
Author POV
Bunyi lonceng berukuran besar berdenting keras hingga memenuhi ruangan dimana Javier terbaring di atas pembaringan nya. Tersadar dari tidur panjang yang membuat kepala dan tubuhnya sakit, terlebih lagi hatinya masih terasa nyeri ketika Javier tidak mendapati Alea di rumahnya. Ya, Javier telah terbangun dari tidurnya yang panjang hingga memakan waktu 18 jam lamanya. Bi Asih yang melihat majikannya itu tertidur seperti manusia yang tak berdaya, ia tidak berani membangunkannya.
Javier memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. "Alea... kami dimana sayang?. Aku merindukanmu. Maafkan aku. Hiks... Hiks...". Javier mulai terisak atas apa yang di ingatnya barusan. Selama tidur 18 jam ia seperti melihat memori kebersamaan yang tercipta antara dirinya dan Alea sejak awal bertemu hingga perpindahan rumah yang sengaja di lakukan nya demi menghindari pengintaian yang di lakukan kedua orang tua mereka.
"Maafkan aku sudah menyakitimu sayang. Maafkan aku. Hiks.. Hiks..".
Javier Kembali terisak setelah beberapa menit terdiam merenungi kesalahannya. Ia mencintai Alea, namun tidak dengan sikap dan ucapannya. Otak dan hatinya selalu tidak bekerjasama. Javier merasa seperti memiliki kepribadian ganda jika itu menyangkut Alea. Dimana ia mencintai istrinya itu, namun tidak bisa membendung kecemburuan dan kemarahannya pada kedua orang tua mereka hingga melampiaskan kepada Alea. Sekarang hanya penyesalan yang tersisa.
"Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus mencari Alea. Ya, harus!". Javier beranjak dari pembaringan nya lalu masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri yang tampak berantakan. Di cukurnya bulu-bulu lebat yang tumbuh hingga memenuhi sebagian wajah tampannya.
Kini Javier telah selesai dengan ritual mandinya. Ia bergegas memakai pakaian dan mencari Alea secepatnya.
"Aku harus ke rumah Papi. Mungkin saja selama aku tidak di rumah, dia ke rumah Papi". Javier bermonolog. Pria itu semakin mengencangkan laju kendaraan nya agar cepat sampai ke rumah orang tua yang telah melahirkan nya tersebut.
15 menit Javier telah sampai di tempat tujuan, pria itu jalan dengan tergesa-gesa dan membuka pintu tanpa memberi salam terlebih dahulu.
"Mami... Mami...". Teriak Javier. Ia seperti sudah tidak tahan lagi untuk mengetahui dimana keberadaan istrinya.
"Ada apa sih kamu teriak-teriak, Vir?". Mami Javier tiba-tiba keluar dari kamar, karena merasa terganggu dengan teriakan putranya tersebut.
"Mami, dimana Alea, Mi?. Cepat katakan pada Javier". Tutur Javier sambil memegang pundak wanita yang telah melahirkannya tersebut. Namun Mami Javier menghentak tangan putranya itu dengan cukup keras.
"Kenapa kamu cari istrimu di rumah ini?. Bukannya kamu suaminya?". Jawab wanita paruh baya itu secara sarkatis.
"Mami, Javier hanya---".
PLAK...
Satu tamparan keras mendarat ke pipi Javier hingga sudut bibirnya sedikit robek. Javier menoleh siapa yang sudah berani menampar dirinya, dan ternyata dia adalah Papinya sendiri. Ya, Papi Javier baru saja pulang dari kantor dan mendapati putranya sedang mencari menantu kesangan nya.
"Suami macam apa kamu ini, ha?!". Bentak pria paruh baya itu.
"Papi kecewa sama kamu Javier!. Papi pikir kamu sudah berubah dan bersikap dewasa. Tapi melihatmu seperti ini Papi semakin yakin untuk memisahkan kalian berdua. Kamu tidak pantas buat Alea!". Tutur Papi Javier dengan amarah yang meluap-luap.
Javier memegang tangan Papinya sembari memohon,
__ADS_1
"Jangan lakukan itu sama Javier, Pi. Javier tau kalo Javier salah, tapi tolong jangan pisahkan Javier dari Alea. Javier bisa mati, Pi". Tutur Javier dengan wajah bersalah. Matanya mulai berkaca-kaca, Ia benar-benar tidak sanggup jika harus berpisah dengan istrinya itu.
