Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Terjebak di Kamar Mandi.


__ADS_3

Kekonyolan yang berakhir dengan rasa malu, membuat Shella hampir tak bisa tidur di malam hari. Wanita itu masih fokus dengan rasa malu yang meliputi dirinya. Akemi pun tak bisa melakukan apa-apa. Karena sejujurnya pria itu juga merasakan malu yang luar biasa.


Keduanya tetap tidur terpisah sesuai dengan kesepakatan bersama. Akemi tidur di sofa, sementara Shella tidur di ranjang. Meski keduanya diam-diam saling mengintip ketika ingin tidur. Shella lebih terjaga karena takut Akemi akan diam-diam menerkam dirinya.


Lama keduanya berusaha untuk tidur, akhirnya pasangan suami istri itu dapat terlelap juga ketika menjelang subuh. Saat itu Shella sudah tak kuasa menahan kantuk yang mulai menggerogoti matanya, begitu pula Akemi.


**


Sinar mentari yang mulai meninggi dan masuk hingga menembus jendela kamar Akemi dan Shella, membangunkan keduanya. Mereka sama-sama terbangun dari tidur panjangnya. Kondisi Keduanya seperti zombie kaku yang tak memiliki tanda-tanda kehidupan. Pucat, letih, lesu, dan lunglai. Tanpa mereka sadari, Akemi dan Shella melangkah bersama menuju kamar mandi dengan setengah sadar.


Shella memasuki kamar mandi terlebih dahulu, lalu kemudian di susul Akemi sedetik kemudian. Keduanya seperti orang yang tengah mengigau. Baik Akemi maupun Shella tak menyadari kondisi mereka.


Shella sudah mulai membuka baju tidurnya, menyisakan hanya pakaian dalam. Sementara Akemi melakukan hal yang sama, bedanya adalah Akemi tak memakai baju dalam.


Kerang mulai terputar mengisi bathub. Lalu kemudian keduanya sama-sama masuk ke dalam bathub tersebut dengan mata setengah tertutup. Namun, posisi mereka saling berhadapan. Shella dan Akemi mulai sadar ketika tubuh mereka saling bersentuhan dalam bathub itu. Tangan Shella menyentuh benda keras di tubuh Akemi, sedangkan Akemi justru memegang benda kenyal di tubuh Shella.


"Benda apa ini yang aku pegang? kok keras?" Batin Shella.


"Mengapa bathub ini kenyal?" Batin Akemi.


Tak lama keduanya mulai sadar, jika saat ini mereka sedang terjebak dalam satu bathub. Mata keduanya sama-sama membulat seakan ingin melompat keluar di atas lantai.


"Aaaaaakkkk," teriak Akemi dan Shella secara bersamaan.


"Mengapa kamu bisa ada disini?" Tanya Shella malu dan takut seraya menutup bagian atas dadanya menggunakan kedua tangan.


"Aku mau mandi, kamu sendiri sedang apa disini?" Tanya Akemi tak kalah malunya.


"Aku juga mau mandi," jawab Shella malu-malu. Ya, Shella merasakan malu dua kali lipat dari Akemi. Bagaimana tidak, tangan Akemi tadi menyentuh bagian dadanya. Sementara tangan wanita itu justru menyentuh anak konda suaminya. Beruntung sebagian tubuh Shella di tutupi busa sabun. Jiika tidak, maka Shella tak akan mampu memandang wajah suaminya selama waktu yang tidak di tentukan.


Melihat raut wajah Shella yang malu, timbul otak buluk si kancil seorang Akemi. Pria itu ingin mengerjai dan menggoda Shella. Baginya, ketika Shella malu-malu, wanita itu akan tampak lebih manis dari biasanya.

__ADS_1


"Ah, jadi karena kita sudah dalam satu bathub bersama, bagaimana kalau kita juga mandi bersama saja?" Goda Akemi. Sumpah demi apapun, ingin rasanya Shella menghilang dari pandangan pria yang sudah tampak mesum itu.


"Diam lah, sebaiknya kamu keluar dari sini," jawab Shella kaku.


"Aku tidak mau, aku masih mau mandi. Kalau kamu tidak mau mandi, ya sudah keluar sana. Biar aku mandi sendiri," balas Akemi. Pria itu menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyum penuh kemenangan yang licik disana. Senyuman yang hampir tak terlihat sama sekali, dan sukses membuat hati Shella bertambah malu. Wajahnya merah seperti kepiting rebus.


"Aku tidak bisa keluar dari sini," lirih Shella, wajahnya sendu. Namun, tak membuat hati Akemi merasa iba. Pria itu masih ingin bermain-main dengan kucing kecilnya yang malu-malu.


"Benarkah? kenapa?" Tanya Akemi pura-pura tidak tahu. Shella menundukkan kepalanya.


