Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Bab. 78.Bonus Ekstra Part. (Ini Adalah Milik ku!.)


__ADS_3

Alea POV.


Mendapati kenyataan bahwa cintaku tidak bertepuk sebelah tangan membuat hatiku bahagia bukan main. Aku merengkuh tubuh suamiku yang cukup kekar itu hingga menempel pada perutku yang sedikit membuncit.


Saat ini kami tengah menunggu kelahiran anak kedua sekaligus ketiga kami. Tuhan berbaik hati padaku untuk menunjukan cinta Javier terhadap ku sedemikian rupa hingga tumbuh benih dalam rahimku. Aku benar-benar bersyukur akan itu.


Aku melihat wajah suamiku lekat-lekat, mengusap pipi yang di tumbuhi bulu-bulu halus. Aku tersenyum akan tindakanku sendiri. Selama beberapa tahun, inilah kebiasaan ku di pagi hari. Menatap wajahnya yang tenang membuat hatiku bagai terhanyut dalam cinta. Dia yang dulu aku sebut bos kura-kura, kini menjadi penghuni hatiku yang setia. Dia yang sering aku sebut berwajah dingin bagai pinguin di negeri antartika, kini menjadi pelindungku yang selalu rela berkorban jiwa dan raga. Dia yang sering aku sebut pria angkuh, kini berubah menjadi suami yang selalu aku rengkuh. Oh Tuhan, maka nikmat mana lagi yang akan aku dustakan?.


"Sudah puas mengelusnya?". Ucap Javier masih dengan mata tertutup. Mungkin sejak lama dia bangun, hanya saja ia masih ingin menikmati sentuhan ku di pipinya.


"Aku tidak akan pernah puas menyentuh wajah ini. Karena ini, ini, ini, dan ini, semuanya adalah milikku". Aku menunjuk bibir, mata, pipi, alis, dan hidung Javier dengan gemasnya.


"Bagaimana dengan yang ini?". Javier menuntun tanganku untuk menyentuh senjata tajam nan tumpul itu.


"Kalau yang itu gak usah di pertegas lagi sayang. Aku rasa kamu yang lebih paham dari pada istrimu ini". Ucapku sembari menyingkirkan tangan Javier yang mulai nakal itu.


"Mmmmm---, biarkan seperti ini dulu sayang". Javier menggeliat manja di perutku yang membuncit. Aku merasa geli ketika hidung Javier mengelus perutku seolah menyalurkan kasih sayang untuk anak yang berada dalam sana.


"Hai, anak-anak papa. Apa kabar?. Kalian gak rewel kan?. Anak papa pasti selalu yang terbaik". Ucapnya seolah berbagi cerita pada anaknya.


"Oh iya sayang, tadi Dina menelpon ku, katanya hari ini dia mengajak kita untuk makan siang di rumah mereka, sekalian sukuran ulang tahun putri nya, Marina".


"Loh, bukannya anak Alex berusia setahun lebih?. Kok ultahnya sekarang?". Tanya Javier.


"Karena Marina paling suka merayakan ulang tahunnya setiap bulan, sayang". Javier pun ber'Oh' ria ketika mendengar penjelasan ku.


Ya, Alex dan Dina telah memiliki putri yang baru berusia satu tahun setengah yang bernama Marina. Sekedar informasi, bahwa Aljav dan Marina tidak pernah akur. Tiap kali bertemu keduanya akan saling mengejek. Aljav yang sering membuat Marina menangis karena putraku itu menyebut bahwa nama Marina sangatlah jelek persisi nama body losion.

__ADS_1


Sementara Ayu dan Andre masih berusaha untuk memiliki anak. Mungkin Tuhan belum memberi mereka kepercayaan, hitung-hitung menikmati masa pacaran setelah menikah.😁


****


"Papa...". Suara Aljav yang begitu kencang hingga memenuhi kamar kami pun menyentakan Javier yang tengah ingin melanjutkan misi semalam.


"Astaga, anak ini benar-benar tidak mengerti situasi". Gerutu Javier. Aku hanya tersenyum melihat wajah suamiku yang begitu menggemaskan itu.


