Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Hamidun.


__ADS_3

Suara roda brankar terdengar nyaring di setiap jalan menuju ruang pemeriksaan. Suara itu semakin cepat, sama halnya dengan kecepatan jantung seorang pria yang tampak risau di depan sang pasien. Pria itu terlihat rapuh ketika melihat istrinya jatuh pingsan tanpa alasan. Entah karena shock, atau karena penyakit lainnya.


Tak lama terdengar suara brankar itu berhenti. Lalu kemudian sang pasien di pindahkan ke tempat pemeriksaan. Ada harap-harap cemas dari raut wajah sang pria. Bibirnya terus komat-kamit membaca setiap ayat suci Al-Qur'an. Dia berdoa agar istrinya di beri kesehatan dan keselamatan.


Sementara dokter tengah memeriksa kondisi sang pasien dengan menggunakan alat USG. Alat itu terus berputar mengitari anggota tubuh yang masih rata, yakni perut.


Masih terus mencari penyebab dari sang pasien jatuh pingsan, tak lama terlihat sebuah kantung dalam kandungan pasien tersebut. Kantung yang berisi nyawa manusia. Sang dokter menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyuman simpul disana.


"Selamat Tuan, istri anda sedang hamil delapan minggu," ucap dokter tersebut. Sementara sang suami pasien masih diam terpaku ketika mendengar informasi yang tak pernah di duganya. Satu tahun masa pernikahan, tak pernah menyebut adanya bayi. Tak pernah berencana akan menjadi orang tua. Namun, Tuhan sangat baik terhadap mereka. Tuhan memberi mereka kepercayaan yang tidak semua orang miliki.


"Hamil dok?" tanya orang itu dengan suara bergetar. Dia menangis haru dalam hati. Beginikah rasanya menjadi orang tua?


"Iya tuan Akemi," jawab dokter yang berjenis kelamin laki-laki itu dengan nada mantap. Ya, akhirnya Shella mengandung. Betapa bahagianya wanita itu jika mengetahui, bahwa dirinya sebentar lagi akan menjadi orang tua.


Akemi yang kini kesadarannya mulai pulih, langsung berdiri dan masuk kedalam ruang pemeriksaan. Dia menyeka tirai yang tak jauh dari tempatnya berada. Mata pria itu kembali berkaca-kaca penuh haru. Dia tak pernah menyangka, jika kasih sayang Tuhan padanya sungguh besar.


Akemi memegang tangan Shella yang terasa hangat. Wanita itu masih belum sadarkan diri. Tak lama Akemi mengecup kening istrinya itu cukup lama, seakan tak ingin melepaskan wanita tersebut.


Merasa keningnya tersentuh sebuah benda kenyal yang menyebabkan keningnya lembab, Shella pun akhirnya tersadarkan. Dia merasa sakit di bagian kepalanya, bahkan rasa mual mulai menyerang wanita berwajah cantik tersebut.


"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Akemi penuh kasih.


"Aku dimana?" balas Shella dengan suara parau.


"Kita sedang di ruang pemeriksaan sayang," jawab Akemi sembari mengusap pipi Shella. Dia tak bosan kala memandang wajah istrinya yang baby face tersebut.


"Sedang apa kita di ruang pemeriksaan?" Sepertinya Shella belum mengingat bahwa sebelumnya tadi dia jatuh pingsan. Shella ingin bangun dari pembaringannya. Namun, Akemi berusaha untuk menahan wanita tersebut. Akan tetapi, Shella sudah merasa tak nyaman dengan posisi berbaring. Akhirnya Akemi mengalah dan membantu istrinya itu untuk duduk.

__ADS_1


"Sayang, aku ada kabar baik untukmu," tutur Akemi sembari menyunggingkan senyuman termanisnya.


"Ada apa? katakan saja, jangan main teka-teki," balas Shella dengan suara yang mulai meninggi. Tiba-tiba saja emosi wanita itu mulai terpancing. Mungkin hormon kehamilan mulai di rasakannya.


"Tenanglah sayang, jangan pasang wajah cemberut seperti itu. Kamu kelihatan jelek," goda Akemi seakan melupakan kondisi Ibrahim yang tadinya mulai kritis. Entah bagaimana kabar pria tersebut. Apakah dia masih hidup atau sudah tiada. Akemi masih belum tahu kabar selanjutnya. Dia terlalu sibuk mengurus Shella, istri tercintanya.


"Ya sudah katakan saja," tandas Shella tak sabar menunggu.


