
Lega rasanya melepas masa lalu tanpa beban. Kini hati Shella terasa lebih ringan. Meski dia harus tega meninggalkan Ibrahim dalam kondisi yang menyedihkan. Namun, saat ini yang ada dalam benak Shella hanya lah Akemi seorang.
Di sepanjang perjalanan Shella terus tersenyum dengan harapan rencana malam ini akan berjalan sebagaimana mestinya.
"Tolong lebih cepat lagi Pak," ucap Shella pada sopir Taxi yang di tumpangi nya. Padahal baru juga dua menit Taxi itu berjalan, rasanya Shella sudah tak sabar untuk sampai ke rumah.
Sementara di Apartemen, Akemi duduk terdiam menatap makan malam romantis yang di persiapkan Shella. Semuanya sangat jelas terlihat, bahwa Shella tak main-main dengan ucapannya tadi siang. Akemi tersenyum hangat ketika itu. Namun, sedetik kemudian senyuman itu berubah menjadi isakan tangis. Hatinya masih belum percaya jika wanita yang di lihatnya tadi adalah Shella, istri tercintanya.
Akemi melangkah menuju meja tersebut, semuanya terlihat sangat sempurna. Sesuai dengan bayangan pria itu. Ada cahaya lilin yang remang-remang, bahkan Shella juga menyiapkan radio untuk memutar lagu romantis untuk menemani makan malam mereka. Ada bunga mawar yang bertaburan di setiap balkon tersebut.
Tak lama Akemi duduk di kursi, dan memegang sendok garpu. Dia mulai memotong daging yang tersedia. Lalu memakannya sembari terisak. Masih terasa sakitnya pemandangan di jalan tadi.
Hati Akemi terluka dan berdarah, dia tak pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Mahluk hidup yang bernama wanita, dulu sangat di jauhinya. Karena takut akan patah hati, dan sekarang dia merasakan patah hati yang sesungguhnya. Hati itu terbelah menjadi dua. Jika dulu Akemi selalu berkicau bagai burung yang berdendang ria karena cinta, kini dia berburam durja karena nestapa.
Sementara di parkiran, Shella melihat mobil Akemi sudah terparkir rapi di area Apartemen.
"Akemi sudah pulang? itu artinya..., oh astaga, apakah tadi dia melihat ku bersama Ibrahim di jalan?" Shella bermonolog, hatinya mulai bergetar ketakutan. Ya, Shella takut akan kehilangan Akemi, jika saja pria itu sampai salah paham akan pertemuannya tadi bersama Ibrahim.
Tak lama Shella memasuki Apartemen dan masuk ke dalam lift. Shella semakin gusar, dia tak tenang. Dan akhirnya lift itu terbuka tepat di depan pintu Apartemen Shella. Wanita itu membuka pintu dan menuju ke balkon, tempat dimana tadi dia mempersiapkan makan malam romantis untuk Akemi.
Shella mendapati Akemi sedang asik memakan daging tanpa bersuara. Shella menjadi gugup. Dia tak berani hanya sekedar menyapa. Shella berjalan pelan ke arah Akemi, dan duduk tepat di depan suaminya itu. Wajah Shella menjadi tegang. Dia melihat wajah Akemi yang tampak biasa-biasa saja. Apakah pria itu tak melihat Shella di jalan tadi bersama Ibrahim? jika sedari tadi dia pulang, itu artinya Akemi melihat Shella dan Ibrahim di jalan. Tapi mengapa Akemi tak mengatakan apapun? dia hanya asik makan seolah menikmati setiap potongan daging tersebut.
Sejujurnya Akemi melirik sejenak ke arah Shella dengan menggunakan sudut matanya. Pria itu tak melihat bunga yang tadi di pegang Shella. Apakah wanita itu telah memberikan pada pria tadi? Akemi juga tahu mengenai legenda bunga Hercai Menekse dan bunga Snowdrop yang melambangkan kesetiaan dan pengkhianatan. Jadi Shella menepati janjinya pada pria tadi? itu artinya mereka akan kembali bersama. pikir Akemi.
Tak lama Akemi menoleh ke arah Shella, lalu berkata, " Kamu sudah pulang? maaf aku makan lebih dulu, karena aku lapar."
__ADS_1
Deg,
Kalimat apa itu barusan? mengapa Akemi justru mengatakan hal lain? tidakkah dia melihat Shella tadi? atau paling tidak, Akemi bertanya dari mana Shella tadi? mengapa tak ada di rumah untuk menyambut suaminya pulang? tapi mengapa Akemi hanya diam membisu? apakah itu artinya Akemi marah? namun memilih memendam perasaannya? jika boleh jujur, Shella lebih memilih Akemi berteriak, dan marah-marah agar wanita itu tahu apa isi hati dari Suaminya itu.
