Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Khayalan itu Menyakitkan.


__ADS_3

Akemi tersentak dari lamunan akan penolakan Shella ketika ia mengajaknya untuk tidur dalam satu kamar. Pria itu larut dalam ketakutan yang dia ciptakan sendiri. Padahal, Shella masih diam berdiri tepat berada di hadapannya saat ini. Wanita itu masih belum melakukan apa-apa, bahkan Shella hanya diam dan bingung menatap ekspresi Akemi yang tak dapat di artikan nya.


"Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Shella sembari memegang tangan Akemi. Pria itu akhirnya tersadar dari lamunannya yang tak berarti. Ternyata penolakan Shella hanyalah khayalan semata. Akemi berkhayal jika Shella menolak untuk tidur bersamanya dan meninggalkan Akemi keluar dari kamar tersebut.


"Ah, iya aku baik-baik saja," jawab Akemi akhirnya setelah beberapa saat diam larut dalam lamunan yang tak berujung.


"Jadi, aku harus tidur dimana? apakah kamarku yang berada di samping dapur itu, atau di ruang yang mana?" Tanya Shella yang berujung pada kebingungan Akemi. Pria itu menjadi heran dengan pertanyaan Shella. Apakah khayalannya tadi akan menjadi kenyataan? apakah dia benar-benar harus tidur terpisah dengan istrinya sendiri? lalu bagaimana mereka saling mengenal? khayalan itu sungguh menyakitkan, hingga mengoyak perasaan Akemi. Shella adalah istrinya yang sah, lalu mengapa mereka harus tidur terpisah? dan mengapa Shella harus tidur di kamar selayaknya pembantu? dia adalah istrinya, ini tidak boleh terjadi. Tidak boleh! pikir Akemi.


"Kita akan tidur bersama," ucap Akemi dengan satu kali tarikan nafas.


"Ha?" Mata dan mulut Shella seakan bekerjasama untuk bereaksi. Dua organ tubuh itu sama-sama membulat, raut wajah heran sekaligus tak percaya sangat jelas terpancar di wajah Shella.


"Aku bilang kita akan tidur bersama, kamu adalah Istriku, bukan pembantu yang harus tidur di pinggir dapur dan mengurusku setiap hari." Akemi tak dapat lagi memendam perasaannya, dia harus mengubah pola pikir Shella, bahwa ikatan mereka bukanlah sebatas sandiwara untuk mengangkat derajat wanita tersebut, tetapi rasa itu memang tulus muncul dari dasar hatinya yang terdalam, tanpa syarat apapun.


"Tapi--"


"Aku sudah membuat keputusan Shella, kita akan tidur dalam kamar yang sama. Bukankah sudah aku katakan padamu, jika aku tidak akan menyentuh mu selama kamu belum siap?" Kalimat Akemi itu tidak serta-merta membuat Shella menerima hal itu, tetapi dia masih tampak ragu dengan karakter Akemi. Bagaimana tidak, dahulu dia berkata tak akan menyentuh Shella, begitu dapat kesempatan dalam kesempitan, dia langsung mencuri ciuman nya sewaktu di kamar mandi. Meski sejujurnya dia juga menikmatinya.


"Tapi waktu itu di kamar mandi kamu menyentuhku. Padahal saat itu aku tidak mengizinkan mu," sangsi Shella. Akemi tampak salah tingkah, dia mulai menyadari kesalahannya sewaktu di kamar mandi, mencuri ciuman Shella. Satu kali khilaf, tapi sudah di sebut-sebut seolah khilaf nya berkali-kali. Dasar wanita. Pikir Akemi.


"Itu karena aku khilaf, maaf. Dan aku janji, aku tidak akan mengulangi nya lagi sampai kamu benar-benar siap." Akemi memantapkan hatinya agar tak mudah tergoda dengan Shella. Kendati tidur seranjang, tetapi dia harus sebisa mungkin menjadi pria sejati yang tak ingkar janji. Meski harus bekerja keras setiap tengah malam mandi air dingin.


"Jadi kita akan tidur seranjang?" tanya Shella dengan suara ragu-ragu.


"Tentu saja," jawab Akemi mantap.


"Tapi tidak akan bela duren aku kan?" Tanya Shella takut plus malu-malu. Dan muncullah akal buluk si kecil seorang Akemi. Pertanyaan Shella seakan memberinya ide brilian untuk menggoda istrinya tersebut. Akemi menarik sudut bibirnya membentuk senyum penuh maksud.

__ADS_1


"Memangnya duren kamu sudah matang?" Tanya Akemi.


Deg,


Pertanyaan macam apa itu? haruskah Shella menjawab jika sebenarnya durennya sudah matang? hanya saja rasa malu masih memenuhi hati dan benaknya.


"Masih mengkal," tandas Shella.


