
Shella tak sanggup lagi membendung air matanya. Dia mencium Akemi sembari terisak. Rasa bersalah yang teramat sangat besar telah bersarang dalam hati dan benak wanita bermata hitam pekat tersebut. Sementara sang pria hanya mampu menerima sentuhan dari istrinya. Ini kali pertama Shella agresif untuk urusan kontak fisik.
Merasa kehabisan nafas, Akemi pun melepas ciuman itu terlebih dahulu, dan menghirup udara dalam-dalam.
"Sayang, apakah kamu salah makan sampai gerakan mu sangat cepat?" tutur Akemi sembari mengusap bibirnya yang masih terdapat sisa air liur Shella.
"Maafkan aku, apakah kamu terluka?" sesal Shella sendu.
"Aku tidak terluka, cuma heran saja. Kenapa kamu tiba-tiba agresif seperti ini?" goda Akemi. Namun, justru mengundang kesenduhan di wajah Shella. Wanita itu kembali merasa bersalah atas perlakuannya di Rumah sakit.
"Maafkan aku, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa setelah mendengar penjelasan mu. Ternyata selama ini aku menyakiti mu tanpa sengaja. Aku bahkan menorehkan luka yang teramat sangat besar dalam hidupmu. Tidakkah aku sangat jahat?" lirih Shella. Mata wanita itu kembali berkaca-kaca.
Sejujurnya Akemi ingin mengalihkan pembicaraan agar Shella tak mengingat kesalahannya terus menerus dan bersedih. Namun, pria itu ternyata gagal.
"Sayang, dengarkan aku baik-baik. Jika aku berada di posisimu, mungkin aku akan melakukan hal yang sama seperti mu. Jadi tak perlu merasa bersalah yang berlebihan, em?" terang Akemi sembari menangkup kedua pipi Shella.
"Lalu bagaimana jika Kak Ibrahim memintaku untuk menikahinya?"
Deg,
Pertanyaan itu sukses melukai hati Akemi, tetapi sekali lagi Akemi terlalu kuat untuk di jatuhkan pertahanan dirinya.
"Kamu yang tahu jawabannya sayang," jawab Akemi akhirnya setelah beberapa saat diam.
Ya, Shella lah yang mengetahui jawabannya. Bukankah dia sudah menikah? maka tinggal katakan saja, bahwa dia sudah menikah. Ibrahim pasti akan mengerti. Dan jika pria itu belum juga bisa menerima kenyataan, maka Shella pula yang tahu jawabannya. Bukankah Ibrahim tanggung jawab kedua orang tuanya? lalu siapa Shella? Shella hanyalah perantara untuk membuat pria gila itu sembuh seperti sedia kala.
**
Keesokan harinya, Shella dan Akemi ke Rumah Sakit untuk menjenguk Ibrahim. Ini kali pertama Akemi menemani Shella setelah beberapa lama tak muncul di Rumah Sakit tersebut. Raut wajah Akemi tampak tak terbaca. Sementara Shella merasakan tak menentu. Hatinya tidak karuan. Dia terus meremas jemarinya yang berkeringat.
"Masuklah," titah Nisa pada Shella dan Akemi. Namun, Akemi menolak untuk masuk. Dia membiarkan Shella sendiri yang menemui Ibrahim. Bukan tanpa alasan pria bermata perak itu melepas Shella sendirian di dalam sana. Sejujurnya dia hanya ingin menguji istrinya itu. Apakah cintanya akan goyah atas permintaan Ibrahim, atau justru bertahan bersama Akemi.
Akhirnya Shella masuk dengan sendirinya, sementara Akemi menunggu di luar sembari duduk di kursi samping pintu ruang Ibrahim tadi.
__ADS_1
"Hai, bagaimana kabar Kakak hari ini? apakah jauh lebih baik?" Tanya Shella canggung. Ya, Shella masih canggung saat bertemu Ibrahim. Dia terus mengingat ucapannya kemarin.
"Berkat dirimu aku jauh lebih baik," jawab Ibrahim sembari tersenyum bahagia.
"Itu bukan karena aku Kak, tapi memang Tuhan memberikan mukjizat pada Kakak. Aku tidak melakukan apapun," balas Shella mencoba menampik prasangka Ibrahim.
"Jadi, bagaimana?" tanya Ibrahim dengan tatapan penuh harap. Ya, Ibrahim masih mengharapkan jawaban atas pertanyaannya kemarin.
"Kak Ibrahim, aku--"
Shella tak berani melanjutkan kalimatnya, dia sangat takut jika melanjutkan kalimatnya justru memicu kembali penyakit Ibrahim.
"Ibrahim anakku, apakah boleh Ibu berbicara disini?" Nisa yang sedari tadi diam, kini bersuara. Dia tak ingin membuat posisi Shella semakin sulit. Sementara ada seorang pria di luar sana yang berharap wanitanya akan kembali ke pelukannya seperti dulu.
"Katakanlah," titah Ibrahim datar.
"Anakku, ketika Ibu mengandung mu dulu, Ibu selalu bermimpi kamu akan menjadi anak yang jenius. Dan itu terbukti. Kamu menjadi anak yang cerdas juga tampan. Ibu bangga padamu." Shella dan Ibrahim tak menjawab ucapan Nisa. Keduanya diam dan mendengarkan cerita wanita paruh baya tersebut.
