
Di sebuah kave, Alea memutar-mutar makanannya. Sudah 15 menit wanita itu melakukan hal yang sama. Alea tidak memiliki selera makan semenjak dirinya mendengar penuturan Javier yang seolah menganggapnya tidak ada.
"Mau sampai kapan lo memutar makanan itu Al?". Pertanyaan Dina membuyarkan lamunan Alea.
"Gue gak napsu makan Din". Wajah Alea layu seperti kelopak bunga yang di hisap madunya.
"Lo ada masalah apa?. Cerita sama gue Al". Dina memegang tangan Alea, wanita itu berusaha untuk memahami kondisi hati Alea.
"Din, apa gue salah jika mengagumi suami sendiri?". Pernyataan Alea menyentak Dina, mata wanita yang berprofesi sebagai dokter kandungan tersebut membulat sempurna.
"Tunggu, jangan bilang lo udah jatuh cinta sama suami lo?". Tanya Dina dengan penuh selidik. Alea menaikan kedua bahunya.
"Entahlah Din. Gue juga gak ngerti".
"Gak ngerti gimana?". Tanya Dina dengan kening yang hampir menyatu.
"Gue merasa sakit hati ketika Javier mengatakan gue gak penting. Bahkan dia terang-terangan mengatakan jika dia menikahi gue hanya untuk ambisinya saja". Mata Alea mulai berkaca-kaca, ia merasa kecewa dan sakit hati pada suami angkuhnya tersebut.
"Kan lo tau sendiri sejak awal bagaimana kondisi pernikahan kalian. Gak aneh kan kalo Javier mengganggap lo gak penting?". Pernyataan Dina justru menyurutkan semangat Alea, wanita itu tampak lebih layu. Wajahnya yang sendu menggambarkan jika wanita itu sangat kecewa terhadap suaminya.
"Gue sadar Din. Gue bukan siapa-siapa di mata Javier. Sampai kapan pun gue gak akan bisa mengubah dia. Hanya saja, rasanya terlalu sakit. Hiks... Hiks... Hiks...". Alea terisak mengasihi dirinya sendiri. Sungguh malang nasib Alea.
"Al, gue rasa lo jatuh cinta pada Javier". Dina merasa iba pada sahabatnya tersebut. Untuk pertama kalinya wanita itu jatuh cinta, namun cintanya di tolak sebelum di ungkapkan.
"Din, gue harus gimana?. Gue gak mau perasaan ini terus berkembang. Apa begini rasanya di tolak sebelum berjuang?". Alea mengusap air mata yang telah lolos di pipi mulusnya.
Kedua wanita itu mengakhiri obrolan yang berlangsung cukup lama. Saatnya untuk pulang.
******
Waktu menunjukan pukul 20.30, Alea memasuki kamar yang di tempati bersama Javier.
"Kamu keluyuran dari mana sampai pulang selarut ini?". Tanya Javier dengan wajah datar namun penuh penekanan. Bukannya menjawab pertanyaan Javier, Alea justru masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Javier merasa heran dengan sikap diam Alea. Pria itu menunggu hampir satu jam lamanya.
__ADS_1
"Apa kamu sedang bertapa di dalam sana?". Tanya Javier ketika melihat Alea telah selesai dengan ritual mandinya dan telah mengenakan piyama. "Jawab aku Alea!". Lanjutnya kemudian dengan suara tajam hingga rasanya sangat mengiris kuping dan hati Alea.
"Apa yang ingin kamu ketahui?". Tanya Alea sambil melipat tangan di dada.
"Katakan padaku, kamu dari mana saja?".
"Apa aku sepenting itu hingga kamu ingin tau keberadaan ku sebelumnya?". Jawaban Alea membuat hati Javier sedikit tercubit. Pria itu mengingat kejadian tadi pagi dimana dirinya mengatakan jika Alea bukanlah wanita yang penting dalam hidupnya.
"Siapa juga yang mengatakan kamu penting?". Balas Javier dengan suara datar. Seolah dirinya tidak perduli.
"Kalau begitu berhentilah bertanya".
'Ck, dia kenapa?. Pulang marah-marah. Harusnya aku yang marah disini'. Batin Javier.
*****
Pagi-pagi sekali Alea sudah tampak rapi. Wanita itu menggunakan dress mini berwarna pink bermotif bunga melati putih. Rambutnya di gerai dan jepitan rambut kecil bermotif mawar menghiasi rambut coklat Alea, wanita itu menggunakan lensa tanpa kacamata yang biasa menghiasi netranya, menambah poin kecantikan wanita tersebut.
"Aku mau ke rumah Mama. Untuk beberapa hari ini aku akan menginap disana". Balas Alea. semenjak menikah lima bulan yang lalu, Alea tidak pernah menginap di rumah kedua orangtuanya, kecuali hanya sekedar berkunjung. Karena hari ini adalah hari Sabtu, maka ia menyempatkan diri mengunjungi kedua orang tua yang telah melahirkannya tersebut.
"Siapa yang memberimu izin?. Dan kenapa kamu pakai baju itu? Dan kacamata mu, kenapa kamu tidak pakai?". Tanya Javier secara beruntun. Pria itu sedikit terpesona dengan penampilan istrinya tersebut. Hal yang langka bagi Javier.
"Apa aku harus memerlukan izin darimu untuk menggunakan baju ini? atau lensa ini?".
"Ehem. Aku tidak perduli dengan penampilanmu. Tapi aku mementingkan reputasi ku, apa kata orang nanti jika melihat istri seorang Javier Alexander berpenampilan seperti itu?". Tanya Javier dengan menunjukan Alea menggunakan dagunya.
"Terserah". Alea memutar bola matanya merasa jengah dengan suaminya tersebut. Ia tidak ingin mengawali paginya dengan berdebat.
"Aku ikut. Tunggu aku". Titah Javier sambil berlalu meninggalkan Alea untuk membersihkan diri di kamar mandi.
*******
15 menit kemudian Javier telah rapi dengan menggunakan baju kaos hitam dan celana jeans berwarna biru serta menggunakan sepatu sneaker putih. Kacamata hitam yang di kenakan menghiasi wajah tampannya, menambah ketampanan yang selalu melekat pada dirinya.
__ADS_1
"Ayo kita berangkat". Javier merangkul pundak Alea yang sedang menunggunya di ruang keluarga.
"Kalian gak mau sarapan dulu?". Tanya Mami Javier yang baru saja keluar dari kamar.
"Gak Mi, nanti Kami sarapan di rumah Mama Alea saja. Mumpung weekend".
"Baiklah. Hati-hati. Salam buat Mama dan Papa kamu sayang ya". Mami Javier mengusap kepala Alea dengan lembut. Wanita paruh baya itu sangat menyayangi menantunya tersebut seperti anak sendiri.
"Kami berangkat ya Mi". Alea dan Javier mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut dan berlalu meninggalkan rumah yang menjadi tempat naungan keduanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
__ADS_1