Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Bab. 48. Aku Menangis. (Javier PROV).


__ADS_3

Di sebuah club. Aku dan dua sahabat ku Alex serta Andre tengah merayakan kesuksesan dari kerjasama antara perusahaan ku dan Tuan Handoko. Aku tidak suka meminum minuman beralkohol, aku lebih suka memesan minuman bersoda. Bagiku minuman bersoda jauh lebih menyenangkan di bandingkan minuman laknat yang dapat merusak hati dan pikiran.


Aku melihat Alex sahabat ku yang di kagumi oleh Alea sedang duduk minum di temani oleh dua wanita malam. 'Inikah pria yang di cintai oleh Alea?. Apa istimewanya pria ini?. Bahkan aku lebih tampan darinya, aku juga punya segalanya'. Batinku. Aku tersenyum kecut akan pikiranku yang mulai kacau.


"Baiklah, kalian nikmati malam ini. Aku sudah membayar semuanya. Aku duluan ya". Pamit ku tanpa mendengarkan jawaban dari kedua sahabat ku.


Aku hendak keluar dari club, tapi tiba-tiba saja aku menabrak tubuh seseorang yang tidak ingin aku lihat wajahnya selama ini.


"Javier?"


"Anditya?". Hatiku bertambah panas ketika melihat wajah pria yang tega mengkhianati ku di masa lalu. Aku mengabaikan Aditya, hatiku sudah cukup sakit dan panas mengingat Alea mencintai Alex, aku tidak ingin menambah masalah pelik di hatiku.


Aku meninggalkan club dan langsung ke Apartemen yang biasa aku gunakan jika aku merasa kacau. Pandangan ku mengarah pada langit-langit kamar setelah aku berbaring. Aku ingat ucapan Alex jika Airin telah kembali dan ingin bertemu denganku. Aku tahu hal ini akan terjadi, dimana dia akan datang dan meminta maaf atas pengkhianatan yang di lakukan oleh dirinya padaku. Tapi aku tidak mempermasalahkan itu saat ini, aku hanya fokus pada hatiku yang patah karena Alea menolak ku, bahkan sebelum aku mengungkapkan cintaku.


Aku mengambil ponselku dengan niat ingin menghubungi Airin agar dia tidak perlu bersusah payah untuk bertemu dan meminta maaf padaku.


Aku memencet nomor ponsel yang menurutku itu adalah Airin.


"Mengapa kamu kembali lagi ha?. Apakah kamu ingin menghancurkan hatiku? Memporak-porandakan hidupku?. Hiks... Hiks...Hiks...".


Aku membentak orang yang di balik ponselku dengan perasaan yang menggebu-gebu. Aku menangisi nasibku yang serasa di permainkan oleh takdir tanpa memperdulikan seseorang yang di balik ponselku.


"Hallo pak?. Apakah bapak mendengar ku?".


Mengapa Airin memanggilku bapak?. Sejak kapan wanita itu memanggilku secara formal?. Dan suara itu... sepertinya sangat familiar. Apakah aku sedang berhalusinasi?.


Aku melihat layar ponselku untuk memastikan apakah aku sekedar berkhayal atau itu nyata, dan benar saja layar ponselku tertulis...


Alea Wanitaku...


Oh, astaga... sebegitu frustasinya kah aku hingga Airin aku sangka Alea?. Lihatlah, bahkan nama Alea yang aku tulis di ponselku adalah 'Alea Wanitaku'. Sejak Andre mengirimkan aku nomor ponsel Alea, aku langsung menulis nama Alea dengan sebutan yang aku beri sendiri.


Tanpa mendengarkan ucapan Alea selanjutnya aku mengakhiri panggilanku dan membuang asal ponselku di atas tempat tidur. Aku mengusap wajah ku dengan kasar, aku merasa frustasi. Alea mendengarkan sisi lain dari diriku yang cengeng. Wanitaku akan menganggap aku pria dingin yang cengeng. Tidak tahukah kau Alea, aku menangisi dirimu yang menolak ku bahkan sebelum aku meraih mu.

__ADS_1


Jika dulu aku terkhianati oleh Airin, aku mengabaikan kekecewaan ku dengan bekerja keras hinggap mencapai kesuksesan, namun penolakan Alea melumpuhkan hati dan juga jiwaku. Aku tidak pernah merasa sesakit ini sebelumnya.


*****


Di kantor, aku berusaha untuk bersikap normal. Namun aku melihat Alea menatap Alex dengan tatapan mendamba, tatapan penuh cinta. Aku sangat terpukul saat itu, hingga aku memarahi Alea atas apa yang tidak di lakukan nya.


