Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Episode. 102. Bertemu Keluarga.


__ADS_3

Mobil sedan Akemi memasuki area parkiran rumahnya. Rumah berlantai tiga itu sungguh megah di mata Shella. Sangat jauh berbeda dengan rumah Ibrahim sang mantan kekasih.


Shella kembali merasa gugup, tetapi Akemi meraih tangannya dan menatap wanita itu dengan penuh cinta. Akemi berusaha untuk menguatkan Shella lewat tatapan matanya yang mempesona, seolah berkata, "Semua akan baik-baik saja, percayalah padaku."


Dengan mengumpulkan semua keberanian, akhirnya Shella dan Akemi memasuki rumah megah tersebut. Beberapa pelayan tampak sangat terkejut ketika melihat Akemi membawa seorang wanita cantik untuk pertama kalinya, dan beberapa pula ada yang menundukkan kepalanya pertanda hormat.


Shella ikut menundukkan kepalanya pada pelayan, dan mendengarkan kalimat pujian dari para pelayan tersebut.


"Wah, cantiknya." Begitulah ucapan para pelayan yang melihat Shella tadi.


Di dalam ruang keluarga, tengah berkumpul Mama Alea, Papa Javier, Naomi, dan juga Marina. Semuanya tampak sedang bersenda gurau. Tak lama keempatnya di kejutkan dengan kedatangan Akemi dan seorang wanita cantik, yakni Shella Yolanda. Wanita sederhana yang cantik rupawan.


"Mama," ucap Akemi. Semua orang yang berada di ruangan itu sangat terkejut, terlebih lagi Mama Alea. Wanita paruh baya itu di kejutkan dengan kehadiran putra keduanya bersama wanita asing yang tak pernah di lihat sebelumnya.


"Akemi?" Ucap Mama Alea.


"Kak Shella?" Ucap Naomi seraya berdecak kagum. Ternyata wanita itu masih mengenali Shella meski menggunakan makeup.


"Kak Shella kan?" Tanya Naomi sekali lagi.


"Iya benar, ini Kak Shella." Naomi jadi heboh sendiri. Sementara Mama Alea masih merasa bingung. Begitu pula Shella, wanita itu tak kalah bingung dan takutnya. Tapi Naomi? mengapa dia tampak sangat bahagia sekali? apakah ini pertanda baik? pikir Shella.


"Jelaskan sama Mama Akemi, apa yang sebenarnya terjadi? mengapa kamu membawa anak gadis orang kesini?" Tanya mama bingung, membuat Shella merasakan takut dua kali lipat dari sebelumnya. Namun, sejujurnya Mama Alea bertutur kata dengan penuh kelembutan. Hanya saja Shella merasakan takut yang berlebihan mengingat dia akan kembali menerima penolakan.


"Dia calon istri Akemi, Ma," jawab Akemi mantap.


"Apa?" Ucap Mama Alea, Papa Javier, dan Marina secara bersamaan, kecuali Naomi. Wanita itu seolah telah memperkirakan, bahwa hari ini akan tiba. Dimana Shella akan menjadi Kakak iparnya, sama seperti Marina.


"Iya, Ma. Jadi gini, aww--" Naomi ingin menjelaskan pertemuan nya dengan Shella sewaktu di Apartemen Akemi, tetapi pria itu mencubit lengan saudara kembarnya tersebut agar dia tak membuka mulutnya yang cerewet. Bisa hancur reputasi Akemi jika dia ketahuan membawa Shella di Apartemen nya dulu.


"Jelaskan sama Papa, Akemi." Papa Javier yang sedari tadi diam, kini mulai membuka suara. Sementara Shella terus diam dan menundukkan kepalanya. Hatinya benar-benar takut. dan jangan lupa jantungnya, organ tubuh berbentuk love itu berdegup kencang seperti baru saja melakukan lari maraton.


"Ayo kita duduk." Akemi mengajak Shella untuk duduk di kursi sofa samping Marina. Wanita itu melempar senyum canggung, sementara Marina membalas dengan senyuman tulus.


"Begini Pa, Akemi akan menikahi wanita ini. Namanya Shella Yolanda. Dia adalah--"

__ADS_1


"Siapa namamu sayang?" Tandas Mama Alea. Memotong ucapan Akemi.


"Bukankah tadi Akemi sudah katakan, bahwa namanya--"


"Apakah Mama bertanya padamu? Mama bertanya pada calon menantu Mama." Mama Alea beralih ke sisi Shella yang masih tampak malu dan takut. Mama Alea mengusap kepala Shella dengan hangat.


"Siapa namamu sayang?" Tanya Mama sekali lagi.


"Shella Yolanda Nyonya," jawab Shella gugup. Namun, Naomi justru menahan tawa karena Shella menyebut Mama Alea dengan sebutan Nyonya.


"Kamu berasal dari mana sayang? siapa nama kedua orang tua mu?"


"Mama." Akemi berusaha ingin menjelaskan keadaan Shella yang sebenarnya, tetapi wanita paruh baya itu tak membiarkan Akemi berucap satu kata pun.


"Mama sudah bilang, Mama mau mendengar suara calon menantu Mama sendiri," tandas Mama Alea.


"Jadi Nak, dari mana asalmu?" Tanya Mama sekali lagi.


"Saya berasal dari Panti Asuhan Sinar Cahaya Nyonya. Kedua orang tua saya telah meninggal dunia. Dan salah satu kerabat saya menitipkan saya di Panti Asuhan tersebut," lirih Shella dengan satu kali tarikan nafas, membuat semua yang berada di ruang tersebut merasa iba, tak terkecuali Papa Javier. Pria paruh baya itu sangat menyayangkan nasib Shella, tetapi bukan berarti dia menolak keberadaan wanita tersebut.