Sebelum menjawab pertanyaan Shella, Akemi tersenyum ala nyengir kuda andalannya, sebelum akhirnya pria itu berkata, " Kamu hamidun sayang." Shella tak menjawab ucapan Akemi, dia hanya diam seakan berusaha untuk mengeja tiap kata dari suaminya itu.


"Hamidun? aku tidak mengenal hamidun Akemi, yang aku tahu adalah Halidun tetangga sebelah kita," tandas Shella tak tahu makna dari kata Akemi. Lagi pula, mengapa juga Akemi menggunakan kata plesetan? sudah tahu Istrinya itu kadang tak sampai otaknya.


"Ah, maafkan aku sayang. Maksudku sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ibu. Kamu hamil sayang," ujar Akemi akhirnya tanpa menggunakan kata plesetan lagi.


Shella cukup terkejut dengan ucapan suaminya itu. Hamil? benarkah dia hamil? kapan? mengapa dia tak merasakan kehadiran anaknya itu dalam tubuhnya? apakah karena dia terlalu sibuk mengurus Ibrahim sampai tak bisa merasakan kehadiran anaknya sendiri?


"Hamil," gumam Shella sembari mengelus perutnya yang masih rata.


"Iya sayang, kamu hamil," jawab Akemi.


Mendengar kalimat Akemi sekali lagi, tangis Shella pun pecah. Dia tak dapat mengendalikan perasaannya yang bercampur aduk.


"Sayang, benarkan aku hamil? apakah aku akan menjadi seorang Ibu?" ucap Shella dengan suara bergetar.


"Iya sayang, kita akan menjadi orang tua," jawab Akemi tak kalah harunya. Pria itu juga menitikan air mata ketika melihat istrinya menangis bahagia.


Sementara dokter yang memeriksa Shella tadi turut bahagia dari balik tirai. Dokter itu sedari tadi diam tanpa kata. Dia hanya mendengarkan percakapan Akemi dan Shella selayaknya seorang pendengar terbaik.

__ADS_1


***


Di tempat yang berbeda, seorang wanita paruh baya tengah menangis dan meraung. Dia menatap nanar putranya yang diam membisu. Putranya kini tak berdaya selayaknya mayat hidup. Bahkan detak jantung putranya itu mulai menurun. Dia terus menyebut nama, "Ella, Ella, Ella." Tiga kali dia menyebut nama wanita yang masih merajai hatinya itu sampai saat ini.


Ibrahim, ya Ibrahim kini hanya mampu menyebut nama Shella di ujung lidahnya yang mulai mati rasa. Tangan pria itu telah kaku, sedangkan matanya mulai rabun.


Nisa tak kuasa menahan air matanya. Dia seorang Ibu yang melahirkan putra dengan sangat sehat. Bahkan untuk makanan sehari-harinya pun terjaga selayaknya pangeran. Akan tetapi, mengapa bakteri mematikan itu bisa masuk dan lolos ke dalam tubuh putrnya? apakah selama ini dia lalai dalam menjaga kesehatannya?


"Ella, Ella, Ella," ucap Ibrahim. Pria itu tak henti-hentinya menyebut nama Shella. Mendengar nama Shella di sebut, Nisa pun akhirnya pergi dan mencari keponakannya itu.


Dia terus berlari menyusuri lorong rumah sakit yang hampir di penuhi orang-orang. Nisa menangis dalam pencariannya. Hati wanita paruh baya itu terluka tak berukuran. Entah mungkin luka itu telah memenuhi sekujur tubuhnya, dan merasuk kedalam jiwanya yang rapuh.


Masih terus mencari, hingga sampailah Nisa di sebuah ruangan pemeriksaan. Tampak Shella dan Akemi baru saja keluar dari ruangan tersebut. Nisa pun langsung memegang tangan Shella dan berkata, " Ibrahim sekarat, dia terus menyebut namamu."


Deg,


Kalimat Nisa menghantam seluruh organ tubuh Shella. Tak dapat di artikan seberapa takutnya wanita itu. Begitu juga Akemi. Pria itu tak jauh berbeda dari apa yang di rasakan oleh Shella.


Shella berjalan cepat dengan menggunakan sisa-sisa tenaganya. Dia seolah lupa, bahwa ada nyawa manusia yang bernaung dalam tubuhnya sekarang.


Hati wanita itu mulai berkecamuk. Dia merasakan takut kehilangan yang luar biasa. Benarkah Ibrahim akan pergi untuk selamanya? benarkah pria itu tak bisa bertahan lagi? mengapa mukjizat itu tak berpihak pada Ibrahim?


Lalu kemudian Shella pun berkata, "Jangan lupa like dan vote ya readers."


Happy reading.


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2