Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Episode. 91. Rumah Kos.


__ADS_3

Puas tertawa bersama, Akemi memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Pria itu bersiul ria, dia seakan menikmati kebersamaan dirinya dan Shella. Seandainya saja waktu tak berlalu begitu cepat, mungkin selamanya dia akan menahan Shella untuk tetap diam bersamanya di Apartemen. Menikmati indahnya dunia fana yang hanya sementara. Menyanyikan lagu cinta, dan berdendang bersama. Berdansa menyusuri gerak demi gerak yang melambangkan cinta. Oh, sungguh indah.


Akemi tersenyum manis ketika lamunan itu di anggapnya nyata, hingga Shella berdecak keheranan. Menyadari sikapnya yang konyol, akhirnya Akemi memutar musik yang berjudul Hikayat Cinta, milik mendiang Glen Fredly dan Dewi Persik.


Tak lama mobil sedan Akemi memasuki area perumahan yang cukup sempit. Bahkan mobil sedan miliknya tak bisa memasuki lorong dimana ruangan Shella berada.


"Berhenti disini saja Tuan," titah Shella. Akemi memperhatikan Rumah Kos Shella yang tampak sedikit kumuh. Rumah Kos ini adalah yang termurah di ibu kota. Wajar saja jika kumuh, karena harga menentukan kualitas. Bahkan di dalam kamar Kos Shella banyak terdapat kecoak waktu pertama kali masuk. Beruntung wanita itu membawa obat serangga yang di ambilnya dari Panti Asuhan dulu, seakan memperkirakan, bahwa situasi itu akan terjadi.


"Apakah ini tempat tinggal mu?" Tanya Akemi datar.


"Iya."


"Baiklah, ayo kita turun." Akemi ingin turun bersama Shella agar melanjutkannya kebersamaan mereka di dalam. Namun, Shella justru menunjukkan reaksi yang lain. Seperti... menolak?


"Apakah kamu tidak mau mempersilahkan aku masuk? setidaknya beri aku teh," ucap Akemi. Shella menjadi canggung.


"Maaf Tuan, saya tidak punya teh," sesal Shella seraya menggigit bibir bawahnya. Akemi menelan salavinya dengan susah payah. Pria itu merasa terpancing ketika Shella menggigit benda kenyal nan manis tersebut.


"Jangan gigit bibir mu."


"Ha?"


"Aku bilang jangan gigit bibir mu!" Intonasi suara Akemi mulai meninggi. Dia hampir saja gagal mengendalikan jiwa kelakian nya yang mulai terpancing.


"Oh, ya ampun. Wanita ini benar-benar membuatku gila," gumam Akemi.


"Baiklah, lain kali kamu harus mempersilahkan aku masuk ke dalam," ucap Akemi akhirnya setelah beberapa saat kemudian.


"Ha?"


"Dan jangan lupa siapkan juga teh." Sekali lagi Akemi mengedipkan matanya, hingga Shella terpukau salah tingkah. Akemi tampaknya sengaja ingin menggoda wanita tersebut. Dia mulai mengetahui titik lemah Shella. Baginya, rona merah di wajah Shella sangatlah manis.


Shella pun turun dari mobil, dia belum masuk dalam area Rumah Kos. Wanita itu masih melihat mobil Akemi hingga hilang dari pandangan nya.


**


Keesokan harinya, Akemi ingin berangkat ke kantor, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat Papa Javier tengah asik membaca koran sembari menyeduh teh. Pria paruh baya itu tampak menikmati hari-harinya. Di kelilingi putra dan putri yang luar biasa cedas dan dermawan, membuat pria paruh baya yang tampak masih tampan meski tak lagi muda itu bahagia sekaligus bangga. Tak ada yang lebih membahagiakan bagi orang tua, selain melihat anak-anaknya berbuat kebaikan.


"Papa," ucap Akemi.


"Hei, jagoan Papa. Kamu mau berangkat ke kantor sayang?" Tanya Papa Javier sembari meletakan koran yang di bacanya tadi di atas meja.

__ADS_1


"Iya. Dimana Mama?" Tanya Akemi. Pria itu tak melihat sosok Ibu yang di rindukan selama sebulan terakhir ini.


"Mama kamu ada di kamar," jawab Papa Javier.


"Oh iya, apa benar Kakak akan menikah dengan Marina?" Tanya Akemi datar.


"Iya, kenapa memangnya?"


"Tidak apa-apa, hanya mau tahu saja." Di tengah percakapannya yang terjadi antara pria beda generasi itu, Mama Alea muncul dengan menggunakan baju daster. Sontak saja hal itu menggoda iman seorang Papa Javier.


Mama Alea duduk di samping Papa Javier sembari memegang pahanya, dan sukses membuat jiwa kelakian Papa Javier meronta sembari menahan nafas.


