Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Bab. 82. Namaku Shella Yolanda.


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Akemi, Shella yang sudah sampai di ambang pintu pun akhirnya menoleh pada pria tersebut. Untuk sesaat tatapan keduanya terkunci. Akemi seakan terhipnotis dengan pancaran kesederhanaan Shella. Matanya tak berkedip kala memandang wajah Shella. Matanya, bibirnya, dagunya, semua tak luput dari pandangan Akemi. Detak jantung pria itu sudah mulai berdegup kencang untuk pertama kalinya. Namun, dia tak menyadari apa arti dari degupan kencang itu. Desiran dalam hati Akemi meronta. Perasaannya mulai bergejolak. Perasaan aneh itu seolah menuntun dirinya untuk terus memperhatikan wanita tersebut. Mengapa pintu hatinya seolah terketuk oleh wanita asing yang baru di lihatnya? parasnya yang sederhana, tapi elok. Membuat perasaan asing mulai muncul di permukaan. Inikah yang namanya cinta? ah tidak mungkin. Pikir Akemi.


Sementara di sisi lain, Shella justru merasa kan ketakutan yang luar biasa dalam hati dan benaknya. Perasaannya mulai berkecambah.


"Apakah saya akan di pecat?" Batin Shella.


"Siapa namamu?" Tanya Akemi sekali lagi membuat Shella sadar dari lamunannya. Sedangkan Delon yang sedari tadi tak bergeming, merasakan sesuatu yang berbeda dari sahabatnya itu. Untuk pertama kalinya dia menyaksikan Akemi bertanya pada seorang wanita, terlebih lagi menanyakan namanya. Padahal selama ini, Akemi terkesan cuek terhadap mahluk yang bernama wanita.


"Nama saya Shella Yolanda Tuan," jawab Shella akhirnya.


"Oh Shella," ucap Akemi datar.


"Jadi Nona Shella, apa yang membawamu kemari?" Tanya Akemi, hingga membuat Delon menoleh padanya. Bagaimana bisa Akemi menanyakan sesuatu yang baru saja di sampaikan oleh wanita itu sebelumnya? bukankah tadi sudah jelas, bahwa dia hanya salah masuk ruangan saja? Delon seakan mencium aroma lain, seperti... tertarik?


"Hei, bukankah tadi dia sudah katakan bahwa dia salah masuk ruangan?" Bisik Delon berusaha mengingatkan Akemi yang masih setia menatap Shella, membuat wanita berparas manis tersebut menjadi canggung.


"Diamlah," gumam Akemi masih tak melihat wajah Delon. Akhirnya Delon menyentil kening Akemi, membuat pria bermata perak tersebut ber-aw ria. Delon berhasil mengalihkan pandangan Akemi dari wanita tersebut.


Plak,


"Aww, apa yang kamu lakukan? apakah kamu mau saya pecat?" Tanya Akemi dengan nada tinggi seraya memegang dahinya yang terasa nyeri.


"Aku melakukan yang seharusnya di lakukan, air liur mu hampir jatuh ke lantai karena menatap wanita petugas kebersihan itu," bisik Delon pelan. Namun, masih bisa di dengar oleh Shella. Akhirnya wanita itu tersenyum, dan sukses mengalihkan kembali pandangan Akemi padanya.


"Apa baru saja kamu menertawakan ku?" Tanya Akemi dengan nada dingin. Shella langsung menundukkan kepalanya merasa takut dan malu.


"Maafkan saya Tuan."


Akemi berdiri dari tempat duduknya, lalu kemudian berjalan mendekati Shella. Delon yang sedari tadi duduk di depan Akemi merasa bingung dengan kening berkerut. Apa yang sedang di lakukan pria dingin ini? pikir Delon.

__ADS_1


Akemi menghentikan langkahnya tepat di depan Shella. Sedangkan wanita itu masih tetap menundukkan kepalanya. Perasaan wanita itu mulai berkecamuk. Takut, canggung, gemetar, dan juga mules. Ya, Shella merasa mules ketika dirinya ketakutan.


"Apakah kamu petugas baru disini?" Tanya Akemi akhirnya setelah beberapa saat kemudian.


"Iya Tuan," jawab Shella masih tetap dengan menundukkan kepalanya.


"Baiklah, karena kamu sudah ada disini. Kamu bersihkan ruangan saya sekarang juga. Saya mau keluar dulu bersama teman saya," titah Akemi seraya memasukan kedua tangannya di dalam saku celana.


"Baik Tuan," jawab Shella.


"Dan satu lagi, jangan kemana-mana sebelum aku kembali," ucap Akemi, dan Shella hanya mengangguk kan kepalanya. Akemi beralih melihat Delon yang masih saja bungkam. Pria itu tampak bingung dengan perubahan sikap sahabatnya. Apa yang mengubah Akemi sehingga dia jadi royal kata seperti itu? pikir Delon.


"Apakah kamu masih ingin duduk diam disitu?" Tanya Akemi dingin. Pria itu menjadi dingin lagi ketika berbicara dengan Delon. Sementara bersama Shella dia menjadi sosok yang hangat.


Bahkan suaranya pun nyaris lembut tak bertuan, membuat Delon mengumpat nya dalam hati.


"Dasar pria aneh. Giliran bersamaku dia berbicara seperti manusia di kutub Utara, sedangkan bersama wanita itu dia seolah hangat," batin Delon.


