
Hati Javier terasa berdenyut seperti terkena irisan pisau ketika melihat sikap Alea yang tampak begitu manja pada sahabatnya sendiri, sementara pada dirinya akan bertolak belakang dari apa yang di lakukan pada alex.
"Apa kabar, Al?. Aku sangat merindukan mu. Sepertinya sekarang kamu jauh lebih baik". Alex tersenyum hangat pada wanita cantik itu.
"Yah, begitulah. Melihat mu kondisiku menjadi lebih baik, dan aku juga sangat merindukan mu". Jawab Alea sambil membalas senyuman Alex, membuat hati Javier terasa nyeri. Ia sangat marah, bahkan pria itu mengepalkan tangannya, merasa di abaikan.
'Apa ini?. Kenapa dia tersenyum pada pria lain?. Sedangkan dengan ku, bahkan dia tidak ingin bertemu. Dan apa ini? mereka saling berpelukan seolah ingin melepas rindu. Apa aku ini hanya pajangan sampai mereka lupa ada orang lain disini'.
"Ehem. Apa sudah selesai melepas rindunya?". Ucapan Javier membuat Alex dan Alea menoleh pada pria yang sudah memasang wajah sinis tersebut, membuat Alex memahami akan satu hal.
"Apa Anda cemburu Tuan Javier Alexander?". Pertanyaan Alex membuat kening Alea berkerut dalam. Wanita itu gagal mengartikan pertanyaan sahabat dari suaminya tersebut.
"Kamu mau beritahu tujuan mu kesini atau aku usir?". Javier semakin kesal di buatnya. Bagaimana tidak, ia hampir saja ketahuan oleh Alea jika ia sedikit jealous pada sahabatnya Alex.
"Wow... Sabar Bro. Ayo duduk biar aku beritahu kabar pentingnya". Titah Alex sambil mendaratkan tubuhnya di kursi sofa yang sempat ia tinggalkan akibat percakapan singkatnya bersama Alea.
"Lihat ini Vir, apa kamu mengenalinya dengan baik?". Alex memberikan sebuah map berwarna biru yang berisi kertas dimana hal itu membuat kening Javier berkerut dalam.
Melihat reaksi Javier membuat Alea meraih map itu dari tangan Javier, ia ingin melihat apa yang sudah membuat wajah suaminya itu berubah jadi tegang.
"Vir, bukan kah tanda tangan ini tidak asing?. Seperti---".
"Ya, aku tau". Jawab Javier santai memotong ucapan Alea.
"Kalau kamu tau, lalu mengapa kamu tidak melaporkan hal ini?. Setidaknya lakukan sesuatu. Banyak orang yang bergantung dari perusahaan ini Vir. Bagaimana jika karyawan kehilangan pekerjaan mereka?. Bahkan di antara mereka ada yang memiliki anak yang masih harus sekolah. Sudah berapa banyak investor yang menarik saham mereka, Vir". Tutur Alea dengan perasaan khawatir dan tidak percaya melihat reaksi suaminya yang tampak santai.
"Biarkan kita ikuti dulu permainannya seolah dia sudah berhasil mengelabui kita. Setelah itu kita akan menangkap basah dirinya, dan memutar balik permainan". Tutur Javier dengan senyum menyeringai seolah memiliki suatu strategi.
"Kucing kecil mau bermain-main denganku rupanya". Lanjutnya kemudian dengan senyum Devil khas seorang Javier Alexander. Dan senyuman itu di pahami oleh Alex. Ia paham jika sahabatnya itu tahu langkah apa yang akan di ambil oleh bos sekaligus sahabatnya itu.
"Baiklah. Sepertinya ini akan menjadi lebih mudah untuk di atasi". Tutur Alex.
"Oh ia. Aku sampai lupa. Kamu mau minum apa Lex?". Pertanyaan Alea membuat kedua pria yang memiliki beda karakter itu menoleh padanya. Sementara kening Javier berkerut dalam hampir menyatu. Sedangkan Alex tersenyum mengejek melihat ekspresi sahabatnya tersebut, seolah paham apa yang akan di lakukan oleh dirinya.
"Ah, kamu buatkan saja minuman kesukaan ku, Al". Jawab Alex dengan nada yang di buat-buat agar Javier cemburu. Dan benar saja, wajah Javier berubah merah karena menahan emosi hingga mengepalkan tangannya.
__ADS_1
'Jadi mereka sudah saling tau minuman favorit?. Awas kamu Alex'. Gerutu Javier dalam hati.
"Baiklah. Aku akan membuatkan mu ice lemon tea". Balas Alea dengan senyum penuh kehangatan.