"Sejak kapan kamu pulang?" Tanya Shella ragu-ragu. Namun, Akemi hanya asik memakan semua makanan yang tersedia. Shella semakin takut, tidakkah Akemi membuat nya ketakutan malam ini? tiba-tiba Shella merasa suasana berubah menjadi canggung.
"Akemi," lirih Shella.
"Ada apa?" jawab Akemi datar.
"Aku bertanya, sejak kapan kamu pulang?" Sekali lagi Shella menanyakan hal yang sama.
"Semenjak kamu berada di luar bersama pria asing," jawab Akemi dengan raut wajah tak terbaca.
Deg,
"Akemi, aku---"
"Makanlah dulu, ini sudah jam sembilan malam, dan kamu belum makan. Atau kamu mau aku suap?" Shella bergidik ngeri dengan kalimat Akemi. Baginya kalimat itu terdengar sangat menakutkan.
"Akemi, dengarkan aku dulu." Shella tampak berusaha ingin menjelaskan keadaan nya. Namun, Akemi seolah menghindar.
"Buka mulut mu sayang. Aaaa." Akemi menyuapi daging yang telah di potong nya ke mulut Shella. Dan mau tak mau wanita itu harus memakannya.
Akemi tersenyum ketika Shella mau memakan daging tersebut. Namun, hati Shella semakin tak tenang.
__ADS_1
"Baiklah, aku sudah selesai makan. Terimakasih atas makan malamnya. Aku mau mandi dulu, habiskan lah makanan mu," tutur Akemi, dan berlalu meninggalkan Shella yang diam membisu.
Perasaan Shella semakin berkecamuk. Takut, sedih, dan terluka. Ya, Shella merasa terluka dengan diamnya Akemi. Setidaknya, pria itu harus mengatakan sesuatu jika dia melihat Shella dengan pria asing. Tapi mengapa Akemi memilih diam dan pergi? ini kah cara pria itu menyelesaikan masalah? tapi bukan ini yang di inginkan Shella. Dia harus meluruskan keadaan ini sebelum semuanya terlambat.
Shella pergi ke kamar, dan tak mendapati Akemi. Tak lama Shella mendengar suara percikan air dari dalam kamar mandi. Ternyata Akemi belum menyelesaikan ritual mandinya.
Shella menunggu Akemi keluar dari kamar mandi sembari mondar-mandir seperti setrika. Hatinya semakin gusar tak karuan.
"Ayolah Akemi, cepat keluar. Aku ingin bicara padamu," gumam Shella.
Tak lama Akemi keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Bahkan dia sudah memakai baju tidur. Shella mendekati Akemi, dengan tubuh gemetar.
"Akemi, aku ingin bicara padamu. Ada sesuatu yang harus aku luruskan disini," tutur Shella dengan penuh kemantapan hati.
"Kita lanjutkan besok saja ya? maaf malam ini makan malam kita tak sesuai rencana. Tadi aku lagi banyak kerjaan, sekarang kita tidur dulu," balas Akemi masih dengan raut wajah datar seolah tak terjadi apa-apa. Jika di malam-malam sebelumnya Akemi mengecup kening Shella sebelum tidur. Maka lain halnya malam ini, pria itu hanya menangkup pipi kanan Shella. Tentu saja hal itu membuat Shella semakin sedih. Jika memang Akemi marah, maka luapkan saja. Namun, Shella kembali berpikir, mungkin Akemi tipe pria yang tak suka membahas masalah dalam situasi yang rumit. Mungkin Akemi butuh waktu untuk berpikir, dia tak suka di desak.
Akhirnya Shella memilih diam dan mengikut keinginan Akemi. Mereka pun tidur bersama, tetapi Akemi membelakangi Shella. Bukankah itu sudah jelas menunjukkan jika Akemi sedang marah padanya?
Terkadang seorang pria butuh ketenangan hati untuk membahas segala yang mengganjal di dalam dada. Jadi sebagai wanita, kita harus pandai melihat situasi agar tak terjadi pertengkaran yang tak berarti.
Muhasabah diri.
To be continued.
Bagi yang bertanya dimana novel MARINAKU, novel itu ada di I** N** N** O** V** E** L. atau D** R** E** A** M** E.
__ADS_1