"Kamu mau ke kantor sayang?" Tanya Mama Alea pada Akemi.


"Iya Ma. Akemi berangkat dulu ya?" Akemi mencium punggung tangan kedua orang terkasihnya itu secara bergantian, dan berlalu meninggalkan Papa Javier dan Mama Alea. Sementara Papa Javier terus menahan nafas. Pria paruh baya itu tampak tak nyaman. Setelah memastikan Akemi hilang dari balik pintu, akhirnya Papa Javier mengembuskan nafas lega.


"Huff."


Kening Mama Alea berkerut penuh tanya.


"Kamu kenapa sih, Pa?" Tanya Alea bingung.


"Mama yang kenapa?"


"Kamu terlalu seksi dengan menggunakan daster ini sayang," balas Papa Javier.


"Benarkah?" Papa Javier menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan istrinya itu.


"Terus, kalau seksi begini, selanjutnya apa?" goda Mama Alea dengan suara yang di buat-buat.


"Tentu saja mendaki gunung, apa lagi?" Papa Javier pun mulai memberi cap ungu di leher Mama Alea, hingga berpindah tempat ke benda manis nan kenyal.


Masih terus asik beraksi tanpa perduli situasi, Papa Javier mulai terpancing. Sementara Mama Alea mulai meracau.


"Papa, aku--"


Bug,


Papa Javier jatuh ke lantai karena di dorong oleh Mama Alea. Bagaimana tidak, aksi Keduanya hampir saja ketahuan oleh putra pertamanya, yaitu Aljav yang ternyata belum berangkat ke kantor. Pria itu masih berada di rumah, membuyarkan aksi Keduanya. Lagi pula, mengapa juga acara mendaki gunung harus di ruang keluarga?


"Aljav?" Ucap Mama Alea salah tingkah.

__ADS_1


"Papa kenapa ada di bawah situ?" Tanya Aljav dengan kening berkerut. Ya, pria itu melihat Papa nya sedang terbaring di lantai.


"Papa sedang olah raga," jawab Papa Javier bohong seraya melakukan gerakan ringan seolah dirinya benar-benar melakukannya olah raga.


"Olah raga?" Tanya Aljav dengan menaikan satu alis.


"Sudahlah." Mama Alea mengalihkan pembicaraan dua pria beda generasi itu. Dia sengaja melakukan agar supaya tak terjadi kekonyolan.


"Ada apa sayang?" Tanya Mama Alea kemudian.


"Aljav mau salaman sama Papa dan Mama," ucap Aljav dan mendapat tatapan tak percaya dari Papa Javier. Pria paruh baya itu sontak terbangun dari lantai.


"Kamu kesini hanya untuk mau salaman?" Tanya Papa sekali lagi.


"Iya, memangnya kenapa?" Tanya Aljav santai. Pria tampan itu tak menyadari kegusaran Papanya. Lalu kemudian Mama Alea mengalihkan perhatian putranya tersebut.


"Iya sayang. Kami merestui mu," ucap Mama akhirnya setelah beberapa saat memperhatikan dua pria kesayangan nya itu. Aljav yang masih belum bisa mencerna situasi, akhirnya mengerutkan keningnya. Dia benar-benar gagal paham akan sikap kedua orang tuanya kali ini.


"Mereka kenapa? aku mau salaman, tapi kenapa Mama bilang dia merestui ku? gak nyambung!" Batin Aljav.


Tak ingin menambah kebingungan, akhirnya Aljav meninggalkan Papa dan Mama. Melihat putranya itu hilang dari balik pintu, akhirnya Mama Alea mencubit lengan Papa Javier hingga sang empunya lengan ber-aw ria.


"Aww, Mama apa-apaan sih?" Tanya Papa Javier seraya mengelus lengannya yang terasa perih.


"Papa yang apa-apaan? main aksi di depan anak," protes Mama.


"Tadi kan aku pikir anak-anak sudah pergi semua," bela Papa Javier.


"Tetap saja."


"Jadi sekarang bisa di lanjutkan ni?" Goda Papa dengan senyuman manis, menampakan giginya yang putih bagai tanpa dosa.


"Boleh deh, nanggung." Jawaban Mama Alea memacu adrenalin seorang Javier Alexander Gautam. Pria paruh baya itu melanjutkan aksinya yang sempat tertunda karena putra tertuanya datang tanpa permisi. Hingga...


"Papa uang jajan Naomi...,"


Bug, kedebug, gubrak,


"Aww."


Kali ini Naomi yang membuyarkan aktivitas keduanya. Pinggang pria paruh baya itu terkena meja dan kursi hingga jatuh ke lantai. Di tambah lagi, Naomi tak sengaja menginjak tangan Papa Javier, menambah poin kesakitan pria paruh baya tersebut.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2