"Aku malu,"


"Baiklah kalau begitu, aku akan menggendong mu." Akemi sudah mulai bergerak mendekati Shella, tetapi wanita itu berteriak, mendatangkan penghuni rumah yang lain.


"Aaaak---, jangan, jangan, jangan, aku tidak mau, aaakkkk---" Teriak Shella sekencang mungkin. Padahal Akemi tak melakukan apa-apa. Bahkan pria itu belum menyentuh dirinya sama sekali.


Tak lama datanglah Mama Alea dan yang lain untuk melihat apa yang sedang terjadi. Beruntung pintu kamar Akemi terkunci, jadi mereka tak harus menyaksikan kondisi yang memalukan itu.


"Kami baik-baik saja Ma, Shella melihat ulat bulu di kamar mandi," jawab Akemi bohong.


"Sudahlah Ma, paling mereka cuma main ular tangga di dalam. Mendatar nya saja sudah enak, apa lagi menurunnya" cetus Papa Javier tak kalah mesum dari putranya sendiri.


"Is, Papa ini. Malu sama anak tahu." Mama Alea mencubit pinggang suaminya yang mesum itu, tetapi tak membuat pria yang masih tampak gagah meski tak lagi muda itu kesakitan. Sementara Naomi dan Aljav serta Marina hanya bisa menahan tawa melihat aksi kocak kedua orang tua mereka.


**


Di dalam kamar mandi, Shella dan Akemi masih terjebak dalam satu bathub. Tak ada yang mau mengalah, siapa yang lebih dulu keluar dari tempat kecil tersebut.


"Kalau kamu berteriak lagi, maka Papa dan Mama akan melihat kita berdua di dalam satu kamar mandi. Apakah kamu mau mencobanya?" Ancam Akemi.


"Ini gara-gara kamu, siapa suruh kamu tadi mau menyentuhku," gerutu Shella tak mau kalah. Padahal Akemi tak menyentuhnya sama sekali.

__ADS_1


"Siapa yang menyentuh mu? aku bahkan tidak melakukan apa-apa. Tapi kalau kamu mau aku melakukan apa-apa, boleh juga. Kamu mau dari mana? atas? bawah? tengah?" Goda Akemi, menyebabkan tangisan Shella pecah kembali.


"Haaaaa, hu, hu, haaaa." Tangis Shella, dan sukses membungkam mulut Akemi. Pria itu menghentikan aksi menggodanya, dan berubah menjadi panik.


"Eh, kenapa kamu menangis? aku hanya bercanda saja. Maafkan aku, aku salah. Aku yang akan keluar dari sini lebih dulu." Kalimat Akemi tak mampu menyurut kan tangis Shella, hingga pria itu benar-benar keluar dari bathub menampakkan otot perutnya yang kekar. Shella menjadi diam, tangisan itu perlahan mulai menyurut. Tapi justru berubah menjadi teriakan.


"Aaaak--- hpppp." Akemi membungkam mulut Shella dengan tangan kanannya agar suara itu tak menimbulkan masalah lagi.


"Kenapa kamu berteriak? bagaimana jika yang lainnya datang lagi? bukankah aku sudah keluar sekarang?" Tanya Akemi masih dengan menutup mulut Shella. Shella menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Akemi. Pria itu melepaskan tangannya dari mulut Shella.


"Lalu mengapa kamu berteriak tadi?" Tanya Akemi.


"Karena kamu hanya pakai kolor."


Deg,


Sumpah demi apapun, ingin rasanya Akemi menghilangkan diri saat itu juga saking malunya. Bagaimana tidak, pria itu tak menyadari jika dirinya hanya menggunakan kolor di depan Shella. Ingin rasanya saat itu juga Akemi menggaruk tembok.


Melihat Shella menutup wajahnya dengan kedua tangan, akhirnya Akemi mengambil handuk untuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka. Karena posisi Shella yang tampak menggemaskan, akhirnya Akemi memindahkan kedua tangan wanita itu.


Untuk sesaat tatapan keduanya terkunci, Shella menatap bingung pada Akemi, sementara pria tersebut menatap penuh damba pada wanita yang berstatus sebagai istrinya itu. Lalu kemudian,


Cup,


Akemi mencium bibir Shella, mencuri ciuman pertama wanita tersebut.


Apakah Akemi akan berhasil membelah duren Shella saat itu juga di kamar mandi? atau justru wanita itu menolak untuk membela duren karena durennya belum matang? saksikan kisah selanjutnya ya readers. Jangan lupa like, komen, dan vote yang banyak ya.


Oh iya, Author mau sampaikan ni. Jika novel ini berhasil memasuki urutan lima besar, author akan bagi-bagi hadiah pulsa 100.000 untuk masing-masing vote tertinggi tiga orang. Semoga berhasil ya. Salam halu dari si pembuat halu.


Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2