Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Ibrahim.


__ADS_3

Di bawah pohon yang rindang, seorang bocah kecil berusia 3 tahun. Dia sedang menangis menahan sakit pada bagian lututnya yang terluka karena jatuh. Dia melihat luka itu sembari meniup-niup agar mengurangi rasa sakitnya. Akan tetapi, cara itu tidak membantu, sakit itu masih terasa.


Bocah itu tak tahan lagi, dia berusaha untuk berdiri dan berjalan pulang, tetapi terlalu sakit untuk sekedar bergerak. Akhirnya bocah itu duduk kembali, seraya berharap Ibunya akan datang dan mengobati lukanya seperti biasa.


Sementara di seberang jalan, seorang wanita muda berusia 25 tahun sedang berjalan menuju bocah yang kesakitan itu. Raut cemas sangat jelas terlihat dari wajahnya yang cantik.


"Apakah kamu tidak apa-apa nak? dari tadi Ibu mencarimu. Apa yang terjadi dengan lututmu? mengapa bisa terluka?" tanya wanita itu yang ternyata adalah Ibu dari bocah tadi.


"Aim jatoh bu. Hu, hu, hu."


Bocah kecil itu langsung menangis dalam pelukan Ibunya seolah mengeluarkan rasa sakit. Benar apa kata orang, Ibu adalah obat pelipur lara yang gundah.


Ibu memeluk tubuh putranya itu memberi kehangatan. Dia usap luka yang tak seberapa besar, namun sukses menyakiti fisik putranya,perih terasa. Lalu dia menggendong putra gembulnya itu sekuat tenaga. Tak ada rasa capek sama sekali bagi seorang Ibu, jika itu menyangkut putranya.


Kini tibalah Ibu dan Anak itu di rumah mereka yang berlantai dua. Tempat ternyaman yang mereka punya. Ibu mengambil kotak obat dan mengobati luka putranya itu penuh kasih. Dia meniup seolah menyalurkan cinta.


Tak lama terlihat bocah itu tersenyum, seakan tak merasakan sakit yang berarti, karena sentuhan Ibu.


"Telimakaci bu," ucap bocah itu sembari memeluk tubuh Ibunya.

__ADS_1


Ibu memberikan es krim sebagai tanda kasih sayang. Seperti biasa, jika putra semata wayangnya itu terjatuh dan terluka, maka dia akan memberikan es krim sebagai hadiah. Begitu pula ketika sakit, wanita itu akan memberikan es krim jika putra yang di lahirkannya dengan taruhan nyawa itu, mau meminum obat sampai sembuh.


Begitulah hubungan mereka, ketika sang putra merasa sakit, maka Ibu lah obatnya. Memberi kehangatan ketika dingin menyerang. Mengobati ketika tubuh terluka. Menenangkan ketika kekalutan menghampiri. Begitulah seorang Ibu.


Ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anak mereka, maka pastikanlah Ibu yang menjadi orang pertama yang mengajarkan Alfatihah bagi putra-putrinya. Ibu itu bisa menjadi dokter ketika anak sakit. Bisa menjadi koki ketika lapar menyerang. Menjadi supir ketika bepergian. Menjadi sahabat dalam suka dan duka. Begitulah selayaknya seorang Ibu. Seperti yang di lakukan Ibu yang satu ini pada putra tercintanya.


Kini tak ada lagi bocah kecil nan manis bertubuh gembul tadi. Dia sudah pergi untuk selamanya. Sang Ibu menatap nanar pusara putranya itu.


Ibrahim, ya bocah kecil tadi adalah Ibrahim. Nisa mengingat semua momen indah bersama putranya itu. Pedih dan bahagia. Momen manis itu tak bisa terulang kembali. Kini pria bertubuh kekar itu tak merasakan sakit lagi. Bahkan dia tak harus memperjuangkan cinta semu lagi. Dia hanya berjuang mempertanggung jawabkan perbuatannya semasa hidup di dunia kepada Tuhan.


