Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Pergilah, Aku Akan Menunggu mu Disini.


__ADS_3

Ketulusan hati Akemi tak terbatas oleh ruang dan waktu. Pria berhati mulia itu harus merelakan istrinya setiap hari merawat pria yang pernah dekat dengannya. Dan anehnya lagi, Akemi tak pernah sedikitpun untuk menentang Shella. Dia bahkan setiap hari mengingat kan istrinya itu untuk ke Rumah Sakit.


Sementara sejujurnya dalam benak Shella, terbersit rasa bersalah yang begitu mendalam ketika dia harus menghabiskan waktu bersama Ibrahim. Meski kewajiban nya sebagai istri tak pernah lalai. Namun, sebagai seorang manusia yang di anugerahi hati, tentu saja Shella tak mengabaikan rasa bersalah nya itu.


"Apakah kamu tidak keberatan jika setiap hari aku mengunjungi Kak Ibrahim?" Tanya Shella sembari memutar-mutar jarinya di atas perut Akemi membentuk suatu pola.


"Tentu saja tidak sayang," jawab Akemi.


"Mengapa kamu tidak pernah memprotes ku setiap kali aku menemui Kak Ibrahim? apakah hatimu tak pernah merasa sakit sedikit pun?" Pertanyaan Shella membuat Akemi berpikir sejenak. Jika boleh jujur, ada rasa cemburu yang tersimpan dalam hati Akemi. Namun, bukan cemburu kepada Ibrahim, melainkan kepada sikap Shella sendiri. Akemi berpikir, apakah jika suatu ketika nanti dia sakit, Shella akan merawat nya seperti Ibrahim?


"Aku hanya berpikir, apakah jika aku yang berada di posisi Ibrahim, kamu akan merawat ku seperti itu?" Seketika Shella menutup mulut Akemi ketika pertanyaan yang tak pernah di pikirkan nya tercetus begitu saja tanpa permisi.


"Mengapa kamu bertanya seperti itu? apakah kamu ingin menyiksaku? aku bisa mati jika kamu sakit. Maksudku, tentu saja aku akan merawat mu dengan segenap hatiku. Tapi jika kamu harus sakit seperti itu, maka aku juga akan ikut merasakan sakit. Bahkan aku lebih sakit darimu. Kamu adalah separuh hidup ku. Jika separuh hidupku sakit, maka aku tak bisa bertahan," terang Shella setengah bersedih.


Akemi melepas tangan Shella yang berada di mulutnya sembari tersenyum hangat.


"Aku akan baik-baik saja, kecuali jika kamu pergi meninggalkan aku tanpa alasan dan tanpa pesan, maka aku akan mati saat itu juga," balas Akemi sungguh-sungguh.


"Mengapa kita harus membahas hal ini? aku tidak mau melanjutkan percakapan kita ini. Aku tidak ingin berandai-andai," lirih Shella.

__ADS_1


"Baiklah, kita akhiri percakapan ini. Sebaiknya kita siap-siap untuk beraktivitas," balas Akemi.


"Tunggu," cekal Shella sembari menahan tubuh Akemi yang sudah ingin beranjak dari tempat tidur.


"Ada apa?" tanya Akemi datar.


"Apakah kamu tidak ingin mengatakan sesuatu padaku tentang Kak Ibrahim? maksudku, setidaknya cekal aku ke tempat itu. Atau ucapkan kalimat yang menunjukkan bahwa kamu sedang cemburu," tutur Shella. Ya, sejujurnya Shella ingin Akemi mengungkapkan perasaannya yang terpendam. Karena sangat mustahil jika pria itu tak memiliki rasa cemburu sama sekali pada Ibrahim.


"Apakah kamu ingin aku cemburu dan melarang mu?" Tanya Akemi dengan kening berkerut.


"Ya... seperti itulah," jawab Shella. Akemi hanya tersenyum manis.


"Pergilah sayang, aku menunggu mu disini. Aku memang merasa cemburu pada Ibrahim. Bohong jika aku tak merasakan cemburu. Tapi kepercayaan ku mengalahkan rasa itu. Karena kamu adalah wanita yang patut untuk di percaya. Lalu apa yang harus aku cekal? jika istriku ini menyimpan sejuta cinta untukku?" terang Akemi sembari mencolek pelan hidung mancung Shella.


