
Papa Alea meninggalkan tempat dimana ia melihat Javier dan putrinya dari balik tirai yang dimana dalam ruangan tersebut masih terdapat menantu yang di sayanginya setulus hati.
Javier tersenyum menyeringai seolah memenangkan suatu pertarungan.
Ia menoleh dimana tempat Papa Alea menyembunyikan diri dari balik tirai.
"Aku tau kalian menginginkan pernikahan ini menjadi nyata. Tapi sebelum itu terjadi aku akan mengakhiri semuanya. Kalian selalu memantau setiap langkah ku kan?. Kali ini aku akan membuat kalian gigit jari". Javier tersenyum menyeringai, senyuman itu adalah senyuman Devil yang tidak banyak diketahui oleh orang lain. Ya, sesungguhnya Javier hanya bersandiwara pada kedua orangtuanya, jika ia sanggup membahagiakan Alea. Pun kepada kedua mertuanya. Selama lima bulan pernikahan ia harus berpura-pura seolah menginginkan pernikahan ini, menerima dengan tangan terbuka. Hal itu dilakukan karena kesepakatan kedua orang tua mereka adalah Javier dan Alea harus bisa saling menerima dan mencintai. Orang tua mereka selalu mengintai Javier dan Alea dimana pun itu, termasuk di kamar pribadi Javier. Parahnya kedua orangtua Javier memasang CCTV di kamar yang di tempati Javier dan Alea untuk memastikan apakah Javier memperlakukan Alea dengan baik. Karena hal itu lah ia harus melakukan hal gila, ia rela bercinta dengan wanita itu tanpa memikirkan resiko kedepannya, apakah wanita itu akan hamil atau tidak. Namun hal itu di ketahui oleh Javier ketika dirinya tanpa sengaja mendengar pembicaraan kedua orang tua dan mertuanya lewat telpon, bahwa mereka ingin melihat sampai sejauh mana Javier memperlakukan Alea. Namun kali ini Javier telah sampai pada titik kesabaran nya. Pria itu mengepalkan tangannya seolah ingin menyelesaikan suatu misi.
"Baiklah Pa. Kali ini kalian tidak akan bisa menangkap ku lagi. Kali ini kalian yang akan mengikuti permainan ku". Javier bermonolog, tak lupa pula senyum Devil menghiasi wajah tampannya.
******
Waktu telah menunjukan pukul 16.30, Alea baru saja kembali dari tempat dimana ia mengunjungi Bibi Ester yang menjadi tempat curhat selain sahabatnya Dina dan Ayu. Wanita itu memasuki kamarnya dimana dalam kamar tersebut suaminya duduk di atas ranjang sambil melipat kedua tangannya di atas dada.
"Sudah puas bermainnya?". Tanya Javier dengan wajah datar.
"Tentu saja aku puas. Apa kamu tau, aku sangat bahagia hari ini. Aku bebas bercerita pada Bibi. Dan kami melakukan banyak hal seperti aku masih kecil dulu". Cerita Alea antusias, membuat Javier tersenyum. Senyuman yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu arti dari senyumannya itu.
"Benarkah?. Apa kamu juga menceritakan tentang aku?". Tanya Javier seolah ingin menggoda wanita itu. Baginya Alea adalah boneka, saat ia butuh untuk di jadikan permainan, maka ia akan mengambilnya dalam lemari untuk menghibur dirinya, namun ketika bosan, boneka itu di letakan kembali dalam lemari. Begitu seterusnya.
"Tentu saja aku menceritakan tentang mu. Aku bilang pada Bibi kalau kamu itu pria menyebalkan dan sangat angkuh". Jawab Alea dengan wajah kesal yang di buat-buat seolah memprotes pada Javier. 'Tidak Vir, aku cerita pada Bibi bagaimana perasaanku padamu saat ini. Aku... mencintaimu Javier Alexander Gautam'. Alea membatin sambil tersenyum.
"Hei, apa kamu mendengar ku?". Javier membuyarkan lamunan Alea.
"Ah, ia. Apa kamu mengatakan sesuatu?". Tanya Alea dengan sedikit Canggung, ia hampir saja ketahuan mengagumi suaminya itu.
"Lupakan saja. Sebaiknya kamu mandi. Ada yang ingin aku sampaikan padamu". Titah Javier.
"Baiklah".
*****
30 menit Alea telah menyelesaikan ritual mandinya, wanita itu menggunakan baju kaos berwarna biru langit dan di padukan dengan celana pendek, hal yang biasa di lakukan ketika berada di dalam kamar tidurnya dulu.
Alea mendaratkan tubuhnya di atas ranjang dimana suaminya telah menunggu dirinya.
__ADS_1
"Kamu mau ngomong apa?". Tanya Alea, seolah tidak sabar ingin mengetahui omongan Javier.
"Besok kita pulang dan kita tidak akan tinggal lagi di rumah Mami". Tutur Javier dengan santai.
"Lalu, kita tinggal dimana kalau bukan di rumah Mami?". Tanya Alea dengan sedikit wajah tidak percaya.
