
Di kantor, Akemi semakin bersemangat menjalani pekerjaan nya. Bahkan pria berparas tampan tersebut mengerjakan semua pekerjaan yang ada dengan cukup cekatan. Kendati sejak awal pria itu sudah sangat lihai dalam bekerja. Akemi juga merupakan tipe pria yang perfeksionis. Tak ada yang tertinggal jika itu mengenai pekerjaan.
Akemi tak ingin mengambil resiko jika harus lalai dalam bekerja. Ada ratusan ribu karyawan yang bergantung pada kinerjanya. Akemi memang saat ini tengah di mabuk asmara terhadap istri tercintanya, tetapi dia juga tak melupakan kewajibannya sebagai seorang CEO perusahaan.
Tingkat keprofesionalan seorang Akemi di junjung tinggi, hingga menorehkan prestasi yang luar biasa. Akemi juga hampir menyaingi perusahaan yang di kelola oleh saudara nya, Aljav. Bedanya adalah, Aljav mengelola Perusahaan milik Papa Javier yang bergerak di bidang percetakan, sementara Akemi bergerak di bidang pertambangan. Keduanya sama-sama merupakan pebisnis muda yang berprestasi. Namun, memiliki kemampuan di bidangnya masing-masing.
Terkadang ketika Akemi menemukan kesulitan dalam bekerja, dia tak segan untuk meminta bantuan pada saudaranya itu. Kendati berbeda jenis pekerjaan. Namun, bukankah sudah seharusnya seorang saudara harus saling mendukung satu sama lain?
Kembali pada Akemi, pria itu akhirnya sampai pada titik dimana pekerjaannya telah rampung. Akemi meraih ponsel miliknya yang terletak di atas meja untuk menghubungi Delon sang sahabat yang merupakan rekan kerjanya di Perusahaan yang di pimpinnya.
"Delon, ke ruangan ku sekarang," titah Akemi. Lalu semenit kemudian, datanglah pria tampan dengan setelan jas berwarna hitam ciri khas dari seorang Delon Frederik. Pria itu sangat menyukai sesuatu yang berbau warna hitam.
"Ada apa Akemi? apakah kamu ingin berbagi cerita malam pertama mu bersamaku? bagaimana rasanya jadi suami? enak?" Tanya Delon secara beruntun sembari mendaratkan tubuhnya di atas kursi sofa.
"Tentu saja enak, tapi bukan berarti aku akan berbagi cerita dengan mu mengenai malam pertama ku," balas Akemi tajam, hingga menembus ulu hati Delon.
"Kenapa tidak bisa?" goda Delon.
"Karena nanti kamu penasaran dan melampiaskan sama kucing mu di rumah. Hahaha." Akemi tertawa sumbang dan penuh nada ejekan.
"Dasar pengantin baru sombong, awas saja nanti kalau aku menikah dengan Naomi, aku akan membalas mu," gumam Delon, namun masih bisa di dengar oleh Akemi.
__ADS_1
"Kamu tidak akan menikahi Naomi, jika kamu hanya berdiam diri. Jadi pria itu harus bergerak cepat, seperti aku," tutur Akemi sombong. Delon memutar bola matanya merasa jengah dengan tingkah sahabatnya itu.
"Baru juga sehari menikah sudah sombong," cibir Delon merasa kesal.
"Baiklah, ada apa kamu memanggil ku kemari?" lanjut Delon kemudian.
"Aku sudah menandatangani surat perjanjian kerjasama kita dengan Tuan Aditya, sisanya kamu yang urus," tutur Akemi seraya memberikan map berwarna kuning kepada Delon.
"Aku? mana bisa begitu? aku masih banyak kerjaan. Ini kan tugas kamu," tolak Delon. Pria itu tampak tak terima dengan permintaan Akemi. Bagaimana tidak, sebagian besar proyek yang ada sementara di kerjakan oleh Delon. Terlebih lagi pria itu masih harus melanjutkan pekerjaan yang di tinggalkan Akemi dulu ketika selama mempersiapkan rencana pernikahan nya bersama Shella.