Seketika Shella memeluk tubuh Akemi, dia menangis haru ketika mendengar kalimat suaminya itu.


"Maafkan aku karena sudah menyakiti hati mu beberapa hari yang lalu. Aku begitu egois dengan ucapan ku. Aku tidak memikirkan bagaimana terluka nya dirimu ketika aku menyalahkan diriku sendiri yang berhenti berjuang bersama Ibrahim. Aku sangat naif dan bodoh, aku seperti wanita yang tak pandai bersyukur. Maafkan aku, tolong maafkan aku. Hiks, hiks, hiks," lirih Shella sembari terisak penuh sesal.


"Kamu tidak perlu meminta maaf sayang, aku tahu kamu tidak berniat untuk menyakiti ku. Kamu hanya terguncang dengan kondisi Ibrahim. Terlebih lagi, hubungan kalian baru saja di mulai sebagai saudara. Aku bisa memahami seberapa dalam luka hatimu ketika mengetahui fakta itu. Kamu tidak perlu memikirkan hal itu lagi ya? pergilah, aku akan menunggu mu," terang Akemi tulus.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan kembali untuk mu sayang."


Akemi akhirnya melepas Shella untuk menemui Ibrahim, si pria gila pemuja cinta Shella. Entah apa yang di lakukan pria lain pada Shella jika itu bukan Akemi. Hanya manusia pilihan lah yang mampu mengikhlaskan istrinya untuk merawat pria lain. Kendati saudaranya sendiri. Bukankah mereka pernah memiliki hubungan? meski hubungan itu tak seharusnya terjadi karena adanya ikatan darah.


**


Setibanya Shella di Rumah Sakit Jiwa, dia mendapati Ibrahim dalam keadaan tak sadarkan diri. Pria itu mengalami kejang-kejang setelah proses kemoterapi. Shella menjadi panik, begitu juga Nisa dan suaminya. Kedua orang tua paruh baya itu tak kalah paniknya dari Shella. Bagaimana tidak, kondisi Ibrahim tadi pagi baik-baik saja. Namun, setelah menjalani proses kemoterapi, dia menjadi kejang dan akhirnya tak sadarkan diri.


"Kenapa bisa terjadi seperti ini Tante?" Tanya Shella dengan raut wajah panik.


"Tante juga tidak tahu Nak, tadi pagi dia baik-baik saja. Tapi entah apa yang membuatnya jadi seperti ini. Kata dokter, setelah kemo dia akan baik-baik saja. Meskipun tak ada harapan untuk sembuh, hiks, hiks, hiks," terang Nisa sembari terisak.


"Tak ada harapan untuk sembuh? apakah Kak Ibrahim benar-benar tak bisa bertahan dan kembali normal? apakah dia harus pergi meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang memprihatinkan? tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku belum menyelesaikan tugas ku sebagai adiknya. Aku masih harus menyatukan dia bersama Ibu dan Ayahnya," batin Shella.


"Tante, sebenarnya sejak kapan Kak Ibrahim mengidap tumor? aku tahu dia pria yang kuat. Bagaimana bisa dia harus mengalami ini semua Tante? pasti ada yang salah dengan pemeriksaan nya waktu itu, pasti Tante." Tampak Shella berusaha untuk menampik segala kenyataan yang terjadi. Dia masih belum percaya jika pria sekuat Ibrahim harus mengidap penyakit mematikan itu.


"Ini semua karena salah kami Shella, kamu yang menyebabkan Ibrahim menderita seperti ini. Jika saja dulu kami sedikit lebih cepat memberitahu hubungan kalian, atau kami bisa menerima keberadaan mu sebagai adik Ibrahim waktu itu, mungkin hal ini tak akan pernah terjadi," lirih ayah Ibrahim.


Shella tak menjawab ucapan Om nya itu, dia hanya terisak pilu dalam kebungkamannya. Meski membenarkan pernyataan kedua orang tua Ibrahim, tetapi Shella tak ingin membuat dua orang suami istri itu merasa bersalah yang mendalam.

__ADS_1


Penyesalan itu selalu datang nya belakangan. Kalau di depan namanya pendaftaran. Ya, kedua orang tua Ibrahim telah mendaftar kan penyesalan mereka selama bertahun-tahun lamanya. Dan kini tak ada lagi yang tersisa, selain menikmati dari penyesalan itu sendiri.


To be continued.


__ADS_2