
Pesta itu masih berlangsung meriah. Meski Mama Papa sudah pulang. Sedangkan Delon masih asik tebar pesona pada Naomi. Pria itu tak pernah jerah dalam mengejar cinta Naomi. Meski menerima penolakan setiap hari.
Sementara sebagian kolega Akemi sudah pulang, tetapi dua pasang mata Jahat masih setiap mengintai Shella. Ya, Nisa dan Suaminya yang bernama Ginanjar itu masih berada di pesta. Mereka belum mau beranjak sebelum berhasil menyakiti Shella.
Shella menyapa semua para tamu dengan ramah. Senyuman wanita itu tampak sangat tulus dan alami. Shella menuju meja untuk mengambil air mineral. Sementara Akemi sibuk menemani salah satu koleganya membicarakan perihal bisnis mereka.
Tak lama Shella merasa lengannya seperti di sentuh oleh seseorang. Shella menoleh ke arah orang tersebut. Betapa terkejutnya wanita itu ketika melihat Nisa berdiri tepat berada di depannya. Jantung Shella mulai berdegup kencang. Tubuhnya gemetar, mata wanita itu seakan ingin melompat keluar.
"Tante Nisa?" ucap Shella akhirnya.
"Apakah kamu sedang bersenang-senang sekarang?" bisik Nisa dengan tatapan penuh kebencian.
"Apa maksud Tante?" suara Shella bagai tercekat di tenggorokan.
"Maksud aku? kembalikan Putraku!" bentak Nisa dengan masih berbisik. Kening Shella berkerut dalam hampir menyatu. Wanita itu tak memahami apa maksud dari Nisa. Kembalikan putranya? ada apa dengan putranya? pikir Shella.
"Maaf Tante, saya tidak paham apa maksud Tante. Permisi." Shella ingin pergi meninggalkan Nisa. Dia tak mau membuat keributan di tengah acaranya sendiri. Jika hal itu terjadi, entah apa yang akan di pikirkan Akemi tentang dirinya. Namun, sebelum dia berhasil pergi, Nisa mencegah wanita cantik tersebut.
"Jangan pura-pura tidak tahu Shella! kamu kan yang menuntun putraku pergi dari kami? kamu yang menarik dirinya untuk pergi meninggalkan kami! jika sesuatu terjadi pada putraku, aku tidak akan segan-segan untuk menghancur kan dirimu. Dasar wanita pembawa sial! lihat saja, sebentar lagi suami yang kamu bohongi itu akan tahu siapa kamu sebenarnya. Aku akan membuka topeng mu!" ancam Nisa panjang lebar, dan berlalu meninggalkan Shella yang tampak terkejut.
Ibrahim pergi? kemana dia? apakah dia benar-benar meninggalkan orang tuanya demi bersama dirinya? apakah Ibrahim masih memperjuangkan cinta mereka sampai saat ini?
Shella melihat ke arah Akemi yang sedang tertawa lepas bagai tanpa beban. Wajah Shella penuh rasa bersalah. Bagaimana bisa dia akan mengkhianati pria sebaik Akemi? apakah dia akan mencari Ibrahim dan mengabaikan Akemi? pria itu tidak pantas mendapatkan ketidakadilan. Dia sangat pantas mendapatkan cinta. Lalu bagaimana bisa Shella mengungkapkan seberapa besar cintainya pada Akemi? sementara ada pria lain yang sedang memperjuangkan dirinya di luar sana, tanpa mengetahui statusnya sekarang.
"Akemi, maafkan aku harus membuat mu menunggu sedikit lama. Aku tahu kamu ingin mendengar balasan cinta dariku. Tapi aku tak sanggup mengungkapkan nya. Bagaimana aku harus jujur padamu sayang? ada hati yang aku patahkan tanpa sengaja di luar sana," monolog Shella.
Sementara Akemi yang tengah asik berbincang-bincang bersama koleganya, tiba-tiba dia menoleh ke arah Shella. Pria itu menatap penuh cinta pada istrinya tersebut.
Akemi melihat ada sesuatu yang berbeda dari istrinya itu. Dia bertanya pada Shella melalui bahasa tubuhnya dengan menggunakan dagu. Namun, Shella membalas dengan senyuman penuh sesal.
Tak lama Akemi mendekati Shella. Sadar akan kedatangan suaminya, Shella menyeka sisa-sisa air mata yang berada di sudut matanya.
__ADS_1
"Ada apa sayang? apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Akemi dengan sedikit risau, namun masih menjaga ketenangannya.