Di bawah langit senja, Nisa menatap nanar pusara Ibrahim. Tanahnya masih basah. Bunga-bunga dan air doa menaburi makam tersebut.


Tak ada tangisan dari wanita berusia 47 tahun itu. Air matanya seakan kering, bahkan lidahnya keluh seketika.


Sementara di tempat yang sama, Akemi dan Shella tak kalah sedihnya. Mereka turut merasakan pedihnya di tinggal oleh Ibrahim. Akemi memang tak begitu mengenal sosok Ibrahim, tetapi dia bisa merasakan betapa pria itu sangat baik dan mencintai istrinya sepenuh hati. Jika tidak, dia tak akan berjuang sampai sejauh itu.


Shella memegang pundak Nisa sembari menitikan air mata. Shella tahu bagaimana sakitnya perasaan Nisa yang sangat kehilangan putranya.


"Tante, ayo kita pulang. Om sudah menunggu kita di mobil," tutur Shella.

__ADS_1


Nisa tak menjawab ucapan Shella, dia hanya menganggukkan kepalanya. Lalu kemudian beralih melihat pusara Ibrahim.


"Anakku, nanti Ibu mengunjungimu lagi," pamit Nisa seolah meminta izin pada Ibrahim yang di anggap dapat mendengar kalimat itu.


Nisa, Shella, dan Akemi pergi meninggalkan makam Ibrahim dengan perasaan sedih, namun mereka harus mengikhlaskan. Sementara pelayat yang lain sudah kembali lebih dulu setelah Ibrahim di makamkan. Sedangkan Ayah pria itu tadi menemani beberapa koleganya yang turut berduka cita atas kepergian putranya itu.


**


Pasca pemakaman Ibrahim, Akemi dan Shella pun kembali ke Apartemen mereka. Shella masih tak membuka suara. Bahkan untuk sekedar tersenyum pun tak dapat di lakukannya. Dia sangat murung, sepertinya Shella masih terguncang atas kepergian pria yang dulu memberinya cinta itu.


Akemi merasa sedih ketika melihat Shella yang tampak murung. Dia juga merasa cemas, karena ada satu nyawa dalam rahim Shella.


"Sayang, aku buatin bubur ya?" tawar Akemi setelah beberapa saat yang lalu usai membersihkan diri.


"Tidak, aku merasa lelah. Aku mau tidur," jawab Shella seraya membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Wanita itu berbaring membelakangi Akemi. Dia menitikan air mata ketika mengingat momen kebersamaannya dengan Ibrahim. Sangat sulit Shella menerima kenyataan. Bukannya mengingkari kebesaran Tuhan, hanya saja Shella cuma manusia biasa yang memiliki rasa sedih dan terluka. Dia bukanlah malaikat yang memiliki hati suci dan ikhlas. Dia manusia yang di penuhi dosa dan khilaf.


Tak lama terdengar suara isakan dari Shella. Akemi tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya diam sembari memeluk Shella dari belakang. Dia tahu betul, bahwa yang di butuhkan istrinya itu saat ini adalah pelukan hangat.


Manusia tak ada yang sempurna, tidak Akemi, tidak Shella, dan tidak pula pembaca, terlebih lagi author. Kita semua di bekali rasa sedih, dan selalu melakukan kesalahan, entah di sengaja ataupun tidak di sengaja. Maka berbuat baiklah sebelum ajal itu menjemput. Karena tak ada yang tahu kapan malaikat maut mencabut nyawa kita.

__ADS_1


Jika merasa bersalah, maka turunkan ego untuk meminta maaf. Jika masih memiliki utang, maka lunasi sebelum malaikat maut datang. Dan jika masih berniat untuk berkomentar julit, maka berpikir lah ribuan kali. Karena ingat, ketika kita menunjuk seseorang dengan jari telunjuk, maka ingatlah bahwa tiga jari mengarah kepada kita.


To be continued.


__ADS_2