Akemi tadi. Wajah Shella berubah menjadi tegang dan merah selayaknya kepiting rebus.


"Maafkan aku, tadi aku hanya menguji diriku saja," jawab Akemi kaku, pria itu berusaha untuk menutupi perasaan yang sebenarnya.


"Untuk apa kamu menguji dirimu dengan mencium ku?" Sangsi Shella. Ternyata wanita itu tak sepolos yang di pikirkan. Dia juga memahami situasi dimana itu adalah karena ketertarikan, atau justru hanya bermain-main.


Akemi tampak berpikir panjang mengenai jawaban apa yang akan di berikan untuk Shella, agar wanita itu tak menganggap dirinya pria tak bermartabat yang memainkan perasaan wanita.


Lama Akemi berpikir, menyiapkan jawaban yang kiranya tak membuat istrinya itu kecewa atau sakit hati padanya.


"Aku sedang melakukan uji coba," jawab Akemi kemudian. Shella mengerutkan keningnya penuh tanya.


"Uji coba?" Tanya Shella polos.


"Iya, uji coba. Aku menguji diriku agar aku tahu, bahwa aku pria normal. Karena selama ini aku tak pernah tertarik dengan wanita. Jadi aku berusaha untuk mengetahui fakta itu. Lagi pula, wajar kan jika aku menguji diriku sama istri sendiri?" Terang Akemi dengan raut wajah meyakinkan, dan sukses membuat Shella percaya. Wanita itu tampak berpikir. Namun, raut wajahnya seakan menyatakan, bahwa dia percaya dengan penjelasan Akemi. Memang benarkan mereka sudah menikah? jadi wajar saja jika Akemi menyentuhnya dimanapun dia mau.


"Atau..." Akemi menggantungkan kalimatnya, menunggu reaksi Shella.

__ADS_1


"Atau apa?" Tanya Shella akhirnya setelah beberapa saat diam.


"Atau kamu ingin aku mencobanya dengan wanita lain?" lanjut Akemi kemudian, dan sukses membangunkan api amarah Shella yang padam.


"Tentu saja tidak boleh! kamu suamiku! kamu hanya boleh mencobanya denganku!" balas Shella dengan satu kali tarikan nafas. Mendengar jawaban Shella yang membuat hati Akemi berbunga-bunga, pria itu menarik sudut bibirnya membentuk senyum penuh kemenangan plus bahagia disana. Bagai ada jutaan kupu-kupu yang berterbangan di atas kepala pria tampan tersebut.


"Benarkah? jadi kita bisa lanjut uji cobanya?" Tanya Akemi dengan tatapan penuh damba. Jiwa kelakian Akemi mulai terpancing, membangunkan anak konda yang di bawah sana.


Shella tak menjawab, dia masih bungkam. Hingga wanita itu menyadari jika mereka sudah sangat intim sekali. Akhirnya Shella mendorong Akemi seraya berkata, "Durennya belum matang, masih mengkal." Jawaban Shella justru memancing kebingungan Akemi. Pria itu tak mengerti apa maksud ucapan dari istrinya.


"Duren mengkal? ada apa dengan duren mengkal?" Tanya Akemi bingung dengan kening berkerut hampir menyatu.


"Duren ku masih mengkal," jawab Shella malu-malu. Akhirnya Akemi paham maksud dari kalimat Shella melalui raut wajahnya yang tersipu malu. Ternyata Shella belum siap untuk membela durennya alias melakukan penjajakan di gunung berapi, hingga membangunkan anak konda Akemi untuk menjelajah setiap inci gunung berapi Shella dan membela duren di gunung berapi tersebut hingga mengeluarkan bisa anak konda Akemi dan larva Shella.


"Gunung berapi? kita bisa terbakar nanti kalau bermain-main di gunung berapi, gunung Himalaya saja, ya?" Balas Shella polos. Wanita itu mengira Akemi ingin berjalan-jalan secara nyata di gunung berapi, jadi dia melakukan penawaran untuk melakukan perjalanan ke gunung Himalaya saja.


"Astaga, ternyata wanita ini tidak memahami maksud ku. Terserah kamu sayang, mau menyebutnya dengan nama gunung apa, yang jelas aku akan menunggu mu sampai waktu itu tiba. Aku akan membela duren mu," batin Akemi.


**


Di ruang makan, Mama Alea, Papa Javier, Aljav, Marina, dan Naomi, masih belum menyentuh sarapan mereka, karena masih menunggu pengantin baru yang sedang bernegosiasi waktu bela duren dan menjajaki gunung berapi atau gunung Himalaya.

__ADS_1


"Kok, Kak Akemi dan Kak Shella lama sekali sih? aku sudah lapar," gerutu Naomi. Gadis cantik itu sudah tampak kelaparan karena terlalu lama menunggu sang pengantin baru.


"Kamu sabar saja, nanti kalau kamu sudah menikah, mungkin kamu tidak akan keluar kamar sampai besok pagi," cetus Papa Javier.


"Memangnya kenapa?" Tanya Naomi polos.


"Karena kamu akan bermain ular tangga di dalam kamar bersama suami mu," jawab Papa Javier, dan mendapatkan cubitan keras dari Mama Alea.


"Papa ini, bisa diam tidak? dari tadi main ular tangga terus yang di bahas. Malu sama anak," tegur Mama Alea, dan membungkam mulut bar-bar suaminya itu. Namun, justru sukses membuat wajah Marina merah merona karena malu. Karena rupanya semalam mereka juga hampir saja mencetak satu gol. Tetapi karena Aljav tiba-tiba kentut, akhirnya kesadaran keduanya kembali dan menciptakan kecanggungan di antara mereka.


Papa Javier menyadari menantu tertua nya itu merasa malu. Akhirnya, pria paruh baya yang masih tampak gagah meski tak lagi muda itu menggoda anak serta menantunya.


"Ada apa dengan wajah mu Marina? apakah semalam kalian juga bermain ular tangga?"


"Uhuk, uhuk, uhuk." Aljav terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Papa nya yang bar-bar. Marina menepuk pelan punggung Aljav, lalu kemudian memberikan minuman kepada suaminya itu.


"Minumlah," ucap Marina seraya memberikan segelas air putih.


"Terimakasih," jawab Aljav.


"Kenapa kamu yang batuk Al? padahal Papa bertanya sama Marina, atau jangan-jangan..." goda Papa dengan tatapan mata penuh selidik, membuat Aljav dan Marina salah tingkah. Sementara Naomi yang masih tergolong daun muda, tak mengerti apa maksud dari pembicaraan orang dewasa yang berada di depannya itu. Naomi hanya diam selayaknya penonton bayaran.

__ADS_1


Lalu Marina dan Aljav pun berkata secara bersamaan, "Jangan lupa like dan vote yang banyak ya readers. Karena author yang menulis cerita ini akan membagi-bagikan give away berupa pulsa 300.000 untuk tiga orang pemenang dengan jumlah vote tertinggi apa bila novel ini berhasil berada di peringkat lima besar. Semoga berhasil ya readers. Salam halu."


Happy reading.


__ADS_2