"Apa aku semiskin itu sehingga aku tidak sanggup membeli rumah?". Tutur Javier dengan nada sedikit meninggi.
"Baiklah. Aku ikut saja. Tapi apa kamu sudah beritahu Kedua orang tua kita mengenai ini?". Tanya Alea ragu. Ia sedikit tidak rela jika harus tinggal berdua bersama Javier. Karena ia tidak akan bisa mengeluh pada siapapun ketika Javier menyakitinya. Terlebih lagi wanita itu sudah merasa nyaman pada kedua orang tua Javier.
"Itu urusan ku. Kamu tinggal kemas barang-barang mu dan ikuti apa kata ku". Titah Javier seolah tidak ingin di bantah.
'Ya ya, baiklah. Kamu bosnya disini. Apalah daya aku yang hanya sebatas hamba sahaya ini. Jika Tuan sudah bersabda, maka hamba tiada daya dan upaya'. Batin Alea.
"Baiklah. Terserah kamu saja". Tutur Alea mengakhiri percakapan.
*****
Keesokan harinya Javier dan Alea sudah pulang ke rumah orag tua Javier. Sebelum pulang tak lupa keduanya memberitahu pada orang tua Alea, jika mereka akan menempati rumah baru yang telah lama di beli Javier. Dan hal ini juga di sampaikan kepada orang tua Javier. Nasib baik berpihak pada Javier, kedua orang tua mereka menyetujui keinginan Javier, dengan syarat, mereka akan sering-sering mengunjungi rumah kedua orang tua mereka dan selalu menjaga Alea. Tentu saja hal itu di setujui oleh Javier dengan sangat mudah. Setuju di atas bibir, namun tidak di hati.
******
Javier memasuki kamar pribadinya dan di ikuti oleh Alea. Dan tiba-tiba saja,
Bug...
"Awww". Pekik Alea karena tanpa sengaja menabrak punggung Javier.
"Kamu sedang apa?". Tanya Javier dengan wajah datar.
"Tentu saja mau masuk kamar". Balas Alea dengan santai seolah tak memiliki beban. Saat Alea ingin memasuki ruangan yang di anggap sebagai kamar mereka berdua, langkahnya terhenti ketika Javier menghalangi jalan Alea dengan berdiri di depan pintu kamar seolah tidak ingin memberi ruang bagi Alea.
"Ini kamarku. Dan kamarmu disana". Alea mengikuti arah jari telunjuk Javier.
"Yang benar saja?. Apa kita akan tidur terpisah?". Tanya Alea dengan wajah polosnya. Ia tidak paham akan maksud dari suaminya tersebut.
__ADS_1
"Apa kamu sangat menikmati menjadi Nyonya Javier Alexander?. Sadar lah Alea. Semua yang kamu alami itu hanyalah bayangan semu semata". Tutur Javier dengan senyuman Devil khas miliknya. Kali ini senyuman itu seolah muncul tanpa beban. Bukankah ini rumah seorang Javier Alexander?. Jadi ia bebas melakukan apa saja.
"A---pa maksudmu Vir". Alea bertanya dengan suara terbata-bata. Seolah ia melihat sisi lain dari seorang Javier Alexander.
"Dengarkan aku baik-baik Alea Marwah. Aku menikahi mu karena Mami dan Papi yang memaksaku. Jika tidak Mami akan bunuh diri saat itu. Dan aku tidak punya pilihan lain selain menikahi mu. Dan parahnya lagi aku harus tidur seranjang dengan mu, bahkan aku harus bercinta pada wanita seperti dirimu, hal yang sangat menjijikan bagiku".
DEG...
Mata Alea membulat seketika. Ia sangat terkejut dengan ucapan Javier. Semua ucapan itu bagaikan bom yang sudah lama di tahan dan saatnya meledak sekarang. Ia mencerna setiap kalimat Javier untuk mengartikan maksud dari ucapan suaminya tersebut. Dan hati Alea bagaikan terhunus pedang tajam, mencabik-cabik seluruh organ tubuh wanita berkacamata itu. Hingga sebuah air mata lolos begitu saja di pipi wanita berwajah cantik itu.
"Menangis lah Alea. Disini tidak akan ada yang mendengar mu. Ini adalah rumah ku. Bukankah kamu selalu mengadu pada Mami?. Maka silahkan lakukan itu, tapi ingat baik-baik Nona, nyawamu ada di tangan ku".
Javier meninggalkan Alea yang masih setia dengan keterkejutannya. Ia tidak percaya jika pria yang di hadapi saat ini adalah lebih dari seorang Devil.
"Hiks... Hiks... Javier. Apa semua ini nyata?"
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
Hay Readers. Author gak bosan-bosan ya menyampaikan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar. Jangan lupa pula like dan votenya untuk beri sedikit trip. Seikhlasnya ya. Author tidak memaksa kok. Terimakasih.
Follow IG Aku @Suharni.Adhe.
__ADS_1
Happy Reading.
*Dede...