Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Episode. 95. Aku Jatuh Cinta.


__ADS_3

Akemi mulai menyadari jika dia telah jatuh cinta pada gadis yang bernama Shella Yolanda. Gadis sederhana yang berparas cantik luar dalam. Gadis cantik yang mampu meluluh lantakkan pertahanan Akemi Alexander Gautam.


Cinta itu tumbuh dan bersemi di relung hati Akemi. Cinta itu mulai terpupuk ketika kedekatan yang terjalin antara Akemi dan Shella sewaktu di Apartemen. Semalaman Akemi merawat Shella tanpa mengenal lelah. Hingga pagi menjelang, rasa khawatir itu masih bersarang di relung hati Akemi.


Kepanikan yang di rasakan Akemi sama halnya ketika ia melihat Mama Alea dan Naomi jatuh sakit. Karena kedua wanita itu sangat istimewa dan memiliki tempat khusus di hati pria tersebut. Lalu apa namanya itu jika bukan cinta? katakanlah waktunya terlalu cepat untuk mengatakan, bahwa Akemi telah jatuh cinta pada Shella Yolanda, tetapi bukankah cinta itu tak mengenal batas dan waktu? semuanya sama saja ketika kita jatuh cinta.


"Kamu benar Delon, aku telah jatuh cinta padanya," ucap Akemi sekali lagi, membuat Delon tersenyum.


"Aku rasa cinta sudah membuat mu jadi berbeda. Akhirnya sahabat ku ini mengenal apa itu cinta." Delon menepuk pundak Akemi, lalu kemudian melanjutkan kalimatnya, "Aku sudah salah menilai wanita itu, aku tahu jika kamu bisa melihat perbedaan wanita itu dan yang lainnya. Karena di dalam sini ada cinta untuk dia." Tangan Delon beralih memegang dada Akemi sembari menatap lekat-lekat manik mata perak sahabatnya itu.


"Terimakasih Delon, kamu bisa memahami ku," ucap Akemi tulus.


"Baiklah kalau begitu, karena aku sudah mendukung mu. Maka kamu harus melakukan sesuatu untuk ku," tutur Delon seraya memasang senyuman termanis. Senyuman itu sangat di hafal oleh Akemi, artinya pria tampan itu menginginkannya sesuatu.


"Apa?"


"Jadikan aku adik ipar mu, hehe." Senyuman ala nyengir kuda khas Delon menghiasi wajahnya yang bagai tanpa dosa.


"Sebelum itu dekati dulu Mama, baru aku. Maka semuanya akan beres." Kalimat Akemi menimbun ide brilian di kepala Delon. Pria itu seakan menyadari sesuatu yang selama ini tak pernah di pikirkan olehnya selama ini.


"Wah, kamu memberiku ide yang brilian sobat," ucap Delon seraya menepuk pundak Akemi.


"Jauhkan tangan mu dari pundakku, atau aku patahkan tangan nakal mu itu," ancam Akemi. Namun, tak di tanggapi serius oleh Delon. Dia tahu jika Akemi hanya hanya bercanda saja.


"Bagaimana kalau tangan wanita itu yang memegang pundak mu? apakah kamu juga akan mematahkan tangannya?" goda Delon.


"Tentu saja aku akan memindahkan tangannya ke tempat lain," balas Akemi dengan raut wajah datar. Namun, Delon mengartikan berbeda. Kalimat itu menciptakan pikiran negatif dalam benak Delon. Dia mulai berhalusinasi jika Akemi merangkul Shella dan mencumbunya.

__ADS_1


"Wah, aku rasa kamu sudah siap untuk menikah dan menjajaki perkebunan wanita itu. Kamu hebat Akemi, kamu hebat," tutur Delon seraya menepuk paha Akemi, membuat sang empunya paha mengkerut kan keningnya. Akemi gagal paham maksud dari kalimat Delon yang sudah mulai membelok.


"Lepaskan tanganmu dari pahaku," teriak Akemi hingga teriakan itu sampai ke telinga Shella. Akhirnya wanita itu beralih melihat Delon dan Akemi seperti sedang bercumbu.


"Akkkhh--" Shella berteriak histeris hingga Delon dan Akemi menoleh padanya. Kedua pria itu tampak sangat intim di mata Shella.


Shella mendekati Akemi dan Delon dengan sapu yang masih melekat di tangan.


"Apa kalian berdua tidak punya rasa malu? bagaimana bisa kalian berdua--" Shella menggantungkan kalimatnya. Dia tak sanggup melanjutkan kalimat yang menurutnya sangat sulit untuk di ucapkan. Akemi dan Delon menjadi heran ketika melihat respon Shella yang berlebihan. Dua pria itu merasa bingung. Apa maksud wanita ini? pikir keduanya.


"Kalian itu sama-sama pria, bagaimana bisa kalian menjalin hubungan sesama jenis?"


"Ha?"


