Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Karena Aku Tak Mau Hubungan Kalian Terganggu. (Rahasia Nisa).


__ADS_3

Dua insan yang pernah saling menyinta itu duduk bersama seolah saling melepas rasa. Sementara seorang pria lainnya menatap dari kejauhan dengan tatapan tak terbaca. Hatinya cukup perih, tetapi dia sangat memahami situasi. Dia bukanlah pria egois yang ingin menang sendiri.


Tatapan mata pria itu sungguh datar, mungkin siapa saja yang akan melihatnya, pasti akan berkata, " Kamu sungguh pria hebat." Dia diam tanpa kata sembari melihat istrinya duduk berdua bersama pria gila sang pemuja cinta. Yang mana cinta itu merupakan cinta Shella, istri seorang Akemi Alexander Gautam.


"Tuan Akemi," ucap Nisa tiba-tiba. Menghentakkan Akemi dari lamunannya. Dia menoleh sesaat pada wanita paruh baya tersebut. Lalu kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Ibrahim dan Shella.


"Ada apa Nyonya? apakah Anda ingin mengatakan sesuatu?" jawab Akemi datar. Ragu-ragu Nisa ingin bercerita sesuatu yang merupakan sebuah rahasia pahit yang ia pendam.


"Ada hal yang tidak Shella ketahui Nak. Hiks, hiks, hiks," tutur Nisa sembari terisak. Hal itu sukses mengalihkan perhatian Akemi dengan kening berkerut. Tidak di ketahui Shella? kali ini apa lagi yang akan di ungkapkan oleh wanita ini? mengapa terlalu banyak rahasia yang dia simpan? apakah hidupnya penuh dengan teka-teki? pikir Akemi.


"Katakan padaku Nyonya, apa yang istri saya tidak ketahui selain dari ikatan antara kalian berdua?" balas Akemi. Terdengar Nisa mengembuskan nafas berat. Wanita itu cukup ragu untuk berkata-kata. Namun, dia tak bisa memendam itu terlalu lama. Suatu saat juga akan ketahuan.


"Tapi tolong jangan katakan apapun pada Shella, berjanjilah padaku," pinta Nisa sungguh-sungguh. Wajahnya menggambarkan raut permohonan.


"Katakan padaku Nyonya, aku akan merahasiakan nya jika itu pantas untuk di rahasiakan. Karena aku selalu berbagi hal bersama istriku selama ini. Tak pernah sedikitpun aku merahasiakan sesuatu darinya. Jadi, sebaiknya Anda katakan padaku apa yang sedang Anda pikirkan Nyonya. Aku tidak ada waktu untuk mendengarkan seberapa banyak rahasia yang Anda miliki," terang Akemi penuh penekanan. Tampaknya pria itu mulai muak dengan sikap Nisa yang tak pernah terbuka akan sesuatu. Dia selalu main kucing-kucingan di belakang orang-orang.


"Baiklah, aku akan mengatakan segalanya." Sebelum menceritakan rahasia itu, Nisa menitikkan air mata. Seperti ada beban yang teramat berat di dalam sana yang di pikul oleh wanita tersebut.

__ADS_1


"Sebenarnya, Ibrahim menderita tumor ganas stadium akhir di kepalanya. Hu, hu, hu."


Deg,


Tumor ganas stadium akhir? apakah pria itu tidak hanya menderita gangguan jiwa? tetapi tumor ganas juga? cobaan apa lagi ini Tuhan? mengapa cobaan ini datang secara bertubi-tubi? haruskah dia memberitahu Shella tentang kondisi Ibrahim yang sesungguhnya? atau dia harus memendam segalanya hingga akhir? lalu bagaimana mental Shella jika tahu yang sebenarnya? apa yang harus dia lakukan? pikir Akemi.


"A--apa? tumor ganas? bagaimana bisa?" Suara Akemi bagai tercekat di tenggorokan. Dia hampir tak percaya dengan ucapan Nisa barusan. Apakah wanita itu sedang membual? atau sedang membuat karangan bebas?


"Iya, tumor ganas. Sudah enam bulan terakhir ini dia mendapatkan penyakit itu. Kejadiannya sangat cepat. Ibrahim menderita sakit kepala yang berkepanjangan selama enam bulan terakhir ini. Kata dokter, ada gumpalan darah di kepalanya. Dan itulah yang menyebabkan penyakit itu bersarang di tubuhnya. Setiap kali dia menangis karena mengingat Shella, kepalanya selalu sakit. Hiks, hiks, hiks."