"Iya baiklah," ucap Delon.


Dan dua pria tampan itu pun pergi meninggalkan Shella yang masih saja diam tak berkata. Dia seolah memendam ketakutan karena sikap dingin dari Akemi dan Delon.


Setelah Akemi dan Delon hilang dari balik pintu, Shella mengembuskan nafas lega. Dia seakan merasa beban di pundaknya tersangka.


"Huff, akhirnya mereka pergi juga. Mengapa tadi aku salah masuk ruangan? ini pasti gara-gara Ibu Risma yang cerewet itu. Dia selalu saja memarahiku selama dua Minggu ini. Padahal aku tidak salah." Shella bermonolog. Kemudian dia memperhatikan seluruh ruangan Akemi yang tampak rapi dan bersih.


Ibu Risma merupakan kepala petugas kebersihan di Perusahaan Akemi. Dia adalah wanita paruh baya yang sangat cerewet. Dirinya selalu melimpahkan kesalahan yang terjadi pada Shella. padahal sesungguhnya Shella tak melakukan kesalahan apapun. Selama dua Minggu bekerja, Shella menjadi sasaran empuk seorang Risma. Namun meski begitu, Shella tak menyimpan dendam padanya.


"Apanya yang mau di bersihkan ruangan ini? semuanya tampak rapi dan tak berdebu. CEO yang aneh," ucap Shella. Namun meski begitu, dia tetap membersihkan ruangan tersebut.

__ADS_1


Setelah merasa ruangan CEO bersih, meski sejak awal ruangan itu tak kotor. Shella duduk di kursi sofa sembari membaca koran yang terletak di atas meja. Di tengah asiknya wanita itu membaca koran, tiba-tiba saja Akemi datang seorang diri. Entah kemana perginya Delon.


Shella langsung berdiri dan menundukkan kepalanya ketika melihat Akemi yang sudah berada dalam ruangan itu bersama dirinya. Shella tampak canggung, sedangkan raut wajah Akemi tak terbaca.


"Apakah kamu sudah selesai?" Tanya Akemi datar.


"Iya Tuan," jawab Shella tanpa melihat wajah Akemi. Entah mengapa dirinya tak berani menatap mata perak pria tersebut.


"Baiklah, ini tip buat kamu." Akemi memberikan sebuah amplop berwarna putih berisikan uang sebagai imbalan Shella karena sudah membersihkan ruangan nya. Kendati ruangan tersebut tak kotor sama sekali.


Shella mengangkat kepalanya, dia memberanikan diri untuk menatap mata perak Akemi.


"Maaf Tuan, saya tidak menerimanya tip dari siapapun. Saya sudah memiliki gaji bulanan dari Perusahaan ini," tolak Shella lembut, membuat Akemi tercengang. Bagaimana bisa ada seseorang yang menolak uang? jika itu petugas kebersihan yang lain, pasti akan mengambil uang tip dari Akemi. Karena ini bukan yang pertama kali terjadi Akemi memberi tip pada siapa saja yang bersihkan ruangan nya.


"Baiklah, karena kamu menolak. Maka aku akan menaikkan gaji bulanan mu," ucap Akemi sembari berjalan menuju kursi kebesarannya.


"Maaf Tuan, saya rasa gaji saya sudah cukup untuk sebulan," tolak Shella sekali lagi. Hingga kening Akemi hampir menyatu. Dia bingung dengan sikap wanita yang satu ini.


"Sudah berapa lama kamu kerja di Perusahaan ini?" Tanya Akemi datar.


"Dua Minggu Tuan," jawab Shella.


"Ha? dua Minggu? itu artinya kamu belum mengetahui berapa jumlah gaji kamu setiap bulannya?" Tanya Akemi secara beruntun.


"Saya tahu berapa gaji saya Tuan. Tapi maaf, saya tidak menerima tip dalam bentuk apapun. Saya menerima uang sesuai dengan pekerjaan saya. Karena ruangan ini tampak rapi dan bersih sejak awal, jadi saya tidak melakukan apapun sejak tadi," terang Shella. Dia merasa harga dirinya di jatuhkan ketika Akemi menawarkan tip. Shella selalu membantu orang yang membutuhkan bantuannya tanpa pamrih.


"Jika tidak ada lagi yang Tuan ingin bicarakan, saya pamit keluar tuan. Masih banyak yang harus saya kerjakan. Permisi." Shella pun pergi meninggalkan Akemi yang diam terpukau pada sikap yang di miliki Shella. Hingga suara pintu tertutup menyadarkan dirinya dari lamunan.


Akemi tersenyum tipis seraya melihat amplop yang masih berada di tangannya.

__ADS_1


"Shella, bagaimana bisa kamu menolak uang?" Ucap Akemi monolog. Pria itu merasakan sesuatu yang berbeda dari seorang Shella Yolanda. Wanita itu tampak jujur dan alami. Sangat jauh berbeda dengan wanita di luar sana yang hanya mengagumi sosok dirinya yang tampan. Bahkan tak jarang para wanita itu hanya mengincar kemewahan dirinya. Namun, Shella? akankah wanita itu sama dengan yang lain? akankah wanita itu mempertahankan harga dirinya yang begitu tinggi? lalu Akemi berkata, "Jangan lupa like dan vote ya readers."


Happy reading.


__ADS_2