"Apa tak ada wanita lagi yang mau sama kalian?" Shella terus berbicara, tanpa menyadari jika Akemi dan Delon justru menahan tawa. Ya, Akemi dan Delon kini paham apa maksud dari wanita tersebut. Dia mengira jika Akemi dan Delon merupakan pasangan sesama jenis.


"Apa kamu sedang cemburu?" Tanya Akemi tiba-tiba. Baik Shella maupun Delon, keduanya sama-sama terkejut ketika pertanyaan itu keluar dari mulut Akemi.


"Ha?"


"Untuk apa aku cemburu? dia kan bukan wanita," jawab Shella datar.


"Jadi kalau wanita kamu akan cemburu?"


Deg,


Pertanyaan macam apa itu? kenapa ada pertanyaan seperti itu dari Akemi? ini lagi jantung, mengapa harus berdetak ketika dalam situasi seperti ini? pikir Shella.

__ADS_1


"Hei jantung, tenanglah. Jangan berdegup kencang dulu, aku tidak butuh kerja keras mu hari ini," batin Shella.


"Ehem, untuk apa aku cemburu? kamu bukan kekasihku," ucap Shella canggung. Ya, kondisi Shella saat ini sedang tak dapat di artikan. Ada desiran hebat yang mulai menggelora di dalam sana.


"Baiklah, lalu mengapa kamu tadi marah?" Tanya Akemi datar, namun sejujurnya pria itu hanya ingin menggoda Shella saja. Sementara Delon diam tak bergeming. Pria itu seakan menjadi penonton bayaran yang di TV.


"Karena aku pikir Anda memiliki hubungan khusus sama pria itu, kalian kan sama-sama cowok. Itu dosa," jawab Shella.


"Benarkah? apakah kamu peduli padaku?"


"Tentu saja aku peduli." Jawaban Shella membuat hati Akemi semakin berbunga-bunga, bagai ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di atas kepala pria tersebut. Akemi menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyum penuh kebahagiaan disana. Senyuman yang hampir tak terlihat. Sementara Delon yang menyaksikan percakapan keduanya selayaknya penonton bayaran, mulai memahaminya sesuatu. Bukan hanya Akemi yang jatuh cinta pada Shella, tetapi wanita itu juga mencintai Akemi. Hanya saja, Shella tak menunjukkan rasa cintanya secara terbuka. Namun, sangat jelas di mata Delon. Dari cara Shella menatap Akemi, dapat di simpulkan, bahwa wanita itu menyimpan cinta yang begitu besar pada sahabat nya itu. Ternyata cinta Akemi tak bertepuk sebelah tangan. Hanya saja, sang waktu belum memberi mereka keberanian untuk mengungkapkan segala rasa yang ada.


"Benarkah? seberapa peduli nya kamu padaku?" Tanya Akemi setelah beberapa saat diam sembari melipat tangan di atas dada. Shella menjadi salah tingkah. Sepertinya dia sudah terjebak dengan situasi saat ini.


"Maksud saya, saya peduli karena dalam agama kita, Tuhan melarang pasangan sesama jenis," terang Shella kaku. Wanita itu berusaha untuk menutup rasa malunya karena hampir saja ketahuan memperdulikan Akemi.


"Benarkah?"


"Tentu saja."


"Baiklah, kamu boleh pergi. Aku mau menemui kekasihku dulu," ucap Akemi bohong dengan nada yang di buat-buat. Pria itu sengaja mengatakan ingin bertemu kekasihnya hanya untuk melihat respon Shella ketika mendengar Akemi memiliki kekasih. Seketika Shella mengingat percakapan antara Akemi dan Naomi beberapa waktu lalu di Apartemen, bahwa Akemi akan menikahi seseorang. Namun, Shella tak menyadari jika sebenarnya dialah yang di bahas saat itu.


Wajah Shella berubah menjadi sendu. Ada sesuatu yang menggumpal di dalam sana, dan rasanya sangat tidak nyaman. Seperti... cemburu?


"Maafkan saya Tuan, permisi," lirih Shella, dan sukses membuat Akemi menyadari sesuatu, bahwa Shella juga mulai menyukai dirinya. Hanya saja pria itu ingin melihat respon Shella secara nyata. Baginya, respon itu sangat manis dan menyenangkan.


Akhirnya Shella keluar dari ruangan Delon dengan perasaan bercampur aduk. Malu, kecewa, sedih, dan terluka dalam waktu yang bersamaan. Sekali lagi Shella merasa paling kecil di dunia ini. Tak selevel dengan siapapun, bahkan pada Akemi. Pria itu terlalu jauh untuk di jangkau. Shella tak akan mampu menyamakan kedudukan mereka. Baginya Shella, posisinya berada di dasar laut dengan kedalaman yang tak terkira, sedangkan posisi Akemi berada di langit ketuju. Dimana langit itu tak bisa di jangkau oleh seorang Shella Yolanda.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2