"Makanya kalau mau melakukan hal iyes-iyes kunci pintu dulu. Semalam kan kamu lupa kunci pintu. Untung gak ada yang masuk". Ucapku sembari melepas pelukan Javier dan beralih memeluk putraku yang berpipi gembul itu.


"Anak mama sudah bangun ya?. Semalam kamu mimpi apa?". Tanyaku sembari mencium pipi gembul Aljav.


"Mama geli tau". Putraku sangatlah menggemaskan, dia tidak menyukai jika seseorang menyentuh pipinya dengan penuh agresif. Seperti manusia dewasa ia akan memprotes.


"Baiklah-baiklah. Sekarang katakan pada mama, semalam kamu mimpi apa sayang, em?". Aku memasang baik-baik indra pendengaran ku, tidak ingin melewatkan satu kata pun cerita Aljav. Suaranya yang cadel membuatku geli dan ingin terus tertawa.


"Semalam aku belmimpi punya mama balu. Telus papa buang jauh-jauh mama dalam kelanjang baju kotol. (Semalam aku bermimpi punya mama baru. Terus papa buang jauh-jauh mama dalam keranjang baju kotor).


Aku menelan salaviku berulang kali, tak mengira bahwa putraku akan bermimpi hal yang membuatku sakit hati sekaligus... Cemburu?. Ingin rasanya ku ketuk paru-paru putraku ini. Memiliki sifat yang persis seperti papanya.


Aku melihat Javier tampak menahan tawa membuatku semakin emosional.


"Kamu pasti senang kan dengan mimpi Aljav barusan?". Aku menatap tajam wajah suamiku yang sudah berwarna merah itu akibat menahan tawa.


"Aku tidak mengatakan apapun. Aku hanya sedang mengelus anak-anak ku yang didalam sini". Javier berdalih dan mengelus perutku, namun tawanya seketika pecah kala mendengar kalimat Aljav,


"Mama cembulu ya..?".

__ADS_1


"Hahahaha".


Sumpah demi apapun aku ingin mencakar wajah putraku dan papanya yang sungguh menyebalkan itu.


"Tertawa lagi maka tidak akan ada jatah makan malam di kamar". Ucapku sembari meninggalkan ayah dan anak yang sungguh menyebalkan itu.


"Sayang, jangan gitu dong. Kan bukan aku yang yang bicara tadi. Salahkan saja Aljav". Ucap Javier sembari mengikuti ku dari belakang dan menggendong Aljav. Ia ingin membujuk diriku yang sudah mulai emosional.


"Papa takut mama mala?". Tanya Aljav, dan itu berhasil membuatku menghentikan langkah. Aku menoleh pada dua orang kesayangan ku itu sembari melipat tangan ke dada, menunggu kalimat selanjutnya yang akan di ucapkan Aljav.


"Kata Om Adle, kalo mama mala sama papa, tiup aja telinga mama, teyus bilang I love you my wife". Saat itu juga aku berniat ingin mencekik leher Andre. Pria playboy cap buaya itu berani mencemari otak murni putraku. Akan aku beri perhitungan pada suami Ayu itu nanti jika ketemu. Gerutu ku dalam hati.


Bagaimana bisa ia mengajarkan hal itu pada anak yang masih berusia 3 tahun?. Anak di usia ini akan rentan terhadap perubahan lingkungan dan sikap, menelan apa saja yang di dengarnya. Butuh penjelasan yang bijak agar anak tidak salah jalan.


"Sayang, maksud Om Andre itu papa sangat menyayangi mama, sama seperti menyayangi Aljav juga". Sebijak mungkin aku menjelaskan pada Aljav yang memiliki pemikiran tidak seperti anak sebayanya. Salah sebut saja maka akan salah di artikan oleh anak seusia Aljav.


Pandanganku beralih pada Javier dengan tatapan tajam. Aku melihat wajah suamiku itu tengah tersenyum seolah dia baru saja aku maafkan.


"Jangan senang dulu. Ini belum berakhir. Malam ini kamu saya skor". Ucapku sembari beriyes ria dalam hati, merasa berhasil mengerjai suamiku itu.


'Emang enak?!'.


.


.


.

__ADS_1


.


TBC.


__ADS_2