"Sudah berapa lama kamu menjadi kekasih pria kaku ini? bagaimana cara dia menembak kamu dulu?" Pertanyaan Mama Alea justru menimbulkan rasa malu pada Akemi. Bagaimana tidak, pertanyaan itu tak pernah terpikirkan oleh Akemi sebelumnya. Namun, sejujurnya Mama Alea hanya berusaha untuk mengalihkan pembicaraan agar Shella tak merasa sedih.


"Mama," tandas Akemi.


"Iya, iya, Mama tahu. Kamu pasti malu kan?" Semua yang berada di ruangan itu menertawakan Akemi. Wajah pria itu menjadi merah karena malu akibat dari godaan Mamanya sendiri. Sementara Shella ikut tersenyum bahagia. Dia bisa merasakan betapa hangatnya keluarga ini. Ternyata dia justru di terima dengan lapang.


"Kamu tinggal dimana, Nak?" Tanya Papa Javier.


"Saya Kos, Tuan." Jawaban Shella justru membuat Akemi mendapatkan cubitan keras dari Mama Alea.


"Aww, Mama apa-apaan sih? sakit," keluh Akemi seraya mengelus lengannya yang terasa perih.


"Itu hukuman karena kamu membiarkan menantu Mama Kos. Mengapa kamu tidak memberikan satu Apartemen? dasar payah," cibir Mama. Sekali lagi Shella merasa di cintai dan di hargai ketika berada di tengah-tengah keluarga yang hangat itu.


"Maaf Nyonya, tapi saya tidak bisa menerima pemberian Tuan Akemi. Saya bukanlah siapa-siapa Tuan Akemi Nyonya." Jawaban sederhana Shella sukses membuat semua berdecak kagum. Bagaimana tidak, kebanyakan para wanita akan meminta barang-barang mewah ketika menjalin hubungan dengan pria kaya, tetapi lain halnya dengan Shella. Dia bahkan tak mengharapkan apapun. Bahkan di terima di keluarga itu merupakan anugerah terindah dari Tuhan untuknya.

__ADS_1


"Kamu sangat baik sayang, terimakasih sudah mau menerima putra Mama," ucap Mama Alea tulus.


"Sama-sama Nyonya."


"Mama, mulai sekarang panggil aku Mama," ralat Mama Alea.


"Baik Nyonya. Ah, maksud saya Mama." Lidah Shella terasa kaku ketika ia menyebut kata Mama pada wanita paruh baya yang ternyata memiliki hati dan jiwa yang besar. Keluarga itu menerimanya tanpa syarat dan melihat latar belakang kehidupan Shella di masa lalu.


Shella merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Berawal dari keraguan yang ada, kini menjadi keyakinan yang mulai kuat.


"Oh iya, perkenalkan. Ini menantu Mama, namanya Marina, dan itu Naomi, saudara kembar Akemi. Dan itu adalah Calon Papa mertua kamu." Mama Alea memperkenalkan satu persatu anggota keluarga nya, kecuali Aljav. Pria itu belum juga menampakkan batang hidungnya.


Di tengah-tengah asiknya bersenda gurau, akhirnya Aljav datang dengan wajah angkuhnya. Marina sang istri pun merasa jengah ketika melihat sikap angkuh pria berparas tampan tersebut.


"Seperti nya sedang ada tamu disini," ucap Aljav tiba-tiba seraya mendaratkan tubuhnya di sisi Marina sang istri.


"Nah, yang itu putra Mama yang tertua. Namanya Aljav," ucap Mama. Dan Shella pun menundukan kepalanya pertanda menghormati calon Kakak iparnya tersebut. Dan Aljav membalas dengan senyuman hangat.


"Siapa dia?" Bisik Aljav pada Marina.


"Tanya saja sendiri," jawab Marina ketus. Marina sangat malas untuk berbicara pada Aljav. Karena pasti akan berujung dengan perdebatan. Dan ujung-ujungnya, pria itu akan mengejeknya lagi dengan sebutan titisan body losion.


"Aku akan mencium mu kalau masih saja ketus begitu," ancam Aljav pelan, tetapi di dengar oleh Papa Javier.


"Kalau mau cium istri kamu sebaiknya masuk dalam kamar, jangan mengotori mata adik-adik kamu yang masih polos," tandas Papa Javier, membuat wajah Marina merah merona.


"Sudahlah, ayo kita makan siang. Pasti Bibi sudah menyiapkan segalanya," ucap Mama Alea mencegah perdebatan yang akan terjadi antara Papa dan anak itu.


Akhirnya semuanya pergi ke ruang makan untuk menyantap makanan yang telah tersedia. Sementara Shella dapat merasakan betapa hangat dan baiknya keluarga itu. Dia belum pernah di perlakuan baik dan adil seperti yang di lakukan oleh Mama Alea dan Papa Javier saat ini. Terlebih lagi kedua orang tua paruh baya itu tak mempermasalahkan kehidupan Shella yang hanya sebatang kara.


Sementara Akemi tersenyum bahagia, ketika melihat wajah manis Shella. Pria itu merasa berhasil membawa Shella di tengah-tengah keluarga nya.


"Aku sudah katakan padamu Shella, aku akan membuatmu nyaman berada di sisiku. Lihatlah, bahkan semua yang ada disini menyayangi mu. Aku akan selalu melindungi mu sayang, aku janji," batin Akemi.


Ya, Akemi berjanji dalam hati akan melindungi Shella sampai maut memisahkan mereka. Kendati perasaan cinta belum terucapkan oleh bibir, tetapi tindakan telah menjawab semua pertanyaan yang ada.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2