Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Bab. 57. Memamerkan Kreatifitas.


__ADS_3

Pagi yang cerah menyambut hangatnya tubuh dan jiwaku, sehangat pergumulan panas dan liar kami berdua semalam. Ingin rasanya aku mengulang momen itu dan merekamnya agar aku bisa memamerkan Kreatifitas ku pada Alex agar pria itu tau jika Alea adalah milikku seutuhnya sekarang. Ya..., meski pria itu tidak tau apa-apa sih jika Alea menyukainya. Hehe.


Aku sengaja melingkarkan lenganku di pinggul istriku itu, aku tidak ingin melepaskannya kali ini. Kami sudah menyatu, tubuh kami telah bertautan, semoga saja akan ada hasilnya agar Alea tidak memiliki alasan untuk meninggalkanku nanti, mengingat sepengatahuan Alea pernikahan kami hanyalah sebatas kontrak. Jika benihku tumbuh di rahim Alea, maka aku akan melamarnya dengan benar dan mengungkapkan semua perasaan ku padanya selama ini tanpa ragu dan beban.


Alea telah bangun dari tidur panjangnya, mungkin dia lelah karena pergumulan yang entah berapa kali kami melakukannya semalam.


"Mmmmm--- selamat pagi".


Ucapku sambil membenamkan kecupan di kening Alea, sejujurnya aku ingin mencium bibir Alea dan mengulangi pergumulan kami semalam, namun aku membelokkan haluan agar Alea tidak berpikir jika aku adalah seorang maniak. Bagiku tubuh Alea bagaikan candu.


Wajah Alea berubah menjadi merona dan terus menatap wajah ku. Wah, sepertinya akan seru jika aku menggodanya.


"Apa aku setampan itu hingga matamu tidak berkedip?. Awas nanti kamu ileran loh". Ucapku sambil tersenyum menggoda. Tentu saja Alea mengelak, wanita itu masih saja bersembunyi di balik wajahnya yang polos. Namun aku tidak kehabisan akal untuk terus menggoda istriku itu.


Merasa jengah dengan godaan ku, Alea menarik selimut dan ingin melangkah ke kamar mandi, namun dia terjatuh. Mungkin aku terlalu agresif semalam sehingga Alea menjadi kelelahan dan tak bisa berdiri dengan tegak. Aku tak membuang kesempatan itu untuk menggendong Alea ke kamar mandi dan masih berlanjut menggodanya.


"Jika butuh sesuatu maka jangan sungkan untuk memberitahuku, aku akan dengan senang hati membantu mu". Ucapku sambil mengedipkan mata. Dan ya, itu berhasil membuat rona merah di wajah Alea.


Aku menutup pintu dan berkata,


"Yes, aku berhasil. Akhirnya kamu menjadi istriku seutuhnya Alea Marwah".


Aku bersorak kegirangan, melompat, tertawa, dan terus tersenyum seperti orang gila. Jika ada yang melihatku seperti ini mungkin orang akan mengatai ku tidak waras.

__ADS_1


Senyuman bahagia masih saja menghiasi wajah ku, hingga sebuah benda kecil mengubah segala rasa bahagiaku itu menjadi pias. Ya, aku melihat kamera digital kecil terpajang di belakang pot bunga hias yang terdapat di sudut meja rias Alea. Aku melupakan pembicaraan Papi tempo lalu bahwa ada kamera CCTV yang di letakan di kamar kami, namun karena terlalu terbuai dengan percintaan kami, aku melupakan hal sepenting itu. Aku mengeratkan tanganku, ada rasa marah dan kecewa pada orang tuaku yang menurutku terlalu jauh mengikut campur urusan rumah tangga ku. Aku bukanlah penjahat. Pikirku.


Alih-alih ingin membuang benda kecil si*lan itu, aku justru membiarkannya tanpa menyentuh atau memindahkan sedikit pun. Aku tidak ingin kedua orang tua ku curiga jika aku mengetahui rencana mereka. Biarkan saja mereka berpikir jika aku telah berhasil mereka kelabui. Aku ingin membalikan permainan dan membuat orang tua kami tidak bisa memantau kami kapanpun mereka mau, yaitu pindah rumah. Yah, kami harus tinggal di rumah kami sendiri. Aku memang sudah membeli rumah di kawasan perumahan elit, namun karena mengingat permintaan Mami, aku mengurungkan niatku untuk menempati rumah itu. Tapi sekarang tidak lagi, aku tidak suka di intai seperti penjahat. Aku harus mencari alasan dan waktu yang tepat untuk pindah dari rumah ini agar orang tua kami tak merasa curiga.


