
Berada dalam kamar sampai seminggu lebih, membuat Shella merasa jenuh. Akhirnya wanita itu keluar dari kamarnya untuk sekedar berjalan-jalan. Wanita itu merindukan sinar mentari di pagi hari.
Shella berjalan-jalan mengelilingi rumah kos, dia berjalan sembari menghayal. Entah apa yang di pikirkan oleh wanita cantik tersebut. Tak lama Shella merasa tubuh nya di tarik oleh seseorang, lalu kemudian di tampar.
Plak,
Shella menoleh ke arah seseorang yang telah menampar dirinya secara membabi buta.
"Tante Nisa?"
Tante Nisa merupakan Ibu dari Ibrahim. Wanita paruh baya itu menatap Shella dengan tatapan membunuh. Entah apa yang membuat Ibu dari mantan kekasih Shella itu marah dan ingin menerkam Shella saat itu juga.
"Aku sudah katakan padamu, jauhi putraku! tapi mengapa kamu tidak mau mendengarkan juga, ha? tidak tahu malu!" Bentak Tante Nisa. Shella menjadi bingung hingga keningnya berkerut penuh tanya.
"Apa maksud Tante? aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Kak Ibrahim," terang Shella dengan suara gemetar.
"Bohong kamu!" Ibu Nisa menangkup pipi Shella dengan kasar sembari berkata, "Apa kamu pikir aku anak kecil, ha? kamu bertemu putra Tante di jalan beberapa waktu lalu kan? kamu berusaha untuk merayu dia lagi kan? mengapa kamu muncul lagi di hadapannya, ha?" Ternyata malam dimana Shella bertemu dengan Ibrahim di jalan, Ibu pria tersebut melihat keduanya. Wanita paruh baya itu sedang dalam perjalanan bisnis, dan tak sengaja melihat Ibrahim dan Shella sedang berada di jalan.
__ADS_1
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya Tante," jawab Shella sungguh-sungguh.
"Mengapa kamu tidak menghindarinya? apakah kamu sengaja memberitahu alamat mu sama Ibrahim sampai dia tahu kamu ada di kota ini?" Tanya Tante Nisa.
"Tidak Tante, sumpah demi Ibu saya. Saya tidak melakukan itu," bantah Shella sungguh-sungguh. Namun, tak membuat wanita paruh baya itu percaya begitu saja. Dia masih terus menyalahi Shella atas kegilaan anaknya yang rela pergi ke ibu kota hanya untuk mengejar Shella. Padahal dia tahu betul Shella tidak akan melakukan hal itu. Terlebih lagi Shella tak memiliki ponsel.
"Sumpah demi Ibu kamu? kamu bahkan tidak memiliki Ibu. Orang tua mu sengaja membuang kamu di Panti Asuhan karena kamu pembawa sial!" Sakit, hancur, dan terluka. Itulah perasaan Shella saat ini. Meski dia anak yatim piatu, tapi bukankah tidak seharusnya dia di perlakukan tak wajar seperti itu? sungguh miris nasib Shella. Dia harus menanggung beban yang sama sekali tidak di inginkan nya.
"Tante!"
"Apa? apa kamu mau mengatakan, bahwa kamu tidak di buang melainkan di titip di Panti Asuhan itu? lalu apa bedanya?" Shella tak habis pikir, bagaimana bisa ada manusia yang tak berperasaan seperti Tante Nisa? padahal mereka dari keluarga berpendidikan, tapi sifatnya menggambarkan manusia yang tak memiliki hati nurani.
"Salah mu adalah karena kamu sudah berani merayu putra ku. Dia adalah aset berharga kami. Kamu tidak selevel dengan kami. Jadi pergilah yang jauh. Jika kamu bertemu lagi dengannya, maka lari lah sejauh mungkin. Bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun, paham kamu?" Tante Nisa mendorong Shella hingga wanita itu jatuh terpental ke tanah. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menyaksikan keduanya sedari tadi.
**
Hati Shella hancur lebur. Masih jelas terasa luka yang di torehkan oleh kedua orang tua Ibrahim, kini luka itu seakan menganga kembali. Sakit hati yang di rasakan wanita itu, telah menggumpal di dalam sana. Hatinya sakit dan terbakar. Bahkan air matanya seakan terasa kering. Tak tahu lagi harus berbuat apa. Penghinaan dan penolakan secara bertubi-tubi yang di rasakan oleh Shella sangat membekas di hati dan benak wanita tersebut.
__ADS_1
"Apa salahku Tuhan? mengapa semua ini harus aku alami? hiks, hiks." lirih Shella. Dia menangis pilu di sudut ruangan sempit sembari menggigit selimut agar tak terdengar oleh siapapun. Dia meratapi nasib yang tak berpihak padanya. Hidupnya seakan di permainkan oleh takdir. Di satu sisi dia ingin merasakan kehidupan yang layak untuk di cintai, tapi di sisi lain dia terlalu takut untuk melangkah. Bahkan ketika Akemi melamar dirinya, dia terlalu takut untuk menerima. Bukan hanya karena Shella merasa, bahwa Akemi telah memiliki seorang kekasih, tetapi karena dia juga merasa terlalu kecil di antara yang lain.
Ya, Shella merasa tak pantas untuk siapapun. Dia takut untuk jatuh cinta, terlebih lagi pada seorang pria yang derajatnya jauh lebih tinggi di bandingkan dirinya yang hanya sebatang kara. Bahkan kerabat nya justru menolak keberadaan dirinya. Lalu bagaimana bisa dia menerima lamaran Akemi yang jauh melebihi Ibrahim?
**
Di tempat yang berbeda, Akemi mendapatkan informasi dari anak buah yang di perintahkan kemarin untuk menyelidiki Shella. Akhirnya pria bertubuh tinggi itu mendapat informasi dari orang terdekat wanita tersebut. Bahkan pria itu juga sudah mulai menjaga Shella sesuai dengan perintah Akemi. Hanya saja, ketika kejadian dimana Shella di tampar oleh Tante Nisa, pria tersebut diam tak bergeming. Dia hanya memberi informasi tersebut kepada Akemi yang merupakan Bosnya.
Ya, pria yang menyaksikan Shella dan Tante Nisa adalah anak buah dari Akemi.
"Baiklah, kerja yang bagus. Terimakasih atas informasinya. Terus awasi wanita itu. Jangan sampai dia terluka," ucap Akemi dengan raut wajah geram. Pria itu merasa sakit ketika mendengar informasi dari anak buahnya.
"Shella di tampar?" Akemi mengeratkan genggaman tangannya hingga buku-buku jarinya tampak pucat.
"Akan aku pastikan kamu tidak tersakiti lagi Shella. Tunggu aku yang akan menjemput mu." Akemi semakin memantapkan hatinya untuk menikahi Shella. Bukan karena ingin mengangkat harkat dan martabat Shella, tetapi dia benar-benar ingin melindungi wanita itu. Cintanya pada Shella tiada tara, tak terbatas oleh ruang dan waktu. Katakanlah Akemi egois, tapi pria itu benar-benar tulus mencintai Shella.
Api cinta yang membara di dalam dada Akemi telah membara hingga membakar jiwa. Cinta itu tak bisa di kendalikan lagi. Tak ada satu orang pun yang mampu memadamkan gelora api cinta seorang Akemi Alexander Gautam.
__ADS_1
Dia belajar mencintai lewat Shella, meski hanya dalam hitungan jam keberasamaan di antara mereka. Cinta itu tumbuh dan berkembang hingga sedemikian rupa. Dan rasanya merasuk ke dalam jiwa.
To be continued.