"Lalu mengapa kamu harus takut? selama duren kamu belum matang, aku tidak akan membelanya," ucap Akemi berusaha untuk meyakinkan Shella.


"Padahal naga dia juga sudah siap," gumam Shella, dan tak dapat di dengar oleh Akemi.


"Apakah kamu mengatakan sesuatu?" Tanya Akemi.


"Tidak, aku hanya mau bilang, tas ini mau di letak kan dimana? dan apakah ada bahan makanan disini? aku mau masak," ralat Shella. Wanita itu tampak sedang ingin mengalihkan pembicaraan. Namun, bukan Akemi namanya jika tak bisa mengembalikan keadaan.


"Jadi kamu mau menjalankan kewajiban mu sebagai istriku?" Goda Akemi. Pria itu tersenyum menyeringai seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Aku tidak mengajakmu untuk tidur bersama dan bela duren, tapi aku mengatakan, bahwa kamu mau memasak untuk ku. Bukankah itu juga merupakan salah satu kewajiban dari seorang istri pada suaminya?" terang Akemi datar, namun penuh penekanan.


Shella kembali salah tingkah, terlebih lagi jarak di antara mereka menjadi lebih dekat lagi.


"Ehem, tentu saja aku mau memasak untuk mu. Jadi menjauh lah, aku tidak bisa bernafas karena kamu terlalu dekat denganku," tutur Shella sembari mendorong pelan tubuh Akemi yang semakin mendekatinya.


"Benarkah? apakah jantungmu berdegup kencang? seperti ini?" Akemi meraih tangan Shella dan meletakan tangan wanita itu di dadanya. Shella dapat merasakan detak jantung Akemi.


Dag, dag, dag,

__ADS_1


Ritme detak jantung itu semakin tidak karuan. Bahkan jantung Shella juga ikut-ikutan terjangkit. Detak jantungnya juga menjadi tidak karuan. Shella ingin menarik tangannya dari dada Akemi, tetapi pria itu menahan tangan tersebut. Keheningan mulai membaluti keduanya, Akemi menatap Shella dengan tatapan mendamba, sementara Shella menatapnya dengan tatapan takut sekaligus malu.


"Tolong lepaskan aku," lirih Shella.


"Tidak," tandas Akemi.


"Aku tidak akan melepaskan tangan ini sampai kamu bisa merasakan detak jantung ku," lanjut Akemi kemudian.


"Aku bisa merasakan," jawab Shella. Lalu kemudian Akemi semakin mendekatkan wajahnya pada Shella. Wanita itu menutup bola matanya yang berwarna hitam. Rasa malu plus takut semakin menghampiri wanita cantik tersebut.


Akemi menarik sudut bibirnya membentuk senyum bahagia disana. Baginya, Shella sangat manis ketika merasa takut dan malu. Akemi bisa tahu jika saat ini Shella sedang ketakutan karena jarak mereka yang begitu dekat. Tapi, dia masih ingin bermain-main dengan istri cantiknya tersebut.


Akemi menatap bulu mata Shella yang lentik, bibirnya yang tipis sungguh mempesona, membangkitkan jiwa kelakian Akemi yang meronta. Oh, sungguh indahnya.


Tak lama Akemi melihat bibir Shella sedikit lebih maju, kening Akemi berkerut dalam. Mengapa bibir Shella jadi begini? pikir Akemi. Lalu sedetik kemudian akhirnya Akemi menyadari, bahwa Shella seperti ingin di cium. Akemi menarik sudut bibirnya sekali lagi, membentuk senyum menyeringai.


"Bibir kamu dower," bisik Akemi.


Toeng,


Mata Shella terbuka seketika, wanita itu merasakan malu yang sungguh luar biasa. Dalam hati wanita itu, dia pikir akan di cium oleh Akemi. Bukankah dalam adegan film percintaan seperti itu? jika seorang wanita menutup mata, maka sang pria akan menciumnya. rupanya Shella terlalu banyak menonton drama.


"Ini olahraga bibir namanya," sanggah Shella sembari memaju-mundurkan bibirnya seakan menunjukkan, bahwa dugaan Akemi salah. Namun, itu justru merupakan kesalahan yang fatal. Akemi semakin gemas di buatnya. Lalu kemudian Akemi menyambar bibir tipis itu.


Cup,


Sekali lagi Akemi mencuri ciuman Shella tanpa permisi. Bukankah beberapa menit yang lalu dia berkata tak akan menyentuh Shella sebelum wanita itu siap? haruskah dia menjadi pria yang ingkar janji? ternyata pesona Shella sungguh menggoda hingga melumpuhkan cara kerja otak Akemi.

__ADS_1


Akankah keduanya membela duren sekarang? atau justru perut mereka merasa keroncong? nantikan kelanjutan ceritanya ya readers.


Happy reading.


__ADS_2