"Awalnya kami pikir hanya sakit kepala biasa, tapi lama-lama sakit itu semakin menggerogoti tubuhnya. Malam itu dia demam dan flu berat. Kami pikir dengan meminum obat, maka semuanya akan baik-baik saja. Tapi ternyata semakin hari kondisinya semakin memburuk. Hingga dokter menyatakan jika Ibrahim mengidap tumor ganas stadium akhir. Hiks, hiks, hiks."


Mata Akemi mulai berkaca-kaca. Dia menoleh ke arah Ibrahim dan Shella. Ternyata cinta pria itu begitu besar kepada Shella, melebihi cintanya selama ini kepada istrinya tersebut. Begitu besar pengorbanan Ibrahim dalam melawan kenyataan dunia. Apakah Shella begitu berharga dalam hidup Ibrahim?


Akemi menyeka air matanya yang hampir jatuh. Cairan bening itu sudah tertampung di pelupuk matanya yang berwarna perak.


"Lalu apa kata dokter sekarang?" tanya Akemi setelah beberapa saat diam.

__ADS_1


"Kata dokter, dia tidak akan bertahan lebih lama lagi. Itulah mengapa aku meminta Shella untuk menemui Ibrahim. Karena kita tak pernah tahu, jika hari ini atau esok Tuhan akan manggilnya. Aku tidak ingin menyimpan rahasia ini lebih lama lagi," terang Nisa penuh kesedihan. Hatinya juga tak kalah hancur dari siapapun. Biar bagaimanapun juga dia adalah seorang Ibu yang melahirkan Ibrahim. Terlepas dari sikapnya yang terlalu keras kepala.


"Lalu mengapa Anda menyuruh saya untuk merahasiakan ini dari Shella jika Anda tidak ingin menyimpan rahasia ini lebih lama lagi? bukankah Shella juga berhak tahu tentang kondisi Kakaknya?" balas Akemi tak percaya. Ya, Akemi tak percaya akan keputusan yang diambil oleh Nisa. Mengapa dia memilih untuk menyembunyikan hal ini dari Shella?


"Karena aku tidak mau membuat wanita malang itu khawatir. Dan itu pasti akan mempengaruhi hubungan kalian. Aku tidak ingin Shella mengabaikan mu sebagai suaminya dan lebih sering mengurus Ibrahim karena rasa bersalah nya," terang Nisa sungguh-sungguh. Untuk pertama kalinya Nisa memikirkan perasaan orang lain. Mungkin wanita itu sudah belajar banyak dari peristiwa yang terjadi. Atau mungkin Tuhan telah memberinya hidayah.


"Aku belum bisa memutuskan apakah aku akan merahasiakan ini dari Shella atau tidak. Jika suatu hari nanti dia akan tahu dan memilih mengabaikan diriku, aku tidak akan berpikir itu sebagai pengkhianatan, tetapi rasa tanggung jawab terhadap saudara lelakinya," jawab Akemi mantap. Sungguh mulia hati pria ini. Hatinya yang seperti malaikat membuat Nisa berdecak kagum. Shella sangat beruntung mendapatkan suami sebaik Akemi. Bahkan ketika mencari hingga ke ujung dunia sekalipun, tak akan menemukan pria sebaik Akemi. Pria seperti Akemi sangat langkah.


"Aku tidak akan memaksamu Nak, aku hanya mengkhawatirkan hubungan kalian. Aku hanya berharap, kepercayaan kalian tidak akan goyah," tutur Nisa kemudian.


Akemi tak menjawab ucapan Nisa. Tatapannya fokus kepada Shella. Apa yang akan di lakukan wanita malang itu nanti ketika dia mengetahui kenyataan yang begitu menyakitkan? apakah hubungan mereka akan goyah karena kondisi Ibrahim? apakah mereka akan berpisah hanya karena Shella merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi? tidak, Shella tidak boleh menanggung beban ini sendirian. Wanita itu tak sendirian, dia memiliki Suami yang teramat sangat mencintai nya.


Terkadang cinta itu bagai madu ketika kebahagiaan menghampiri. Namun, ketika cinta itu berubah arah, maka perlahan-lahan akan berubah menjadi penyakit yang mematikan. Seperti yang di alami Ibrahim saat ini. Dia tak bisa mengendalikan cintanya. Dia menangis di sepanjang hidupnya. Berpikir, bahwa tak ada jalan keluar dalam setiap musibah. Hingga pikiran itu tertampung menjadi gumpalan darah yang menyakitkan.


To be continued.


Jangan lupa like dan vote ya readers.

__ADS_1


Happy reading.


__ADS_2