"Kalau begitu matilah!".
"Papi".
"Apa?. Kamu mau bilang kalau kamu mencintai Alea?. Begini caramu mencintai nya?. Menikah kontrak dengannya sama saja kamu menghancurkan harga diri seorang wanita, Javier".
Javier begitu terkejut mendengar ucapan Papinya itu hingga tubuhnya bergetar. Bagaimana bisa papinya tau tentang kesepakatan yang di lakukan oleh nya dan Alea. Bukan kah kesempatan itu terjadi di kantor?. Pikir Javier.
"Apa kamu heran bagaimana papi bisa tau kesepakatan antar kamu dan Alea?. Itu sangat mudah bagi Papi Javier. Mungkin kamu sudah tau tentang CCTV yang Papi pasang di kamarmu, sehingga kamu memutuskan untuk pindah rumah seolah menghindar. Semuanya Papi tau!".
Papi Javier mengeratkan genggaman tangannya, ia benar-benar geram atas tindakan putranya tersebut.
"Papi, tolong beritahu dimana Alea, Pi. Javier mau minta maaf padanya". Javier tidak kehabisan cara untuk membujuk Papinya itu, namun pria paruh baya itu tidak bergeming.
"Papi tidak tau dimana Alea saat ini. Kalau kamu mencintai istrimu, maka carilah. Gunakan semua kemampuan mu untuk mencari wanita yang kamu cintai". Tutur papi Javier sebelum kemudian meninggalkan putranya yang terkulai lemah.
"Mami kecewa sama kamu Javier". Mami Javier yang sedari tadi diam dan mendengarkan perdebatan antara anak dan ayah itu, ikut mengungkap kan rasa kecewanya, dan menyusul suaminya yang lebih dulu pergi ke kamar.
Mobil silver milik Javier kini terparkir sembarang di pelataran rumah mertuanya. Javier menapakkan kakinya di halaman rumah yang tampak luas tersebut dan memencet bel rumah itu.
Ting tong... Ting tong...
CEKLEK...
Pintu terbuka, dan muncullah wanita paruh baya yang tidak lain adalah Mama Alea.
"Javier".
Wanita paruh baya itu menatap tak percaya pada seseorang yang di lihatnya saat ini.
"Ma, Alea ada?". Tanya Javier dengan wajah khawatir.
"Untuk apa kamu mencari anak Papa?. Bukankah kamu sudah membuangnya?!"
Papa Alea yang sedang berada di ruang tamu pun menyusul istrinya karena mendengar suara yang tidak begitu asing di telinganya.
__ADS_1
"Pa, maafkan Javier". Javier benar-benar merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Alea, sehingga ingin rasanya ia menangis dan menumpahkan segala rasa bersalahnya.
"Pergilah, Alea tidak ada disini". Titah Papa Javier sambil menutup pintu dengan keras.
BRAK...
"Pa, tolong buka pintunya, beritahu Javier dimana Alea Pa?". Javier berteriak sambil menggedor-gedor pintu berharap akan mendapatkan jawaban, namun tetap saja hasilnya nihil. Javier hampir putus asa, namun ia tidak ingin salah langkah lagi, sudah cukup kesalahan yang di lakukannya. Bukankah semua adalah salahnya?. Mencintai wanita namun tak berani mengungkap kan. Cemburu tapi menyakiti. Salah paham tapi tak mau mendengarkan penjelasan.
"Semua salahku. Harusnya aku memberitahu Alea jika aku mencintainya sejak awal, bukan dengan cara menyalahkan atas apa yang tidak di perbuatnya. Aaaak---".
Javier berteriak frustasi, ia merasa bersalah, berdosa dan juga kecewa pada dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**TBC.
Hay Readers. Javier PROV sudah kelar ya. Sudah tau kan kalau Javier sebenarnya cinta sama Alea sejak awal, hanya saja ego dan gengsi serta angkuh menguasai jiwa dan hatinya. Mohon maaf jika sempat membosankan alurnya. Jangan lupa like dan vote ya. Beri komentar juga. Terimakasih.
*Dede**...
__ADS_1