"Apakah aku boleh masuk sekarang?" pinta Shella. Akemi merasa ada yang berbeda saat ini dari istrinya itu. Bukankah tadi Shella baik-baik saja? Namun, Akemi tak ingin bertanya. Saat ini bukanlah waktunya untuk bertanya. Mereka akan membahas itu setelah pesta usai.
"Tapi kamu bintang nya malam ini sayang." Akemi masih berusaha untuk membujuk Shella agar tetap bertahan di tengah kerumunan orang.
"Tapi maaf, tiba-tiba saja kepala ku sakit," bohong Shella.
"Baiklah, aku akan menyusul mu. Istirahat lah di dalam."
"Terimakasih."
Akhirnya Shella pergi meninggalkan Akemi di tengah pesta yang sedang berlangsung. Sementara Akemi merasa curiga ada yang berbeda dari Shella.
"Aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku Shella," gumam Akemi.
***
"Ibrahim, mengapa kamu masih berjuang? aku sudah katakan padamu waktu itu, jangan mengharapkan aku lagi. Tapi mengapa kamu justru lari dari orang tua mu? hiks, hiks." Tangisan Shella tercekat di tenggorokan. Ingin rasanya wanita itu berteriak keras agar merasakan keringanan. Namun, sekali lagi dia harus memendam semua perasaan nya.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu kembali pada mereka? kita tak bisa bersama Ibrahim. Bahkan seandainya waktu memberi kita kesempatan, kita tetap tak akan bisa bersama."
Cinta Ibrahim bagaikan sebuah dongeng yang tak di tahu kenyataan nya. Cinta itu perlahan menguap dan menghilang. Cinta yang dulu di pujanya, kini berbelok arah. Bukannya tak setia, atau tak cinta. Hanya saja mereka terlalu berbeda.
Shella tak kuasa menahan beban di dada, hingga dia menumpahkan segala rasa di sudut ruangan seorang diri. Ingin bercerita pada Akemi, tetapi rasa takut masih menyelimuti hati wanita tersebut. Apakah dia akan tega berbagi kisah bersama pria yang begitu banyak memberinya cinta dan penghargaan? sedangkan kisah itu merupakan kisah antara dirinya dan masa lalu. Masa yang ingin di buang jauh. Apakah Shella akan tega membuka kisah pria lain pada pria lainnya yang di ketahui telah jatuh cinta padanya setiap hari? Apakah Akemi akan paham, bahwa tangisan Shella pada Ibrahim merupakan tangisan empati dan bukannya cinta? bagaimana jika Akemi justru salah paham dengan kisah itu?
"Apa yang harus aku lakukan? Tuhan bantu aku. Beri aku petunjuk-MU."
Tak lama terdengar suara langkah kaki yang semakin dekat di indera pendengaran Shella. Dia menyeka air matanya, lalu berganti pakaian di kamar mandi sebelum langkah itu berhasil memasuki kamar.
Sepuluh menit kemudian Shella keluar dari kamar mandi dengan raut wajah yang segar seakan tak terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Akemi? apakah orang-orang di luar sudah pulang?" tanya Shella datar. Kening Akemi sedikit berkerut.
"Maaf tadi aku meninggalkan mu disana. Kepalaku tak bisa di ajak kompromi," lanjut Shella kemudian.
"Kepala mu atau hatimu yang tak bisa di ajak kompromi?"
Deg,
Pertanyaan Akemi sukses menciptakan ketakutan di hati Shella. Wanita itu menjadi canggung.
"Apa maksudmu? hatiku baik-baik saja," balas Shella berusaha senormal mungkin.
"Benarkah?" sangsi Akemi.
"Tentu saja." Masih tetap mengelak. Padahal sejatinya hati wanita itu sedang tak bersahabat.
"Tapi hatiku yang tak bisa di ajak kompromi sekarang," tutur Akemi sembari memeluk tubuh Shella dengan hangat.
"Hatiku merindukan mu sayang, aku benar-benar sangat merindukan mu," lanjut Akemi kemudian. Dalam hati Shella mengucap syukur. Ternyata suaminya itu tak merasa curiga sama sekali jika hatinya benar-benar tengah gusar.
"Bukankah kita setiap hari bersama?" jawab Shella.
"Bahkan dengan hanya bersama saja tidak akan cukup sayang, kecuali..." Akemi menggantung kan kalimat nya. Shella beralih melihat mata Akemi. Mata itu sudah berubah menjadi tatapan mendamba ketika menginginkan duren Shella. Dia sangat hafal betul bagaimana tatapan pria itu.
"Kecuali bela duren?" jawab Shella.
"Anak pintar."
Dan dua insan yang di mabuk kepayang itu pun, kembali melakukan acara bela duren di malam hari.
To be continued.
__ADS_1