
Selama dua hari di kota B membuat Alea dan Javier semakin dekat, hampir tidak ada perdebatan di antara mereka. Mereka hanya fokus dengan kerjaan di perusahaan. Javier dan Alea menginap di hotel dekat perusahaan, agar memudahkan mereka untuk memantau aktivitas seluruh karyawan di perusahaan itu.
Saat ini Alea dan Javier berada di pesawat kelas bisnis. Javier tetap fokus pada benda berukuran 14 inci yang di letakan pada kedua pahanya, sedangkan Alea memilih untuk tidur, mungkin dia kelelahan karena Javier dengan sengaja menyuruh Alea mengangkat kopernya yang cukup berat. Entah apa isi dari koper itu hanya Javier dan Tuhan yang tau.😁
******
Javier memainkan jarinya di atas laptop miliknya, jemarinya bergerak lincah, hingga ia merasa lelah.
"Hoaaam". Javier menguap karena rasa ngantuk yang melanda, sebab semalam dia hanya tidur selama dua jam karena memeriksa hasil laporan manager keuangan dan dia harus melanjutkan di atas pesawat saat ini. Di liriknya Alea yang duduk di sampingnya itu. Javier menarik sudut bibirnya membuat senyuman yang tidak di sadari oleh Alea. Javier menatap hangat wajah Alea, hingga dia tidak sadar tangan kanannya telah mendarat pada pipi mulus Alea. Dia membelai lembut pipi Alea hingga membuat sang empunya terbangun, mungkin dia merasa geli. Alea mengerjabkan matanya ketika melihat tangan Javier berada di pipinya. Javier mengangkat tangannya dengan cepat, dia merasa seperti ketahuan mencuri.
"Ehem, itu tadi kamu ileran. Makanya kalo tidur itu yang bener". Javier berkata sambil memalingkan wajahnya ke bagian jendela agar Alea tidak melihat wajah Javier yang merah.
"Apa saya mengatakan sesuatu pak?". Tanya Alea dengan wajah polosnya membuat Javier memamilingkan wajahnya seketika.
"Ha?. Ah, sebaiknya kamu lap iler kamu itu. Menjijikkan".
"Benarkah?". Alea mengambil cermin kecil yang biasa di simpan dalam tasnya itu untuk memastikan ucapan bosnya. Sedangkan Javier sedang berusaha menahan tawanya, merasa lucu dengan Alea yang percaya jika dia benar ileran.
*******
Sekembalinya Alea dari kota B dia langsung pulang ke rumahnya. Sedangkan Javier kembali ke Apartemen miliknya. Javier memiliki Apartemen elit, hanya saja dia sangat jarang menempati Apartemennya itu, namun ketika dia merasa lelah dia selalu mendatangi Apartemen yang di belinya lima tahun yang lalu itu. Apartemen ini memang tidak di huni oleh Javier, namun ia menyewa khusus asisten rumah tangga untuk membersihkan tempat itu setiap hari agar terus terjaga kebersihannya.
Javier merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur king size miliknya. Dia menatap langit-langit kamarnya, sejenak dia memejamkan matanya.
"Andai kamu tidak melakukan itu padaku". Javier bermonolog, mengusap cairan bening yang lolos begitu saja di wajah dinginnya. Yah, Javier memang terkesan arogan dan sombong, dia sangat dingin dan bersikap sesuka hati. Namun banyak yang tidak tau jika setiap kali dia mengunjungi Apartemen miliknya dia selalu merasa sedih dan kesepian, hanya Alex lah yang paling tau jika Javier selalu mengunjungi tempat ternyamannya itu. Sedangkan Andre selalu melarang Javier untuk mengunjungi Apartemen miliknya, bahkan dia sering menyuruh Javier untuk menjual Apartemennya. Diantara kedua sahabat Javier, Alex lah yang paling bijak dan dewasa.
******
__ADS_1
Setelah merasa lelahnya hilang, Javier menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, Dia berencana untuk menginap di Apartemen miliknya itu. Setengah jam Javier sudah selesai dengan ritual mandinya, dia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang di lilit pada pinggangnya menampakan otot perutnya. Di raihnya ponsel yang terletak di atas nakas, dia memeriksa Email yang masuk lalu beralih pada pesan WhatsApp yang masuk. Ternyata ada satu pesan masuk dari Alex.
From: Alex.
'Dia telah kembali Vir, sebaiknya kamu menyiapkan hatimu'.
Begitulah isi pesan dari Alex. Javier mengeratkan giginya, dia paham betul apa maksud dari pesan sahabat karibnya itu. Javier tidak membalas pesan Alex, dia membuang sembarang benda pipih miliknya di atas tempat tidur dan terus mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
******
Sementara di kediaman Alea, dia sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang berwarna serba merah jambu itu. Alea ingin tidur, di raihnya bantal guling miliknya. Sebelum Alea memasuki alam mimpi dia di kejutkan dengan suara pesan masuk pada ponsel miliknya.
'Tin...Tin...Tin...Tin...'
Alea meraih ponsel miliknya dengan malas, dan betapa terkejutnya Alea melihat pesan masuk yang baru saja di bacanya. Ada pesan dari bos kura-kuranya.
'Sayang datang ke Apartemen kita, aku menunggumu, tau kah kamu betapa aku merindukan dirimu? merindukan senyumanmu. Aku membutuhkanmu sekarang, aku bisa mati jika kamu pergi lagi'
Mata Alea membulat seketika, jantungnya berdetak dengan cepat. Apa maksud dari pesan itu. pikirnya.
'Mungkin dia salah kirim'. Kata Alea dalam hati. Alea ingin meletakan ponselnya di atas nakas namun sebuah panggilan dari ponselnya membuat dia menghentikan keinginannya itu. Alea tampak berpikir, menimbang-nimbang apakah akan mengangkat panggilan itu atau justru di abaikannya. Satu panggilan itu berakhir, lalu Alea bernapas lega, namun kelegaan itu tidak berlangsung lama karena ponselnya kembali berdering dengan panggilan dari orang yang sama. Alea menggeser tombol yang berwarna hijau dan meletakan ponsel pada telinganya,
"Halo".
"Kenapa kamu lama sekali mengangkat panggilanku? apa kamu sudah bosan terhadapku ha?. Hiks.. Hiks.. Hiks..".
Orang di balik telpon itu membentak Alea dan mulai terisak.
__ADS_1
"Halo pak Javier!. Pak, apa bapak mendengarku?". Alea mulai panik karena baru saja bosnya menelpon dan memarahinya kemudian menangis. Yah, yang menelpon Alea adalah Javier. Alea menatap bingung ponselnya memastikan apakah panggilannya sudah terputus atau belum, namun panggilan itu masih terus berlangsung.
"Kenapa kamu tega ninggalin aku?. Apa salahku? Apa dia lebih baik dariku? beritahu aku apa kesalahanku agar aku bisa memperbaiki semuanya. Hiks... Hiks... Hiks..." Javier terus berceloteh di balik ponsel miliknya, sedangkan di tempat lain Alea masih setia mendengarkan tangisan Javier yang di anggap sangat menyedihkan.
"Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu..."
Tut... Tut... Tut...
Panggilan itu berakhir membuat Alea melihat ponselnya. Menatap benda pipih miliknya itu dengan tatapan bingung, mungkin bosnya baru saja di tolak cintanya, pikir Alea. Alea menggidikan bahunya,
"Bos yang malang".
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
. TBC.