
Akemi dan Shella akhirnya memutuskan untuk pergi mengunjungi Ibrahim. Setelah melakukan perundingan yang panjang, Shella mengumpulkan segala keberanian untuk menemui mantan kekasih yang ternyata adalah saudara sepupunya sendiri. Di perjalanan tampak Shella terdiam dengan raut wajah sedih. Sementara Akemi yang menyadari hal itu pun akhirnya menggenggam tangan Shella seolah menguatkan wanita tersebut.
Selama hampir satu jam mereka menempuh perjalanan. Kini tibalah mereka di Rumah Sakit Jiwa. Shella belum mau turun dari mobil. Dia tampak berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri.
"Sayang, jika kamu tidak siap untuk masuk, kita bisa pulang. Nanti lain kali saja kita mengunjungi Ibrahim," ucap Akemi sembari memegang tangan Shella.
"Aku hanya tak tega melihat kondisi Kak Ibrahim, aku takut dia akan menyakiti mu," jawab Shella sedih. Ya, Shella tak merasa takut jika dirinya yang disakiti oleh Ibrahim, melainkan dia memikirkan bagaimana jika justru Akemi lah yang disakiti oleh pria gila tersebut. Akemi tersenyum hangat.
"Kamu tenang saja, selama kamu bersamaku, dia tak akan menyakiti ku." Akemi berusaha untuk meyakinkan Shella agar wanita itu tak terlalu khawatir.
"Apakah kamu yakin untuk masuk ke dalam?" Tanya Shella.
"Tentu saja aku yakin. Aku harus bertemu saudara ipar ku itu," jawab Akemi sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Baiklah, aku percaya padamu."
Akhirnya Akemi dan Shella pun turun dari mobil setelah melakukan percakapan beberapa menit lamanya.
Kini tibalah Akemi dan Shella di ruang yang mana terdapat seorang pria tengah duduk terdiam di atas kursi roda. Untuk sesaat pria itu diam tanpa kata, lalu semenit kemudian ia berdendang ria menyanyi kan lagu cinta.
__ADS_1
"Duhai cintaku, sayang, kasihku, datanglah kemari, aku merindukan dirimu. Tatap mataku betapa aku sangat mencintaimu. Duhai kasihku, Shella Yolanda. Hiks, hiks, hiks." Ibrahim menyanyikan lagu patah hati sembari menyebut nama Shella, dan terisak di penghujung bait lagunya. Tangisan itu terdengar sangat menyayat hati bagi siapa saja yang mendengar nya. Sungguh hebat cinta Ibrahim kepada Shella, hingga ia memilih untuk menjadi pria gila.
Sementara di sudut ruangan tepatnya di balik pintu, terlihat wanita paruh baya sedang memperhatikan putranya dari kejauhan sembari menangis penuh sesal. Ya, Nisa menyesali segala perbuatannya karena berakibat fatal pada putranya sendiri.
"Tante Nisa," ucap Shella. Wanita itu sudah berdiri di belakang Nisa bersama suaminya.
"Shella, syukurlah kamu datang Nak. Hu, hu, hu. Terimakasih Nak kamu mau datang, terimakasih," ucap Nisa tulus sembari memeluk tubuh Shella dengan tangisan. Shella menitikan air mata. Dia melepas pelukan Nisa.
"Tante, bagaimana kondisi Kak Ibrahim? apakah dia baik-baik saja?" tanya Shella. Sementara Akemi diam menyaksikan percakapan antara bibi dan ponakan tersebut.
"Dia ada di dalam Nak, lihat lah kondisinya yang begitu memprihatinkan. Ini semua karena Tante Shella. Seandainya saja aku sedikit lebih cepat menceritakan bagaimana hubungan kalian dulu, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Aku terlalu egois. Hiks, hiks, hiks," sesal Nisa. Shella memegang kedua tangan Nisa sembari berkata, " Tak ada yang perlu di sesali Tante, semua telah terjadi. Apa yang kita semai, maka itulah hasil yang akan kita petik."
"Kamu masuklah Shella, temui dia. Mungkin dengan melihat mu, dia mau membuka hatinya untuk sembuh. Maksudku, ada setitik harapan agar dia mau berjuang untuk mengembalikan jiwanya yang dulu," titah Nisa tulus.
"Baiklah, Tante. Aku akan masuk, tapi aku tidak bisa menjanjikan apapun pada Tante. Semoga saja Kak Ibrahim mau berusaha untuk sembuh," balas Shella. Wanita itu pun beralih melihat Akemi yang terdiam di sisinya. Sorot mata wanita itu seolah meminta izin pada suaminya. Dan Akemi pun mengangguk kan kepala, pertanda bahwa ia mengizinkan Shella untuk menemui Ibrahim.