"Lagi pula, bekas tanganmu masih ada di atas meja kerjaku saat ini. Dan tuan Karim sudah menanyakan hal itu. Kepalaku hampir pecah memikirkan itu semua. Sekarang kamu mau menambahkan lagi satu pekerjaan ini, aku tidak mau," lanjut Delon kemudian dengan menggebu-gebu. Pria itu bersih kukuh tak mau membantu Akemi yang sudah cukup membuatnya repot dan pusing tujuh keliling. Namun, bukan Akemi namanya jika tak berhasil meluluhkan hati seorang Delon Frederik.
"Tidak!" tolak Delon.
"Baiklah, seperti nya kamu tidak membutuhkan bantuan ku lagi untuk mendekatkan mu dengan Naomi," ucap Akemi dengan nada suara yang di buat-buat. Hati Delon menjadi tertantang, tetapi pria itu masih bungkam. Dia tampak masih menimbang-nimbang pernyataan Akemi. Lagi pula Akemi juga tak pernah berusaha untuk membantunya agar lebih dekat dengan Naomi. Pikir Delon.
Melihat Delon yang masih diam, Akemi tak kehilangan akal buluk si kancil nya. Ide jenius yang tepat kena sasaran di ulu hati Delon, pun akhirnya tercetus juga, dan sukses membuat sahabatnya itu bereaksi keras.
"Seperti nya perjodohan Naomi dan salah satu putra dari sahabat Papa harus di percepat. Lagi pula aku juga sudah menikah, jadi untuk apa tunggu lama-lama?" tutur Akemi dengan nada yang di buat-buat. Kali ini Delon bereaksi. Bagaimana tidak, pria itu sempat mendengar, jika Naomi akan di jodohkan dengan putra dari salah satu sahabat Papa Javier. Namun, hal itu harus menunggu persetujuan Akemi yang merupakan saudara kembarnya. Karena Papa Javier tak ingin Naomi melangkahi Akemi sebagai Kakak untuk menikah terlebih dahulu.
"Baiklah-baiklah, aku akan membantumu," balas Delon akhirnya setelah beberapa saat diam, dan sukses menciptakan desir kebahagiaan di hati dan pikiran Akemi. Akemi tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Tapi awas saja kalau kamu tidak membantuku dan membatalkan perjodohan Naomi," ancam Delon.
"Tenang saja, serahkan semuanya padaku. Lagi pula, aku tahu betul seberapa besar cinta mu pada Naomi yang selalu menolak mu," ejek Akemi.
"Mau di bantu atau tidak?" Kali ini Delon yang mengancam Akemi. Akhirnya pria itu bungkam. Akemi tak ingin mengambil resiko dengan menolak permintaan Delon. Dia harus cepat pulang dan bertemu istrinya sesegera mungkin. Sambutan hangat sang istri sudah di bayangkan oleh Akemi. Bahkan pria itu sudah tidak sabar untuk menghabiskan waktu bersama istrinya.
"Tentu saja mau, hehe."
"Ini ambillah, kamu akan bertemu dengan Tuan Aditya di Hotel Neon Zero. Gunakan sebaik mungkin kartu itu," tutur Akemi seraya memberikan kartu ATM Platinum miliknya pada Delon.
"Baiklah, aku pulang dulu," lanjutnya kemudian. Kening Delon berkerut penuh tanya.
"Sekarang?" Tanya Delon.
"Tentu saja aku harus pulang sekarang, kamu akan merasakan nikmatnya menikah nanti. Kamu akan merindukan istrimu dimana pun kamu berada," ucap Akemi dengan nada suara yang di buat-buat. Pria itu sengaja memanas-manasi Delon agar pria itu terpancing untuk cemburu karena dirinya belum juga menikah.
"Dasar sombong, baru juga sehari menikah lagaknya minta ampun," cibir Delon.
"Tak masalah, yang terpenting adalah aku sudah menikah. Tidak seperti seseorang yang masih harus berjuang dan gigit jari terus karena di tolak cintanya. Haha," balas Akemi tak mau kalah. Mulut tajam pria itu sungguh mengiris hati Delon sang sahabat. Namun, tak menyisakan bekas. Karena Delon tahu jika sahabat nya itu tak lebih hanya sekedar menggodanya saja, dan dia pun hanya bisa mengelus dada.
To be continued.
__ADS_1