*****


Setelah percintaan kami yang begitu membuatku kecanduan, aku meminta Alea untuk tidur seranjang denganku. Ya, aku tidak ingin tidur terpisah lagi. Bagiku seluruh aroma tubuh Alea bagaikan candu yang memabukkan. Aku ketagihan padanya hingga hampir tiap malam kami bercinta dengan hasrat yang menggebu-gebu. Kali ini kami melakukannya tanpa tuntutan sepihak, namun keinginan kami berdua. Aneh saja Alea menerima pergumulan kami tanpa beban. Apakah itu artinya dia sudah membuka hatinya untuk ku?. Pikirku.


Aku meminta Alea untuk bersama-sama berangkat ke kantor. Hal itu terjadi sudah satu bulan terakhir ini semenjak kami bercinta. Pagi itu aku terlalu bahagia hingga wajahku selalu terhias dengan senyuman, namun pertanyaan Andre membuat mood ku menjadi buruk. Andre mengucapkan pertanyaan candaan hingga tak sengaja aku mengatakan jika Alea bukanlah wanita penting di hidupku. Dan sialnya ucapan yang tidak aku sadari itu di dengar oleh Alea hingga sebuah cangkir kopi yang aku pesan pecah berserakan ke lantai. Aku melihat wajah Alea berubah pias. Matanya mulai berkaca-kaca. 'Astaga, aku melakukan kesalahan fatal. Apakah Alea marah padaku?'. Batinku bertanya-tanya.


Seperti biasanya Alex selalu menjadi dewa penyelamat untuk Alea. Aku sakit hati, cemburu, marah dan kecewa. Mengapa Alea menerima perlakuan Alex tanpa beban?. Apakah aku tidak berharga dimatanya?. Padahal aku ini suaminya. Pikirku. Karena merasa cemburu aku pun berusaha untuk memisahkan adegan yang menurut ku sangat menyakitkan itu. Dan beruntungnya Alea pergi meninggalkan kami bertiga dalam ruangan yang membuatku panas karena cemburu.


Karena cemburu yang menguasai akal dan pikiranku, aku jadi melupakan niatku untuk memberitahu Alex jika aku berhasil bercinta dengan Alea dan akan mengatakan padanya jika aku mencintainya istriku itu. Padahal sedari pagi aku berniat untuk berbagi banyak hal pada Alex. Ya, Alex adalah sahabat sekaligus mentorku setiap kali dalam mengambil tindakan. Bagaikan penasehat handal buatku, Alex selalu berhasil membuatku berpikir normal ketika aku merasa Dejavu. Tapi kali ini, aku cemburu pada sahabat ku, namun tidak membuatku mendendam padanya. Anehnya, hal itu aku lampiaskan pada Alea. Entah aku memarahi wanita itu atau mengajaknya bercinta. Begitulah caraku menyalurkan emosi dan hasrat ku pada Alea.


****


Pagi itu Alea sudah tampak cantik dengan menggunakan dress bermotif bunga melati. Bahkan kali ini dia tidak menggunakan kacamata yang biasa menghiasi wajahnya. Tentu saja hal itu membuatku takut. Takut jika istriku akan di lirik kebanyak pria di luar sana dan menggoda dirinya.


"Kamu mau kemana?". Tanyaku.


"Aku mau ke rumah mama beberapa hari ini". Jawab Alea. Mendengar itu, membuatku semakin takut. Takut berjauhan dari istri tercinta ku itu. Terlebih lagi dia mengubah penampilannya yang menjadi lebih cantik dari biasanya. Jadi aku memutuskan untuk ikut dengannya. Lagi pula, selama menikah kami belum pernah sekalipun menginap di rumah mertuaku tersebut. Kami hanya sekedar mengunjungi mereka. Mumpung hari Sabtu, jadi tidak ada salahnya jika kami menghabiskan waktu di rumah orang tua yang telah melahirkan istri cantikku ini.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC.


Hay Readers. Jika kalian merasa bingung dengan part Javier PROV, Author cuma mau bilang, kalau part ini seperti flashback ala Javier agar kalian tahu perasaan Javier yang sebenarnya pada Alea selama ini. Nanti setelah itu Author akan tulis kembali alur ceritanya menjadi maju alias flashback off ala Javier. Sekian dan terimakasih ya Readers.😊


Happy Reading 😊


*Dede...

__ADS_1


__ADS_2