
Kebersamaan Ibrahim dan Shella begitu kental. Keduanya bagai mengulang momen dimasa lalu. Ibrahim menguncir rambut Shella, sementara Shella mengenakan lipstik pada bibir Ibrahim. Permainan itu dulu yang sering mereka lakukan di belakang Panti. Keduanya sering mencuri-curi waktu untuk bermain bersama. Bahkan mereka juga memanjat pohon mangga dan di bagi-bagi kan kepada anak-anak Panti lainnya. Sungguh momen masa kecil itu tak bisa tergantikan oleh apapun.
Kebersamaan yang terjalin selama bertahun-tahun lamanya, menimbulkan benih-benih cinta sewaktu remaja. Namun, mereka harus terpisahkan untuk sementara waktu. Karena Ibrahim harus melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Sementara Shella hanya sampai Sekolah Menengah Atas. Dia terpaksa harus menjual pisang goreng untuk melanjutkan hidupnya. Meski hidup di Panti Asuhan, dan sering mendapatkan bantuan dari para Donatur. Shella tak pernah berpangku tangan. Hingga selang tiga tahun kemudian, Ibrahim kembali ke sisinya dengan status yang baru, yaitu sebagai kekasih Shella.
Ibrahim semakin jatuh cinta pada Shella ketika dia tak sanggup menolak kesederhanaan wanita tersebut. Budinya yang luhur, tutur katanya yang lembut, membuat hati Ibrahim semakin terdorong untuk memiliki wanita cantik tersebut. Namun sayang, hubungan mereka mendapat penolakan dari kedua orang tua Ibrahim.
"Apakah kamu sangat bahagia bila tanpa aku?" Tanya Ibrahim setelah puas bermain bersama Shella selayaknya anak kecil. Seketika wajah Shella menjadi tegang. Mengapa Ibrahim bertanya seperti itu? apakah jiwanya telah kembali? apakah dia tahu, bahwa dia sedang mengidap penyakit mematikan? mengapa dia seperti baik-baik saja? pikir Shella.
"Apa maksud Kakak? bukankah sekarang kita sedang bersama?" Shella tampak berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Dia tak ingin membahas mengenai perpisahan. Baginya terlalu cepat, dan dia belum siap menerima kenyataan itu.
"Ella, berhenti berpura-pura tidak tahu. Kamu tahu kan segalanya?" raut wajah Ibrahim sangat serius. Seperti bukan seseorang yang penyakitan.
"Kak Ibrahim, aku tidak mengerti maksud Kakak apa. Sebaiknya Kakak istirahat sekarang ya? kita sudah terlalu banyak bermain tadi," tutur Shella sembari memegang tangan Ibrahim.
"Apakah kamu akan pulang menemui pria itu?"
Deg,
__ADS_1
Apa maksud Ibrahim? mengapa dia mengatakan hal yang begitu menakutkan bagi Shella? apakah dia tahu, bahwa Shella sudah menikah? apakah ingatan pria itu telah kembali?
Shella ingin menanyakan hal itu pada Ibrahim, tetapi tiba-tiba saja Nisa dan suaminya datang menghampiri mereka. Sepasang suami istri itu ingin bergabung bersama Shella dan Ibrahim. Entah mengapa hati Nisa merasa iri dengan kebersamaan Shella dan putranya.
"Sayang, kalian sedang apa? apakah kalian sangat menikmati permainan tadi?" ucap Nisa selembut mungkin. Dia tak ingin membuat Ibrahim terganggu karena keberadaan nya bersama sang suami. Namun sayang, Ibrahim justru menatap keduanya dengan tatapan tak suka. Dia seolah menolak keberadaan kedua orang tuanya.
"Jangan ambil dia dariku! jangan pisahkan kami lagi. Pergi kalian, pergi!" bentak Ibrahim sembari memeluk lengan Shella, seolah wanita itu akan di rebut oleh Nisa. Hati Nisa semakin hancur lebur. Begitu juga dengan suaminya. Mereka sangat terpukul atas penolakan Ibrahim. Sampai kapan pria itu harus menolak Nisa? apakah tak ada harapan untuk Nisa dan suaminya?
"Ini Ibu Nak, ini Ibu. Apakah kamu tidak mengenali Ibu mu sendiri?" ucap Nisa dengan mata berkaca-kaca. Ayah Ibrahim memeluk tubuh Nisa. Sementara Shella menjadi canggung sekaligus bersalah atas situasi yang terjadi.
"Shella, tolong katakan padanya, bahwa kami adalah orang tuanya," ucap Ayah Ibrahim.
"Baiklah, kami tetap akan menunggu sampai Ibrahim mau menerima kami kembali. Terimakasih atas bantuan mu Shella. Maaf jika kami sering menyakiti mu dulu. Tolong maafkan kami," balas Ayah Ibrahim tulus sembari mengatupkan kedua tangan nya.
"Om tidak perlu meminta maaf padaku. Yang lalu biarlah berlalu, jadikan semuanya sebagai pelajaran yang berharga," balas Shella tak kalah tulusnya. Sementara Ibrahim masih setia memeluk lengan Shella. Pria itu seolah tak ingin melepas wanita tersebut. Atau dua orang di depannya akan memisahkan dirinya dari Shella. Begitulah perasaan Ibrahim saat ini.
"Kami pergi dulu, tolong jaga dia untuk kami," tutup Ayah Ibrahim sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Baik Om." Dan sepasang suami istri itu pun meninggalkan Shella dan Ibrahim.
Tak lama Shella melepaskan tangan Ibrahim dari lengannya sembari tersenyum.
"Tidak akan terjadi apa-apa Kak, mereka tidak akan mengambil ku dari Kakak. Lihatlah, aku masih bersama Kakak disini kan?" Shella berusaha menyakinkan Ibrahim agar tak terlalu takut.
"Mereka itu jahat, mereka sering menyiksaku. Aku benci mereka, mereka akan mengambil mu lagi dariku. Aku benci mereka. Aku benci," ucap Ibrahim selayaknya anak kecil yang membenci seorang musuh.
"Ssst, tidak boleh bicara seperti itu. Katanya Kakak anak baik. Jadi Kakak harus berbuat baik kepada orang, termasuk orang tadi," bujuk Shella.
"Tidak! aku tidak mau berteman dengan mereka. Mereka orang jahat, mereka akan mengambilmu dariku. Aku tidak mau kamu pergi bersama mereka," rengek Ibrahim selayaknya anak kecil.
Baiklah Shella, mungkin kamu harus bekerja keras untuk mengembalikan jiwa Ibrahim. Paling tidak, sebelum pria itu menutup mata untuk selama-lamanya, dia sudah mengenal kedua orang tuanya dan mau memaafkan mereka.
"Baiklah, aku tidak akan ikut bersama mereka. Sekarang kamu tidur ya? aku tidak akan kemana-mana." Akhirnya Shella menunda waktunya untuk pulang. Dia harus menunggu sampai Ibrahim tertidur dulu. Jika tidak, pria itu tak akan mau mengizinkan Shella untuk pulang.
To be continued.
__ADS_1
Assalamualaikum. Mohon maaf ya readera. Hari ini hanya mampu lima episode saja. Tadinya rencana mau crazy up, tapi ada satu dan lain hal yang tak bisa aku paparkan disini. Terimakasih ya sudah terus mendukung author sampai sejauh ini. In syaa Allah besok ta crazy up lagi ya. Sudah mau tamat kok.
Happy reading.