Akhirnya Shella masuk ke dalam ruangan dimana Ibrahim berada. Lutut Shella gemetar. Bukannya takut dia akan terluka ketika nanti Ibrahim menyakiti nya, tetapi dia merasa kasihan terhadap kondisi pria yang sangat baik itu.
Sementara Nisa dan Akemi masih berdiri di balik pintu sembari menyaksikan Shella. Untuk sesaat keduanya tak menegur sapa. Namun, semenit kemudian, "Terimakasih sudah mau mempertimbangkan permintaan ku kemarin. Aku pikir kalian tak akan mau datang kemari. Terimakasih Tuan Akemi, terimakasih," ucap Nisa tulus.
__ADS_1
"Kami bukan seperti seseorang yang egois dan rela membuang hati nuraninya demi ego semata. Kami bukanlah manusia seperti itu Nyonya," balas Akemi datar, namun penuh penekanan. Seketika hati Nisa merasa tercubit. Kalimat Akemi merupakan tamparan keras untuk dirinya. Dia membenarkan tiap ucapan pria tersebut.
"Kamu benar Nak, kalian sangat baik. Bahkan terlalu baik, hingga kalian mau mengenyampingkan perbuatan ku di masa lalu," sesal Nisa. Akemi tak menjawab ucapan Nisa. Dia kembali fokus pada Shella yang berusaha untuk mendekati Ibrahim di dalam sana.
"Kak Ibrahim," ucap Shella sembari memegang pundak Ibrahim. Tak lama Ibrahim menoleh ke arah Shella. Dia menatap wanita itu dengan tatapan bahagia, sedih, haru, rindu, dan juga cinta. Semua rasa itu muncul secara bersamaan.
"Shella, inikah kamu sayang? apakah benar ini dirimu? ini bukan mimpi kan? kamu datang untuk ku kan?" balas Ibrahim sembari mengelus wajah Shella. Meski jiwanya terganggu, tetapi Ibrahim masih bisa mengenal sosok Shella. Kecuali kedua orang tuanya. Pria itu seolah menolak untuk mengenali mereka. Itulah yang membuat Nisa dan Suaminya semakin terpukul dan di landah penyesalan yang mendalam.
"Iya ini aku Kak, ini aku Shella. Ini bukan mimpi Kak, ini kenyataan. Aku datang kesini untuk menemui Kakak," jawab Shella setelah beberapa saat diam.
Tak lama Ibrahim memeluk tubuh Shella sembari menangis. Tangisan itu kedengarannya seperti bercampur aduk. Sementara Akemi menatap keduanya dengan tatapan datar. Entah apa yang di pikirkan oleh pria bermata perak tersebut. Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Sedangkan Nisa, tak dapat membendung air matanya. Wanita paruh baya itu menangis haru ketika melihat putranya yang mampu mengenali Shella. Namun, sejujurnya ada setitik rasa iri di hati Nisa. Ya, Nisa iri pada Shella, karena hanya wanita itulah yang mampu di kenali oleh putranya sendiri. Sedangkan pria itu tak mengenali dirinya sama sekali. Namun, kali ini Nisa tak ingin egois. Setidaknya ada sedikit perkembangan mengenai kondisi Ibrahim.
Hati seseorang tak pernah ada yang bisa menebak dengan tepat. Terkadang mereka memilih menyembunyikan perasaan mereka demi sebuah hubungan yang sakinah, mawadah, dan warohmah. Seperti yang di lakukan Akemi saat ini, pria itu memilih memahami posisi Shella sebagai wanita yang tak punya pilihan sama sekali.
To be continued.
Assalamualaikum Readers. Sehat-sehat kan? Alhamdulillah MasyaaAllah, akhirnya Author bisa sampai ke tahap ini. Itu semua berkat dukungan dari kalian semua. Oh iya, author mau sampaikan nih, kalau novel ini belum mengalami revisi sama sekali. Terutama pada bagian sesion 1 nya yang tentang Javier dan Alea. Jadi masih banyak typo yang salah. Dan kebetulan ini merupakan novel pertama ku yang bersamaan dengan Novel yang berjudul SEBATAS BAYANGAN. Jadi tolong di maklumi ya. Komentar yang bijak. Beri kritik dan saran yang membangun. Dan yang paling penting, jangan lupa like dan vote yang banyak ya readers. Terimakasih.
Jangan lupa mampir juga Novel author yang berjudul MARINAKU di paltform D** R** E** A** M** E atau di I** N** N** O** V** E** L.
__ADS_1
Happy reading.