'Lihat dia tersenyum pada pria brengsek ini'. Umpat Javier.
"Ehem, aku juga mau minum. Tolong ambilkan aku air mineral". Titah Javier seolah mencari perhatian istrinya. Pria itu mengelus lehernya seolah merasa dahaga. Namun bukannya mendapat perhatian, wanita itu justru membuat dirinya salah tingkah.
"Tangan mu kan tidak buntung untuk mengambil air mineral yang berada di nakas itu". Tutur Alea sambil menunjuk air mineral yang terletak di atas nakas samping Javier dengan menggunakan dagunya. Dan jawaban Alea tersebut membuat wajah Javier berubah warna menjadi merah akibat malu.
"Ppfffffff--- Hahahaha". Alex melepas tawanya setelah melihat Alea meninggalkan ruang tamu yang sudah tak bisa di tahan lagi.
"Apanya yang lucu?". Tanya Javier masih dengan wajah malunya.
"Hahahaha. Vir... Vir, bilang saja kalo lo cemburu kan sama gue?".
"Ketawa lagi gue siram lo pakai air mineral ini". Ancam Javier.
"Ok Baiklah, baiklah. Sepertinya gue harus meninggalkan kalian berdua". Tutur Alex seolah memahami situasi hati Javier yang mulai terbakar cemburu.
"Baguslah kalo lo paham". Jawab Javier dengan ketus. Namun hal itu tidak membuat Alex tersinggung. Ia paham betul karakter dari sahabatnya itu. Meski angkuh, tapi sejatinya ia adalah pria yang berhati lembut. Hanya saja ia terlalu menjunjung tinggi egonya.
*****
10 menit kemudian Alea memasuki ruang tamu dimana dua orang pria tadi berada sambil membawa gelas berisi minuman untuk Alex. Namun alisnya berubah menjadi berkerut manakala ia tidak melihat Alex, hanya Javier suami nya yang masih setia di tempat yang sama
"Alex mana?". Tanya Alea sambil mengedarkan pandangannya seolah mencari sesuatu.
"Sudah pulang". Jawab Javier dengan wajah datar namun penuh penekanan.
"Pulang?. Kenapa?". Tanya Alea dengan wajah bingung. Bukankah baru 10 menit dirinya ke dapur?. Lalu kemana pria itu?.
"Mana aku tau". Balas Javier dengan santai seolah tak memiliki beban.
"Lalu minuman ini?".
__ADS_1
"Minum saja sendiri. Atau kasi ke tetangga, bilang saja ada perayaan pengusiran sang pengacau" Tutur Javier dengan mengejek membuat kening Alea berkerut merasa bingung dengan ucapan pria tersebut. wanita itu gagal paham maksud dari suaminya.
"Pengacau?. Ck. Kamu yang pengacau. Dasar pria angkuh". Cibir Alea dengan suara pelan namun masih bisa di dengar oleh Javier yang sedang duduk dengan santainya di atas sofa lalu beralih melihat Alea yang memasang wajah kesal.
"Apa kamu bilang?. Aku pengacau?. Tunggu, tunggu. Ini kan rumah ku. Bagaimana bisa aku menjadi pengacau dalam rumahku sendiri?". Tanya Javier namun Alea hanya menaikkan bahunya saja seolah tidak perduli dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Apa kamu menyukai Alex?". Pertanyaan Javier membuat Alea tersentak dan menoleh kembali pada Javier.
"Tentu saja aku menyukainya. Dia kan pria baik. Tidak seperti seseorang yang sangat arogan dan pemarah". Sindir Alea dengan senyum mengejek.
"Apa kamu baru saja menyindir ku?". Tanya Javier sambil menunjuk dirinya sendiri. Namun Alea tidak memperdulikan pria itu. Ia hanya menaikan bahunya saja merasa tidak perduli.
"Baiklah. Minta suap saja sama Alex kalau nanti kamu sakit. Dan buat dia khawatir". Tutur Javier dengan sangat emosional lalu berlalu meninggalkan Alea yang tersenyum penuh kemenangan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
Hay Readers. Mohon maaf jika updatenya agak lambat, itu karena proses review nya yang agak lama. Satu hari Author bisa nulis sampai 4 episode, tapi karena proses review nya agak lama, jadi telat deh. Oh ia, jangan lupa terus dukung babang tamvan Javier Alexander dan si cantik Alea Marwah dengan cara like dan komen serta vote untuk memberi trip ya. Jangan lupa kasi bintang juga. Terimakasih.
__ADS_1
Happy Reading 😊**
*Dede....