"Lalu kemudian Ibu menghancurkan impianmu. Ibu mengutamakan ego di bandingkan masa depan mu. Kalian tidak salah dalam hal ini. Kalian hanya sedang jatuh cinta waktu itu. Sementara Ibu selalu menutupi fakta yang menyakitkan hati Ibu," lirih Nisa sembari terisak.
Deg,
Ujian apa lagi ini? apakah Ibrahim benar-benar masih mengharapkan cinta Shella? apa yang harus di lakukan wanita itu? ada hati yang terluka di luar sana jika dia tak mengambil keputusan yang bijak.
"Kak Ibrahim, aku---"
Belum juga Shella melanjutkan kalimatnya, Nisa terlebih dahulu menyela ucapan wanita tersebut.
"Ibrahim, Shella adalah adikmu. Apakah kamu tetap akan menikahi adikmu? baik, katakanlah kalian boleh menikah, lalu bagaimana dengan suami Shella? apakah kamu tidak memikirkan pria itu?" tutur Nisa. Namun, Ibrahim hanya menatap Ibunya dengan datar seperti tak terjadi apa-apa.
"Jawabannya hanya Shella yang tahu. Dia yang memutuskan disini, bukan aku."
Deg,
__ADS_1
Bicara apa Ibrahim ini? apakah itu artinya dia sedang menguji cinta Shella untuk Akemi? atau justru untuk Ibrahim? entahlah, Shella menjadi dilema.
"Katakanlah Ella, katakan yang sejujurnya. Jangan berbohong lagi, sudah terlalu banyak kebohongan yang kamu lakukan padaku. Dan itu membuatmu menderita," pinta Ibrahim.
Mata Shella mulai berkaca-kaca, bahkan ingus wanita itu pun hampir saja turun dan membentuk angka sebelas.
"Maafkan aku, maafkan aku. Hiks, hiks, hiks." Shella terisak, tak ada kata lain yang mampu mewakili perasaannya selain kata maaf.
Ibrahim tersenyum akan jawaban Shella. Dia tahu, bahwa Shella tak mengucapkan banyak kata, karena wanita itu tak mau Ibrahim kembali terluka.
"Pergilah Ella, aku tahu kamu sangat tersiksa. Aku telah menahanmu terlalu lama disini. Kamu bahkan merawatku dan melepaskan tanggung jawabmu di rumah suamimu. Betapa bodohnya aku yang memilih untuk menjadi pria gila ketimbang masa depanku. Aku hanya memuja cintamu, tanpa tahu bahwa ada hati yang terluka, yaitu suamimu," lirih Ibrahim.
Sumpah demi apapun ingin rasanya Shella menangis dalam pelukan pria itu, pria yang memperkenalkan cinta padanya dulu. Shella hanya mampu menangis, begitupun Nisa. Wanita paruh baya itu tak dapat membendung lagi air matanya.
"Ella, aku tahu kamu sangat mencintainya. Karena dia pria yang baik, dia bahkan rela melepasmu demi aku. Kamu tahu karena apa? karena dia sungguh-sungguh mencintaimu. Jika itu aku, maka aku tak akan mampu melihat istriku merawat mantan kekasihnya yang gila. Apakah kamu paham sekarang?"
Shella tak menjawab kalimat Ibrahim, dia hanya menangis sembari memegang tangan pria tersebut.
"Pergilah, temui dia. Aku tahu dia ada di luar sedang menunggumu. Dia tak mau masuk, karena dia sedang berjuang melawan hatinya yang rapuh ketika melihatku bersamamu."
Mendengar kalimat perintah itu, Shella pun akhirnya berlari menuju pintu dan melihat Akemi yang masih duduk di tempat yang sama sembari melipat kedua tangannya.
Tak dapat di bayangkan jika Akemi tak hadir dalam hidup Shella, mungkin wanita itu akan hidup tanpa arah. Dia menemukan belahan jiwanya yang tepat.
"Aku mencintaimu sayang, aku sangat mencintaimu. Aku mencintaimu, sungguh mencintaimu," ucap Shella sembari memeluk erat tubuh Akemi. Lega rasanya melepas beban yang teramat berat di pundak. Ya, ini kali pertama Shella mengungkapkan cintanya pada Akemi tanpa rasa beban lagi. Karena dulu dia belum mendapatkan maaf Ibrahim secara sungguh-sungguh.
Air mata Akemi tak terasa jatuh dan membasahi pipinya. Dia merasa terharu akan kalimat bijaksana Ibrahim tadi. Ya, Akemi mendengar semua percakapan pria tersebut. Tak ada satupun yang terlewatkan.
Sementara di dalam ruangan, tampak Ibrahim menangis haru akan keputusannya sendiri ketika merelakan Shella.
"Kamu mengambil keputusan yang benar Nak. Kamu sudah benar," ucap Nisa bangga.
"Aku tidak tahu apakah keputusanku ini benar atau tidak bu. Aku juga merasakan luka yang teramat sangat besar disini. Namun, aku tidak bisa mengambil hak pria lain. Sementara aku juga seorang pria. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang berharga. Akemi pria yang baik, dia benar-benar tulus mencintai Shella."
__ADS_1
Ketulusan hati Ibrahim membuat Nisa berdecak kagum pada putranya sendiri. Dalam hati wanita paruh baya itu berdoa, semoga saja Ibrahim menemukan belahan jiwanya yang tepat. Bukan putranya lagi yang berjuang demi cinta, melainkan cintanya lah yang harus di perjuangkan kali ini.
To be continued.