"Apakah kamu tidak bisa mengerjakan sesuatu dengan benar?. Apa aku menggaji mu hanya untuk melakukan kesalahan?".


Kalimatku itu seolah menghunus jantungku sendiri. Aku yang memarahi Alea, tapi hatiku pula yang menangis.


"Maaf pak, aku akan memperbaiki semuanya". Tutur Alea dengan mata berkaca-kaca. Mungkin dia terkejut dan juga saki hati karena aku membentaknya, aku melihat dirinya yang mungkin sedikit bingung dengan sikapku yang tiba-tiba saja marah. Dan Alex menyelamatkan Alea dari kemarahan ku, sungguh pria penyelamat, pikirku.


Alex menyuruh Alea supaya meninggalkan aku dan dirinya dan Alea pun meninggalkan kami berdua.


"Vir, apa yang lo lakukan pada Alea?. Lo membuatnya takut". Tutur Alex, membuat hatiku semakin panas. Bukannya tenang namun jiwaku justru seolah terbakar cemburu buta dengan pembelajaran Alex. Tapi aku berusaha untuk mengontrol emosiku,


"Dia melakukan kesalahan, lalu apa yang kamu harapkan?. Berharap aku memuji dirinya?" Tutur ku dengan wajah dingin dan angkuh.


"Vir, dia tidak tahu apa-apa tentang obsesi mu. Jangan jadikan dia sebagai bahan pelampiasan kemarahan mu".


Aku tidak menjawab ucapan Alex, aku hanya diam saja dan melihat Alea yang tampak termenung. Entah apa yang di pikirkan olehnya, tapi aku bisa pastikan jika ia sedang mengumpat ku, atau bahkan mungkin menyumpahi ku agar cepat lenyap dari muka bumi ini. Alea selalu menyebutku dengan sebutan... Bos kura-kura.


Percayalah, melihat Alea yang tampak sedih karena ulahku, hati ku pun ikut merasa sedih. Tidak, hatiku bukan hanya sedih, tapi juga... menangis.


"Maafkan aku Alea atas keegoisan ku. Aku tidak tahu harus bagaimana untuk mendapatkan dirimu. Pengalaman ku di masa lalu tidak bisa menghantarkan keberanian ku untuk mengungkap segala rasaku padamu". Tutur ku penuh sesal.


*****


Di sebuah Hotel ternama. Aku melihat Alea sedang bercakap-cakap bersama pegawai hotel. Entah apa yang mereka bahas, tapi ada satu momen dimana hal itu membuatku terperangah. Alea di peluk hangat oleh pria paruh baya. Tidak mungkin Alea ku seorang simpanan om-om kan?. Aku harus memastikan sesuatu. Dan entah dari mana pula pikiran iblis ku muncul, aku mengabadikan momen itu dengan merekam kebersamaan mereka lewat ponselku.


Aku terus mengikuti Alea dan pria paruh baya itu hingga ke dalam kamar hotel. Dari balik kamar hotel aku mendengar suara,


"Surprise..."

__ADS_1


Apakah mereka sedang merayakan sesuatu?. Aku bermain-main dengan argumenku sendiri hingga kenop pintu bergerak seperti akan ada seseorang yang keluar dari kamar itu. Aku bersembunyi di balik pohon hias ujung kamar hotel, dan tak lupa pula aku mengabadikan Alea dan pria paruh baya tadi, aku seperti mendapat firasat bahwa rekaman ini akan membawa keberuntungan buatku. Aku tersenyum menyeringai seolah memenangkan sesuatu yang bernilai tinggi.


"Alea, kena kau. Kali ini kamu tidak akan aku lepaskan". Kataku sambil tersenyum penuh kemenangan.


Aku mengikuti Alea hingga ke parkiran Hotel sedang mengendarai mobil sport yang harganya fantastis. Apakah Alea anak orang kaya?. Tapi mengapa dia bekerja padaku?. Dan aku pun teringat ketika pertama kali mengantar Alea pulang sehabis lembur. Rumah Alea tampak mewah, aku rasa Alea bukanlah wanita sembarangan. Pikirku.


Dan aku pun meninggalkan hotel menuju kediaman kedua orang tua ku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC.


Hay Readers. Mohon maaf ya jika Author harus mengulang cerita dari episode pertama, tapi ini versi Javier ya, agar kalian tahu isi hati si Babang tamvan yang sesungguhnya tentang Alea.😁


Jangan lupa like dan vote. Beri bintang juga ya. Terimakasih.


Happy Reading.

__ADS_1


*Dede...


__ADS_2