
Suara deheman dari pria paruh baya membuyarkan lamunan Javier. Di lihatnya wanita yang berada di samping pria yang bertubuh tegap itu meski sudah tak lagi mudah. 'Sepertinya Wanita ini Ibu Alea'. Tutur Javier dalam hati.
"Ehem". Papa Alea berdehem. "Dengan Tuan--?"
"Javier Om, Javier Alexander". Tutur Javier sambil menyodorkan tangannya guna memperkenalkan dirinya pada calon mertuanya itu.
"Baiklah, silahkan duduk Tuan Javier". Papa Alea mempersilahkan pria yang hampir seumuran dengan putra pertamanya yang telah lama meninggal, dan Javier pun mendaratkan kembali tubuhnya pada kursi yang tadi di duduki.
"Maaf sebelumnya. Apa benar yang di katakan oleh putri saya jika Anda ingin mempersunting dirinya?". Tanya Papa Alea tanpa basa-basi.
"Ia Om. Maksud kedatangan saya kemari ingin meminta restu pada Om". Jawab Javier dengan wajah datarnya.
"Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?". Kali ini wajah Javier tampak terkejut. Dia pikir pertanyaan itu tidak akan di lontarkan oleh pria paruh baya yang duduk santai dengan satu kaki di atas lututnya.
Javier menoleh pada Alea sejenak dengan wajah yang sulit di artikan oleh Alea.
"Sudah sekitar enam bulan Om, semenjak dia bekerja denganku, dia sudah menaruh hati padaku, dan kami memutuskan untuk menjalin hubungan. Karena Alea sangat mencintaiku, jadi dia ingin aku menikahinya". Terang Javier dengan wajah yang meyakinkan membuat mata Alea membulat seketika.
'Mengapa dia mengarang cerita seolah aku ini wanita murahan?. Apa dia bilang tadi? aku mencintainya?. Oh astaga, lelucon apa ini?. Sandiwara yang buruk!'. Alea menggerutu dalam hati dengan perasaan kesal pada pria yang berstatus sebagai calon suaminya itu.
"Jadi kamu Bos Alea? Apakah Anda Tuan Javier Alexander pemilik perusahaan yang sebentar lagi akan melebarkan sayapnya ke mancanegara?".
" Tepat sekali". Jawab Javier dengan wajah angkuhnya. Bahkan ketika berhadapan dengan orangtua Alea dia masih menjunjung tinggi sikap angkuhnya. Bukankah Ayah Alea juga bukan orang biasa?.
"Wah, aku rasa putri saya tidak salah memilih calon suami". Balas papa Alea.
'Hm, dasar sombong'. Cibir Alea dalam hati. Wanita berkacamata itu hanya mampu mencibir Javier dalam hati. Baginya pria yang di julukinya bos kura-kura itu pria angkuh dan otoriter.
"Alea, kenapa kamu tidak cerita sama Mama nak?. Apa ini tidak begitu penting bagimu sayang?". Kali ini Mama Alea turut berbicara, sedari tadi dia diam mendengarkan penuturan dua pria yang bedah generasi itu.
__ADS_1
"Bukan begitu Ma, hanya saja Alea juga tidak tau kalo hari ini Javier mau melamar Alea dan meminta restu pada Mama dan Papa". Jelas Alea sambil memegang kedua tangan Mamanya dengan erat, secara tidak langsung dia berusaha meyakinkan Mamanya dengan alasan yang sedikit membantah pernyataan Javier bahwa Alea lah yang tergila-gila pada pria itu.
"Jadi ini surprise buat Mama dan Papa ya?". Tanya Papa Alea dengan senyuman hangat.
"Anggap saja begitu Om". Jawab santai Javier.
"Baiklah Tuan Javier--".
"Maaf Om, tolong jangan panggil saya dengan sebutan Tuan, bukankah sebentar lagi saya akan menjadi putra Om juga?. Lagi pula saya lebih mudah jika harus di bandingkan dengan Om". Potong Javier membuat kedua orangtua Alea tertawa.
"Hahaha. Wah, aku rasa kamu sangat serius anak mudah". Balas Papa Alea sambil menepuk bahu Javier dengan pelan hingga mendapat balasan senyuman dari pria tampan itu.
'Wah, akting yang bagus. Kenapa tidak sekalian saja dia menjadi Aktor. Bakat yang payah'. Cibir Alea lagi dalam hati.
"Oh ia Nak Javier. Bagaimana kondisi Papimu?". Tanya papa Alea yang membuat kening Javier berkerut penuh tanya.
"Om kenal sama Papi?". Tanya Javier dengan wajah bingungnya. Bagaimana tidak, pria yang menggunakan kacamata itu menyebut 'Papi' yang biasa di gunakan Javier untuk memanggil Ayahnya. Bukankah itu artinya mereka cukup saling mengenal?.
'Jadi yang di maksudkan Papi waktu itu adalah Alea?. Wah, suatu kebetulan yang ajaib sekali'. Gumam Javier dalam hati.
'Apa Papa sudah tidak waras mau menjodohkanku dengan pria es batu ini?. Yang benar saja. Tapi sekarang kan situasinya sama saja. Bahkan aku harus menikah dengan pria angkuh ini dua Minggu lagi. Dan parahnya pria sombong ini mau menikahiku secara kontrak dengan iming-iming uang seolah aku ini kekurangan uang saja. Oh astaga, kebetulan yang sangat konyol'. Alea tampak menyesali keputusannya untuk menikah kontrak bersama Javier dengan terus mengerutu dalam hati. Sementara Javier tampak sangat tenang.
******
Setelah pertemuan yang di lakukan Javier dan juga Alea, akhirnya pernikahan di putuskan akan berlangsung dua Minggu lagi sesuai dengan keinginan orangtua Javier.
Disaat sedang memasuki kamar tidurnya, Papa Alea meraih benda pipih miliknya yang terletak di atas nakas guna menghubungi sahabatnya yang telah lama menginginkan perjodohan anak-anaknya. Ya, Tuan Atmadja Alexander Gautam, Ayah seorang Javier Alexander.
"Benarkah itu Indra?". Tanya Papi Javier di balik ponsel milik Papa Alea.
__ADS_1
"Tentu saja Ale, ternyata anak-anak kita menyembunyikan hal ini sudah lama. Tapi aku sangat bahagia Ale, akhirnya anak-anak kita bisa menikah. Sudah lama kita menantikan momen ini". Tutur Papa Alea dengan raut wajah yang bahagia.
"Aku tidak menduga jika impian kita benar-benar akan jadi nyata. Anak itu akhirnya menyetujui perjodohan yang dulu kita inginkan". Balas Papi Javier dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Pria yang seumuran dengan Papa Alea itu tidak dapat menyembunyikan rasa harunya.
"Kita akan menjadi Besan Angga".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
Happy Reading.
__ADS_1
*Dede...